REVIEW The Chronicles of Audy: 4R

 The Chronicles of Audy: 4R

Tidak ada yang bilang kalau hidup itu mudah. (hlm. 103)

Audy adalah sosok gadis lugu yang tergoda gaji di muka yang dipakai orang yang tidak bertanggung jawab untuk membeli Wii sehingga harus diusir dari kosan dan terdampar di rumah berisi cowok-cowok dengan karakter yang berbeda.

Bukan dengan tanpa alasan Audy melakukan itu semua. Di ujung perkuliahannya yang harusnya berkonstrasi pada skripsinya, justru malah terhambat ketika orangtuanya mengabarkan jika sementara waktu tidak bisa mengirim uang untuk kebutuhannya sehari-hari selama merantau, termasuk biaya kuliah dan sewa kos yang menunggak.

Biasanya, mahasiswa yang menghadapi skripsi memang selalu ada saja masalah. Bisa urusan cinta, bisa juga masalah keluarga. Baik Audy, maupun saya, atau siapa pun pasti pernah mengalami masa-masa ini. Masa-masa krisis dan kritis di mana lulus bukan hanya untuk diri kita sendiri, tapi juga harapan orang-orang terdekat kita, salah satunya orangtua. Menunggu kita untuk lulus.

Pergi ke supermarket dua kali sehari. Mengerjakan lebih dari lima macam pekerjaan rumah tangga dalam beberapa jam. Setidaknya mencuci 30 helai pakaian dalam sekali cuci. Menghela napas setidaknya 20 kali selama melakukan itu semua, atau mungkin lebih. Hal itulah yang dilakukan sehari-hari oleh Audy untuk mengurusi segala kebutuhan 4R. Sama persis apa yang saya lakukan sehari-hari, termasuk paling gagal kalau urusan masak memasak. Bedanya, jika Audy dibayar untuk melakukan itu semua, saya mengurusi tiga adik-adik yang jenjang umurnya lumayan jauh satu lain dan punya karakter yang berbeda-beda juga😀

Regan, nama kode R1 adalah sosok yang nyaris sempurna, pekerja keras, tapiperhitungan. Romeo, R2, adalah sosok pemalas yang takut air, senang bermain, walaupun paling ramah. Rex, R3, adalah sosok yang terpelajar yang seluruh hidupnya dedikasikan untuk prestasi akademis, tapi tertutup dan sensisitif. Sedangkan Rafael si bungsu, R4, adalah sosok balita gadungan yang memiliki semua sifat kakak-kakaknya.

Mereka berempat selalu berusaha makan di rumah, baik itu sarapan, makan siang, maupun malam. Regan selalu menyempatkan pulang saat istirahat, Rex jugaselalu pulang tepat pada waktunya kalau tidak ada kegiatan lain, sementara Romeo dan Rafael memang tidak pernah ke mana-mana.

Dari semua 4R ini, paling suka ama tokoh R3; ReX. Tipe-tipe cowok kulkas gitu deh. Oya, kalo tokoh R3 si Romeo ini karakternya mirip banget adek yang cowok; Holy. Susah banget disuruh mandi. Nggak bisa yang namanya kerja terikat. Tapi keseringan ngendon di rumah pun dia bisa menghasilkan uang; desain kaos dan sejenisnya. Pernah juga pas demam-demam dando di 2011-2012, ama kawannya bisa menjual danbo-danbo bikinan sendiri sampe bisa beli BB hasil dari kantong sendiri. Oya, waktu awal-awal pasang Speedy di rumah bulan-bulan pertama yang bayarin ya adik yang satu ini, persis kayak Romeo yang mengurusi masalah internet dan listrik di rumah. Meski bedanya, di bulan ke enam sampai tahun-tahun berikutnya ketika saya sudah punya pekerjaan tetap, yang mengambil alih pembayaran Speedy.

Di buku ini dapet kartu si R4, Rafael si unyu tapi juga pengen di tampol, hehehe… Dewasa sebelum waktunya gegara pengaruh kakak-kakaknya. Memang sih, ketika seorang anak dibesarkan tanpa kasih sayang orangtua biasanya cenderung dewasa karbitan. Adik saya yang paling kecil juga gitu. Ngomong-ngomong soal Rafael, dia ini demen banget makan mie. Ada ucapan Audy yang cukup mengena di halaman 269 yaitu ketika melarang Rafael untuk makan mie. Urusan mie jadi keinget jaman kuliah dulu ada seorang teman yang hobi banget makan mie instan. Di akhir tahun kuliah, pas masa-masa skripsi, dia jatuh sakit. Ususnya dipotong tiga puluh sentimeter gegara pembusukan akibat makan mie dan sering juga minum soda.

Beberapa kalimat bijak dalam novel ini:

  1. Manusia nggak bisa hidup sendiri. Harus banyak berteman supaya banyak teman. (hlm. 169)
  2. Cara paling ampuh untuk melupakan patah hati adalah dengan menemukan penggantinya. (hlm. 199)
  3. Sekolah itu nggak buang duit. Sekolah itu sama dengan menabung. Kamu akan bisa mengerti itu hanya kalau kamu bersekolah. (hlm. 240)

Banyak selipan sindiran halus dalam novel ini:

  1. Ada baiknya mereka menggunakan bahasa Indonesia, terutama kalau pandangan lawan bicaranya sudah mulai kosong tanda tak paham. (hlm. 21)
  2. Para mahasiswa mungkin salah menganggap kampus sebagai mal atau bagaimana. (hlm. 23)
  3. Membuat judul skripsi ternyata tidak semudah membuat judul karangan “Liburan ke Rumah Nenek”. (hlm. 26)
  4. Kenapa juga aku menghabiskan empat setengah tahun terakhir ini dengan membaca komik Naruto di tempat rentalan untuk mencari tahu siapa Hokage berikutnya, bukannya koran utuk mengikuti perkembangan dunia? (hlm. 32)
  5. Di dunia ini, apa ada orangtua yang tidak memikirkan masa depan keluarga mereka sendiri? (hlm. 33)
  6. Saat perasaan sedang kacau, beres-beres rumah adalah obat terbaik. (hlm. 100)
  7. Nggak baik loh makan mie instan melulu. (hlm. 171)
  8. Populer nggak ada artinya kalau nggak sehat. (hlm. 250)

Bagian favorit dari buku ini adalah di halaman 233, kisah Rafael ini menyentuh banget. Juga di halaman 280 ketika Rafael dan Rex sama-sama sakit dan Rafael merajuk minta maaf ke Rex. Dua bagian itu bikin sesak napas pas bacanya.

Hal yang mengganjal dari buku ini adalah Audy kan IPKnya gede, bahkan hampir mendekati sempurna. Harusnya ketika dia kesulitan urusan uang buat bayaran kuliah, dia bisa mengajukan beasiswa dengan modal IPK-nya itu. Di kampus biasanya bejibun loh beasiswa untuk mahasiswanya. Bahkan beberapa teman jaman kuliah sama sekali nggak pernah dapet kiriman orangtuanya, hanya dengan bermodalkan beasiswa untuk menyambung hidup, mereka bisa juga lulus kuliah ya. Keren ya. Di kampus juga sering ada proyek-proyek penelitian, magang, menjadi asisten dosen dan beberapa pekerjaan yang bisa kita ambil selagi kuliah. Di novel ini, ketika Audy memilih menjadi IRT kok kesannya jalan pintas banget. Apalagi dia memiliki IPK yang memuaskan. Saya aja yang IPK-nya cuma standar bisa dapat kesempatan magang di perpus kampus selama setahun loh. Harusnya Audy bisa punya pekerjaan yang lebih layak untuk menyambung hidupnya itu😀

Satu lagi, rumah 4R ini kan terdiri dari cowok-cowok remaja dewasa. Apa iya, Audy boleh-boleh aja tinggal di sana? Masak iya tetangga kanan kiri nggak protes?!?

Terlepas dari itu, suka suka suka banget ama serial ini. Mungkin ini karya Orizuka yang paling favorit dari novel-novel lainnya. Nggak sabar langsung nunggu baca seri keduanya, dan semoga ceritanya nggak kalah unyu!😉

Keterangan Buku:

Judul                     : The Chronicles of Audy: 4R

Penulis                 : Orizuka

Penyunting         : Tia Widiana

Cover desainer : Bambang ‘Bambi’ Gunawan

Proofreader       : Yuli Yono

Penerbit              : Haru

Terbit                    : Juli 2014 (Cetakan Keempat)

Tebal                     : 320 hlm.

ISBN                      : 978-602-7742-21-5

Orizuka’s Book Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/04/orizukas-book-reading-challenge-2014/

Young Adult Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/07/young-adult-reading-challenge-2014/

Indonesian Romance Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/01/indonesian-romance-reading-challenge-2014/

5 thoughts on “REVIEW The Chronicles of Audy: 4R

  1. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

  2. Suka bgt sama karya kak Orizuka yg satu ini ^^ suka gemes sama tingkah rafael hahaha pokoknya 4R sukses buat aku senyam senyum gaje ^^ Audy beruntung bgt bisa tinggal bareng mereka, missy aja iri apalagi aku hehe

  3. Pingback: REVIEW The Chronicles of Audy 4/4 | Luckty Si Pustakawin

  4. Pingback: [BLOGTOUR] REVIEW The Chronicles of Audy: O2 + GIVEAWAY | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s