REVIEW Dua Masa di Mata Fe

 dua masa di mata fe

Aku memang tidak mampu membelikanmu sayap baru saat sayapmu patah. Tapi aku akan berusaha memperbaikinya. Sampai kamu bisa terbang lagi. Tapi sampai saat itu datang, kamu harus belajar mengepakkan sayapmu sendiri. (hlm. 154)

Bukan aku yang berdiri di sepatumu dan aku memang tidak tahu menahu soal rasa di dadamu itu. Tapi aku berusaha memahami rasa sakitmu. (hlm. 139)

Adalah Fe yang awalnya hidup bahagia diusianya yang masih remaja menuju dewasa. Segalanya berubah ketika sebuah musibah yang melanda negeri Indonesia dan berimbas fatal dalam kehidupan keluarganya. Ini bukan seperti kisah-kisah dalam sinetron picisan. Kejadian mengiris hati yang tertuang dalam novel ini pasti pernah dialami kisah nyata beberapa orang di masa akhir kejayaan orde baru. Jaman saya masih SD. Jaman-jaman mencekam. Jaman-jaman hidup serba mahal dan serba sudah. Duh, pokoknya jaman paling nggak enak buat diinget! :’)

Hadapi takdirmu! Coba lihat, kamu masih punya keluarga yang akan mengurusmu. Siapa tahu mereka nggak seburuk yang kamu bayangkan. (hlm. 153)

Saya nggak bisa bayangkan jika diposisi Fe. Ketika segalanya yang kita punya terenggut dari kita pasti rasanya sulit. Sulit untuk bangkit. Sulit untuk melupakan. Sulit untuk tidak menoleh ke belakang. Untunglah ada Rais yang uwow cowok banget! :’)

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Ada banyak hal di dunia ini yang sulit diceritakan.
  2. Orang bilang sejarah akan meminta waktu untuk mengulang peristiwa. (hlm. 7)
  3. Semua akan baik-baik saja. Tuhan ada sama kita. (hlm. 16)
  4. Jatuh cinta emang aneh. (hlm. 109)
  5. Kebahagiaanmu mungkin tidak selalu tepat waktu. Tapi saat ia datang nanti, kesedihanmu hanya akan menjadi titik kecil. Titik kecil yang mungkin tidak bisa kamu lihat. (hlm. 153)
  6. Mencintai tidak memerlukan alasan, bukan? (hlm. 162)
  7. Hidup memang aneh. Terkadang memaksa kita untuk menjalani dua peran yang berlawanan. (hlm. 195)
  8. Cinta nggak peduli kita orang Cina dengan mata sipit, atau orang Ambon berkulit hitam. Atau orang Jawa yang terlalu nrimo sekalipun. Kalau cinta, ya cinta. Titik. (hlm. 195)
  9. Nggak usah banyak mikir. Jalani apa yang ada di depan, sekarang. Masa depan itu yang menentukan ya sikap kita sekarang, bukan masa lalu. (hlm. 197)
  10. Kompas hati nggak pernah keliru dan selalu menunjukkan belahan hati kita dengan tepat. (hlm. 206)
  11. Jarak itu bukan masalah selama hati kita dekat, yang aku permasalahkan adalah kalau kamu memberi hati kita jarak. (hlm. 171)

Beberapa selipan sindiran halus:

  1. Kadang-kadang masalah etnis ini benar-benar konyol. Kenapa orang mesti repot-repot membuang waktu untuk menyelidiki siapa berasal dari etnis mana. (hlm. 108)
  2. Ngapain sih orang berbetah-betah dengan perpisahan? (hlm. 111)
  3. Lelaki sejati selalu memandang wanita dengan hormat, bukan dengan mata jalang. (hlm. 128)
  4. Cinta kerap memaksa seseorang bertindak konyol. (hlm. 129)
  5. Jatuh cinta bikin orang jadi bodoh. (hlm. 202)
  6. Selain bertindak bodoh, cinta juga bisa membuatmu jadi tak rasional! (hlm. 204)

Novel ini sangat deskriptif banget. Kita berasa masuk ke dunia Fe di jaman orde baru. Saking terhanyut ama jalan ceritanya, ampe lupa buat memberi tanda bagian mana saja dalam novel yang musti di tulis buat bahas resensi nanti. Tumben nih Moka Media minim typo. Cuma nemu beberapa typo di halaman 181 pada kata ‘tersneyum’ yang harusnya ‘tersenyum’ dan di halaman 178 pada kata ‘diutar’ harusnya ‘diputar’.

Banyak adegan yang mengaduk emosi. Seperti saat penjarahan yang bikin kebayang-bayang jaman 1998 dimana banyak sekali penjarahan dan kekerasan di masa-masa itu. Terus pas kejadian di rumah Pak Djun. Rasanya pengen kepruk anaknya, Didik dan juga Pak Djun. Hadewh, ada ya orang-orang yang tak berkeprimanusiaan seperti mereka?!? >.< #LemparBomBiarMerekaAngus

Sebagai anak yang mengalami masa-masa pahit di akhir 90-an, pasti kita bisa merasakan pedihnya kehidupan etnis Fe yang sering dianggap rendah. Kaum minoritas selalu diinjak-injak. Untunglah orde baru berlalu dan semoga masa-masa orde nggak terulang kembali. Buat yang tahu sejarah, jelas pemilu kemarin harus tahu pilih calon presiden yang mana kan?😉

Hal yang agak dipertanyakan setelah membaca novel ini adalah bagaimanakah nasib Rais setelah belasan tahun kemudian. Terus gimana cerita akhirnya Fe menikah dan punya anak? Kayaknya novel ini perlu ada sekuelnya nih!😀

Suka ama tema yang diangkat. Suka ama covernya yang ciamik. Suka ama penjabaran yang ditulis, pasti penulisnya butuh riset yang lama untuk menjabarkan Jakarta-Bandung-Surabaya. Langsung suka deh gaya kepenulisan Mbak Dyah ini, semoga bisa baca novel yang lainnya😉

Pokoknya ini keren kalo diadaptasi ke film. Langsung ngebayangin Laura Basuki sebagai pemeran Fe di masa muda. Novel ini bisa juga dijadiin objek penelitian skripsi dengan tema masa-masa orde baru di kehidupan Fe saat muda pakai teori Semiotika Roland Barthes; ilmu yang mempelajari makna dibalik tanda😉

Keterangan Buku:

Judul Buku                          : Dua Masa di Mata Fe

Penulis                                 : Dyah Prameswarie

Penyunting                         : Sasa

Proofreader                       : Dyah Utami

Layout                                  : Erina Puspitasari

Desainer sampul              : Fahmi fauzi

Penerbit                              : Moka Media

Terbit                                    : 2014

Tebal                                     : 220 hlm.

ISBN                                      : 979-795-872-8

Baca ini cocok banget sambil lagunya Bon Jovi – Always

Indonesia Romance Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/01/indonesian-romance-reading-challenge-2014/

Young Adult Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/07/young-adult-reading-challenge-2014/

New Authors Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/02/new-authors-reading-challenge-2014/

One thought on “REVIEW Dua Masa di Mata Fe

  1. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s