REVIEW Heart Emergency

Hidup itu memang rumit sih, cinta apalagi. Dikasih yang bagus, kita minder, dikasih yang nggak bagus kita kesel. (hlm. 169)

Sejauh mana hubungan memang layak dipertahankan? Apa karena masa pacaran? Atau karena kenyamanan yang didapatkan pada saat bersama? Namun, saat pelukannya tidak lagi menghangatkan dan kata-katanya tidak lagi menjadi sesuatuyang kamu cari, akankah kamu tetap bertahan? Apakah aku terlalu berlebihan memaknai kenyataan atau memang kenyataan itu dari dulu sebenarnya sudah rusak, tetapi ditutupi oleh setiap kehadiran yang membahagiakan?

Saat kita terpisah oleh jarak dan semua halangan untuk bertemu, secara tidak langsung badanmu mulai mengirimkan sinyal akan ketiadaannya, yang tampaknya tidak terlalu buruk. Ketidakadaannya membuat keberadaannya adalah sesuatu yang bias, dan menutupi semua kenyataan. Semua yang dibutuhkan untuk menjalin hubungan seakan-akan menjadi sesuatu yang mahal dan sulit terjangkau.

Terkadang, cinta membuat semuanya terlihat menjadi berwarna cerah dan indah untuk dilalui. Begitu pun dengan air mata yang membantu membersihkan mata kita sehingga kita bisa melihat lebih jelas ke depan; mana yang harus dijalani dan mana yang harus ditinggalkan.

Adalah penulis yang menjalani kehidupan remaja pada umumnya. Alih-alih sedang ko-ass malah terkena sindrom galau akut akibat para mantan yang seakan nggak memahami kondisinya sebagai (calon) dokter yang waktunya terkuras untuk belajar dan belajar.

Berhubung buku ini dibaca dalam rangka baca bareng Blogger Buku Indonesia (BBI) bulan September bertema buku berating rendah, mari kita bahas kekacrutan buku ini:

  1. Pas baca judulnya sih ekpetasinya bakal tinggi, minimal sejajar ama buku Cado-cado yang membahas kehidupan ko-ass. Apalagi pas membaca prolognnya yang sebenarnya udah berasa aura-aura ko-ass. Misalnya pada halaman 32-34 yang membahas tentang tipe-tipe rombongan ko-ass. Ini sebenarnya udah menarik. Sayangnya begitu halaman selanjutnya hanya diisi kegalauan penulis masalah urusan cinta yang sebenarnya standar banget dialami ketika orang berpacaran.
  2. Entah kenapa saya males banget ama tipe cewek yang menye-menye. Baik tokoh rekaan di novel maupun di kisah nyata. Dikit-dikit ngeluh. Dikit-dikit ngerasa paling menderita sedunia. Dikit-dikit pengen diperhatiin. Kalo nemu orang kayak gini rasanya pengen buang ke Zimbabwe. Seperti di halaman 152: “Berarti kamu tidak sebaik itu mengenal aku. Aku juga memendam rasa yang sama dengan kamu aku manusia biasa. Aku hanya ingin teman bicara dan berbagi, tapi kamu selalu melarang aku untuk mengeluh. Aku tidak sekuat itu!” atau di kalimat “Kamu benar-benar tidak pernah mengenal aku ya! Siapa bilang aku tidak bersyukur dengan semua yang Tuhan kasih. Di setiap doaku, aku tidak pernah lupa mengucapkan terima kasih atas apa yang telah dia berikan di hidup aku.”
  3.  Terlalu drama queen. Yaelah, udah dewasa kok ya rapuh banget. Cuma mau ko-ass aja berasa kayak mau perang. Baca aja di kalimat halaman 19; “Cuma mikirin, nanti kalau aku jauh dari ibu-ayah, dari kamu, dari semuanya apa aku bakal baik-baik aja ya?” atau seperti di halaman 55 pada kalimat; “Wajar kan kalau sering ngerasa gloomy, aku pisah sama semua anak-anak zaman kuliah. Sekarang, tiba-tiba aku harus ada di fase baru hidupku, tinggal di rumah kontrakan danjauh dari keluarga. Semua harus di urus sendiri, masak sampai nyuci, dari mulai bersihin kamar sampai nyikat kamar mandi.”
  4. Terlalu diulang-ulang penjelasan jika penulis merupakan pecinta kopi. Rasanya dunia harus tahu jika penulis adalah penikmat kopi.
  5.  Sebenarnya penulis sudah tahu jika hidupnya jauh lebih beruntung daripada orang lain. Seperti pada kalimat; “Tidak semua seberuntung diriku. Aku beruntung. Aku sangat beruntung. Terima kasih, Tuhan.” à tapi kok ya masih hobi ngeluh aja ya? #labil
  6.  Ada beberapa kalimat yang terlalu krik krik banget seperti di halaman 22; “Beli stetoskop yang mereknya Litmann, harus yang Litmann, kalau nggak Litmann aku takutnya nggak bisa denger suara pasiennya. Siapa tahu pasien naksir sama aku, aku bisa denger suara hatinya berkata…” atau “Alat bedah minor untuk apa? Untuk belah dada kamu, mau operasi hati kamu, supaya aku bisa nulis nama kamu di hati kamu.”
  7. Ini sebenarnya novel apa personal literatur ya? Rancu.
  8. Bahasanya terlalu baku.
  9. Jika buku ini ditulis bukan seorang selebtwit dan punya mantan selebtwit, apakah masih banyak yang mau baca?!?
  10. Kekacrutan buku ini pun sempat heboh di twitter tahun 2012? Penasaran? Cek di sini: http://doctorbebek.blogspot.com/2012/07/klarifikasi-dan-permohonan-maaf.html

Sebenarnya ada poin plusnya buku ini. Ilustrasi di dalamnya kece, jempol untuk ilustratornya. Seandainya jika isi buku didominasi dengan hiruk-pikuk kehidupan penulis selama ko-ass, kayaknya justru lebih memikat ketimbang hanya menceritakan seputar kegalauan dan mantan-mantannya itu.

Iya, saya tahu jika penulisnya merupakan selebtwit yang memiliki followers banyak dan sering endorse produk-produk barang online shop. Layaknya selebtwit, jadi wajar aja jika isi twitnya didominasi twit galau maupun twit lagi pake produk ini lagi pake produk itu. Nggak masalah sih. Tapi untuk menjadi penulis dengan menerbitkan buku yang berkualitas nggak cukup cuma modal followers. Sebenarnya sah-sah saja jika seseorang selebtwit menjadi seorang penulis. Banyak juga kok selebtwit yang akhirnya terjun menjadi penulis dan bukunya menjual karena memang kualita isinya. Kece ngetwit belum tentu ciamik jika menerbitkan buku. Udah banyak nih kasus yang kayak gini, sementara di luaraan sana banyak orang-orang dengan kemampuan menulis yang layak bukunya diterbitkan malah susah tembus ke penerbit. Jadi jangan sia-siakan kesempatan itu wahai para selebtwit.

Keterangan Buku:

Judul                                     : Heart Emergency

Penulis                                 : Falla Adinda

Editor                                    : Widyawati Oktavia

Proofreader                       : Dewi Fita

Desainer sampul              : Gita Mariana

Penata letak                       : Gita Mariana

Ilustrator                             : Merlinawati

Terbit                                    : 2011

Penerbit                              : Bukune

Tebal                                     : 312 hlm.

ISBN                                      : 602-220-021-0

Indonesia Romance Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/01/indonesian-romance-reading-challenge-2014/

Young Adult Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/07/young-adult-reading-challenge-2014/

New Authors Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/02/new-authors-reading-challenge-2014/

4 thoughts on “REVIEW Heart Emergency

  1. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s