REVIEW Origami Hati

  origami hati

Kadang saat kita jatuh cinta, kita terlalu memaksa orang yang kita cinta hanya mencintai kita. Padahal, setiap orang punya masa lalu. Apalah artinya aku hidup denganmu nanti, sedangkan masa lalumu masih hidup di hatimu. Mencintai seseorang tak perlu meminta ia melupakan masa lalunya. (hlm. 199)

ARUNA

Rasa sesak masih terasa di dadanya. Ingin rasanya ia mengutuk Haga, mengutuk perasaannya, atau mungkin mengempaskan kepalanya ke dinding kelas yang terbuat dari beton agar ia hilang ingatan, aar ia bisa melupakan rasa sakit itu. Tapi ia sadar, kalau itu bukan cara terbaik untuk menyembuhkan hati. Aruna bahkan tak peduli dengan tugas kuliah yang harus ia kerjakan. Juga tidak peduli dengan tugas koran kampus untuk membuat kliping sebagai tugas calon anggota baru. Yang ia tahu, malam itu ia hanya ingin menikmati rasa sakitnya. Ia hanya ingin menikmati rasa sedihnya. Tak ada pikiran lain di benaknya selain pada lelaki yang sudah mengkhianatinya itu.

BAGAS

Hatinya remuk. Raut wajah perempuan itu kembali mengingatnya. Anila. Kekasih yang dicintainya itu kini tak lagi pernah memperhatikannya. Sejak dua tahun yang lalu. Sejak gempa terjadi di kotanya. Saat semua bangunan megah seakan tak tak punya kekuatan untuk berdiri. Saat ia dan Anila menikmati sore di atas lantai atas gedung fakultas mereka. Gempa itu merenggut perempuan yang ia cintai. Sebulan ia terlihat seperti orang gila. Bahkan, ibunya sangat khawatir. Butuh satu tahun baginya untuk bisa datang ke kampus lagi. Terlalu banyak kenangan bersama Anila yang tak bisa ia lupakan. Dan yang paling menyakitkan, ia harus melihat perempuan yang ia cintai pergi menuju pelukan Tuhan.

Berhubung membaca buku ini dalam rangka posting bareng Blogger Buku Indonesia bulan September bertema buku berating rendah, mari kita bahas kekacrutan buku ini:

  1. Dari segi tema. Aduh, bukunya menye-menye banget. Patah hati, kemudian move on. Temanya terlalu mainstream deh!
  2. Novelnya kan bersetting Padang, tapi kok nggak ada dialog Minang sama sekali? Padahal kalo mau, ini bisa jadi modal plus novelnya. Bisa juga ditambah lagi romansa-romansa setting Padang. Sebenarnya ada beberapa tempat yang dimunculkan bearoma Padang, misalnya di halaman 71 bersetting Jembatan Siti Nurbaya. Kemudian di halaman 86 juga lumayan. Tapi hanya sekedar tempelan saja. Padahal banyak banget tempat di Padang yang bisa dieksplorasi lebih lanjut dan mempercantik isi buku ini.
  3. Di halaman 83 kesannya kok kayak anak sekolahan gitu. Padahal kan ini ceritanya anak kuliahan… –“
  4. Di halaman 9-10 diceritakan jika Aruna yang sudah putus dengan Haga harus membiasakan diri tanpa perlu dijemput-antar lagi oleh Haga. Yaelah, jadi tujuan pacaran itu biar bisa dianter-jemput gratis? Pacaran aja ama tukang ojek :p
  5. Adegan di halaman 48-49 ketika Aruna memeluk Bagas yang waktu itu belum kenal-kenal amat. Sekalut-kalutnya hidup, masa iya tetiba meluk lawan jenis yang bukan siapa-siapanya. Oh, untung aja si Bagas bukan cowok yang suka memanfaatkan situasi.
  6. Udah tahu cowoknya salah, cowoknya selingkuh di depan mata masih gak move on juga? Cowok macam gitu mending lempar ke Zimbabwe ajah!😀
  7.  Bahasanya terlalu baku.

Sebenarnya ada juga poin plus buku ini. Covernya kayak dobel gitu. Terus ada bonus origaminya plus amplopnya juga. Banyak juga beberapa kata favorit:

  1. Semuanya rencana Tuhan. Kamu harus menjalaninya. (hlm. 6)
  2. Cinta memang mengubah segalanya. Termasuk kebiasaan yang sudah sangat dibiasakan sekali pun. (hlm. 19)
  3. Cinta selalu butuh waktu untuk menerima dan menyatakan. (hlm. 75)
  4. Cinta adalah cara Tuhan mengisi hati dengan hal-hal yang kadang tak pernah kamu pikirkan. (hlm. 91)
  5. Pacar gampang dicari, tapi menemukan sahabat tidak segampang itu. (hlm. 93)
  6. Karena cinta tak pernah punya jam. (hlm. 139)
  7. Cinta datang begitu saja. (hlm. 164)

Ada juga selipan beberapa sindiran halus:

  1. Karena lelaki yang jatuh cinta sebenarnya tak akan menyerah untuk mendapatkan seseorang yang membuatnya jatuh cinta. (hlm. 75)
  2. Bukankah cinta tak perlu syarat apa pun untuk tetap merasakannya? Bukankah cinta datang dengan segala bahagianya, juga sakitnya. (hlm. 133)
  3. Melupakan kenangan pahit harus sepenuh hati. (hlm. 153)

Penulisnya merupakan selebtwit berfollowers bejibun. Kalo dari twit-twit galaunya yang sering di retweet para ababil, harusnya bisa menjadi potensi lebih untuk menghasilkan karya yang maksimal. Menerbitkan buku nggak cuma modal berfollowers segambreng. Banyak juga kok selebtwit yang mampu menghasilkan karya yang berkualitas. Penulisnya baru saja menerbitkan buku terbarunya, semoga saja isinya bisa lebih baik dari buku yang pertama ini.

Keterangan Buku:

Judul                                     : Origami Hati

Penulis                                 : Boy Candra

Penyunting                         : Andri Agus Fabianto

Penata letak                       : Wie

Pendesain sampul           : Oxta Estrada

Penerbit                              : PT. Wahyu Media

Terbit                                    : 2013

Tebal                                     : 214 hlm.

ISBN                                      : 979-795-778-0

Indonesia Romance Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/01/indonesian-romance-reading-challenge-2014/

Young Adult Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/07/young-adult-reading-challenge-2014/

New Authors Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/02/new-authors-reading-challenge-2014/

6 thoughts on “REVIEW Origami Hati

  1. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s