REVIEW The Dusty Sneakers

   the dusty sneakers

Saat kau pergi suatu tempat, kau meninggalkan sepotong kecil dirimu di sana. (hlm. 67)

Penulis sama-sama mencintai perjalanan dan kejutan-kejutan yang ada di dalamnya. Penulis sama-sama menyukai indahnya alam, obrolan hangat sesama pejalan, wajah-wajah kemanusiaan yang mereka ketahui, dan kekayaan sejarah dari tempat-tempat yang mereka singgahi. Sungguh itu adalah suatu waktu  ketika mereka begitu muda, begitu bertenaga, dan bergelora.

Hingga suatu hari mereka harus terpisah oleh jarak dan waktu. Hingga tercetuslah sebuah ide untuk membuat blog bersama tentang perjalanan. Yang satu untuk menampung kisah-kisah perjalanannya di Eropa, sedangkan yang satunya lagi untuk petualangannya di Indonesia.

Mereka sepakat bahwa mereka tidak hendak menulis bagaimana ke suatu tempat atau apa yang bisa dimakan di sana. Mereka akan menulis pengalaman-pengalaman pribadi yang mereka alami, perasaan-perasaan yang timbul, obrolan-obrolan yang tercipta, orang-orang menarik yang mereka jumpai, atau refleksi-refleksi yang timbul darinya.

Mereka mencoba menulis bagaimana mereka memaknai perjalanan-perjalanan tersebut. Bagaimana terkadang perjalanan menemukan tempat baru di luar sana adalah perjalanan menemukan sisi baru di dalam diri mereka sendiri. Juga terkadang dapat merupakan perjalanan untuk melihat kembali pilihan-pilihan yang mereka buat atau bagaimana hubungan mereka dengan rumah, keluarga, atau orang terdekat. Seperti sebuah kaleidoskop, mereka menjadikannya sebuah kumpulan catatan perjalanan yang berwarna-warni.

The Dusty Sneakers. Itulah nama blog mereka. Bisa di cek di http://thedustysneakers.com/

 

Yang satu memilih nama ‘Gypstoes’, nama yang mengingatkannya akan seseorang gadis kecil yang selalu riang gembira berlarian kesana-kemari. Kemudian yang satunya menggunakan nama ‘Twosocks’ yang mengingatkannya akan sebuah kisah masa kecil. Twosocks adalah seorang bocah Indian yang pemberani.

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Berbahagialah mereka yang bisa berbuat banyak hal baik untuk bangsanya. (hlm. 19)
  2. Karakter seseorang tidak dilihat dari apakah dia menjadi frustasi atau tidak, tetapi bagaimana dia menangani frustasinya. (hlm. 65)
  3. Memori adalah hal yang aneh. Terkadang dia bisa berubah-ubah, terkadang sangat hidup, dan terkadang hilang sama sekali. Ada sedikit memori lain yang mungkin tak akan memudar dengan mudah. (hlm. 114)
  4. Tempat apa pun tampaknya bisa jadi menyenangkan jika kita pergi dengan kawan yang tepat. (hlm. 117)
  5. Perjalanan ke masa lalu selalu menciptakan perasaan yang sendu. (hlm. 175)

Banyak sindiran halus dalam buku ini:

  1. Merauke dan Papua secara umum, adalah wajah Indonesia yang lain.wajah yang seharusnya lebih sering dilihat dan ditempatkan di bagian yang agak menyendiri di belakang. Ada sesuatu yang harus diperbaiki tentang bagaimana Indonesia memandang dan menempatkan Papua. (hlm. 13)
  2. Dunia luar boleh maju sesuka hati, mereka akan tetap dengan cara hidup warisan turun-temurun. (hlm. 100)
  3. Patutkah cara pandang yang sama harus dipaksakan kepada keturunan mereka? Adilkah untuk memaksa definisi kebahagiaan yang sama kepada anak-anak termasuk untuk tidak mengenyam bangku sekolah atas nama menjaga warisan budaya leluhur? (hlm. 101)
  4. Perempuan justru sering menjadi pihak yang disalahkan jika pelecehan terjadi. Karena pakaian yang dikenakan menggoda birahi, wajarlah kalau mereka diganggu. (hlm. 124)
  5. Para hidung belang adalah hidup belang. Tidak ada hubungannya bagaimana perempuan berpakaian. (hlm. 125)
  6. Polisi rakus minta ampun, kita akan dibuatnya melarat kalau ketahuan melanggar. (hlm. 198)
  7. Masa lalu terkadang sering terlalu diromantisasi. (hlm. 219)
  8. Gaya dan selera liburan itu sah-sah saja. Bergaya backpacker, turis, main ke desa, clubbing semalaman, tergantung selera masing-masing. Tidak ada yang lebih superior satu atas lainnya. (hlm. 227)
  9. Bahkan, orang yang lahir di kota yang sama bisa memiliki pengalaman berbeda. (hlm. 242)

Uwoww…iri banget ama penulisnya, bisa so sweet gitu nulis bareng meski berjauhan. Pengen juga ya punya rekan hidup yang sehobi #eaaa #MalahCurcol ~~~(/´▽`)/

Dari segi isi penulisnya punya ciri khas yang berbeda. Twosocks tulisannya gak cuma sekedar jalan-jalan semata, tapi lebih ke kritik sosial memotret kehidupan masyarakat Indonesia terutama yang jarang terjamah media. Misalnya saja di halaman 18 yang #PLAKK banget ini.

the dusty sneakers 2

Sedangkan Gyptoes yang jalan-jalan di negara lain, juga bikin iri sangat. Apalagi di bagian sub judul ‘Menyapa Sahakespeare di Paris. Uhuk, suka banget ama kalimat ini (’ )┌♥┐( ‘)

 the dusty sneakers 3

Keterangan Buku:

Judul buku                          : The Dusty Sneakers

Penulis                                 : Teddy W. Kusuma & Maesy Ang

Penyunting                         : Fiore

Penyelaras aksara            : Mutiah Z.

Penata aksara                    : Nurhasanah Ridwan

Desainer sampul              : Iggrafix

Penerbit                              : Noura Books

Terbit                                    : Agustus 2014

Tebal                                     : 272 hlm.

ISBN                                      : 978-602-1306-32-1

3 thoughts on “REVIEW The Dusty Sneakers

  1. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s