REVIEW Hijabers in Love

  hijabers in love

Sering kali kita mencari cinta dengan berusaha mencintai orang lain, tapi lupa mencintai diri sendiri. Kita berusaha menjadi orang lain, lalu kita kehilangan diri sendiri. Dan saat itulah kita mencintai tapi tak bahagia. Karena kita berharap mendapat balasan atas cinta. (hlm. 133)

ANNISA:

Tomboy, hobi main basket. Cuek banget, saking cueknya sampai malas sisiran. Berjiwa aktif, bahkan jam istirahat atau kosong pun dia habiskan untuk bermain basket.

JELITA:

Kebalikannya Annisa. Remaja ini sudah lama berhijab. Tipikal anak Rohis banget; anggun, shalelah, manis, santun dan baik hati. Karena pendiam, apa yang dirasakannya pun hanya dipendam dalam hati.

ANANDA:

Ketua ROHIS. Sama seperti Jelita, Ananda ini tipikal anak Rohis banget; rajin di masjid, menundukkan pandangan ketika berhadapan dengan lawan jenis serta tekun belajar. Paket komplit inilah bikin kesengsem lawan jenisnya, gak cuma anak-anak Rohis saja klepek-klepek dibuatnya.

Baca ini mengingatkan saya akan masa-masa SMA. Jadi, dulu ada teman seangkatan yang suka ama Ketua ROHIS. Tau sendirilah embernya manusia berseragam putih abu-abu. Rahasia yang harus disimpan rapat-rapat justru malah jadi konsumsi publik. Sampe kasihan ama dia, kerap dibully sama teman-temannya.

Nah, pas kerja di sekolah rasanya kayak de javu. Awal-awal tahun kerja di sekolah, kebetulan lebih dekat dengan anak-anak yang ikut eskul Rohis. Bedanya, kalau dulu anak-anak Rohis benar-benar menjaga pandangan, jaman sekarang anak-anak Rohis juga pacaran. Malah dua ketua Rohis berturut-turut yang saya tahu, rata-rata kerap kali gonta-ganti pacar. Byuh…

Nah, kalau ketua Rohis yang sekarang nggak begitu kenal karena dia jarang ke perpustakaan. Tapi ketua yang sekarang cukup fenomenal karena banyak murid-murid cewek yang suka, kakak-kakak kelas pula. Jadi selang dua hari abis baca buku ini, pas sore-sore ngenet di perpus, kebetulan ada beberapa murid yang juga belum pulang. Waktu itu saya lagi galau memilih buku yang pengen dibeli gegara ada toko buku online jual buku-bukunya berharga miring semua, eh muridnya pada heboh! Yup, mereka galau yang lain. Tepat di depan perpustakaan, ada si ketua Rohis. Salah satunya dengan tanpa malu-malu cerita ke saya di depan teman-temannya bahwa dia suka banget ama ketua Rohis ini. Biasanya kalo suka ama cowok, deg-degannya nggak gini-gini amat, gitu katanya. Byuh…anak jaman sekarang. Ehhh..besoknya dia sekolah pakai jilbab, semoga berhijabnya karena Allah ya, bukan karena biar dilihat si ketua Rohis #eaaa😀

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Tak ada orang yang senang digurui. Menggurui dan mengajarkan merupakan dua hal yang berbeda. (hlm. 45)
  2. Bermain musik akan melatih kesabaranmu. Musik juga membuatmu lebih peka. (hlm. 49)
  3. Kalau kamu ikhlas, insya Allah pintu kemudahan akan terbuka. (hlm. 49)
  4. Percaya deh. Nggak ada kok yang nggak bisa dipelajari. (hlm. 50)
  5. Berdoa. Semua ada kok jalan keluarnya. Udah disedian ama Allah. (hlm. 118)
  6. Tak ada orang yang berhenti mencintai seseorang. Kalau kamu pernah mencintai seseorang, kamu akan selalu mencintainya. Carilah yang memang kamu cintai, bukan yang kamu pikir kamu cintai. (hlm. 129)
  7. Jatuh cinta dan jatuh hati, itu semuanya rahmat. Artinya kamu masih punya hati. (hlm. 132)
  8. Tujuan berteman atau bergaul seharusnya bukan untuk memiliki orang lain yang melengkapi kita, tapi untuk memiliki orang lain demi kita lengkapi. Saat melengkapi orang lain inilah kita tahu siapa sebenarnya kita dan seberapa jauh kita bisa mencintai tanpa berharap apa-apa. (hlm. 133)
  9. Mencintailah karena Allah. Berharaplah balasan cinta hanya dari Allah. Maka kamu akan menjadi muslimah yang penuh cinta perlu menjadi orang lain. (hlm. 134)
  10. Mencintailah tanpa berharap apa-apa, karena itulah yang dilakukan Tuhan setiap saat. (hlm. 165)
  11. Kalau kita telah menjilbabi tubuh dengah sempurna, insya Allah akan lebih mudah menjilbabi hatimu. (hlm. 172)

Banyak juga sindiran halusnya:

  1. Harga bawang merah dan tas memang satu dari banyak hal yang sering diperbincangkan oleh ibu-ibu. (hlm. 22)
  2. Biasanya kalo kerudungnya ribet, orangnya ribet juga. (hlm. 48)
  3. Ternyata kebencian bisa jadi cinta. (hlm. 49)
  4. Nggak selalu nih, setiap abis istikharah terus kita dapet jawabannya. Bisa juga jawabannya di depan mata tapi kita nggak mau percaya. (hlm. 146)
  5. Disesaki cinta kadang malah melegakan. (hlm. 158)
  6. Siapa yang pertama kali mempopulerkan tradisi mencoret baju saat pengumuman lulus ujian? (hlm. 163)

Beberapa kutipan tentang jilbab:

  1. Emang kalo jilbaban boleh main basket? (hlm. 23)
  2. Kalo udah pake jilbab, masih boleh naksir cowok nggak sih? (hlm. 32)
  3. Masa pake kerudung bajunya ketat begitu? (hlm. 73)
  4. Sebenarnya, nggak terlalu penting alasannya apa. Yang penting, setelah pakai jilbab, kamu ikhlas atau nggak. (hlm. 154)

Ada banyak alasan seseorang berhijab. Saya berjilbab agak telat, kuliah semester lima. Tapi sejak jaman putih abu-abu udah ikutan Rohis loh meski masuk golongan anggota Rohis yang nggak berjilbab bisa dihitung jari. Begitu juga pas kuliah, saya yang juga belum pakai jilbab pun malah terpilih sebagai Pemred Buletin Masjid Fakultas. Tak jarang saya mendapat sms maupun teror begini; “Nggak pakai jilbab kok ya jadi Pemred Buletin Masjid?” #JLEBB

Sebenarnya udah ada niatan banget dari jaman SMA pengen pakai jilbab. Tapi masih merasa imannya belum kuat. Apalagi pas jaman sekolah dulu masih bisa dihitung yang benar-benar berjilbab, itupun rata-rata memang sudah kuat iman dan mental semua. Beda ama anak-anak sekolah jaman sekarang yang rata-rata berjilbab meski niatnya kebanyakan buat gegayaan atau banyak juga rambutnya pirang daripada ribet kena guru BK jadi cara paling aman ya pake jilbab. Di luar sekolah yang lepas deh tuh jilbab. Kebanyakan sih rata-rata begitu…

Terus, pas awal kuliah juga udah diniatin, lagi-lagi gagal lagi. Nah, baru deh gegara baca sebuah buku hatinya tersentuh. Sebelumnya, udah tahu ada dalilnya, udah banyak buku yang dibaca tentang jilbab, tapi kok ya masih bebal hati ini. Barulah pas baca Agar Bidadari Cemburu Padamu-nya Salim a. Fillah, hati baru tersentuh.

Dulu mikirnya mau berjilbab kalau iman udah beres dulu. Solat masih di ujung waktu, ngaji juga nggak tiap hari. Tapi mau sampai kapan kalau berjilbab nunggu sampai siap? Ntar keburu dipanggil Allah #plakk

Hijab memang seharusnya menutupi kecantikan. Agar bisa melindungi wanita. Berhijab itu untuk melindungi. Jadi, kalau kamu pakai hijab dan masih digoda, berarti mungkin ada yang nggak benar dengan hijab kamu, atau dengan sikap kamu. (hlm. 16)

Novel ini cocok dibaca buat remaja yang masih ragu dengan hijabnya. Dan bisa memberikan jawaban apakah sesungguhnya tujuan berhijab itu. Dikemas apik tanpa terkesan menggurui.

Keterangan Buku:

Judul                                     : Hijabers in Love

Penulis                                 : Oka Aurora

Foto                                       : Ferdiansyah

Editor                                    : Meilia Kusumadewi

Proofreader                       : Raya Fitraharyani

Desainer sampul              : Suprianto

Perwajahan isi                   : Ayu Lestari

Penerbit                              : Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : 2014

Tebal                                     : 187 hlm.

ISBN                                      : 978-602-03-0913-2

hijabers in love 1

Indonesia Romance Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/01/indonesian-romance-reading-challenge-2014/

Young Adult Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/07/young-adult-reading-challenge-2014/

31 thoughts on “REVIEW Hijabers in Love

  1. Pingback: GIVEAWAY Hijabers in Love | Luckty Si Pustakawin

  2. Aku udah nonton film nya, tapi belum baca novelnya. Dan film nya emang bagus, remaja yang galau karna hijabnya, banyak pelajaran juga yg didapet dari novel ini. Dari review ini juga jadi tau banyak kalimat yang bagus dan ngena banget di hati..

  3. Keren banget reviewnya kak…banyak kata sindiran buat aku..soalnya aku juga baru berhijab tahun ini…tp masih blm syar’i bener…pengen terus menyempurnakan..Makasih buat reviewnya🙂

  4. what a teenager’s life! haha ini bener2 menggambarkan kehidupan siswi berhijab di SMA jaman sekarang. Kebetulan aku sendiri pernah mengalami fase jadi Annisa sampai Jelita (labil).
    Buku yang cucok buat remaja yang lagi cari jati diri (y)

  5. Reviewnya menarik mba, ga hanya tentang bukunya tapi juga disisipi cerita di dunia nyata. Kalau baca ceritanya mba, jadi kangen masa2 SMA (walaupun kalo saya mah ga ada cerita naksir ketua rohis hahaha). Jadi semakin pengen baca kisah hijabers di buku ini deh, apalagi karyanya mba Oka Aurora😀
    Saya sepakat banget, berhijab itu ga harus nunggu kita perfek dulu imannya (da aku mah apa atuh, begini2 aja :p) kalo nunggu begitu ga jadi2. Berhijab bukanlah tanda kita sudah sempurna tapi justru langkah awal untuk jadi semakin baik dan lebih baik lagi ke depannya🙂

  6. Seharusnya aku dapat novel ini,karena waktu gramedia bikin Thr buku ada yang mention ngasih buku ini dan dia menang, otomatis aku dapet buku yang dia mau kasih. tapi dasar belum rezeki, kata orang gramedianya, stok buku kosong dan disuruh ganti samabuku lain.
    Aku suka sama gaya tulisan mbak Oka,Aku punya bukunya “Hanya 12 Menit”, gaya penulisannya tipe mengalir tapi menyentuh. Aku jadi penasaran sama buku yang ini.

  7. Rasanya saya ‘sedikit’ kembar dengan Jelita: pendiam.:p Wah, saya jadi penasaran pengen melahap habis buku ini, menelisik lebih dalam lagi tentang apa arti ‘hijab’ dengan tipe tulisan Mbak Oka yang mengalir, halus. “Atas berhijab, kok bawahnya ketat?” Haaaaa! Sayapun juga pernah ditampar dengan kalimat yang dilontarkan guru madrasah saya: karena pada malam itu saya tidak memakai rok, malah memakai celana. Celana pensil pula. Malunya tuh dimana-mana-_- Semenjak malam itu saya berniat, bertekad, untuk tidak mengulanginya. Setidaknya saya masih berusaha, sampai saat ini, dan Insyaalloh sampai kapanpun jua. Amiin.🙂

  8. Duuuh kak Luckty, reviewnya nohok *kesentilnya tuh di siniiii *tunjuk telinga* hahaaa

    Beneran. Baru baca reviewnya doang, udah kesentil, apalagi baca bukunya beneran, bisa ketendang. Yahhh, meski udah nyaris 2 tahun jadi hijaber, tapi galaunya itu masih ada loh. Kadang ada rasa males hijaban pas lagi bolak balik ke warung, atau pasar. Kadang masih juga lemparin hijab pas lagi di rumah, eh, padahal kan tamu berjenis kelamin cowok bisa aja sewaktu-waktu dateng. Kadang juga sampe berkaca-kaca mandangin dress selutut yang cantiiiikkk banget dan lagi diskon pula. Fiuh, hijaban itu nggak sesimple kelihatannya ya, kak.

    Buku ini kudu wajib dan harus banget dibaca. Makanya, menangin aku di giveawaynya ya kak *kena timpuk* mhihiiii

  9. Reviewnya bikin saya jadi ngaca diri *jleeeb bangeet
    Masih banyak yg harus saya perbaiki dalam hijab saya dan buku ini juga banyak sentuhan kalimat2 cantiknya yg bisa bikin para pembaca bilang *bener juga yaa…
    Pengen banget baca bukunya, supaya ke sebar semangat positifnya🙂 aamiin
    sekian & terimakasihh

  10. Hmmm ini cerita remaja ternyata. Saya besar di sekolah komunitas nasrani jadi nggak ngalamin masa Rohis di jaman putih abu abu haha. Sekolah SMAku malah sekolah keputrian katholik. Jadi penasaran gumana sih “naksir naksiran” anak ROHIS. Karakter Anisa, Jelita dan Ananda kayaknya tipikal remaja masa kini banget.
    Novel remaja ini sepertinya manis dan legit, mungkn bisa kubaca bersama putriku.

  11. Hmmm ini cerita remaja ternyata. Saya besar di sekolah komunitas nasrani jadi nggak ngalamin masa Rohis di jaman putih abu abu haha. Sekolah SMAku malah sekolah keputrian katholik. Jadi penasaran gumana sih “naksir naksiran” anak ROHIS. Karakter Anisa, Jelita dan Ananda kayaknya tipikal remaja masa kini banget.
    Novel remaja ini sepertinya manis dan legit, mungkn bisa kubaca bersama putriku.

    Terima kasih

  12. tokoh-tokohnya masing-masing punya kepribadian yang berbeda-beda dan realitanya banyak di masyarakat. pastinya bakal banyak remaja yang kesemsem sama novel ini. kemiripan lokasi, sifat dna kisah menjadi daya tarik tersendiri ^^

    Iya yaaa… dulu juga saya sering heran, katanya naka Rohis tapi kok pacaran? Alasannya sih pacaran syar’i….tapi emang ada ya? Enggg…

    Iya juga yaa… Saya juga dulu nunda-nunda pakai hijab. Andai penulisnya bisa menulis lebih cepat hingga novel ini ada di tangan saya lebih cepat juga, beberapa tahun sebelum ini, pastinya saya seudah lebih mantap berhijab sebelum ini. Eniweeeiii…. 2 jempol untuk novel islami ini^^

  13. Reviewnya bikin penasaran. Dari kalimat Mbak Luckty diatas yg bilang buku ini cocok utk remaja yg masih ragu berjilbab, kayaknya ini bacaan ringan tapi sarat pembelajaran gitu. Maafkan ke-soktau-an saya🙂
    Ada jg kalimat yg bikin saya penasaran; Biasanya kalo kerudungnya ribet, orangnya ribet juga. (hlm. 48). Penasaran aja gitu, kerudung yg bagaimana yang disebut ribet dalam buku ini.

    Pokoknya review ini sukses deh jadi kompor buat ngomporin kita utk cepet” punya dan baca buku ini🙂

  14. wih… kayaknya seru ya? apalagi saya juga masih remaja #eeaaa pasti pas banget buat bacaan saya😄 , kebutulan saya berjilbab dari 1 SMP sampe sekarang (tapi sekarang belum berhijab, masih pake celana ketat, hhaha *Astagfirullah)

  15. Ini seru ya percintaan gitu terus ceweknya pake jilbab padahal kan banyak yang bilang kalo kita itu gak boleh pacaran kan? Ini emang bkn tentang itu sih. Quotenya kok ngena banget serasa menyindir saya haha.
    oh ya kalo boleh cerita dikit saya pakai jilbab dari tahun kemaren karena masuk universitas Islam mungkin Allah manggil saya lewat hal itu kali ya kalo gak masuk situ belum tentu saya pake jilbab. Tapi Alhamdulillah sekarang saya sudah nyaman. Cuma ya sikap mungkin harus diubah memang gak ada yg sempurna tapi saya sadar sikap saya masih tidak cocok dengan jilbab yang saya pakai:)

  16. Ini seru ya percintaan gitu terus ceweknya pake jilbab gitu padahal kan banyak yang bilang kalo kita itu gak boleh pacaran kan? ini emang bukan tentang itu sih.
    Quote dalam novel ini ngena banget seperti menyindir saya haha.
    Oh ya kalo boleh sharing sedikit saya pakai jilbab dari tahun kemaren karena masuk Universitas Islam mungkin Allah memanggil saya untuk menutup aurat lewat hal itu ya kalo gak belum tentu saya pakai jilbab. Tapi Alhamdulillah sekarang sudah nyaman:)

  17. Sedikit ceritaku tentang hijab, aku sih… kalau boleh jujur ya, masih kadang-kadang pakai jilbab. Yang lebih sering ya tentunya pas ke sekolah, karena ini sudah jadi aturan wajib dan harga mati (#eeeaa). Kalau di rumah, maksudnya di sekitaran lingkungan rumah, agak nggak begitu sering, masih sering pasang-lepas. Aku sih mikirnya dangkal banget ya, karena kalau tiba-tiba pakai jilbab, rasanya tuh orang mikirnya sinis mulu, nggak enaknya tuh dibilang sok alim, padahal ya kan ini demi kebaikan juga. Ya mungkin kalau di rumah sih nggak papa, InsyaAllah seiring waktu mulai konsisten pakai jilbab.

    Dan… kalau boleh pilih antara Annisa atau Jelita, aku sih lebih suka pribadi Annisa ya. Hijaber tomboy, bisa main basket pula, dan biasanya sih… yang mampu meluluhkan hatinya seorang laki-laki kayak Ananda sih ya semacam Annisa gini, efek dari sinetron biasanya sih gitu =))

  18. Penasaran banget ingin baca lebih lengkap buku ini. Melihat review-nya saya terlempar ke tahun 2000-2003. Masa dimana hijab benar-benar sedang mengalami dilemanya sendiri-sendiri.

  19. Reviewnya lengkap banget mba… Jadi pengen beli novelnya..😀
    Apalagi ceritanya hampir sama kaya pengalamanku pas SMA. Dulu aku tomboy banget, suka basket, pramuka, OSIS, pokoknya pecicilan banget. Sampai akhirnya aku ngefans sama ketua OSIS yang juga anak Rohis. Tapi bedanya aku baru berhijab setelah kerja😦

  20. ” Dulu mikirnya mau berjilbab kalau iman udah beres dulu. Solat masih di ujung waktu, ngaji juga nggak tiap hari. Tapi mau sampai kapan kalau berjilbab nunggu sampai siap? Ntar keburu dipanggil Allah #plakk ”

    Aku pernah baca buku kuno yang komplit banget ngebahas biar para muslimah memakai jilbab. Intinya apapun alasannya, muslimah memang harus berjilbab. Gak ada kata menguatkan iman dulu. Karena ketika kita berhijab, otomatis kita akan memperkuat iman dengan sendirinya. Kadar iman seseorang, hanya Allah yang tau kan? Kalo nunggu hidayah, hidayah itu kan bisa dijemput. Kita sudah tau ayatnya, perintahnya, dan maksudnya. Hidayah apalagi yang ditunggu. Nunggu dipanggil Allah? Yaaa.. begitulah kata bukunya. mak jleb semua tapi logis. Memang ya, mematuhi perintahNya itu suliiit banget. Setannya banyak!

    Buku ini kayaknya bagus ya. Saya harap ndak ada kesalahan atau keambiguan di dalamnya karena ini menyangkut prinsip agama. identitas seorang muslimah. Semoga semakin memantapkan diri dalam berhijab dan berhijab sesuai ketentuan dariNya.

  21. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s