REVIEW Dimensi

 dimensi

Tuhan itu Mahasempurna. Tidak ada satu pun hal yang Tuhan ciptakan sia-sia. Tuhan punya maksud yang baik dan rencana yang indah. (hlm. 100)

ZHAFIRA MASSAWA. Putri tunggal pasangan dokter. Husin Massawa dan Nyimas Aryati. Sejak kecil ia terlihat berbeda dibandingkan dengan anak-anak seusianya. Perbedaan itu semakin jelas ketika ia menginjak usia remaja.

Cewek berdarah campuran Arab-Palembang-Sunda itu lebih banyak diam dan asyik dengan dunianya sendiri. Zhafira lebih suka membaca atau mendengarkan musik daripada berkumpul dengan teman-temannya. Bepergian pun lebih suka sendiri.

Dua bulan yang lalu Abi pindah tugas ke Rumah Sakit Mitra Sehat Bandung. Umi yang tak mau pisah jauh dengan Abi, ikut-ikutan mengajukan surat pindah dinas kekota yang sama namun rumah sakit dengan Abi.

Mau tak mau Zhafira harus ikut pindah. Padahal Zhafira suka sekali tinggal di Palembang yang hangat dan tenang. Berat rasanya saat harus meninggalkan SMA Negeri 16 Bandung, tapi mau bagaimana lagi. Umi dan Abi pasti tak akan mengizinkannya tinggal di Palembang tanpa mereka meskipun nenek dan keluarga besar menatap di sana.

Rumah baru, lingkungan baru, sekolah baru. Zhafira harus mulai beradaptasi lagi.

Begitu memasuki kota Bandung, Zhafira menangkap kilatan-kilatan cahaya, desing-desing suara, dan aura-aura yang bercampur baur. Semua itu membuatnya merasa tidak nyaman.

Kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Tidak seorang pun bisa menahan rahmat yang dianugerahkan Tuhan kepada manusia. Begitu juga, tidak seorang pun dapat melepaskan apa saja yang ditahan oleh Allah. (hlm. 99)
  2. Jangan mengeluh. Keluhan itu bisa mengganda di otakmu dan akan membuat mentalmu semakin lemah. Belajarlah untuk bersyukur. Sekecil apa pun nikmat yang kamu peroleh, jangan menggerutu. (hlm. 101)
  3. Yang harus kamu lakukan adalah menerima diri kamu apa adanya biar terasa lebih ringan. Semakin kamu menolak, hatimu akan terasa lebih ringan dan tenang. (hlm. 101)
  4. Tuhan memiliki banyak rahasia. Manusia hanya diberi sedikit ilmu untuk mempelajari dan mengungkapkan rahasia-rahasia itu, termasuk tentang hal gaib. (hlm. 146)
  5. Jika Allah sudah berkehendak, tak seorang pun dapat mencegahnya. Kita harus banyak-banyak bertobat, memohon ampun. Semua benca ini akibat ulah manusia yang tak bertanggung jawab. (hlm. 150)
  6. Tulang rusuk dan pemiliknya nggak akan tertukar. (hlm. 161)

Kalimat sindiran halus dalam buku ini:

  1. Khas cewek kota besar, sosmed mania. (hlm. 17)
  2. Cewek bawel selalu mengikuti berita terbaru. (hlm. 17)
  3. Joging di Bandung itu enak. Udaranya masih bagus, sehat dan segar. Nggak seperti di Palembang. (hlm. 25)
  4. Jangan marah-marah nanti cepat tua. (hlm. 27)
  5. Kayak anak kecil aja harus diantar segala. (hlm. 29)
  6. Ngapain sekolahbawa-bawa kamera. (hlm. 31)
  7. Mana ada anak SMA yang mau sama bapak-bapak. (hlm. 32)
  8. Enak aja nyuruh-nyuruh orang. Ambil aja sendiri. (hlm. 34)
  9. Ketinggalan catatan pelajaran? Gampang. Pinjam saja. (hlm. 46)
  10. Guru-guru kita tuh terlalu parno. Ngiranya kalo ngidupin hape di kelas cuma buat SMS-an, fesbukan atau twitteran. Padahal kan belum tentu. (hlm. 47)
  11. Sayang banget kalo nggak ikut eskul apa-apa. (hlm. 48)
  12. Jangan gombal-gombalan aja. Belajar. Ingat, kita generasi muda penerus bangsa. (hlm. 51)
  13. Masa orang mau pingsan aja musti ngajuin proposal dulu? (hlm. 73)
  14. Ngasih informasi kok nggak tuntas gitu. (hlm. 113)
  15. Di perpus cuma dilarang berisik. Nggak dilarang pacaran, kan? (hlm. 135)
  16. Nggak usah jitak-jitak gitu. Ini kepala tahu, bukan pintu yang emang buat diketok-ketok. (hlm. 157)
  17. Ini kepala bukan buat dijitak-jitak, tapi buat disayang-sayang, tahu. (hlm. 158)

Cerita tentang cahaya di halaman 72 mengingatkan saya akan pengalaman pribadi. Pernah nggak sih mimpi kita serasa masuk terowongan panjaaaannng banget dan nantinya akan tembus ke dunia lain. Pokoknya kayak berasa kayak di film Alice in Wonderland gitu. Jaman-jaman SMP saya lumayan sering ngalamin kayak gini. Oya, pas tidur beberapa kali juga kayak ngalamin jiwanya terbang padahal tubuh kita tidur. Hingga beranjak dewasa, masa-masa itu sudah nggak pernah menghinggapi lagi.

Butuh waktu dan proses untuk mengendalikan diri. (hlm. 68)

Gara-gara baca buku ini jadi banyak nanya ama om yang memang indigo. Semua orang pada dasarnya punya kemampuan untuk memiliki indra keenam. Tinggal mau di asah atau tidak. Atau ada yang sudah tajam dengan sendirinya. Dari semua kekuatan yang ada di luar batas kita, sesungguhnya yang bisa mengendalikan adalah diri kita sendiri. Bukan orang lain, itulah yang dialami Zhafira yang masuk kegolongan indigo intradimensional.

Indigo ini adalah yang bisa pindah tempat ke mana saja dan kapan saja. Bisa menembus dimensi dan waktu. Bisa keluyuran di dunia astral. Nggak semua anak indigo bisa. Cuma yang tipe intradimensional. Kalau yang konseptual, artistik, humanis, dan bisa visi nggak bisa. Kecuali mereka mau berlatih.

Sekolah makam Belanda di halaman 109-111 mengingatkan akan sekolah jaman SMA. Sekolah saya dulu adalah sekolah paling tua di kabupaten. Konon, katanya makam Belanda. Tempat laboratorium fisika yang dulunya adalah perpustakaan sekolah, letaknya di pojok belakang, konon paling banyak ‘penunggunya’. Tapi sekolahnya malah aman-aman aja tuh ampe sekarang. Malah sekolah tempat saya bekerja yang lumayan sering ada kesurupan, apalagi kalo upacara hari senini, bisa tiga ampe lima anak yang kesurupan. Dan herannya, kenapa ya kalo yang kesurupan selalu perempuan? Belum pernah sekalipun liat murid laki yang kesurupan… :3

Pergantian kursi yang bebas sesuka hati di kelas dalam buku ini mengingatkan jaman SMA pas kelas 2. Tiap pagi pada rebutan cari posisi yang pewe, apalagi kalo ulangan. Mana pas waktu itu temen sebangkunya, Via nggak pernah bisa berangkat pagi. Alhasil kalo saya kesiangan berangkatnya, otomatis kami berdua duduk di kursi paling menderita; depan meja guru :3

Uwow..banyak adegan di perpustakaan. Bisa kita baca di halaman 49, 133, 136 dan 139. Nah, pas kejadian di perpustakaan halaman 53 jadi berasa merinding. Iya, perpustakaan sekolah selalu identik dengan horor. Dulu pas pertama kerja di sini, wujud perpustakaannya benar-benar kayak gudang; segala macam barang dari mesin vacum cleaner sampai buat naro setumpuk semen. Jadi wajar aja kalo ada ‘penunggunya’. Dan alhamdulillah sampai sekarang saya nggak pernah di ganggu meski lumayan sering pulang sore.

Kita akan menemukan aroma-aroma sejarah di bab Suatu Hari di Masa Lalu. Kisah Sekar Ayu juga mengingatkan akan kisah-kisah misterius di sekolah. Uhhh…pokoknya baca aja deh daripada malah keceplosan nanti ujung-ujungnya spoiler x)

Keterangan Buku:

Judul                     : Dimensi

Penulis                 : Triani Retno A. & Rassa Shienta A.

Penerbit              : PT. Elex Media Komputindo

Terbit                    : 2014

Tebal                     : 195 hlm.

ISBN                      : 978-602-02-4423-5

Young Adult Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/07/young-adult-reading-challenge-2014/

Indonesian Romance Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/01/indonesian-romance-reading-challenge-2014/

One thought on “REVIEW Dimensi

  1. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s