REVIEW Hujan dan Pelangi

 hujan pelangi

“Hidup lo tuh kayak langit cerah penuh pelangi. Nggak ada setitik pun awan mendung di sana. Kalaupun ada, paling hujan sebentar. Habis itu balik lagi cerah, seperti nggak pernah ada apa-apa. Hidup gue malah kebalikannya. Mendung melulu. Waktunya hujan berhenti, langit keburu gelap. Terus nggak lama, hujan lagi. Nggak berhenti-henti. Malah pakai badai segala.” (hlm. 306)

Bagi Sabrina, Cammile adalah awan mendung di hari cerahnya. Oh, ralat, Camm ibarat hujan badai penuh petir yang bikin banjir mendadak. Kenapa? Karena sejak ada Camm hidupnya berubah total. Dia bukan lagi “queen bee” di sekolahnya. Sahabatnya, Patrice mendadak jadi musuh yang menyebalkan dan Aldo, pacar sekaligus bintang di sekolahnya, kini seperti orang yang tak dikenal. Bahkan hubungan Sabrina dengan ayahnya juga ikut berantakan.

“Saya harap kamu bisa menyesuaikan diri. Tidak mudah memang. Tapi saya akan ada buat kamu.” (hlm. 27)

Bagi Camm, Sabrina adalah pelangi di hari yang amat cerah. Pelangi selalu mencuri perhatian dari indahnya cerah hari. Itulah Sabrina bagi Camm; cewek yang merasa dirinya pusat semesta dan titik dari segalanya. Bagi Camm, yang anak baru di SMA itu, justru ini saatnya untuk mengambil semuanya dari Sabrina. Tak ada juga yang dia pertaruhkan. Ibunya juga sudah meninggal. Siapa yang bisa melarang anak sebatang kara?

“Kalau saja lo tahu kita berbagi lebih dari sekedar hobi yang sama, gue jamin lo bakal mati berdiri!” (hlm. 19)

Hidup Sabrina dan Camm kini mendadak berada di bawah ‘langit’ yang sama. Berselang-seling di anatar dentam musik grup dance, bel sekolah dan rahasia besar di antara mereka berdua.

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Kalau demi memenangkan kompetisi, kerja keras sedikit nggak masalah. (hlm. 38)
  2. Daripada sibuk mengasihani diri sendiri, lebih baik menghabiskan waktu mikirin jalan keluarnya. (hlm. 55)
  3. Membantu rasanya membahagiakan. Seperti mendapat dooprize yang tak terduga. (hlm. 57)
  4. Wajar kesal karena salah. Jangan biarkan satu masalah kecil merusak mood seharian. (hlm. 78)
  5. Urusan skill nggak ada hubungannya dengan hati. (hlm. 81)
  6. Kalo lo demen sama cewek, perjuangin dong. Sampai titik darah terakhir kalo perlu. (hlm. 87)
  7. Cowok terkadang menjadi mahluk paling tidak sensitif sedunia. (hlm. 11)
  8. Selalu ada yang pertama kali, kan? (hlm. 127)
  9. Sahabat itu susah dicari. Suka duka, berantem-baikan pasti ada. tapi bagaimanapun sifat mereka, kita sudah saling bisa menerima. Mereka adalah orang-orang yang mengenal kita, sering kali saking dekatnya kita malah jadi bisa menuangkan semua emosi di depan mereka tanpa takut dinilai macam-macam. (hlm. 153)
  10. Sudah saatnya orang dewasa bersikap seperti orang dewasa. (hlm. 263)
  11. Yang lalu biarlah berlalu. (hlm. 267)

Banyak juga selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Jangan bilang anak baru mau cari gara-gara. (hlm. 11)
  2. Nggak sembarang orang berani berdebat sama wali kelas. (hlm. 11)
  3. Sebentar judes, sebentar manis. Muka lo yang asli yang mana sih? (hlm. 12)
  4. Bukannya bolak-balik para orang dewasa itu menasehati kita supaya hati-hati memilih pergaulan? (hlm. 14)
  5. Lo itu nggak malu mengakui kalo lo cuma mau gaul sama orang yang selevel ya? Paling nggak yang punya nilai guna buat lo? (hlm. 14)
  6. Dia ini punya nama. Jangan disebut dengan kata ganti orang ketiga begitu dong! (hlm. 18)
  7. Kalau mau cemburu, jangan sama manusia aneh kayak gitu. Bawa sial, tahu. (hlm. 20)
  8. Orang jealous memang pasti judes. (hlm. 44)
  9. Kalo nggak ada apa-apa, ya sudah. Ngapain lo moyong-monyong gitu? (hlm. 45)
  10. Tidak semua orang bisa dan mau mendonorkan darah. (hlm. 48)
  11. Emangnya kita cowok apaan disuruh melototin boyband nge-dance nggak keruan. (hlm. 52)
  12. Sekali menyebalkan tetap menyebalkan. (hlm. 58)
  13. Emang udah biasa sih ya, kalau orang nomor dua selalu berusaha menjatuhkan orang pertama. (hlm. 64)
  14. Jangan percaya sembarang orang. Sering kali, teman sendiri menusuk dari belakang bahkan menikam terang-terangan di muka. (hlm. 65)
  15. Sebagai cowok yang baik, lo harus muncul buat kasih support. (hlm. 71)
  16. Kadang cowok memang nggak sensitif. (hlm. 81)
  17. Mau berantem sih gampang. Cuma kamu yang rugi. (hlm. 89)
  18. Lu nggak tau zaman sekarang. Nyang tue gitu doyannya ame anak kecil bau kencur. (hlm. 99)
  19. Berotak pintar bukan berarti boleh bersikap tidak sopan. (hlm. 109)
  20. Kalau kamu tidak hati-hati, gelar juara umummu bisa direbut orang lain. (hlm. 111)
  21. Kalian cowok-cowok nggak bisa nanya hal lain selain ‘lo nggak apa-apa’, ya? (hlm. 122)
  22. Memang cowok otaknya nggak bisa mikir kalau udah ketemu cewek sih. Apalagi kalo cantik. (hlm. 122-123)
  23. Baru juga jam tujuh lewat dikit. Masa udah mau tidur? Kayak anak TK aja. (hlm. 135)
  24. Kalau pacar lo yang dicium cowok lain, lo terima, nggak? (hlm. 148)
  25. Kadang orang dewasa kan memang sudah dimengerti. (hlm. 170)
  26. Film lo percayain. Film kan cuma kasih lihat bagian serunya. (hlm. 174)
  27. Jadi orang jangan plin-plan. Balas dendam itu tidak mengenal kata kasihan. Kalau nggak tega, nggak usah balas dendam. Lo ajarin diri sendiri berdamai dengan kenyataan. Nggak usah ribet mikirin perang kalau masih pingin suci. (hlm. 201)
  28. Otak cowok kan emang nggak guna kalau udah kepincut cewek. (hlm. 207)
  29. Jangan menyimpulkan yang nggak-nggak. (hlm. 261)
  30. Sekali lebih tua, tetap lebih tua. (hlm. 282)

Semua karakter tokohnya kuat. Nggak cuma deskripsi Sabrina dan Camm, tapi juga tokoh lainnya terutama Patrice, Maurel, dan Aldo. Diantara semua tokoh, paling suka ama Maurel, cowok banget ya kayak gini, apalagi pas di bagian ending. Uwow…so sweet banget deh!😉 #CulikMaurel

Konfilknya dapet banget. Meski sama-sama memiliki kekurangan, sesungguhnya Sabrina dan Camm sama-sama memiliki kelebihan. Suka ama deskripsi tokoh utama di novel ini, Sabrina dan Camm. Tokoh utama dideskripsikan tidak sempurna. Sabrina memang cantik, populer di sekolah, cerdas secara akademik, pengurus OSIS, orang kaya bahkan belum pernah naik motor. Tapi dibalik semua itu, dia terlalu mendominasi dalam segala hal. Misalnya saja di saat rapat OSIS, kemudian juga di eskul dance sangat terlihat sekali jika Sabrina mendominasi segalanya.

Begitu pula sebaliknya. Camm terkesan ambisius, ingin merebut segalanya dari Sabrina, si ratu segalanya. Dia ingin Sabrina bisa merasakan apa yang dia rasakan. Bahkan sampai menghasut Patrice. Tapi dibalik semua itu, jika menilik latar belakang Camm, pasti kita jadi kasihan. Dibalik sikap frontal seseorang, pasti ada masa lalu yang pilu.

Pas baca ini, kebetulan beberapa hari yang lalu juga dihebohkan dengan murid-murid cewek yang bertengkar. Biasalah urusan cewek, yang diributin apalagi kalo bukan masalah cowok. Dan ini pun berbuntut panjang. Selama empat tahun sekolah, nggak cuma sekali ngeliat murid berantem gegara hal yang nggak penting. Jadi keinget pas dulu SMA, ada temen berantem ama kakak kelas, gegara si kakak kelas nggak mau sepatunya ada yang nyamain. Hadewh..ada banget ya mahluk kayak gini?!? X)

BAB 13 berasa banget kayak kejadian di sekolah. Ini bukan sekedar kayak di sinetron-sinetron, ada beneran di kehidupan nyata. Kadang saya sering berpikir, remaja jaman sekarang hidupnya rumit ya? Padahal ama mereka cuma beda sepuluh tahun, tapi perbandingannya saya jaman sekolah beda banget ama kehidupan murid jaman sekarang😀

Meski novel ini ditulis tiga orang sekaligus, tapi berasa kayak ditulis satu penulis. Satu napas dan satu ritme. Meski ketiga penulis sudah berkeluarga, tapi ‘rasa remaja’ di buku ini dapet banget. Suka!😉

Pesan moral dari buku ini adalah pembelajaran buat para orangtua, bahwa masa lalu akan mempengaruhi kehidupan di masa yang akan datang. Masa lalu, meski sudah dikubur dalam-dalam suatu saat akan terkuak juga. Mirisnya, tidak hanya berimbas kepada diri kita sendiri, tapi juga kepada orang-orang terdekat kita.

Keterangan Buku:

Judul                                     : Hujan & Pelangi

Penulis                                 : Idawati Zhang, Mikayla Finanda, dan Ch. Marcia

Penyunting                         : Clara Ng

Perancang sampul           : Lidia Puspita, Teguh Pandirian

Pemeriksa aksara             : Dias Rifansa, Ining Isaiyas

Penata aksara                    : Kuswanto, Teguh Pandirian

Desain                                  : Teguh Pandirian

Ilustrasi                                                : Diani Apsari

Penerbit                              : PlotPoint Publishing

Terbit                                    : April 2013

Tebal                                     : 309 hlm.

ISBN                                      : 9786029481341

Indonesia Romance Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/01/indonesian-romance-reading-challenge-2014/

Young Adult Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/07/young-adult-reading-challenge-2014/

3 thoughts on “REVIEW Hujan dan Pelangi

  1. Saya ingin baca novel tentang hujan seperti ini. Sudah lama banget novel tentang hujan yang saya baca. Paling suka sama novel Hujan yang berjudul Hujan Punya Cerita Tentang Kita-nya Yoana Dika.

    Mbak Luckty, buat giveaway novel ini dong!😀

  2. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s