REVIEW Surat Untuk Ruth

 surat untuk ruth

“Apakah hubungan yang dijalani dua orang bisa diakhiri oleh hanya satu orang?” (hlm. 8)

Adalah Areno Adamar yang bisa disapa dengan panggilan Are. Ia ingat bagaimana bertama kali bertemu Ruthefia Milana atau bisa dipanggil dengan Ruth. Pada sebuah senja di langit Jembrana yang menunggu. Are melihat di atas dek kapal feri yang menyeberang dari Banyuwangi. Are sedang memotret senja dan Ruth muncul begitu saja di belakang Are dengan menenteng kanvas. Are pikir Ruth hendak melukis. Tetapi Ruth bilang, dia tidak jadi melukis. Are memaksamu untuk melukis, namun Ruth tetap menolak. Mungkin Ruth malu.

“Kami ditakdirkan untuk tidak bersama. Walau kami mungkin bisa saling cinta.” (hlm. 38)

Mimpi itu adalah mimpi yang sama seperti yang Are alami saat tertidur di kereta dari Surabaya menuju Yogyakarta, tentang kapal yang terbakar dan melihat dia melayang-layang di atas kobaran api. Sebelumnya, dia muncul dari balik kabut dan kemudian menghilang menjadi sekumpulan asap hitam. Lalu dia merasakan punggungnya terbakar, kemudian berbalik, dan melihat senja yang sangat merah. Wajahnya terasa panas. Dia merasakan kobar api menjalar dari matanya lalu bergerak ke seluruh tubuhnya, dari bagian dalam ke luar. Dia merasa dirinya terbakar, tetapi tidak ada api. Hanya ada senja.

Ini adalah rangkaian surat panjang yang ditulis Are, pemuda yang jatuh cinta sekaligus patah hati. Surat ini diperuntukkan untuk Ruth. Berhubung ini berbentuk surat, buku ini minim dialog. Didominasi monolog. Bahasanya pun cenderung baku. Cocok buat yang berada di ambang kegalauan, karena nasibmu akan sama dengan Are dalam buku ini.

Banyak kalimat favorit, khas Bara tulisannya bertebaran kalimat galau:

  1. Pada satu titik, cinta akan habis tergerus, dan yang tersisa adalah sayang. Cinta adalah hasrat memiliki. Sementara sayang adalah keinginan untuk menjaga. Sayang berada pada pengertian yang lebih serius daripada cinta. Cinta sesaat, sayang selamanya. Cinta liar dan berapi-api, sayang tenang bagai air. Cinta menggebu-gebu, sayang cenderung meredam. (hlm. 26)
  2. Meninggalkan seseorang karena sudah tidak sayang lagi adalah tindakan yang tidak pantas dilakukan. (hlm. 28)
  3. Tidak ada yang namanya kebetulan. (hlm. 31)
  4. Bagaimana bisa seseorang diberi kesempatan dan kemungkinan untuk saling jatuh cinta, namun ditakdirkan untuk tidak pernah bersama? (hlm. 38)
  5. Semesta sebetulnya sama saja seperti hati manusia, tidak dapat kita kira. (hlm. 46)
  6. Dan seperti banyak keajaiban, ia tak terjadi manakala kita sangat mengharapkannya. (hlm. 55)
  7. Terkadang lebih sedikit kita tahu sesuatu, maka lebih baik. (hlm. 86)
  8. Dicintai oleh seseorang, tetapi kamu tidak bisa mencintai orang itu. Itu tidak indah. Kalau begitu, belajarlah mencintai orang yang mencintaimu. (hlm. 97)
  9. Pencarian yang tidak kunjung menemukan, akhirnya berujung pada satu titik lelah. Namun, di saat lelah dan tidak lagi hendak meneruskan pencarian, terkadang kita justru diberi kejutan; sebuah penemuan yang lebih menyenangkan. Di saat kita tak lagi mencari, di situlah kita akan menemukan. (hlm. 102)
  10. Meski hanya sementara, sebentar, kebahagiaan tetaplah kebahagiaan. Seperti sesuatu yang kamu rasakan saat menonton film atau sesuatu yang kurasakan saat memotret. Perasaan tersebut mungkin hanya sementara. Namun, tetap saja hal yang sementara itu adalah sesuatu yang nyata adanya. Kebahagiaan kita hanya sementara. Kebahagiaan kita hanya sebentar. (hlm. 111)
  11. Kesempurnaan terbentuk dari hal-hal yang tidak sempurna. (hlm. 121)
  12. Kebahagiaan tidak didapatkan dengan menuruti keinginan orang lain. (hlm. 134)
  13. Setiap orang punya masalah. (hlm. 135)
  14. Bahagia melepas orang yang kamu cintai, bagaimana bisa? (hlm. 141)
  15. Kenangan itu keparat. Ia tidak akan berhenti menyerang kepalamu, bahkan semakin beringas tepat pada saat kamu berusaha untuk melupakannya. (hlm. 152)

Ada juga beberapa selipan kalimat sindiran dalam buku ini:

  1. Klien yang banyak mau tapi tidak paham strategi, rasanya mau kukasih makan bekatul. (hlm. 72)
  2. Tidakkah semua orang posesif? (hlm. 76)
  3. Cinta itu membebani. (hlm. 98)
  4. Kenapa ada orang yang bersikeras mencintai orang yang dicintainya? Mungkin karena orang itu bebal saja. (hlm. 98)
  5. Untuk apa membebani hati kepada orang yang tidak menginginkannya? (hlm. 98)
  6.  Sakit hati itu sakit, ya? (hlm. 145)

Novel ini merupakan pengembangan cerpen Milana yang terbit sebelumnya. Mungkin pas novel ini terbit, saya memiliki ekspetasi yang lebih dengan novel ini daripada cerpennya. Justru dibandingkan dengan novelnya ini, saya malah lebih suka yang versi cerpen. Takarannya pas. Kalau yang ini galaunya akut.

Ada beberapa ketidakkonsistenan dalam pemanggilan kata. Ruth memanggil orang yang melahirkannya dengan sebutan Ibu, tapi pernah juga dengan sapaan Mama. Begitu juga dengan Bli Nugraha yang memanggil Are tapi terkadang juga dengan sapaan Damar. Piye iki?!? X)

Dengan setting terdiri dari beberapa tempat di Indonesia; Yogyakarta, Malang, Surabaya dan Bali ini, berharap jika difilmkan, setting ini akan menjadi nilai plus versi filmnya. Terutama setting Bali yang mendominasi isi buku ini seperti; Pantai Balangan di halaman 113.

Dibanding kisah Are dan Ruth, saya lebih tertarik dengan kisah Bli Nugraha dan Ayudita yang cintanya pupus karena urusan kasta. Bisa dieksplorasi menjadi novel berikutnya nih!😉

Keterangan Buku:

Judul                     : Surat Untuk Ruth

Penulis                 : Bernard Batubara

Editor                    : Siska Yuanita

Desain cover      : Marcel AW

Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama

Terbit                    : April 2014

Tebal                     : 168 hlm.

ISBN                      : 978-602-03-0413-7

Indonesia Romance Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/01/indonesian-romance-reading-challenge-2014/

Young Adult Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/07/young-adult-reading-challenge-2014/

47 thoughts on “REVIEW Surat Untuk Ruth

  1. Pingback: GIVEAWAY Surat Untuk Ruth | Luckty Si Pustakawin

  2. Dari baca reviewnya, sy makin tahu inti ceritanya spt apa. semula sy pikir, ceritanya tntg kasih yg tak sampai jd pemeran cowoknya akhirnya menyatakan cinta lewat surat.
    dr review jg, sy dpt bnyk quote menarik dan jarang d temui d buku manapun. nilai plus dr sy, yaitu pertemuan dua tokoh utamanya pd saat senja. sy jg sngt suka senja.
    jujur sj, bku ini sdh msk dlm wishlist sy. terutama setelah bca reviewnya, ada satu kata yg menarik bagi sy ‘senja’ dan menambah rasa penasaran sy..

    bismillah, kali ini semoga menang..

  3. Karya Bernard ini menunjukkan perbedaan antara sayang dan cinta kepada pembaca, memang sayang lebih tenang dan jernih daripada cinta yang selalu berkobar dan menggebu, saya setuju hal itu. Setelah baca review ini, saya jadi setengah galau. Apalagi kalau baca novelnya ya, pasti lah full akan galau akut hehe😀

  4. Mendengar judulnya pertama kali langsung terbayang bahwa novel ini kemungkinan akan berwujud galau yang dikemas dari sudut pandang laki-laki galau, serupa Puthut EA di Cinta Tak Pernah Tepat Waktu. Makanya belum pernah tertarik membaca setelah di-review oleh beberapa teman, bahkan beberapa dari beberapa itu memaksa saya untuk membaca. Entah review mereka yang kurang atau saya yang memang belum penasaran, saya sendiri kurang paham. Yang jelas, saat mereka menyodorkan Surat untuk Ruth, saya baru selesai membaca Cinta Tak Pernah Tepat Waktu. Mungkin, trauma? Hehe.

    Tapi membaca ulasan Kak Luckty di atas, dan melihat kalimat terakhir ini, “Dibanding kisah Are dan Ruth, saya lebih tertarik dengan kisah Bli Nugraha dan Ayudita yang cintanya pupus karena urusan kasta. Bisa dieksplorasi menjadi novel berikutnya nih!”, saya jadinya penasaran untuk bisa tahu seperti apa problem Bli Nugraha dan Ayudita. Review yang diberikan oleh beberapa teman, semuanya fokus menyebarkan dan mengeksplorasi kisah Are dan Ruth. Seingat saya, tidak ada yang menyentuh dunianya Bli Nugraha dan Ayudita. Mungkin, kalau mereka menawarkan ini kepada saya, saat itu saya sudah mengiyakan untuk membaca hahaha.

    Saya kurang begitu paham budaya Bali seperti apa, referensi terkait yang saya sudah pernah baca juga hanya sedikit, jadinya ingin tahu juga Bang Bara mengemas kisah perbedaan kasta ini seperti apa di dalam buku Surat untuk Ruth.

  5. Kak Bernard kayaknya berhasil bikin mewek sebagian besar yang udah baca buku ini deh😄
    banyak banget temen2ku yang ngeshare kalau buku ini bahaya , hampir2 sama kayak yang ditulis kakak di review ini sih😀

  6. Novel ini adalah novel kehilangan. Saya selalu suka karya kak Bernard. Dan novel ini adalah novel yang menjadi favorite saya kedua setelah Cinta. Novel ini seakan memberitahu kita. Bahwa, cinta itu berjuang. Cinta itu memiliki. Cinta itu berbagi. Dan, cinta itu ketulusan hati.

  7. Sebenarnya aku selalu suka dengan cerita-cerita dalam buku-buku Bernard Batubara. Tapi, aku nggak suka dengan bahasa yang dia gunakan. Seperti yang Mbak Luckty bilang, terlalu baku. Sedangkan aku lebih menyukai novel dengan bahasa yang lebih ringan dan gampang dipahami. Disitu aja sih, poin minusnya dari buku Bang Bara.

    Anis Antika
    @AntikaAnis
    Surabaya

  8. Reviewnya mengulas dengan jelas. Dilihat dari banyaknya kalimat favorit novel ini pasti penuh dengan kata-kata indah😀
    Setting tempatnya juga banyak.
    Ada dua alasan ingin baca Surat Untuk Ruth gegara review ini. Pertama, alasan kenapa Are dan Ruth tidak bs bersama pdhl saling mencintai. Kedua, tempat-tempat itu tadi. Apakah akan digambarkan dengan baik?

  9. Duh, Are. Agaknya lelaki ini adalah lelaki yang romantis. Dan juga tidak brengsek, seperti yang dikatakan para wanita tentang banyak pria. Penasaran banget pengen baca bukunya, karena pengen rasa gimana baca buku khas monolog🙂

  10. Aduduhh.. Pertama kali saya tau novel ini sih waktu di twitter Kak Bara lagi rajin-rajinnya promo Surat Untuk Ruth. Pengeennn banget beli rasanya, soalnya novel-novel Kak Bara sebelumnya galau maksimal dan ngena banget di hati X) Tapi begitu lihat novel ini di toko buku kok nggak jadi beli, soalnya tipis dan mahal *uhuk* Tapi abis baca review ini saya jadi pengen beli lagi -_- Ada setting Bali-nya yaa.. Aduh mauu :3
    Kak Luckty mau rekomendasiin novel yang settingnya di Bali? :3

  11. “Tidak ada yang namanya kebetulan.”
    ya, saya setuju sekali. because everything happens for a reason, yes? sekalipun tak sengaja atau kita anggap kebetulan ketika bertemu dengan seseorang, tetap saja itu semua adalah skenario dari Tuhan yang mempertemukan.🙂

    nggak heran sih kalo setting di Bali mendominasi. karena isinya kental dengan senja, apalagi ini pengembangan dari Milana (yang berarti senja), trus senja mana lagi yang lebih indah kalo bukan di pantai dan cocok untuk foto siluet romantis atau yang sarat artistik kan? Bali gitu, lho!😀

    by the way, tumben nih kak review-nya ga sepanjang biasanya deh. atau udah speechless duluan ya mau ngomentarin apa lagi karena isinya yang lebih banyak monolog dan menggalau? hehe.

  12. Hanya bisa menerka-terka isi keseluruhan bukunya, dan pasti dengan membacanya akan menemukan lebih banyak hal lagi, suka banget sama kutipannya, jadi makin pengen baca bukunya… ^^

  13. Mbak Luckty kalau bikin review selalu keren. Ajarin dong mbak bikin review yang gamblang tapi ga spoiler heheh

    Quotenya berhasil buat aku penasaran. kayaknya buku ini minta dibaca bgt deh.
    btw, aku juga jadi penasaran sama kisah cinta Bli dan Ayudita. Yuk bukuin Bang Bara! Biar ngerasain cerita romance sambil belajar adat😀

  14. “Kami ditakdirkan untuk tidak bersama. Walau kami mungkin bisa saling cinta.” (hlm. 38)

    Nyes banget iki sama kayak kisah cinta banyak orang hihi. Jadi penasaran sama kisahnya dan suratnya..

  15. Bagaimana bisa seseorang
    diberi kesempatan dan
    kemungkinan untuk saling
    jatuh cinta, namun
    ditakdirkan untuk tidak
    pernah bersama?
    Dari review diatas nampak jelas ya, orang yang lagi patah hati itu banyak pembelajaran yang didapat
    Ah jadi pengen baca, bagaimana bang Bernard mungkin menyelipkan rasa patah hatinya melalui Are🙂

  16. reviewnya bagus paling suka di bagian kalimat favorit yg ” Bagaimana bisa seseorang diberi kesempatan dan kemungkinan untuk saling jatuh cinta, namun ditakdirkan untuk tidak pernah bersama?” cover novelnya simple tpi entah kenapa terkesan elegan lalu dengan setting di beberapa kota di Indonesia Yogja, Malang, Surabaya & Bali rasanya kalau baca novel ini akan terbawa dengan setting yg begitu luar biasa indah.
    good luck mbak Luckty, thanks utk reviewnya🙂

  17. Hoaaa makin penasaran nih🙂
    Dari review sepertinya agak menye2 ya si Are ini..😄
    Trims mbak luckty reviewnya keren, penyajiannya selalu pas, gak spoiler dan menarik.. Terutama kutipan2nya

  18. Pria yg mungkin bisa dibilang gagal menyatakan cinta… Dan memberanikan diri utk membuat surat…. Tapi si pembaca surat mungkin menganggap surat biasa….. Hah,.. Penasaran isinya yg utuh di buku itu…… Sekian. Semoga menang !! Ameen

  19. Iya, pas masih anget-angetnya di tokbuk aku pernah baca sekilas ini buku. monolog semua isinya. Mas Bernard hebat banget deh bisa nerbitin buku yang sangaaaaaat minim dialog. Apalagi yang nerbitin GPU. Beneran keren deh. Nggak gampang bikin buku yang begitu. Dan kalau ternyata semua isinya surat, berarti tantangannya berlebih ya? Siapa yang nggak capek bikin surat sebuku. Setebel itu, sebanyak itu. Semuanya dari penulis surat lagi. Kalo aku, entah apa aja yang bisa ditulis dan mungkin bakalan ketemu block di tengah-tengah surat.

    Pokoknya salut buat Mas Bernard.

    Dan sepertinyaaaa, ini buku bisa dijadikan temen galau nih. orang yang cintanya nggantung, yang hubungannya lagi jeda dan gatau kapan akan diteruskan lagi, atau yang merasa patah hati karena kondisi yang tidak memungkinkan untuk menyatakan cinta.

  20. Dalam review, dikatakan bahwa buku ini cocok buat yang berada di ambang kegalauan. Nah, wajib dibaca. Apalagi untuk saya, yang hehe sedang galau. Setting-nya pun di daerah Indonesia, jika di-filmkan saya yakin akan semakin bagus.

  21. reviewnya sangat membantu saya untuk menggambarkan seperti apa novel ini nanti, dan kemungkinan besar kenapa kisah Are hampir sama seperti saya jika dilihat dari kutipan” yang mbak luckty cantumkan? huhuhu😥 Jadi kangen masa lalu dan kepengen banget baca novel ini🙂 semoga saya beruntung🙂

  22. Galau akut ya? Cocok dong dengan musim sekarang #lah? Muaim ujan, melow kan hahaha *abaikan* Xd

    Oh ya saya mau jawab yg ini–>
    “Apakah hubungan yang dijalani dua orang bisa diakhiri oleh hanya satu orang?” (hlm. 8)
    BISA!! Mengakhiri hubungan itu tidak perlu kesepakatan, lain halnya dgn Memulai sebuah hubungan harus ada kesepakatan berasama ^^ bagaimana jika kau ingin memulai hubungan tapi salah satu tak ingin? Ya tetep gg bisa *haduh kok saya sok sokan* hahahaha

    Yoweslah Wish Me Luck aja *doa lagi bareng oppadeul* ^^

  23. Waktu baca review dari novelnya Benzbara ini, aku langsung tertarik sama isi surat yang dia kasih ke Ruth. Penasaran banget isinya kayak apa. Dan bagaimana gaya Are mencintai Ruth, yang bisa diliat dari surat yang ia tulis. Gaya bahasa Benzbara yang puitis menohok itu juga bener-bener bikin makin pengen baca.

    By the way, kalimat-kalimat & quotes yang dijabarkan sama Luckty ini juga jadi salah satu faktor makin ngiler ingin baca ini buku. Hihi. Especially kalimat-kalimat sindirannya. Doh! Ngena banget😀 *ngaku*

  24. Omong-omong i’ve read this one! Ini adalah buku kedua bang bara yang aku baca setelah Cinta. Dan ini beda.
    Kabarnya sedang proses difilmkan. Ga sabar mau nonton.. Setuju sama ka luckty pasti keren deh. Dan sepaket, eh sepakat aku juga lebih suka Bli Nugraha. *Da aku mah apa atuh jarang jatuh cinta sama tokoh utamanya :’)*

  25. Tuhkan bikin penasaran, dari reviewnya bikin tingkat penasaran naik full 100%. Dari bahasa yang dipakai, isinya pasti puitis banget,hahaha. Jadi pengen baca, eh tapi beli dulu baru baca, eh atau malah ada gratisan?hehhehe.

  26. thanks mbak reviewnya..
    menurut saya kalau ada ketidakkonsistenan dalam pemanggilan kata terkadang akan mempengaruhi pembaca yang pada akhirnya jadi membingungkan.
    quotes-quotesnya saya suka dan benar-benar mencerminkan segmen pembacanya yang sedang galau akut juga..
    untuk masalah isinya yang didominasi monolog berarti cenderung akan membuat pembacanya bertanya sekaligus bercermin pada diri sendiri ya mbak.. hehe
    dari reviewnya aja udah menarik hatiku banget yang lagi diambang galau -_- hehe

  27. Nggak beda jauh juga dengan buku-buku Bara pada umumnya, Surat untuk Ruth ini juga bertebaran kata-kata romantis.

    Betul banget, semoga filmnya lebih bisa menggambarkan secara gamblang bagaimana suasana Bali terutama Ubud dan pantai Balangan😀

  28. Setelah membaca reviewnya saya jadi teringat novel karya Johann Wolfgang von Goethe yang berjudul The Sorrows of Young Werther (German: Die Leiden des jungen Werthers). Novel tersebut juga hanya berisi monolog surat-surat yang ditujukan untuk sahabatnya. Surat-surat tersebut merupakan curahan hati tokoh Werther tentang kasih tak sampainya kepada seorang gadis bernama Lotte. Endingnya tragis banget di novel karya Goethe ini. Kalau ending di novel Surat untuk Ruth bagaimana ya??? Jadi pengen baca deh.

  29. Galau kayaknya nih suasana novelnya. Eh, tapi patut di coba. Dengar2 novel ini pakai sudut pandang orang kedua, ya Mbak? Sebenarnya teknik ini nih yang bikin aku penasaran sama Surat untuk Ruth. Tak banyak penulis yang berani pakai POV ini, lho.

  30. Baca reviewnya mbak Luckty makin nambah penasaraan aja sama SUR ini, quote-quotenya juga keren biarpun galau-galau. sepertinya novel ini sayang itu dilewatkan. semoga saja bisa cepat baca🙂

  31. Wah … Quotesnya make me interested to read. Nah, masuk dalam list lagi nih. Review Kak Lucky selalu memberikan motivasi dan juga mengulas abis isi dari novel setiap penulis. Jadi, pembaca dimanjakan terlebih dahulu tentang apa sih yang inti dari novel ini dan di mana letak kelebihan dan kekurangan sehingga pembaca juga dapat menilai novel tersebut. Terima kasih Kak reviewnya.

  32. Waaah…. udah lama banget kepingin baca buku ini, tapi belum kebeli2. Pas liat mbak luckty ngadain giveaway ini, saya langsung girang. Berharep bisa dapet buku ini.

    Saya baru baca review2nya aja di goodreads, mungkin karena novel ini bentuknya surat2 gitu, saya jadi penasaran. Saya suka cara nulis abang Bernard yang amat puitis itu… bikin saya pengen belajar terus menulis prosa puitis😀
    Yah walaupun saya agak kecewa sama jalan cerita di Novel “Cinta.” Tapi saya tetep suka gaya menulisnya. Maka dari itu saya pengen banget baca Surat Untuk Ruth ini. :))

  33. Melihat dari review yg skilas ini sudah menggambarkan kegalauan dari seorang “Are” yang menyukai “Ruth” tapi sepertinya tidak kesampaian.. hahhh sungguh membuat hati susah, jadi ingat seseorang disana😦

    “Bagaimana bisa seseorang diberi kesempatan dan kemungkinan untuk saling jatuh cinta, namun ditakdirkan untuk tidak pernah bersama? ”

    Sebenarnya apa makna dri quote ini? ini seperti penggambaran Are & Ruth..

  34. Cinta sangat menyakitkan kalo tersirat… Galau… Hanya sekedar teman ato lebih… Terasa menyakitkan lagi ketika kita tau tapi orgnya gak ada… Kadang membingungkan … Tetapi itu cinta… Setelah itu ada sayang… Yg selalu berdoa dlm hati utk keselamatan dan abadi di sana… *cry*… Moga2 ceritanya Happy ending… GBU…. :*

  35. Review yang indahh🙂

    Buku yang indah , mengagumkan , menceritakan tentang secuil kehidupan pahit yang namanya cinta ..

  36. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s