REVIEW Cinta Putih di Bumi Papua

 cinta putih di bumi papua

“Bukankah akan baik jika semua orang di dunia ini menjadi pecinta? Sebab pecinta biasanya memandang segalanya dari sisi positif.” (hlm. 238)

Adalah Atar, salah satu pemuda di Patipi yang memesona banyak gadis. Untuk mencirikan Atar, gadis-gadis Patipi biasa berkelakar dengan sebuah syair berbahasa Arab dari kitab Brazanji; Alifiyu al-anfi mimiyu al-fami nuniyu al-hajib. Hidungnya seperti alif, bibirnya seperti mim, dan alisnya seperti nun.

Bagaimanapun, gadiis-gadis Patipi sepakat, daya tarik paling memikat pada Atar adalah sepasang mata jelinya yang tajam, yang sesekali waktu bisa seteduh embun.

Sangat jarang gadis Patipi berani menatap sepasang mata itu, sebab mereka takut takkan bisa melupakannya, takut jatuh cinta kepada sepasang mata itu. Mereka tahu, jatuh cinta kepada Atar adalah sia-sia. Pemuda itu sudah jadi milik gadis paling tersohor di Patipi, gadis berdarah campuran Papua-Parsi, yang gigih memegang adat-adat orang Patipi; Nueva Guinea Garamatan.

Memang begitulah para perempuan penjaga adat; sabar, kuat dan sangat eksotis. (hlm. 225)

Perempuan akan jauh lebih cantik ketika dia paham adatnya. (hlm. 226)

Kisah cinta Atar dan Nueva yang sudah bertunanga itu ternyata harus terputus di tengah jalan. Atar terancam fitnah yang keji, tidak hanya menyangkut kisah cinta mereka, tapi juga menyangkut nama baik keluarga dan juga nasib masyarakat Patipi. Apa yang harus dilakukannya, menghadapinya dengan jiwa ksatria dengan segala resiko atau melarikan diri dari segala keruwetan hidupnya itu?

Banyak banget kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Kalau kau sudah paham dengan kau punya tujuan hidup, biarpun kau mengalami banyak kesulitan, sebenarnya kau sudah menang dengan kehidupan.” (hlm. 23)
  2. Jangan pernah terlihat takut di depan musuh. (hlm. 28)
  3. Kau shalat dulu sudah, biar tenang kau punya pikiran itu. (hlm. 33)
  4. Perjalanan waktu yang membentuk pikiran dan perasaan manusia semakin rumit. (hlm. 42)
  5. Keberanian adalah keputusan untuk membuang kesedihan. (hlm. 49)
  6. Kawan adalah orang yang bersedia menanggung kesulitan, kemelut, penderitaan, atau memberi hadiah senyum paling tulus untuk kebahagiaan kita. Kawan adalah saudara yang takkan terputus oleh apa pun, sampai kapan pun. (hlm. 55)
  7. Seseorang yang belajar pastilah menjadi tahu, punya wawasan yang lebih banyak, dan memahami apa-apa yang dipelajari. (hlm. 83)
  8. Hidup jauh dari rumah sama sekali tidak mudah. Kau harus menjadi kuat. (hlm. 159)
  9. Keimanan itu ditentukan oleh apresiasi seseorang terhadap kitab suci, bagaimana cara kita memaknai sabda-sabda-Nya dan menerapkannya untuk kehidupan sehari-hari. (hlm. 290)
  10. Di kitab ada ada seruan buat kita semua, supaya belajar lebih banyak dan lebih banyak lagi. Kita harus membuka diri dengan semua isyarat Tuhan yang terbentang di alam semesta. (hlm. 336)
  11. Kita disatukan oleh persaudaraan adat. Tidak pantas kita bermusuhan. (hlm. 343)

Beberapa selipan kalimat sindiran dalam buku ini:

  1. Mencerabut cinta yang sudah tumbuh di hati, sama mustahilnya dengan mencerabut adat. (hlm. 231)
  2. Lembek tidak sama dengan kalem. (hlm. 237)
  3. Naif tetaplah hal terindah bagi pecinta, naif pun akan menjadi sisi terbaik yang lain, bahkan hanya dianggap sebagai bagian dari proses yang akan direspons dengan sikap penuh simpati, bahkan menjadi sebuah renungan panjang. Bagi seorang pecinta, naif tetaplah keindahan. (hlm. 238)
  4. Soal skripsi itu beres. Tapi soal jodoh, macam cari jarum di pasir pantai susahnya. (hlm. 279)
  5. Kalau menghindar, masalah tidak akan selesai dengan baik. (hlm. 283)
  6. Kalau agama bikin kita berseteru dan cerai-berai lebih baik kita kasih tinggal agama ini. Lebih baik kita kepada kita punya adat yang damai. (hlm. 291)
  7. Cinta telah membuat melakukan berbagai kegilaan, yang sulit dipercayai oleh nalar. (hlm. 300)
  8. Setiap orang pasti punya beban. Tapi kau tidak harus alihkan kau punya beban kepada orang lain. (hlm. 324)

Sesuai judulnya, sangat terasa sekali aroma Papua. Mulai dari adat, logat berbicara sampai masalah urusan jodoh. Beberapa kalimat yang sangat Papua banget:

  1. Hingga sekarang kedaulatan Kerakyatan Patipi masih diakui secara adat membawahi banyak kampung di sekitarnya. Di masing-masing kampung, diangkat seorang kapitan yang berposisi sebagai pimpinan adat tertinggi kampung, mewakili raja. (hlm. 8)
  2. Sumpah siput, pelaksanaannya di ruang khusus yang hanya dihadiri tettua adat, kapitan, duku-dukun kerajaan, bersama keluarga penuntut dan penerima sumpah. Bahkan kehadiran orang yang akan disumpah tidak menjadi sayarat mutlak pelaksanaan sumpah, karena pengaruhnya tetap sama meskipun jaraknya sangat jauh. (hlm. 16)
  3. Masyarakat adat Patipi mengalami pertemuan dengan kegaiban, bukan sekedar mempercayainya. Kaborbor adalah salah satunya. Sekali bertemu dengan mahluk itu, maka ia harus rela menanggalkan nyawa. Kaborbor adalah mahluk gaib paling sakti yang bisa bertukar rupa sekehendak hati, untuk menaklukkan mangsanya. Kaborbor hadir tanpa membawa tanda. Bahkan orang yang bertemu kaborbor hanya merasa bertemu kawan, saudara, anak, suami atau istri. (hlm. 27)
  4. Harga sebuah gim ditentukan dengan dia punya sejarah. Semakin banyak gadis dari kalangan bangswan yang dipinang dengan gim ini maka dia semakin berharga di mata masyarakat. (hlm. 39)
  5. Mamoga biasanya memiliki gaung yang terdengar sampai jauh,dan harga mamoga bagi orang Patipi ditentukan oleh seberapa jauh gaungnya itu. Dulu, ketika Kerajaan Patipi masih berdaulat sebagai pemerintahan resmi, mamoga adalah alat untuk memanggil dan mengumpulkan masyarakat untuk musyawarah, upacara adat, atau mendengarkan pengumuman resmi dari kerajaan. (hlm. 67)
  6. Simbol persaudaraan bagi orang Papua, jika jemari dua orang saling bertaut, maka mereka sudah menjadi saudara. (hlm. 146)
  7. Jika baru pertama kali ke Papua dan bertemu orang baik di sana, mereka pasti akan mengingatkan kalian soal tiga pantangan yang harus diperhatikan selama di Papua, tidak boleh diabaikan jika ingin selamat. Pertama, kalian tidak boleh telat makan. Kedua, tidak boleh banyak pikiran. Ketiga, tidak boleh kurang tidur. Jika sampai salah satu pantangan itu kalian abaikan, jangan harap akan selamat dari sesuatu yang bernama penyakit malaria. (hlm. 184)

Ada juga selipan pengetahuan umum. Misalnya di halaman 195-197 tentang manfaat daun senggani untuk menyembuhkan luka. Paling #JLEBB di halaman 154 tentang penjabaran bagaimana susahnya mahasiswa di Jayapura berjuang demi bisa membaca sebuah buku. Bandingkan dengan mahasiswa di Pulau Jawa yang begitu mudah mendapatkan sebuah buku. Ya, setelah saya pulang ke Lampung pun saya mengalaminya. Uwow, paling suka BAB Kejujuran karena settingnya di perpustakan, berasa romantis, gyahahaha…😀

Kita bisa melihat perjuangan mahasiswa, terutama di halaman 202. Kiranya sulit menemukan mahasiswa pendatang di Adepura-Jayapura yang hanya pergi ke kampus untuk kuliah, lalu sibuk menggelar diskusi ilmiah, sibuk di perpustakaan, setelah itu pulang. Mereka nyaris tak punya waktu untuk diskusi-diskusi semacam itu, sebab harus bekerja paruh waktu. Bisa jadi, kita menemukan penjaja keripik singkong, penjaga foto kopi, kasir mini market, pelayan warung tenda, pekerja bengkel, atau penjual gorengan di suatu sore, yang ternyata adalah mahasiswa sebuah perguruan tinggi di Adepura atau Jayapura.

Pas baca buku ini, seperti menonton potongan-potongan puzzle yang membentuk imajinasi kehidupan di Papua. Deskripsinya jelas banget. Patut diacungi jempol untuk penulisnya yang memang melakukan riset dan sudah beberapa tahun bermukim di tanah Papua. Cocok banget kalo di filmin!😉

Keterangan Buku:

Judul                                     : Cinta Putih di Bumi Papua

Penulis                                 : Dzikry el Han

Penyunting                         : Rahmantika Dian Amalia

Desain dan setting           : Rozin

Desain cover                      : Fahmi Ilmansyah

Penerbit                              : Noura Books

Terbit                                    : Oktober 2014

Tebal                                     : 359 hlm.

ISBN                                      : 978-602-1306-27-7

Indonesia Romance Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/01/indonesian-romance-reading-challenge-2014/

Young Adult Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/07/young-adult-reading-challenge-2014/

New Authors Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/02/new-authors-reading-challenge-2014/

3 thoughts on “REVIEW Cinta Putih di Bumi Papua

  1. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s