REVIEW Hati yang Bertasbih

hati yang bertasbih

Tasbih bisa dikatakan sebagai ungkapan perasaan kita yang mengangungkan Allah. Tasbih juga bisa merupakan ungkapan hati kita yang menyatakan bahwa hanya Allah yang memiliki segala kebesaran-Nya. (hlm. 158)

Tidak ada seorang pun yang tahu cara kerja hidayah Allah. Begitu pula dengan cinta. Tidak ada satu manusia pun yang tahu kapan dan bagaimana sebuah cinta bisa hadir di antara dua hati yang sebelumnya tidak merasakan apa-apa.

Hidayah dan cinta, keduanya adalah misteri. Mereka tak dapat dimengerti hanya dengan menggunakan nalar dan logika. Juga, tak begitu saja dapat dianalisis dan dijabarkan sebab-sebab terjadinya.

Dalam hidayah dan cinta, ada hati yang ikut berbicara. Hati yang digerakkan oleh Allah. Karena Dialah pemilik sang hati, dan hanya Dia yang berkuasa untuk membuat sesuatu yang tak nyata menjadi nyata. Sedangkan manusia, mereka hanya bisa menerima dengan berlapang dada dan penuh sukacita.

Namun, bagaimana jika kehadiran malah tidak bisa diterima dengan berlapang dada? Bagaimana jika hidayah hadir di saat manusia berkubang duka?

Bukankah salah satu hidayah Allah yang terindah di dalam kehidupan manusia adalah cinta? Pernahkah kamu merasakannya?

Kadang Tuhan memiliki rencananya sendiri dalam hidup kita. Apa yang kita inginkan belum tentu sama dengan keinginan Tuhan. Mungkin saja Tuhan sedang merencanakan hal terbaik dalam hidupmu tanpa pernah kamu sadari. (hlm. 52)

Yana tidak pernah membayangkan akan menjadi janda di usia ke 23, ditambah harus menanggung hidup seorang laki-laki yang masih kecil. Seharusnya Nita tahu bahwa apa yang terjadi di dalam hidupnya ini tidaklah mudah hingga pantas dijadikan bahan gosip dan canda.

Perceraian selalu saja membawa luka bagi semua yang terlibat di dalamnya. Luka yang Yuna alami jelas tidak akan sembuh dengan mudah. Begitu juga luka yang ada di hati Alvero, anak laki-laki kesayangannya yang terpaksa ia jauhkan dari kehidupannya yang tak menentu. Belum lagi luka yang harus disandang seluruh anggota keluarganya. Luka yang membuat mereka beranggapan bahwa apa yang terjadi pada Yuna itu adalah aib yang harus disembunyikan.

Marah boleh. Tidak ada larangan sebenarnya untuk marah. Namun, alangkah baiknya kalau kamu marah pada waktu yang tepat dan cara yang benar. (hlm. 47)

Belajarlah untuk marah pada saat yang sesuai, waktu yang tepat, dan dengan cara yang benar. (hlm. 100)

Karena keadaan itulah yang membentuk Yuna menjadi pribadi yang tempramen dan mudah tersinggung dengan ucapan orang lain. Randi pernah merasakan amarah Yuna ketika ia salah mengantarkan barang pesanan yang diminta Yuna. Kegalakan Yuna seringkali membuat orang hanya bisa menggelengkan kepalanya. Kemarahan Yuna yang meledak-ledak membuat Randi penasaran. Yuna sepertinya terkurung dalam suasana hati yang tak stabil. Mungkin itulah yang membuat Yuna mudah sekali marah, bahkan saat berhadapan dengan perkara kecil yang sebenarnya bisa diselesaikan dengan kepala dingin.

Randi juga sering menggelengkan kepalanya setiap ia bertemu dengan Yuna. Ternyata ada juga perempuan yang tidak peduli dengan penampilannya ketika marah. Belum lagi kata-kata yang meluncur ringan dari bibir mungilnya itu. Setiap kata yang terucap selalu bisa membuat merah telinga yang mendengarnya. Kesinisan dalam suaranya juga terdengar tak biasa. Perempuan itu menyimpan luka yang terlalu dalam di hatinya hingga ia tidak bisa meredam amarahnya.

Randi melihat bahwa setiap ada pemicu, Yuna seolah mendapatkan pelampiasan atas kemarahannya. Randi ingin mengenal Yuna lebih dekat. Randi ingin tahu luka seperti apa yang dipendam Yuna di dalam hati dan pikirannya. Randi penasaran.

Ada keinginan di dalam hatinya untuk mendekati Yuna. Namun, keberaniannya selalu menguap setiap ia teringat siapa perempuan yang sedang didekatinya itu. Randi tahu siapa dirinya. Ia juga tahu siapa Yuna. Ada perbedaan besar yang menjurangi dirinya dan Yuna hingga batas sebagai rekan kerja tak mungkin dilampauinya begitu saja.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Bukankah dengan menulis,seseorang bisa mencegah kegilaan menghampirinya? (hlm. 25)
  2. Bagus kan kalau selain bekerja kita juga menyediakan waktu untuk Tuhan. Masa Tuhan sudah begitu baik sama kita, kita malah tidak mau memberikan yang terbaik untuk Tuhan? (hlm. 27)
  3. Kadang kita harus berusaha meredam kemarahan kita dan mencoba melihat dari sudut pandang lain. (hlm. 47)
  4. Pertolongan Tuhan itu sebenarnya sangatlah dekat. Tapi sebagai manusia, kita sering kali sudah terlanjur berputus asa dan tidak mempercayai Tuhan dengan sepenuh hati sehingga pada akhirnya kita berputus asa dan menyerah begitu saja. (hlm. 52)
  5. Setiap manusia pasti memiliki masalahnya sendiri. Berat tidaknya masalah itu tergantung dari manusia itu sendiri. Kalau kamu berpikir masalah yang kamu hadapi berat, maka itulah yang terjadi. Coba kalau kamu berpikir masalah yang kamu hadapi itu adalah masalah ringan yang nantinya akan diberikan Tuhan jalan keluarnya, maka masalah itu benar-benar terasa ringan dan tak mengganggu. (hlm. 54)
  6. Hanya Allah yang bisa menyelesaikan segala perkara yang tidak mampu diselesaikan satu orang manusia pun. Hanya orang-orang yang percaya kepada-Nya saja yang akan mendapatkan pertolongan tersebut. (hlm. 56)
  7. Allah selalu memberikan yang terbaik bagi setiap umat yang bersandar pada-Nya. (hlm. 83)
  8. Mata hati adalah jendela hati seseorang. Mata adalah cerminan hati pemilikinya. Ketika hati orang itu bahagia, maka matanya akan terlihat begitu bersinar membiaskan kebahagiaan itu sendiri. Namun, ketika hati si pemilik mata sedang bersedih, maka mata itu terlihat begitu sedih. Walau orang itu berusaha sekuat tenaga untuk menutupi kesedihannya, tetap saja, mata tidak akan pernah bisa membohongi hati. (hlm. 85)

Banyak juga kalimat sindiran yang diselipkan dalam novel ini:

  1. Bukankah Tuhan sudah menyediakan rezekinya masing-masing? Kenapa semua orang saling sikut, saling iri dan saling berusaha menjatuhkan satu sama lain untuk rezeki yang sebenarnya sudah ada porsinya? (hlm. 17)
  2. Apa salahnya sih meluangkan waktu untuk kegiatan keagamaan. (hlm. 25)
  3. Tidak ada yang bisa ditutupi jika kita bekerja sama di satu tempat yang sama dan bidang yang sama kan? Bahkan kada kala kehidupan pribadi dan rumah tangga masing-masing akan bisa terlepas dari mulut dalam bentuk keluh-kesah. (hlm. 26)
  4. Kesabaran seseorang ada batasnya, kan? (hlm. 38)
  5. Apa salahnya menunggu sih? (hlm. 39)
  6. Apakah dengan menjilat dan cari muka bisa mendapatkan lebih banyak uang? (hlm. 39)
  7. Mana ada orang mengalami masalah masih bisa tertawa? (hlm. 56)
  8. Mana ada sih perempuan yang mau dengan laki-laki yang belum mapan? (hlm. 75)
  9. Setelah kamu bunuh diri, apakah sakit hatimu akan sembuh? (hlm. 127)
  10. Godaan bagi hati selalu saja bisa ditimbulkan baik oleh hati manusia itu sendiri maupun oelh lingkungan yang ada di sekitarnya. (hlm. 150)

Tokoh utama dalam novel ini di deskripiskan sebagai tokoh yang tidak sempurna; janda di usia muda, mudah tersinggung, ketus, susah bergaul dan sering meluapkan emosinya tanpa kendali serta kering iman. Tapi justru lewat tokoh Yuna inilah kita bisa menemukan arti hidup yang sesungguhnya. Dibalik hidup yang tak sempurna justru kita akan mendapatkan hal-hal yang sempurna. Sebuah novel religi dengan banyak selipan moral di dalamnya. Suka gaya penulisannya, tidak terkesan menggurui dalam menyelipkan pesan moral dalam novel ini.

Keterangan Buku:

Judul                     : Hati yang Bertasbih

Penulis                 : Garina Adelia

Penyunting         : Mursyidah

Penata letak       : Florentius Ketha

Desain                  : Maretta Gunawan

Penerbit              : PT Bhuana Ilmu Populer

Terbit                    : 2013

Tebal                     : 233 hlm.

ISBN                      : 978-602-249-277-1

3 thoughts on “REVIEW Hati yang Bertasbih

  1. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s