REVIEW Ayat Suci yang Menari

 ayat suci yang menari

Sabarlah, kadang-kadang Tuhan memang seperti bercanda. Sebentar terlihat harapan, lalu dipadamkan, atau bisa jadi ditunda. Ada hal-hal yang dikira manusia baik bagi dirinya, tapi sebenarnya hanya Tuhan yang paling tahu apa yang terbaik untuk kita. (hlm. 219)

Empat tahun lalu semuanya dimulai. Laura tanpa sengaja menciptakan keributan besar di rumahnya, yang membuat Nicholas kebingungan dan membuat Mom dan Dad sempat memusuhinya. Kala itu ia mengatakan kepada Mom akan berhenti kuliah di Fakultas Kedokteran Univerisiteit van Amsterdam.

Mom jelas tidak terima. Dad lebih marah lagi saat tahu ia melepaskan kesempatan meraih gelar dokternya di universitas terkenal di Amsterdam hanya untuk menjadi salah satu relawan FOEI –sebuah federasi yang bergerak di bidang pelestarian lingkungan hidup, yang berpusat di Amsterdam dan memiliki cabang yang menyebar di 75 negara.

Mungkin ada banyak orang yang merasa aneh  akan apa yang dialami Laura. Ketika masa depannya sudah direncanakan dengan sempurna oleh kedua orangtuanya, Laura malah memilih hidup dengan cara yang mungkin tidak pernah  dibayangkan oleh orang lain. Ia sengaja bergabung dengan FOEI, yang sering mengirim anggotanya ke berbagai daerah, bahkan ke beberapa negara.

Dalam setiap perjalanan yang dilakukan oleh para anggota FOEI, mereka harus melakukan penelitian mengenai kerusakan yang terjadi di tempat tujuan mereka, serta melakukan penyuluhan tentang pentingnya pelestarian lingkungan hidup.

Jika dipikir ulang, sebenarnya Laura tidak terlalu memedulikan misi tersebut. Misinya sendiri jauh lebih kuat daripada sekedar meneliti kerusakan lingkungan. Sejujurnya, Laura bergabung dengan FOEI hanya untuk melarikan diri dari kenyataan bahwa ia merasa ada yang salah pada dirinya, juga keluarganya.

Di balik prestasi yang berhasil dicapainya selama ini, ia merasa ada hal penting yang sudah luput dari perhatian orantuanya. Ia tumbuh menjadi manusia dengan jiwa yang kosong dan asing.

Laura tidak mengenal konsep agama, Tuhan, dan hubungan semua itu dengan jiwanya yang kosong. Ia hanya tahu, didikan kedua orangtuanya yang menekankan bahwa ilmu pengetahuan memegang peranan penting dalam kehidupan manusia, sama dengan didikan yang diterapkan oleh semua orang dewasa di Belanda – negara tempat dia lahir dan dibesarkan.

Tapi seiring dengan berjalannya waktu, Laura perlahan menyadari satu hal. Manusia tidak bisa hanya hidup dengan berpegang pada ilmu pengetahuan yang terus berkembang. Seharusnya, dalam hidup setiap manusia, ada pegangan utuh yang hakiki dan bersifat prinsipal, entah itu agama atau apa pun yang mungkin terasa absurd dan tidak masuk akal.

Pemikiran tentang pegangan hidup yang utuh dan hakiki inilah yang memberi dorongan sangat kuat kepada Laura untuk terus melakukan perjalanan bersama kelompoknya. Ia berharap, dalam salah satu perjalanannya nanti, akan menemukan apa yang dicarinya. Sesuatu yang mungkin bisa membuka matanya bahwa Tuhan itu ada. Bahwa manusia tidak akan bisa hidup hanya bergantung pada kemampuan diri sendiri. Bahwa ada kekuatan mahadasyat yang tidak akan mampu ditandingi oleh kekuatan apa pun yang ada di muka bumi ini.

Segala kerusakan yang terjadi di dunia ini bukan Tuhan yang menciptakan. Ciptaan Tuhan itu selalu baik. Namun hati manusia yang lemah terhadap godaanlah yang merupakan penyebab segala kerusakan itu terjadi. Untuk itulah kita membutuhkan Tuhan agar tidak tercebur ke dalam hal-hal seperti itu. Hanya Tuhan yang mampu menjaga kita. Ia tempat kita berlindung, dan membuat segalanya menjadi baik kembali. (hlm. 71)

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Allah pasti punya rencana sendiri. Sebagai manusia, kita hanya bisa berharap semuanya akan baik-baik saja. (hlm. 18)
  2. Allah tidak suka pada manusia yang hanya menunggu tanpa berusaha. (hlm. 18)
  3. Jangan bangun siang-siang, nanti rezekimu dimakan burung! (hlm. 21)
  4. Jika engkau berada di sore hari, jangan menunggu datangnya pagi, dan jika engkau berada waktu pagi hari, jangan menunggu datangnya sore. (hlm. 21)
  5. Seseorang yang memiliki kemauan dan tekad yang kuat pasti bisa mengubah takdirnya. (hlm. 23)
  6. Kamu harus belajar memikirkan dirimu sendiri. (hlm. 57)
  7. Allah selalu memiliki cara tersendiri untuk menunjukkan kebenara-Nya. (hlm. 227)
  8. Allah mengatur segala sesuatunya dengan baik. (hlm. 233)

Banyak juga selipan kalimat sindiran halusnya:

  1. Kenapapulau yang terkenal dengan aneka bahan tambang bisa memiliki bandara semiskin ini? (hlm. 3)
  2. Bakal mati muda kalau paru-paru isinya debu berkilo-kilo. (hlm. 25)
  3. Jadi apa gunanya takut mati muda gara-gara debu, sedangkan kamu lebih mementingkan rokok? (hlm. 25)
  4. Mana ada bangsawan yang memilih rakyat jelata? (hlm. 31)
  5. Efek samping dari sesuatu yang berlebihan pastilah perusakan dan bencana. (hlm. 37)
  6. Masa kesempatan bagus ditolak? (hlm. 45)
  7. Pakaian yang terlalu minim bisa menjadi godaan bagi lawan jenis kita. Hal itu bisa menimbulkan dosa, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. (hlm. 70)
  8. Banyak hal bisa terjadi gara-gara melihat perempuan berpakaian seksi dan minim, kan? (hlm. 70)
  9. Bagaimana mungkin orang yang memiliki agama bisa tidak menjalankan ibadah agamanya? Apa bedanya mereka yang tidak beribadah itu dengan dirinya yang tidak mengenal agama sama sekali? (hlm. 72)
  10. Apa artinya hidup kalian kalau hanya kejahatan yang bisa kalian lakukan. (hlm. 226)

Novel ini mengambil tema tentang pertambangan di suatu daerah di Kalimantan, lengkap dengan representasi kehidupan masyarakatnya dari nampak eksploitasi hasil perut bumi itu.

Ada hal-hal yang miris yang bisa kita temukan ketika kita berada di suatu pedalaman Indonesia. Misalnya saja tentang ijazah di halaman 20 diceritakan bahwa Alian, seorang putra daerah yang berhasil meraih gelar S2 di tanah Jawa. Alian justru memilih menjadi sopir truk karena sopir gaji sopir di tambang jauh lebih besar daripada ‘menjual’ ijazahnya sebagai pekerja kantoran. JLEBB!! Ini bener banget kalo kita tinggal di daerah karena saya merasakannya. Ketika kita sudah lulus SMA, semua berlomba mencari uang, kemudian menikah dan punya anak. Beberapa sepupu yang cuma tamatan SMA justru sekarang sukses di usia muda,punya rumah dan kendaraan, sudah punya pasangan dan anak pula. Kita tidak bisa mengelak dengan keadaan, di daerah ukuran kuliah sangatlah mahal, belum lagi harus pusing memikirkan pekerjaan yang belum tentu didapat jika lulus kuliah.

Ada hubungan antara tambang dengan cacat pada anak-anak. Prostitusi yang tumbuh subur di daerah sekitar tambang menjadi sumber penyebaran penyakit sifilis. Selain itu, banyaknya penyakit yang menyerang warga akibat tingkat polusi udara dan pencemaran air yang terlalu tinggi menyebabkan warga menjadi terlalu sering mengkonsumsi obat-obatan. Kalau tidak salah, terlalu banyak obat di dalam tubuh terutama pada ibu hamil, membawa resiko besar bayi lahir cacat bahkan bisa pula bayi mati dalam kandungan. Tokoh bernama Fayza yang sumbing merupakan representasi dari efek ini.

Kalo ngomongin Kalimantan, pastilah belum komplit kalo nggak bahas kuyang. Yup, novel ini juga ada unsur mistisnya. Dari dulu saya paling takut ama kuyang. Mereka adalah para perempuan yang memiliki kekuatan gelap  melepaskan leher dari badan mereka dan menghisap darah ibu yang baru melahirkan. Biasanya mereka akan meninggalkan tubuh tanpa kepala mereka di balik pintu atau di kolong rumah panggung. Mereka akan melayang dengan kepala dan usus-usus yang menjuntai dari leher itu. Setelah puas, mereka akan pulang, kembali ke tubuh mereka, dan menjadi manusia lagi. Bedanya, kuyang dalam novel ini tidak berminat pada darah seorang perempuan yang habis melahirkan. Kuyang di sini beralih profesi sebagai penyebar teror dengan segulungan uang dengan nilai nominal yang besar. Hiiiiyyyyy…

Ada juga masalah jalan. Di halaman 36 kita bisa melihat bahwa pemerintah melarang semua kendaraan berat melewati jalan negara. Larangan itu diberlakukan karena banyak sopir truk yang berkendara secara ugal-ugalan dan menjadi penyebab kecelakaan. Kemudian di halaman 39 dijelaskan bahwa setiap tambang diharuskan membangun jalan sendiri. Duh…jadi keinget jalan depan rumah yang hampir nggak wujud jalan. Setiap hari banyak banget truk yang lewat. Truk-truk itu yang ambil jalur pintas menuju lintas timur. Iya sih, daerah tempat saya memang aman, saking amannya para sopir truk memilih lewat jalan depan rumah ketimbang jalan lain yang rawan pungli dan begal. Dan hasilnya, sekarang jalan raya depan rumah udah kayak kolam kalo pas musim hujan. Oya, sebagai bentuk protes, beberapa warga menanam pohon pisang di bagian jalan-jalan yang lobangnya besar seperti ini😀

jalan rusak

Dengan mengambil tokoh-tokoh utama yang merupakan sekumpulan orang asing dari Belanda, menambah daya tarik cerita ini. Ditambah lagi tokoh Neo yang memiliki masa lalu suram atas kematian kakaknya.

Yang makin menambah nilai plus dari buku ini adalah adanya selipan pesan moral tentang pencarian jati diri yang kering iman. Cara yang disampaikan tidak terkesan menggurui. Keren kalo di filmin!😉

Keterangan Buku:

Judul                     : Ayat Suci yang Menari

Penulis                 : Garina Adelia

Editor                    : Dewi Kartika Teguh Wati

Desain isi             : Irfan Emonk & Nur Wulan

Desain sampul   : Suprianto

Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama

Terbit                    : 2014

Tebal                     : 240 hlm.

ISBN                      : 978-602-03-0918-7

Indonesia Romance Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/01/indonesian-romance-reading-challenge-2014/

3 thoughts on “REVIEW Ayat Suci yang Menari

  1. Ceritanya bagus, awalnya aku kira akan lebih menonjolkan Belanda. Ternyata malah mengeksplorasi Kalimantan. Pencarian jati diri mengingatkan pada novel “Eat, Pray and Love”. Ada GAnya gk ni.. mau donk.. @chi_yennesy ♡

  2. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s