REVIEW Tiga Bianglala

 tiga bianglala

“Semua cita-cita itu bagus, asal dilaksanakan dengan sungguh-sungguh.” (hlm. 288)

“Jangan cepat puas. Berusaha lebih keras lagi.” (hlm. 213)

Tiga Bianglala. Bianglala itu pelangi. Penuh keceriaan, penuh warna seperti pelangi. Persahabatan Itut, Manna dan Meimei akan penuh warna ceria dan penuh canda tawa, sama seperti pelangi yang cerah berwarna-warni. Layaknya pelangi, hidup mereka kadang merah kadang kuning, kadang tertawa kadang menangis, kadang suka kadang duka, kadang senang kadang sedih. Begitulah hidup.

“Jangan kaupikirkan kehidupan orang lain. Lebih baik kau pikirkan diri sendiri!” (hlm. 165)

Tipikal guru dalam buku ini:

  1. Jaman SMP dan SMA menemukan guru tipikal Bu Sakdiah ini. Di halaman 112, para murid diharuskan les dengannya dan membayar. Yang tidak kuat bayar, nggak boleh datang! Terus, di halaman 123 disebutkan bahwa ketika mereka ulangan, yang les pasti menjawab soal dengan lancar karena soal-soal sudah dibocorkan saat les. Byuh….jadi inget pengalaman pas SMP, guru Fisika kayak gini. Terus pas SMA, guru Matemata juga kayak gini. Mungkin ini menjadi salah satu faktor kenapa saya jaman sekolah alergi masuk IPA😀
  2.  Bu Lastri. Entah kenapa guru kalo masih gadis, pasti identik dengan sifat galak. Dulu jaman SMP juga ada guru kayak gini. Suka disumpahin muridnya. Duh…jangan sampe deh… x)
  3. Pak Jainal. Semua murid sama di matanya, baik itu anak orang berada maupun orang miskin. Itu yang menyebabkan para murid senang dengan guru tipikal Pak Jainal ini. Percaya deh, guru tipe ini pasti jadi favorit di semua sekolah. Bahkan akan selalu dikenang para muridnya😉

Beberapa adegan lucu:

  1. Di halaman 43 ketika Itut dan Manna berjualan es bungkus justru merasa kehausan karena lelah seharian berkeliling kampung. Ide jahil Itut adalah membolongi es bungkus, diisap sedikit untuk menghilangkan dahaga, lalu dimasukkan ke termos lagi x)
  2. Di halaman 89 diceritakan bagaimana gembiranya Itut ketika ayah Manna mengajak Manna dan dia untuk makan di Rumah Makan Padang. Itut menghabiskan tiga potong ayam dan dua piring nasi serta sepiring sayur nangka, kemudian Itut menyerah. Perut kecilnya tidak bisa menampung makanan lagi. Bagi Itut, bisa makan enak, apalagi makan dengan lauk ayam hanya dirasakannya saat Hari Lebaran tiba.
  3.  Di halaman 270 representasi ababil tahun 1970-an. Itut, Manna dan Meimei ingin terlihat cantik seperti bintang di televisi. Sebagian orang tua menganggap dandanan mereka itu berlebihan untuk gadis kecil seusia mereka. Bibir mereka yang berwarna merah muda itulah yang membedakan tampilan mereka. Tidak ada yang mengira bahwa itu akibat dari Fanta merah.

Ada juga beberapa adegan sedih yang bikin mata berkaca-kaca:

  1. Di halaman 248-253, kejadian di saat Manna di caci maki bahkan diusir oleh ibu tiri dari rumahnya sendiri. Tidak hanya itu, Manna sampai ditampar istri ayahnya itu. #PukPukManna
  2. Di halaman 278, saat Itut sekeluarga harus pindah ke Samarinda demi kehidupan yang lebih baik. Apalagi di bagian Maknya Itut menangisi rumah dan kenangan mereka selama hidup di Palembang. Ini sedih banget :’)

Namanya juga ababil, pasti masa-masanya GR:

  1. Itut disenyumin Firman anak kelas 5B, langsung menduga jika Firman suka dengannya. Ada di halaman 40
  2. Ketika Manna dan Itut keliling dengan sepeda yang mereka sewa, bertemu Deddy di lapangan bermain yang dipagari pepohonan. Itut langsung kesengsem ama Deddy yang memang kaya dan tampan, maklum masih keturunan Belanda. Ada di halaman 61.

Sejujurnya, salah satu hal yang mendasari pengen baca buku ini adalah dari covernya yang sungguh unyu. Langsung kebayang masa-masa ababil. Di samping rumah, ada pohon jambu air. Hobi banget manjat, makan jambu memang terasa lebih nikmat bila di atas pohonnya. Bahkan kelakuan ini masih saya jalani sampai SMA. Kalo sekarang ya udah nggak lagi, mikir-mikir, ntar berasa sebelas dua belas kayak anak-anak tetangga. Jadi, kalo anak sekarang pada minta jambu cuma ambil pake genter (bahasa Indonesianya; bambu) jadi gemes sendiri, jambunya malah pada benjol karena jatuh ke tanah. Rasanya pengen nyuruh mereka naik aja, etapi kan anak orang, kalo palanya benjol lebih berabe, gyahahaha…😀

Begitu pula dengan kelakukan Itut dan Manna di buku ini. Di BAB Kesempatan Dalam Kesempitan, mereka mengambil jambu Bu Endut tanpa ijin di halaman 19-28. Unyu banget, deskripsinya ya kayak di cover. Si Itut yang gelantungan, terus Manna nunggu di bawah. Ternyata nggak cuma sekali, mereka mengulangi lagi niatan mencuri jambu Pak Rohim. Dan kali ini mereka kena getahnya.

Setting buku ini mungkin jaman 1970-an, jaman di masa Yati Oktavia, Ira Maya Sopha, Chica Kuswoyo dan Adi Bing Slamet masih nge-hits abis. Yup, mungkin di masa ababilnya orangtua kita. Jadi, kalo sekarang mungkin Itut, Manna dan Meimei mungkin sudah tua, seumuran orangtua kita😀

Deksripsinya jelas banget, ditambah lagi ada aroma Palembang yang terasa kental di setiap percakapannya yang menjadi poin lebih buku ini. Tiga anak-anak dalam buku ini punya representasi yang berbeda. Itut dengan segala kehidupannya yang punya banyak saudara dan serba susah, Manna yang sebenarnya punya ayah yang berkecukupan tapi punya ibu tiri yang tidak pernah suka dengannya, serta Meimei yang hidupnya berada dan pintar tapi tidak punya banyak teman karena dianggap aneh.

Keterangan Buku:

Judul                     : Tiga Bianglala

Penulis                 : Misna Mika

Editor                    : Donna Widjajanto

Desain sampul   : EorG

Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama

Terbit                    : 2014

Tebal                     : 304 hlm.

ISBN                      : 978-979-22-9919-9

Indonesia Romance Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/01/indonesian-romance-reading-challenge-2014/

Young Adult Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/07/young-adult-reading-challenge-2014/

New Authors Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/02/new-authors-reading-challenge-2014/

6 thoughts on “REVIEW Tiga Bianglala

  1. Buku ini mencerminkan realita yg ada di kehidupan sehari2 ya..
    Btw, iya banget ada guru yg kalo les ditempatnya dapat kisi2 soal ulangan. Jadinya dpt nilai bagus deh..

  2. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

  3. Pingback: [BOOK KALEIDOSCOPE 2014] Top Five Best Book Covers | Luckty Si Pustakawin

  4. Thank you atas review-nya Luckty :D… semuanya benar hanya saja saya menulis Tiga Bianglala ini dengan background tahun pertengahan 80an bukan 70an :D… Tunggu novel kelanjutannya yaaa…..hehehehehe….

    Salam manis,
    Misna Mika

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s