REVIEW Dark Memories

dark memories

Setiap manusia memiliki monster dalam diri mereka. Sepanjang hidup manusia harus berperang melawan monster itu. Terkadang monster itu kalah, terkadang monster itu menang. Terkadang kalau tekanan batin yang dialami seorang manusia sudah melampaui batas pertahanan dirinya, manusia bisa memilih untuk menyerah dan berjabat tangan dengan monster itu. Bekerja sama dengan monster itu agar keduanya bisa bertahan hidup. (hlm. 18)

Diduga depresi, A (16 tahun) nekad meloncat dari balkon lantai 3 gedung sekolahnya. Peristiwa ini terjadi setelah pulang sekolah, sekitar pukul 15.45 WIB. Beruntung saat kejadian, masih ada siswa-siswi yang berkumpul untuk kegiatan ekstrakurikuler. A segera dilarikan ke Rumah Sakit Kasih untuk mendapatkan perawatan. Dari surat yang ditinggalkan A di meja kelasnya, A menyatakan dirinya sudah tidak sanggup lagi menghadapi tekanan sekolah dan di rumah. A juga menuliskan permintaan maaf kepada orangtua dan teman-temannya. Hingga berita ini diturunkan, belum ada keterangan yang pasti mengenai kondisi terakhir A.

Inisial A yang disebutkan di headline utama sebuah surat kabar adalah inisial dari Anet. Lalu apa hubungannya denga Ella? Ternyata saat bunuh diri, Anet meninggalkan sepucuk surat dan menyebutkan Ella di dalamnya. Apa yang harus dilakukan Ella dan apakah dia terlibat dengan apa yang dialami Anet?

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1.  Tidak ada tindakan buruk yang tidak mendapatkan hukuman. Semua hanya masalah waktu saja. (hlm. 20)
  2. Tidak ada kesalahan yang tidak dihukum. (hlm. 44)
  3. Sebagai teman, kita punya batasan sejauh mana kita bisa ikut campur. Apa yang kita sangka merupakan tindakan yang benar, bisa jadi malah mencelakakan teman kita. (hlm. 146)
  4. Memaafkan bukan untuk menghapus semua perbuatan dia ke kamu. Memaafkan itu untuk menghapus semua perasaan negatif yang kamu rasakan. (hlm. 217)
  5. Nikmatin aja waktu liburan semaksimal mungkin. Karena begitu SMA dimulai, kita enggak pernah tau apa yang akan terjadi. (hlm. 229)
  6. Jika kamu masih bisa bangun, mendapati kamu masih bernapas, itu artinya Tuhan menganggapmu berhak untuk mendapatkan satu hari lagi. (hlm. 243)
  7. Perbaiki apa yang masih bisa diperbaiki, selebihnya ikhlaskan. (hlm. 274)

Banyak juga selipan kalimat sindiran halus dalam novel ini:

  1. Anak-anak memang bisa menjadi sangat kejam. Anak-anak dengan wajah lucu dan biasa mencuri perhatian para orangtua, bisa jadi adalah anak yang paling ditakuti di antara teman-temannya. (hlm. 6)
  2. Apa yang inspiratif dari seorang anak manja cengeng yang kabur dari rumah? (hlm. 7)
  3. Kecengengan sedang tren. Terbukti dari banyaknya lagu-lagu cengeng memuakkan bermunculan. (hlm. 7)
  4. Aku harus menghadapi setumpuk PR, ulangan susulan, dan tugas sekolah lainnya. Membuatku merasa bagai dicakar-cakar monster hingga mati pelan-pelan. (hlm. 9)
  5. Jangan mentang-mentang kamu sibuk cari uang terus kamu enggak mau tahu soal anak-anak. Mereka juga butuh perhatian kamu. (hlm. 29)
  6. Jangan paksa semua orang supaya bisa seperti kamu! (hlm. 34)
  7. Cerita tentang cinta meman tidak selalu seindah dongeng. (hlm. 52)
  8. Pada kenyataannya, si Tokoh Jahat, yang pandai bermain watak, yang berhasil mendekati Pangeran. Yang baik tidak selalu menang. Yang licik, di lain pihak, hampir selalu mendapatkan apa yang mereka inginkan. Itulah hidup. (hlm. 53)
  9. Kalau di film-film remaja, cewek biasa  saja yang jadi secret admirer-nya, berubah menjadi cantik dalam sekejap. (hlm. 57)
  10. Orang senyam-senyum  sendiri karena ingat sesuatu yang lucu, sama karena ingat orang yang disukainya itu beda. (hlm. 61)
  11. Cerita itu mengajari kita supaya tidak egois dan serakah. Kamu punya banyak sekali mainan, baju, dan barang-barang lain yang bagus. Masa kamu enggak mau berbagi sama sekali? (hlm. 87)
  12. Sinetron-sinetron yang tidak masuk akal, masa ada anak SD sudah tahu pacaran? (hlm. 111)
  13. Setiap kesalahan memiliki poin minusnya sendiri sesuai dengan beratnya. (hlm. 125)
  14. Sebagai teman harusnya kamu ingetin dia, atau adukan ke orangtuanya. (hlm. 145)
  15. Ini bukan cerita dongeng Bawang Putih atau Cinderella. Mereka bisa tetap sabar dan berbaik hati pada saudara tirinya. Ini bukan nyata. Siapa yang ditindas, cepat atau lambat dia akan melawan penindasnya. (hlm. 150)
  16. Kalau cuma mau cari keren-kerenan kayak di sinetron begitu mending enggak usah deh, daripada udah bayar uang pangkal mahal-mahal terus pindah sekolah. (hlm. 225)
  17. Perubahan dari idola yang dipuja-puja ke orang biasa-biasa aja –lebih-lebih dibenci orang karena kelakuannya- itu berat banget. (hlm. 234)
  18. Elo ada masalah di rumah, tapi bukan berarti elo bisa memperlakukan orang-orang di sekitar elo kayak sampah. (hlm. 254)
  19. Berada di kelas unggulan tidak menjamin posisi aman selamanya. Bagaimana kita bisa tetap bertahan, lagi-lagi tergantung pada usaha kita. (hlm. 273)

Banyak pesan moral yang bisa kita ambil dari tokoh-tokoh yang ada di novel ini:

  1. Ellanor. Remaja yang memiliki masa lalu kelam. Kerap dibully yang menimbulkan ketidakpercayadirian dalam hidupnya semasa SMP. Mengakibatkannya memiliki sifat yang sangat berkebalikan di masa SMA. Rasa dendam yang dia pendam selama ini lama-lama menggunung.
  2. Icha. Reprsentasi kisah Ella di masa kecil. Cerdas tapi memiliki keterbatasan fisik hingga kerap dibully teman-temannya.
  3. Anet. Ketika memiliki teman yang hampir dikatakan sempurna dalam segala hal, seseorang akan memiliki rasa iri dan dengki dalam hidupnya. Itulah yang dialami Anet.
  4. Loretta. Broken home. Hal inilah yang menjadi salah satu pemicu hidupnya yang pemberontak dan kasar terhadap orang lain.
  5. Arista. Tipikal remaja yang mengikuti segala kemauan orang yang disayanginya meski menjerumus ke hal-hal yang negatif.
  6. Kak Risa. Sosok yang selalu ingin tampil sempurna di setiap kesempatan. Perfeksionis. Semua yang dia inginkan harus tercapai.
  7. Bu Raina. Belajar dari pengalaman pahitnya saat masih muda, kenangan pahit di masa lalu memberinya banyak hikmah yang bisa dipetik.

BULLYING dan BROKEN HOME menjadi trending topic dalam novel remaja akhir-akhir ini. Sebenarnya tidak hanya dalam kehidupan dalam novel saja, dalam kehidupan nyata juga banyak yang mengalaminya. Dulu, jaman saya sekolah sekitar sepuluh tahun yang lalu, jarang sekali anak sekolah yang mengalami masa broken home. Beda banget ama jaman sekarang di mana saya bekerja di sekolah, empat dari sepuluh siswa mengalami broken home; orang tua pisah, orang tua selingkuh, orangtua minggat, dan sebagainya. Remaja yang mengalami broken home biasanya cenderung bermasalah, mereka tidak boleh dijauhi, tapi justru harus dirangkul. Begitupula dengan bullying, makin ke sini, bullying makin parah dan merajalela. Jaman saya dulu sekolah, paling mentok berantem soal cowok, kalo jaman sekarang, duh…bullyingnya model keroyokan. Syerem atulah… :3

Pas baca openingnya, buku ini tampak menegangkan. Apalagi ditambah covernya yang kelam, kirain bakal bertema thriller ala darah-darah gitu. Ternyata ini kisah remaja dengan segala permasalahannya. Alurnya maju mundur. Greget ama kisah Anet yang harusnya bisa dieksplorasi lebih lanjut.

Keterangan Buku:

Judul                                     : Dark Memories

Penulis                                 : Stephie Anindita

Penyunting                         : Della Firayama

Penyelaras aksara            : Lian Kagura, Putri Rosdiana

Penata aksara                    : Axi MR

Perancang sampul           : Fahmi Ilmansyah

Penerbit                              : Noura Books

Terbit                                    : November 2014

Tebal                                     : 292 hlm.

ISBN                                      : 978-602-1306-54-3

Indonesia Romance Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/01/indonesian-romance-reading-challenge-2014/

Young Adult Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/07/young-adult-reading-challenge-2014/

New Authors Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/02/new-authors-reading-challenge-2014/

5 thoughts on “REVIEW Dark Memories

  1. Bullying harusnya bisa ditangani oleh bagian guru Bimbingan Konseling. Sayang banget, guru BK ini kadang nggak berfungsu semestinya. Inget pas SMA, guru BK di sekolah saya justru guru yang sudah berumur, sehingga susah bercurhat ria dengan beliau. Bawaannya nggak asyik. Ditambah pas guru tersebut mengajar materi BK, siswanya pada ngantuk dan nggak peduli dengan materi..

  2. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s