REVIEW Dag, Dig, Dugderan

Kamu memang perempuan, tapi perempuan zaman sekarang bisa lebih maju daripada laki-laki. Kamu harus buktikan itu! (hlm. 29)

SRI

Usianya baru 10 tahun waktu itu. Mbah Putri yang memberitahukan bahwa Ibu telah pergi bekerja di Arab Saudi, sejak Bapak tak pulang karena pekerjaannya di Jakarta. Tak ada yang tahu kabar Bapak. Ada yang mengatakan Bapak sudah kawin lagi. Ibu terpaksa mencari kerja agar mereka bisa makan. Ibu terpengaruh ajakan temannya bekerja di Arab Saudi karena konon gajinya lebih besar. Di rumah Bulek Sekar, ada pembagian tugas rumah tangga. Sri sudah biasa mengerjakan pekerjaan rumah tangga sejak tinggal bersama Mbah Putri. Dia kebagian mencuci piring dan menyapu halaman, tetapi Bagus dan Ningrum sering menyerahkan tugas mereka kepada Sri. Itu yang membuat Sri sering kelelahan. Apa daya, dia hanya menumpang. Maka dia harus menerima perlakuan apa pun yang ditujuan kepadanya.

EILEEN

Eileen memang kelihatan bernafsu melahap semua mata pelajaran, khusus sains. Dia masuk sekolah negeri yang terbaik di Semarang. Hari-harinya hanya diisi dengan belajar sampai tak memiliki teman. Eileen takmenjadikannya masalah tak memiliki teman, karena dia lebih suka menyendiri dan bergelut dengan buku-bukunya. Kadang-kadang ada beberapa orang yang mendekatinya. Tetapi Eileen segera pasang jurus menghindar. Dia menilai orang-orang yang mendekatinya hanya ingin mengintip rahasianya menjadi pemenang. Eileen tak ingin ada orang yang mengambil kedudukannya. Dia tak suka melihat orang lain mengunggulinya.

FARAH

Di rumahnya, hampir semua makanan diisi daging. Orang Arab memang suka makan daging. Teman-temannya sering menjulukinya ‘Arab’ meski dia terlahir di Indonesia dan memiliki kewarganegaraan Indonesia. Dia bahkan belum pernah ke Arab Saudi. Berat badannya memang mengenaskan, karena dia cukup gemuk. Ah, Farah tak peduli, yang penting otaknya tak tersumbat. Ummi memberi banyak amunisi untuk bekalnya belajar. Itulah yang membuatnya betah belajar. Katanya, kalau banyak makan akan cepat mengantuk, tetapi Farah tidak begitu. Makanan menjadi penyuplai otaknya agar terus bekerja.

Sri, Eileen dan Farah adalah tiga murid unyu di sebuah sekolah di Semarang. Ketiganya terplih menjadi wakil sekolah mereka dalam Olimpiade Sains Nasional (OSN). Sri dalam bidang Biologi, Eileen dalam bidang Fisika dan Farah dalam bidang Matematika. Selain disibukkan oleh kegiatan menjelang OSN, mereka bertiga punya kehidupan dan permasalahan yang berbeda. Mampukah ketiga keluar dan menyelesaikan segala persoalan yang ada?

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Kamu harus rajin belajar yang rajin ya. Jangan sia-siakan pengorbanan Ibu. (hlm. 13)
  2. Apamu itu bekerja keras untuk mendapatkan uang supaya kamu bisa jadi yang terbaik di sekolah. Jangan kausia-siakan kerja keras Apa itu ya. (hlm. 31)
  3. Segala rintangan yang datang harus dijalani dengan lapang dada dan keyakinan yang kuat. (hlm. 39)
  4. Kepintaran manusia itu tidak sama. Bukan hanya anak yang pandai dalam sains yang disebut pandai. Kamu juga pandai karena bisa berpuisi dan menulis cerpen. (hlm. 58)
  5. Menaklukkan hati wanita tidak semudah menaklukkan rumus fisika. (hlm. 101)
  6. Selama ini Bapak memiliki resultan gaya nol, sehingga pusat massa suatu benda tetap diam atau bergerak dengan kecepatan konstan, alias tidak mengalami pertambahan percepatan. (hlm. 102)
  7. Ada masalah yang hanya sedikit menyita perhatian, ada yang sebaliknya. (hlm. 119)
  8. Memang benar setiap anak membawa rezeki masing-masing. Dan setiap anak, baik lelaki maupun perempuan, adalah sama di mata Allah SWT. (hlm. 162)
  9. Ama tak usah terlalu memikirkan masa depan kita. Pasti akan ada jalan keluar bagi semua masalah. (hlm. 168)

Banyak juga selipan sindiran halusnya:

  1. Makan tak perlu buru-buru. (hlm. 5)
  2. Ada tradisi yang konon dianut oleh keluarga keturunan Tionghoa. Sejak anak-anak masih kecil, orangtua sudah melihat bakat mereka. Jika anak kelihatan pintar, dia akan disekolahkan setinggi-tingginya. Jika anak terlihat biasa-biasa saja, dia akan diberi modal untuk membuka usaha. (hlm. 6)
  3. Meski sudah sekian banyak kalori dan protein yang masuk ke dalam tubuh, otaknya masih bisa mencerna pelajaran dengan baik. (hlm. 8)
  4. Mencari majikan yang baik di Arab sini untung-untungan. Makanya, kalau sudah dapat, jangan mudah dilepaskan. (hlm. 13)
  5. Orang Jawa memang memilik banyak mitos yang kalau dipikir menggunakan logika, sungguh tak masuk akal. Tetapi sebenarnya para orangtua dulu hanya ingin memperingatkan untuk tidak melakukan perbuatan tertentu, dengan menunjukkan akibat yang bisa memberi efek jera. (hlm. 27)
  6. Orang gendut juga bisa pintar. (hlm. 40)
  7. Apa salah orang bertubu besar dapat menguasai Matematika? (hlm. 41)
  8. Makan jangan sambil melamun. (hlm. 47)
  9. Pada umumnya penduduk Indonesia berpikir, kebanyakan keturunan Cina kaya, padahal banyak juga yang merupakan kalangan menengah, bahkan miskin. (hlm. 49)
  10. Calon-calon pejabat koruptor. Masih kecil saja sudah minta sogokan. (hlm. 62)
  11. Memang salah kalau mau kurus? Aku cuma mau menghindari penyakit. Kalau terlalu gemuk juga ndak baik tho? (hlm. 63)
  12. Jangan sampai menikah terlalu muda, nanti kamu menyesal seperti Ibu. Sekolah itu bermanfaat untuk dirimu sendiri. (hlm. 67)
  13. Kini sudah zaman reformasi, mau memberi nama Tionghoa pun tak jadi masalah. Tak seperti pada masa Orde Baru, anak-anak keturunan Tionghoa harus diberi nama khas Tionghoa. (hlm. 69)
  14. Masak anak cantik dan hebat tidak laku? (hlm. 70)
  15. Suka ya melihat penderitaan orang lain? (hlm. 92)

Suka ama cerita tiga tokohnya. Dengan mengambil latar etnis yang berbeda; Sri berdarah Jawa, Eileen berdarah Tionghoa dan Farah berdarah Arab, kita diajak menelusuri tidak hanya kehidupan remaja biasa tapi juga remaja dengan tetek-bengek urusan permasalahan yang melanda mereka.

Lewat tokoh Sri, kita bisa tahu betapa susahnya hidup tanpa orangtua dan pedihnya menumpang di rumah saudara. Hal ini yang menjadikannya terkesan rendah diri, padahal ada Damar yang mencoba membuka hati untuknya.

Lewat tokoh Eileen, kita bisa tahu kehidupan masyarakat Tionghoa yang rata-rata tipikal pekerja keras dan disiplin dalam melakukan apa pun. Eileen jadi harapan besar orangtua, karena itu dia sangat bersungguh-sungguh dalam belajar demi membanggakan orangtuanya.

Lewat tokoh Farah, kita bisa tahu betapa repotnya punya tubuh besar. Padahal orangtuannya tidak pernah mempermasalahkan bentuk tubuhnya itu. Ditambah lagi Umminya selalu memasakkan makanan yang lezat-lezat untuk Farah. Saya aja pengen banget punya mama kayak Umminya Farah ini, tiap hari bisa makan enak dan bergizi pula. Banyak banget makanan yang menggiurkan di bagian cerita Farah; samosa di halaman 8, martabak mesir di halaman 32, roti maryam di halaman 53, nasi kebuli di halaman 73.

Ada selipan kritik sosialnya yang terlihat di halaman 17 tentang kehadiran minimarket yang berimbas pada warung kecil dan menengah. Tetapi itulah persaingan bisnis. Untunglah, tak semua barang dijual di minimarket.

Banyak juga deskripsi Semarang banget; ada komunitas keturunan Arab di Kampung Layur di halaman 22. Ada Masjid Menara di halaman 23 yang mewakili tiga budaya; Arab, Jawa, dan Melayu. Arsitektur khas Timur Tengah tampak pada tembok tinggi yang mengelilingi masjid dan menara yang ada di bagian depan. Adapun atapnya yang bersusun tiga mencirikan bangunan khas Jawa, dan lantainya yang menyerupai lantai di rumah gadang diambil dari model bangunan Melayu. Ada juga penjabaran boneka Warak Ngendong yang mewakili tiga etnis yang paling dominan di Semarang, biasanya boneka ini di dalam acara Dugderan. Tak lupa ada Masjid Agung Jawa Tengah di halaman 186.

Oya, acara Dugderan sendiri yang menjadi judul novel ini juga dijabarkan lumayan gamblang dalam buku ini. Saya baru tahu kalo acara Dugderan dalam rangka penyambutan bulan Ramadhan bagi warga Semarang. Unik ya namanya😀

Yang disayangkan cuma satu, rincian OSN justru kurang berasa. Padahal OSN adalah benang merah antara kehidupan Sri, Eileen dan Farah😀

Keterangan Buku:

Judul                     : Dag, Dig, Dugderan

Penulis                 : Leyla Hana

Editor                    : Dewi Kartika Teguh Wati

Desain sampul   : Gita Juwita

Tata letak isi       : Rahayu Lestari

Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama

Terbit                    : 2014

Tebal                     : 191 hlm.

ISBN                      : 978-602-03-0806-7

Indonesia Romance Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/01/indonesian-romance-reading-challenge-2014/

Young Adult Reading Challenge 2014

https://luckty.wordpress.com/2014/01/07/young-adult-reading-challenge-2014/

 

4 thoughts on “REVIEW Dag, Dig, Dugderan

  1. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s