REVIEW Dunia Anna

  dunia anna

“Nanti pas kita ketemu, kamu harus punya jawaban bagaimana kita dapat menyelamatkan 1.001 jenis flora dan fauna dari kepunahan, ya. Kalau kamu bisa, aku cinta kamu. Kalau kamu nggak bisa, kita putusa saja!” (hlm. 107)

Adalah ANNA yang berulang tahun ke 16 di tangal 12 – 12 – 2012. Anna sebenarnya gadis biasa. Hal yang membuatnya terlihat berbeda dari kebanyakan remaja lainnya adalah dia sangat peduli lingkungan. Sehari sebelumi ulang tahunnya ini, dia mendapatkan kado berupa sebuah cincin dan sebuah ponsel yang hanya dengan menyentuh layarnya saja, keluasan akses internet tersaji di hadapan Anna. Namun, cincin dari Tante Sunniva lebih memesonanya.

Sejak Anna masih kecil, orang sudah sering bilang kalau dia suka sekali berfantasi. Jika ditanya apa yang sedang dia pikirkan, Anna bisa panjang lebar bercerita yang tiada habisnya, dan selalu memukau pendengarnya. Namun sejak musim semi tahun ini, mulai muncul cerita-cerita yang Anna sendiri rasakan sebagai kisah nyata. Dia merasa kisah-kisah seperti itu seperti dikirimkan kepadanya, mungkin dari kurun waktu lain, atau malah dari dunia lain.

“Saya bilang kalau saya khawatir akan perubahan iklim yang diakibatkan oleh ulah manusia. Saya takut kalau kita yang hidup saat ini mempertaruhkan iklim dan lingkungan bumi ini tanpa memedulikan generasi selanjutnya.” (hlm. 21)

Adalah Nova yang juga berulang tahun ke 16 di tahun 12-12-2082. Di masa itu, dari teminal online, dia menemukan sepucuk surat dari nenek moyangnya; Anna. Nova dan Anna sama-sama peduli lingkungan, sama-sama peduli akan nasib bumi dan sama-sama resah akan nasib masa depan.

Bagaimana mereka bisa terhubung dan menyelamatkan bumi dari kerusakan manusia? Bisa kita baca lewat Dunia Anna, karya terbaru Jostein Gaarder ini😉

“Kita menghancurkan planet kita sendiri. Kitalah yang telah melakukannya, dan kita sedang melakukannya sekarang.” (hlm. 120)

“Belum lama berlalu sejak pertama kali dinyatakan bahwa kita adalah generasi pertama yang memengaruhi iklim bumi, dan pada saat yang sama generasi terakhir yang tidak mau menerima keharusan membayar harganya. Tapi, pernyataan itu sudah tidak lagi memadai. Aku melihat dengan kepala sendiri dan mengalami sendiri bencana iklim. Aku pernah mengalami bencana kekeringan, dan aku pernah memeluk seorang anak yang sedang sekarat. Sungguh menyakitkan. Karena bukanlah alam yang membunuh. Tetapi kita, manusia.” (hlm. 241)

Ada banyak selipan isu lingkungan hidup dalam buku ini:

  1. Ada begitu banyak gas rumah kaca di luar sana hingga tidak ada lagi yang bisa memastikan apa konsekuensinya atas iklim global dan lingkungan. Dan emisi gas terus berlanjut… (hlm. 22)
  2. Kalau kamu tiap hari makan kalori yang berlebih dari kebutuhan tubuhmu untuk berfungsi normal, maka bobot tubuhmu akan bertambah. Begitulah kira-kira analogi penumpukan CO2 di atmosfer. (hlm. 27)
  3. Efek rumah kaca suatu saat akan menjadi-jadi, dan kemungkinan teruruknya ialah suhu rata-rata bumi akan meningkat enam sampai delapan derajat. Maka semua lapisan es di bumi ini akan mencair, lalu permukaan laut akan meningkat bermeter-meter… (hlm. 28)
  4. Pemanasan global telah menyebabkan kekeringan di daerah-daerah tropis, dan ini juga telah melepaskan overdosis CO2 ke atmosfer. (hlm. 143)
  5. Banyak gejala pemanasan global yang telah muncul jauh sebelum kita mengantisipasinya, begitu juga bila kita membandingkan dengan berbagai skenario paling pesimistis dari peneliti iklim. Jutaan orang sudah menjadi korban dari konsekuensi yang telah kita peringatkan beberapa tahun lalu. Kita mengalami berbagai bencana alam yang lebih sering dan lebih menghancurkan seperti banjir, gelombang panas, dan kebakaran hutan, serta orang-orang terpaksa mengungsi. (hlm. 240)

Beberapa kalimat favorit:

  1. Hidup bisa beruah sedemikian cepatnya! (hlm. 13)
  2. Ada sesuatu yang sangat tidak mengenakkan untuk dipikirkan hingga kita berusaha melupakannya. (hlm. 23)
  3. Kita tidak seharusnya membiasakan diri terhadap ancaman. Sebaliknya, kita harus mengatasinya. (hlm. 24)
  4. Pikiran manusia memang begitu kompleks. (hlm. 95)
  5. Ada banyak hal di alam ini yang manusia belum mengerti. Waktu, misalna. Apa sesungguhnya waktu? (hlm. 112)
  6. Apa itu kesadaran? Apa itu mimpi? (hlm. 113)
  7. Kita perlu lebih pandai untuk membayangkan para penerus kita, lebih pandai untuk menghayati kehadiran mereka yang akan mewarisi Bumi ini sepeninggal kita. (hlm. 219)
  8. Jangan pernah takut pada kegelapan, bintang-bintang akan menerangimu. (hlm. 226)

Waktu tahu buku ini terbit, langsung masuk wishlist dan alhamdulillah langsung kesampaian beli. Saya lumayan menunda beberapa minggu untuk membacanya, karena saya pikir isinya bakal ‘berat’ seperti Dunia Sophie yang didominasi filsafat. Ternyata, Dunia Anna isinya ringan. Ringan bukan berarti sekali habis baca langsung selesai. Meski ringan, menyisakan banyak pesan moral baik lewat tokoh Anna maupun tokoh Nova. Isu utama yang di angkat dalam novel ini adalah tentang pemanasan global yang makin gencar digalakkan sejak tahun 2010-an. Pokoknya saya masih inget banget jaman-jaman kuliah, begitu banyak acara bertema ‘global warming”.

dunia anna 1 dunia anna 2 dunia anna 3

Bukan perkara tren, dari dulu saya memang gemas dengan isu ini. Ada banyak hal-hal kecil yang bisa kita lakukan dan kita ciptakan untuk mengupayakan kelangsungan hidup bumi beserta isinya. Kebetulan, tahun lalu di sekolah sebagai perwakilan Sekolah Adiwiyata tingkat provinsi. Tahun ini, sekolah terpilih sebagai Sobat Bumi. Kebayang kan aura-aura lingkungan hidup di sini. Takjub sekali dengan segala upaya yang dilakukan murid-murid unyu dalam penerapan reuse, reduce, dan recycle. Berikut beberapa karya siswa hasil daur ulang:

dunia anna 4 dunia anna 5 dunia anna 6 dunia anna 7 dunia anna 8

Nah, lewat buku ini kita tidak hanya merenungkan nasib bumi di masa yang akan datang bagi anak cucu kita, tapi juga sekarang!😉

“Lagi pula masalah pemanasan global bukan sesuatu yang begitu saja bisa dirasakan. Kita perlu mempelajari dan memahaminya, atau terus hidup dalam ketidaktahuan.” (hlm. 25)

Keterangan Buku:

Judul                     : Dunia Anna

Penulis                 : Jostein Gaarder

Penerjemah       : Irwan Syahrir

Penyunting         : Esti A. Budihabsari

Proofreader       : Ine Ufiyatiputri

Penerbit              : Mizan

Terbit                    : Oktober 2014

Tebal                     : 244 hlm.

ISBN                      : 978-979-433-842-1

38 thoughts on “REVIEW Dunia Anna

  1. Pingback: GIVEAWAY Dunia Anna | Luckty Si Pustakawin

  2. Novelnya unik! Jarang loh kak, ada novel yg membahas tentang kelangsungan lingkungan. Rata-rata novel zaman sekarang melulu soal percintaan hihi. Pesan yg ingin disampaikan melalui novel ini sangat bagus. Mengajak pembaca sambil merenungkan(?) akibat dari global warming di masa yg akan datang🙂

  3. Pertama……….. Novel lingkungan lagi, asiiik.. sebelumnya aku dapat Katastrofa dari GA luckty, baru baca sedikit soalnya keSkip sama The Girl Who Played with Fire yang aku temuin di Gramedia Fiesta. Belum pernah baca Dunia Sophie, tapi pernah liat buku tebelnya dikamar adek-suprise sama bacaannya-. Ilustrasi fotonya itu keren, aku yakin kalau luctky sangat ‘care’ sama lingkungan. Apakah novel ini membahas tentang perjalannan menembus waktu? Belum lama aku nonton Stand By Me Doraemon, ada ilustrasi zaman modren dimana cucu Nobita datang mengunjungi kakeknya, Nobita zaman sekarang untuk memberi peringatan tentang kehidupan masa depan. Jadi penasaran sama Nova yang menerima surat dari neneknya, Anna mengirim pesan tentang sesuatu, dan apa sih hubungannya cincin dari Tante Sunniva dengan kegemaran Anna menghayal. Apa cerita ini tentang kekuatan sihir, atau….. Luckty selalu bisa bikin penasaran, ssst… kalau dapat buku ini, mau ngasih ke adek, supaya suprise dapat buku dari pengarang yang sama dengan dunia Sophie.

  4. Jostein Gaarder memang hebat bisa membuat novel yg beda dari biasanya, seperti novelnya “Dunia sophie” yang mengajarkan filsafat2 dan dengan mudah di cerna, apalagi novel yg bertema keselamatan lingkungan ini😀 jadi pengen bnget baca…

  5. mungkin dengan membaca novel bertemakan ‘lingkungan’ ini, saya dapat merekomendasikan kepada teman saya yang bergabung dalam komunitas baca&tunas hijau. Tidak hanya bertindak, saya harap kami sbg anggota juga dapat menampung banyak aspirasi dari sekian banyak opini dan salah satunya melalui novel ini. Jadi kami bisa membuat rencana program kerja yg menarik dan unik untuk mensejahterakan bumi selanjutnya.

  6. Ini salah satu buku yang paling pingin kubeli >.<, entah kenapa soalnya isinya tentang masalah lingkungan, global warming atau apalah pokoknya suka buku yang genrenya seperti ini. Aku juga sama sekali belum baca buku karya Jostein Gaarder seperti Dunia Sophie itu. Baca reviewnya mbak Luckty selalu jadi tambah penasaran ….

  7. Mabak Lucty… Dunia Anna adalah novel yang saat ini tengah paling aku idamkan. Begitu tahu novel ini diterbitkan Mizan, aku langsung menandainya sebagai wishlist. Aku penggemar karya-karya Gaarder. Tema novel kali ini sungguh menarik perhatian & relevan dengan isu lingkungan yang mengkhawatirkan saat ini. Membaca reviewmu aku jadi tambah penasaran dengan bukunya…

    Lihat foto-foto go green-nya mengingatkanku kepada siswa-siswa yg belum lama kutinggalkan di sebuah sekolah alam. Mereka juga punya banyak project daur ulang barang-barang bekas. Salah satunya membuat kreasi dari lintingan koran, seperti di foto Mbak ini.

  8. ternyata benar ya karya Jostein Gaarder itu kereennnn! banyak hal yang dia pikirkan namun tak terpikirkan penulis lain… sebenarnya isi bukunya ingin menyadarkan manusia tentang kelalaiannya.. tokohnya juga keren soalnya masih remaja.

    oiya, foto-foto mbak itu mengingatkan masa putih abu saya.. dimana sekolah saya tengah gencar mendapatkan gelar sekolah adiwiyata mandiri nasional dan memang jadi sekolah percontohan buat sekolah lain. alhasil, saya juga ikut-ikutan bikin prakarya begitu hehehe

  9. Belum pernah baca sih, tapi dari reviewnya sepertinya buku yg menyenangkan utk dibaca. Btw aku nulis utk giveaway sebelum baca dan komentarin review ini. Hehe. Mirip mirip ternyata dgn yg aku tulis.

  10. Nih novel sekilas gak jauh beda sama cerita Dunia Sophie (namanya sama kayak aku) #abaikan ! Mungkin karena memang ide atau kekhasan dari penulisnya memang membuat alur cerita seperti itu kali ya ? Berawal dari perenungan sesuatu hal dari dunia imajinasi/khayalan, lalu sepucuk surat, berbagai sisipan kalimat bermakna.

    Pokok e keren.. Aku suka ! Walaupun ada sedikit kisah percintaan di novel ini, dari bocoran review kalimat selipan dan favoritnya ini novel lebih condong temanya lingkungan. Banyak ilmu pengetahuan yang bisa didapat di dalamnya. Dibandingkan novel percintaan yang endingnya bahagia ato sedih, itu itu aja.

  11. Lihat dari reviewnya, Dunia Anna ceritanya keren. Mengangkat isu lingkungan sebagai tema cerita fiksi. Dan makin menarik karena ada unsur fantasinya dengan kehadiran Nova yang berasal dari tahun 2082.🙂

  12. Baru kali ini sya nemu novel tentang lingkungan kebanyakan di psaran novel percintaan mulu jdi bosen hihihi dri reviewnya aja bnyk banget pesan2 buat kalangan muda trmsuk sya untuk menjaga lingkungan. Sya suka kalimat ini”Pikiran manusia memang begitu kompleks” sukanya yg praktis2 aja manfaatin alam tanpa tau cara menjaga dan dampak yg di timbulkan. Jdi trtarik isi lengkapanya ni novel gi mna

  13. Wah, tasnya yang Go Green keren banget kak *.* #salahfokus

    Dunia Anna juga masuk dalam daftar harapan saya. Temanya yang familiar, yang saya suka, merupakan penggerak utama kenapa saya memasukkan dalam daftar😀

  14. Keren ! Aku suka sekali buku yang berhubgungan dengan dimensi waktu . Itu membuatku seolah melayang2 di kurun waktu dari masa ke masa ..

    Aku sangat ingin baca buku ini , aku ingin merasakan kepedihan karena global warming :(:(

  15. Pingback: Daftar Bacaan Tahun 2014 | Luckty Si Pustakawin

  16. Pas tau kalo buku ini karya penulis DUnia Ophie, langsung pengen baca! Tapi sampe sekarang belum kesampaian -_- baca review ini malah bikin tambah pengen baca -___- baidewei kreasi dari barang bekasnya keren-keren mbak Luckty :))

  17. Jadi penasaran gimana caranya kirim surat ke masa depan.. Terus apakah di masanya Nova sudah ada mesin waktu ya? Kalau ada, apakah dia berusaha kembali ke masa lalu saat neneknya masih seumuran dengannya, dan berusaha menyelamatkan bumi bersama-sama untuk mengubah bumi di masa depan? Jadi kayak film-film penjelajah waktu,, hahaha..

  18. Novelnya lain daripada yang lain. Tema yng diusung anti mainstream. Jarang kan ada penulis berani beda demi kepentingan kolektif seperti peringatan akan bahaya pemanasan global? Banyak manfaatnya novel ini. Penuh pesanmoral dan sosial. Sambil menyelam minum air.

  19. Udah masuk daftar wishlist nih di goodreads. Semoga aja di Gramedia Jember sudah ada. Terima kasih atas reviewnya Kak Lucky. Novel yang sangat inspiratif. Tidak hanya remaja tapi seluruh umur dan kalangan masyarakat wajib memikirkan dan mengatasi pemanasan global yang semakin parah belakangan ini. Di penghujung tahun 2014 serta menyambut tahun 2015 semoga go green semakin digalakkan dan terjadwal secara rutin. Masyarakat harus sadar bahwa tanpa lingkungan alam yang sehat seluruh manusia di bumi tidak akan hidup. Kita bergantung pada alam begitu juga alam bergantung pada kita. Dunia Anna, novel filsasat semesta membuka pikiran kita tentang keselamatan dunia kita dan juga nasib seluruh semesta saat ini dan di masa mendatang.

  20. Baca reviewnya mbak Luckty selalu sukses bikin pengen cepat-cepat baca isi buku secara keseluruhan. Semoga bisa menang GA-nya🙂 wish me luck.

  21. Mbak Luckty, bagaimana Anda bisa membaca begitu banyak buku + menulis reviewnya, dan masih punya waktu untuk hal-hal seperti ini? Kebanyakan orang di luar sana cuma bisa bicara besar, tanpa melakukan apa-apa (trmasuk saya) -__-

    Well, setelah membaca Gadis Jeruk, Dunia Sophie, dan Misteri Soliter, Dunia Anna ini menjadi incaran saya selanjutnya hoho

  22. selama ini bukannya gak tau ancaman global warming, hanya kurang sadar diri aja #plakkkk.Mmembaca review kak Lucky seakan diingatkan kembali akan bahaya global warming.
    “Kita menghancurkan planet kita sendiri. Kitalah yang telah melakukannya, dan kita sedang melakukannya sekarang”
    aarrggg….. tidak, di mana anak cucu kita akan tinggal kalau kita tidak menjaga planet ini dengan baik?
    Aku rasa semua orang perlu membaca buku ini agar mereka, kita, khususnya saya pribadi bisa berbenah, sadar, dan memperbaiki pola hidup yang salah yang menyebabkan bumi marah.
    #Save the Planet #Save the Planet #Save the Planet

  23. Saya suka, saya suka, sukaaaa banget dengan review Luckty yang satu ini. Soalnya bukan hanya mereview isi novelnya. Juga ada hasil karya murid-muridnya dalam rangka menjaga kelestarian bumi. Karya nya bagus-bagus bangeeeet. Empat jempol deh buat reviewnya, buat bu pustakawin-nya sama, buat sekolahnya sama buat murid-murid unyu-nya ^_^

  24. isu global warming mnurut sy slalu mnarik u/ dibahas, pertama kali sy menonton the day after tomorrow, sy tercengang, bhwa bumi dpt mnjadi seektrim itu, itu bkn-nya tdk mngkn, malah sbenarx mnyadarkan manusia akn pntingx memperhatikan masalah global warming. semata- mata krn mmg SDA & SDM sdh tdk seimbang lg,,
    sy jd tertarik utk mmbaca buku ini,, pasti bxk ide2 mnarik yg dsampaikan, ingin skali mlakukan gerakan peduli global warming,,

  25. Wiii buku Jostein Gaarder. Penulis yang satu ini mampu mengaduk suatu tema yang luar biasa ke dalam adonan novelnya sehingga enak dibaca, kaya gizi buat pikiran, dan tentunya mudah dicerna otak. (Padahal aku belum juga tamat baca Dunia Sophie meski udah berbulan-bulan, hehe.-_-) Nampaknya dalam adonan novel ini ditambahkan sedikit bumbu romansa a la remaja untuk membidik generasi muda, ya. Generasi muda memang harus paham benar mengenai isu lingkungan yang kian menggawat ini.

    Ngomong-ngomong, menurut Mbak Luckty sendiri, produksi buku cetak (yang memerlukan pohon sebagai bahan baku) di era digital ini terhitung mendukung pemanasan global gak sih?

  26. Jostein Gaarder selalu berhasil memukau pembacanya, setidaknya saya, sejak saya berkenalan dengan karyanya 11 tahun lalu melalui Dunia Sophie. Gaarder meyakinkan saya bahwa sebuah isu atau subject tertentu, yang mungkin dianggap “berat”, sebenarnya bisa dibahas secara santai. Pembuktiannya, melalui novel-novelnya yang banyak dari sudut pandang anak/remaja dan merupakan “kajian” metafisika dari sebuah isu; terkadang juga berupa cerita di dalam cerita, sehingga menurut saya isinya jadi tidak membosankan. Pembuktian terkini sepertinya kembali berhasil dia lakukan melalui Dunia Anna, setidaknya dari review yang Mbak Luckty lakukan ya begitulah yang saya tangkap; bahwa Gaarder berhasil membuat isu Earth’s Climate dan Save the Environment (yang lebih banyak dipublikasikan oleh para aktivis lingkungan hidup) dan terkesan sebagai isu yang “serius” dan banyak dibahas dengan kajian yang “berat”, oleh Gaarder dibahas dengan gaya fable. Untuk review Mbak Luckty kali ini, saya lihat juga menarik. Selama ini saya hanya menjadi silent reader dari socmed dan blog Mbak, jadi saya bisa melihat bahwa Mbak memang sering mempublikasikan kegiatan siswa/i di SMAN 2 Metro, dan melihat hasil kreativitas mereka terkait isu yang dibahas Dunia Anna membuat saya tertarik untuk berkomentar secara langsung, hehe. Thumbs up untuk konsistensi Mbak, sebagai Pustakawan, reviewer, dan juga bagian dari SMAN 2 Metro🙂

  27. novelnya unik! tentang anna yg peduli akan lingkungan. pas banget dg keadaan bumi, akhir-akhir ini, tdk bisa diprediksi lagi, karena terkontaminasi oleh global warming

  28. Pingback: [BOOK KALEIDOSCOPE 2014] Top Five Most Favorite Books | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s