REVIEW Looking for Alaska

 

Kita tak pernah harus putus asa, sebab kita takkan pernah rusak tanpa dapat diperbaiki. Kita mengira kita tak terkalahkan karena memang demikian adanya. Kita tak bisa dilahirkan dan kita tak bisa mati. Seperti semua energi, kita hanya bisa mengubah bentuk, ukuran dan wujud. Mereka akan melupakan itu saat tua nanti. Mereka menjadi takut akan kehilangan dan kegagalan. Tapi bagian diri kita yang lebih besar dibandingkan jumlah bagian-bagian kita tak bisa berawal dan tak bisa berakhir, maka takkan bisa gagal. (hlm. 278)

Adalah Miles Halter yang akan bersekolah asrama di Alabama. Di sekolah sebelumnya, dia tidak mempunyai banyak teman. Hal itulah yang makin mendorongnya belajar di Culver Creek, sekolah Dad dulu dan juga kedua saudara laki-lakinya dan semua anak mereka. Kedua pamannya kerap bercerita tentang kampus ayahnya yang terkenal sebagai pembuat onar sekaligus murid berp[restasi.

Sekolah tak ingin orangtuamu berpikir kau menjadi ama bermasalah di sini, seperti halnya kau ingin orangtuamu berpikir kau bermasalah. (hlm. 26)

Ketika orangtua memasukkan anak-anak mereka ke asrama, mereka berharap anak-anaknya menjadi lebih baik dan membanggakan orangtua. Padahal kemungkinan besarnya ada dua; anak menjadi pandai atau anak menjadi liar. Begitupula dengan harapan orangtua Miles Halter yang semenjak masuk asrama berganti nama menjadi Pudge, panggilan yang diciptakan teman sekamarnya selama di asrama. Chip Martin atau terkenal dengan sebutan Kolonel adalah teman pertamanya sekaligus bakal menjadi sahabatnya baik suka maupun duka. Tidak hanya itu, Kolonel memperkenalkannya pada sosok Alaska, remaja yang memesona Pudge dari awal bertemu.

Seperti biasa, bukunya John Green banyak kalimat favorit:

  1. Semua orang punya bakat. (hlm. 18)
  2. Kau harus lebih kuat daripada yang terlihat. (hlm. 20)
  3. Perasaan orang mudah berubah. (hlm. 43)
  4. Kadang-kadang kau kalah dalam pertempuran. Tapi kejahatan selalu memenangkan perang. (hlm. 75)
  5. Tak ada yang salah. Tapi penderitaan selalu ada. (hlm. 108)
  6. Ada masa ketika kita menyadari bahwa orangtua kita tidak bisa menyelamatkan diri mereka sendiri atau menyelamatkan kita, bahwa semua orang yang mengarungi waktu padaakhirnya akan terseret arus ke laut –bahwa, singkatnya, kita semua akan pergi. (hlm. 156)

Banyak juga selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Satu-satunya hal yang lebih buruk daripada mengadakan pesta yang tak didatangi siapa pun adalah mengadakan pesta yang hanya di datangi dua orang yang luar biasa membosankan. (hlm. 10)
  2. Kalau terlibat masalah, jangan beritahu siapa pun. (hlm. 26)
  3. Jangan jadikan tubuh perempuan sebagai objek. (hlm. 80)
  4. Perempuan seharusnya tak boleh berbohong tentang perempuan lain. (hlm. 86)
  5. Bagaimana perempuan bisa bangkit dari tekanan patriarkat kalau perempuan saling menusuk dari belakang? (hlm. 87)
  6. Rasanya konyol merindukan seseorang yang bahkan tak akur denganmu. (hlm. 88)
  7. Mengapa orang baik hidupnya sering menderita? (hlm. 93)
  8. Ketakutan bukan alasan yang bagus. Ketakutan adalah alasan yang selalu dipakai semua orang. (hlm. 123)

Deskripsi Pudge dalam ini, nerd macam Colin di buku John Green sebelumnya yang saya baca; tipikal manusia cerdas (tapi tidak seajaib Colin), susah bergaul (temannya hanya Kolonel alias Chip, Alaska, Takumi, Lara, dan jumlah teman yang bisa dihitung jari), dan yang pasti sama-sama suka banget baca banyak buku:

  1. Buku biografi Francois Rabelais. (hlm. 11)
  2. Puisi Robert Frost. (hlm. 17)
  3. The Final Days. (hlm. 34)
  4. Buku Panduan Culver Crek. (hlm. 41)
  5. Biografi Leo Tolstoy. (hlm. 49)
  6. Ethan Frome. (hlm. 73)
  7. Moby Dick. (hlm. 79)
  8. The General in His Labyrinth. (hlm. 93)
  9. Cat’s Cradle. (hlm. 106)
  10. The Sound and The Fury. (hlm. 252)

Bedanya, di novel ini Pudge tidak sendiri dalam hal hobi membaca, Alaska juga:

  1. Koleksi bukunya berjejalan dalam rak-rak lalu tumpah menjadi timbunan buku setinggi pinggang di mana-mana, ditumpuk sembarangan menempel ke dinding. Jika satu buku saja bergeser, efek domino bisa membuat mereka kehabisan napas tertimbun literatur. (hlm. 23)
  2. Aku mungkin membaca sepertiganya. Tapi akan membaca semuanya. Aku menyebutnya Perpustakaan Hidupku. Sejak kecil, setiap musim panas aku mendatangi obral barang bekas dan membeli semua buku yang terlihat menarik. Jadi aku selalu punya buku untuk dibaca. Tapi ada begitu banyak hal yang musti dilakukan. Aku akan punya lebih banyak waktu untuk membaca ketika sudah tua dan membosankan. (hlm. 29)
  3. Kamarnya persis seperti yang kuingat; ratusan buku ditumpuk menempel ke dinding, selimut warna lavendel tergulung kusut di kaki ranjangnya, tumpukan buku yang beridiri goyah di meja samping ranjang. (hlm. 194)

Kita akan diajak menelusuri kehidupan remaja di asrama lewat tokoh-tokoh dalam buku ini; Pudge, Kolonel alias Chip, Takumi dan yang pasti kehidupan Alaska.

Dibandingkan buku pertama ; The Fault in Our Stras, novelnya  John Green yang saya baca, buku ketiga ini sebenarnya ceritanya lebih bikin nyesek. Ada satu bagian di mana saat membacanya berhenti bernapas. Terutama di bagian akhir ‘sebelum’. Ya, buku ini memiliki dua bagian; sebelum dan sesudah.

Ah, endingnya tak terduga. John Green selalu memberikan kejutan yang berbeda di setiap bukunya, seperti halnya lewat novel ini. Jika di novel An Abudance of Katherine, tokoh utamanya digambarkan selalu menyukai perempuan bernama Katherine, di novel ini Pudge tokoh utamanya punya kebiasaan unik; mengingat kalimat terakhir yang ternyata sama dengan kebiasaan penulisnya :*

Keterangan Buku:

Judul buku                          : Looking for Alaska

Penulis                                 : John Green

Ali bahasa                            : Barokah Ruziati & Sekar Wulandari

Desain sampul                   : Martin Dima

Penerbit                              : Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : September 2014 (Cetakan ketiga)

Tebal                                     : 288 hlm.

ISBN                                      : 978-602-03-0732-9

67 thoughts on “REVIEW Looking for Alaska

  1. Pingback: GagasMedia #TerusBergegas #KadoUntukBlogger | Luckty Si Pustakawin

  2. Pingback: GIVEAWAY The Fault in Our Stars | Luckty Si Pustakawin

  3. “Perempuan seharusnya tak boleh berbohong tentang perempuan lain.” Selama berbohong untuk kebaikan, dibolehkan kan mbak🙂

  4. saya penasaran sama karakter Alaska, se- nerd apa dia sampai koleksi bukunya seperti itu ??
    ruangan yang dipenuhi tumpukan buku itu adalah mimpi terbesar dari setiap orang yang mencintai buku🙂

  5. Dibanding setelah baca review An Abudance of Katherines, setelah baca review ini nggak terlalu pingin baca karena tokoh utama, si Miles. Tapi, karena penasaran sama tokoh Alaska. Yah, well, aku punya kecenderungan baca buku yang kisah tokohnya nyesek :”)

    Suka sama quote ini: “Kita tak pernah harus putus asa, sebab kita takkan pernah rusak tanpa dapat diperbaiki. Kita mengira kita tak terkalahkan karena memang demikian adanya. Kita tak bisa dilahirkan dan kita tak bisa mati. Seperti semua energi, kita hanya bisa mengubah bentuk, ukuran dan wujud. Mereka akan melupakan itu saat tua nanti. Mereka menjadi takut akan kehilangan dan kegagalan. Tapi bagian diri kita yang lebih besar dibandingkan jumlah bagian-bagian kita tak bisa berawal dan tak bisa berakhir, maka takkan bisa gagal. (hlm. 278)” Ngena banget! Kita tak pernah berdiri jika kita tak pernah jatuh. Jangan menyalahkan luka yang diberikan oleh kehidupan, karena luka itulah yang akan menyadarkan kita tentang betapa kuatnya kita telah melewati hidup dengan luka tersebut. Heuh, that’s life~ :”)

    Sindiran halus ini: “Mengapa orang baik hidupnya sering menderita?” bikin pingin jawab deh. Mungkin karena sebagian besar orang punya kecenderungan iri dan nggak bisa ngontrol diri sendiri. Maka, yang terjadi adalah ia dikuasi rasa iri tersebut dan karena nggak tahan sama orang yang diiriin itu, ya akhirnya ia menjauhi orang tersebut bahkan membicarakannya di belakang. Hahaha, ada banyak orang yang kek gitu. Yang bahkan kita merasa tak memiliki masalah sama mereka, lah kok mereka benci kita, sinis sama kita :3.

    Keknya ini: “Koleksi bukunya berjejalan dalam rak-rak lalu tumpah menjadi timbunan buku setinggi pinggang di mana-mana, ditumpuk sembarangan menempel ke dinding. Jika satu buku saja bergeser, efek domino bisa membuat mereka kehabisan napas tertimbun literatur. (hlm. 23)” aku banget😄 Karena rak udah nggak muat lagi, cuma ditumpuk aja. Numpuknya deket dinding biar bukunya nggak mudah jatuh kalo kesenggol. Tapi, kalo tumpukannya ada yang goyah terus jatuh, bisa berakibat fatal. Semua tumpukan bisa roboh semua😄

    “Tak ada yang salah. Tapi penderitaan selalu ada. (hlm. 108)”
    Sekali lagi, that’s life~ :”)

  6. Ini novel nyesek ya? wah, patut dibaca tuh😀 duh, padahal TFIOS aja belom baca, sampe-sampe aku bikin janji buat diri sendiri kalau nggak bakal nonton film TFIOS sebelum baca novelnya. Duh, John Green bikin wishlistku tambah banyak😀

  7. Jujur, makin penasaran dengan novel-novelnya John Green. Yap, saya pecinta novel atau film yang pemainnya nerd tapi cool😀
    Btw, jadi bayangin seperti tuh kamar si Alaska ? Pengen sih nyentil sedikit aja, langusng gempa seisi rumah kali yak ?😀
    Keren mbak (y) selalu suka baca revie dari mbak🙂 ringan dibacanya, bikin paham seperti apa alur ceritanya ^^

  8. Penasaran lagi deh.
    Penasaran dengan alaska🙂
    Novel nyesek? Seperti memacu adrenalin hati hihi😀 bakalan ikutan nyesek engga ya setelah membaca ini emm..

    Ah yasudah lah🙂
    Review nya bagus mba :))

  9. Sindiran nomer satu lucu tuh😀

    Thanks buat John Green atas sindirannya. Aku benar-benar tersindir… “Rasanya konyol merindukan seseorang yang bahkan tak akur denganmu. (hlm.88)”
    “Mengapa orang
    baik hidupnya
    sering menderita? (hlm. 93)” bener ini. Orang baik perginya juga lebih dulu. Kenapa ya? :O

    “ceritanya lebih bikin nyesek.
    Ada satu bagian di
    mana saat membacanya berhenti bernapas. Terutama di
    bagian akhir ‘sebelum’” baru baca reviewnya aja udah berheti napas*lebay ah*

  10. Ada typo kak yang “berp[restasi”, John Green karyanya selalu bikin huuah, kok bisa gitu ya? Kita bisa dibawa masuk ke ceritanya, genrenya juga kebanyakan young adult, kreatif dia😀

  11. Dari reviewnya mbak, aku suka kalimat ini….Semua orang punya bakat. (hlm. 18)
    kalimat itu bikin aku mengingat kembali aku waktu dulu.
    Ternyata novel Looking for Alaska nggak kalah keren dari novel sebelumnya. Abis baca reviewnya, jadi pingin tahu seberapa se-nyesek sih ceritanya…😀
    Thanks reviewnya mbak.

  12. oh, melalui buku ketiganya ini jadi sedikit mulai tahu nih , gaya penulis ‘John’ dalam novel2nya..

    ternyata dia selalu mengambil sesuatu kisah romance nya dari yg berulang ya..
    makin membuat ku tertarik lagi nih..

    unik juga sih sepertinya kisah dalam novel ketiga si John..

  13. “Kita tak bisa mati. Seperti semua energi, kita hanya bisa mengubah bentuk, ukuran dan wujud”. (Mungkin maksudnya “diubah” kali ya bukan “mengubah”). Tapi kalo dipikir ada benernya juga sih, sebenernya kita ga mati, raga kita emang berubah bentuk, ukuran, dan wujudnya, tapi jiwa kita tetap hidup, hanya saja di dunia yang berbeda. But it’s my opinion😀

  14. Masuk asrama dan jd baik? Errr

    menurutku nafsi2 deh. Contohnya kakak sma adek laki2ku. Mreka sma2 masuk pesantren. Maunya ya jd baik eh arus pergaulannya ternyata….

    Setelah masuk pesantren adekku perokok sedangkan si kakak, walau main sma perokok tp dia gak ngrokok

  15. Ini novel pertama Pak Green, tapi aku malah baru baca TFIOS. Penasaran banget mau baca novel ini karena ini novel debutnya. Iya, itu aja sih alasannya. Pengin tau karya pertama Pak Green kayak gimana. Apakah seasyik TFIOS. Hehehe.

  16. Kalau karya John Green yg ini, jujur belum baca dan penasaran pingin baca setelah membaca sinopsisnya. Namun yg agak membuat ragu, kali ini John Green lebih menonjolkan sisi persahabatannya atau malah sisi percintaannya ya? Namun yg membuat saya yakin, rasanya John Green bakal mengangkat sisi dilematis masalah-masalah remaja pada umumnya.:)

  17. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  18. belum pernah baca novel karnya John Green, tetapi karena membaca review review novel karya John Green di blog ini jadi pengen baca juga. kayanya ceritanya nyesek banget yaa kak? kata kata yang paling melekat dihatiku dari buku ini yaitu “bagaimana perempuan bisa bangkit dari tekanan patriarkat kalau perempuan saling menusuk dari belakang?”

  19. Buku karya John Green yg mba Luckty sukai, sampai membacanya berulang kali judulnya apa mba? barang kali aku bisa suka makanya q baca lewat yg itu dulu, kalo pun bagus, q bisa merasakan karya yg lainnya..

  20. Kayaknya kak Luckty ini salah satu penggemar John Green. Aku juga sih, walaupun belum baca semua karyanya. Aku tahu buku ini karena waktu itu sempet booming trs tertarik pengen beli, cuma pas liat review di goodreads ada yg reviewnya blg bagus, ada yg enggak. Akunya jadi bingung pengen beli apa enggak. Udah gitu pas ke gramed, berhubung aku tipe pembeli yg jauh2 hari niat ke gramed buat beli ini cuma pas udh di gramed malah beli yg lain, nah jadi pas pgn beli buku ini malah belinya buku lain. Terus pas baca review kakak tntang buku Looking For Alaska ini, kayaknya aku harus baca deh, apalagi quotes2nya yg bikin aku suka.

  21. Baca keseluruhan reviewnya keren banget! Aku suka kutipan ini:
    Ada masa ketika kita menyadari bahwa orangtua kita tidak bisa menyelamatkan diri mereka sendiri atau menyelamatkan kita, bahwa semua orang yang mengarungi waktu padaakhirnya akan terseret arus ke laut –bahwa, singkatnya, kita semua akan pergi. (hlm. 156)

  22. Buku favoritku dari John Green! Gara-gara baca review ini, aku jadi membayangkan kembali kejadian-kejadian di Looking for Alaska yang bikin hati nggak karuan. Benar-benar nggak ngaruan. Aku sampai geregetan sendiri sama John Green yang senang banget bikin alur yang nggak ketebak.

    Salah satu quotes yang paling kusuka, “Aku kikuk dan ia cantik, aku amat membosankan dan ia amat menakjubkan. Jika manusia diumpamakan sebagai hujan, aku gerimis, dan ia badai.”–If people were rain, I was drizzle, and She was a hurricane. Hiks. Miles.😦

  23. dulu sempet bingung mau beli Paper Town atau Looking for Alaska. terus ada yg bilang kalo bagusan Alaska ini ceritanya… dan ternyata bener banget! ceritanya bener² twist. aku malah sempet berharap di bab “sebelum” itu cuma guyonan Alaska seperti biasanya. tapi ternyata.. pokoknya bikin nyesek deh!

  24. “Dibandingkan buku pertama ; The Fault in Our Stras, novelnya John Green yang saya baca, buku ketiga ini sebenarnya ceritanya lebih bikin nyesek.”

    What?! The Fault in Our Stars ajah udah bikin aku mberebes mili loh! Gimana klo aku baca Looking For Alaska ini ya? ~.~”

    Jujur nih! Buku ini emang udah ada di wishlistku, tapi memang belum kesampean baca. Hmmm… baca review ini jadi makin penasaran, tapi… aku gak tahan sama hal2 yang “pedih” T__T gimana dong ya… *malah jadi tambah bimbang*

  25. pertama. suka sama covernya.
    kedua. cerita nyesek. aahhhh penasaaraannnn. kemarin sempet nemu buku ini di gramed tapi ga jadi beli. ah nyesell

  26. Aku kira novel ini ceritanya tentang perjalanan ke Alaska, tapi ternyata bukan. Aku belum pernah baca karya john green langsung, cuma pernah liat film the fault in our star, dan itu bikin aku nangis. Apalagi baca looking for alaska yang katanya lebih nyesek, wah bakal butuh tissu banyak nih. Oh iya, kenapa ga difilm-in juga ya???

    Masuk jadi salah satu buku yang perlu dilirik nih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s