REVIEW Paper Towns

 paper town

Kita tak mungkin bisa memahami orang lain sepenuhnya. (hm. 344)

Adalah Quentin. Dari kecil, bertetangga dengan Margo. Orangtua mereka bersahabat, maka mereka kadang-kadang main bersama sejak kecil, bersepeda melewati jalan-jalan kuldesak menuju taman Jefferson Park, penghubung bagi area subdivisi tempat tinggal mereka.

Quentin selalu gugup setiap mendengar Margo akan muncul, mengingat dia adalah mahluk paling rupawan yang pernah diciptakan Tuhan. Hingga suatu hari di usia mereka yang ke sembilan, ketika mereka berada di area bermain ada seorang laki-laki berstelan jas kelabu bersandar di batang pohon ek. Tak bergerak. Dia dikelilingi darah; air mancur setengah kering tumpah dari mulutnya. Mulut itu terbuka dengan cara yang seharusnya tidak bisa dilakukan mulut. Lalat-lalat hinggap di dahi pucatnya.

“Mungkin semua senar dalam dirinya putus.” (hlm. 15)

Kedua orangtua Quentin adalah ahli terapi, mereka memahami bagaimana membesarkan anak hingga Quentin tumbuh nyaris tanpa cela.

Seperti buku sebelumnya, tokoh utamanya si cowok selalu nerd atau semacam geek gitu deh. Anak baik-baik, hanya punya segelintir teman, hidupnya nyaris datar dan di masa remaja hidupnya jungkir balik menemukan sensasi merasakan kenakalan remaja. Bahkan Quentin ini tiap berangkat ke sekolah masih diantar oleh ibunya x)

Kejadian tadi di umurnya saat berumur sembilan tahun bukan terakhir kalinya dia bermain-main dengan Margo. Hingga saat mereka remaja, di suatu malam, sekita pukul sembilan malam (Yeah, Quentin anak baik-baik banget kan, jam sembilan udah siap-siap bobo cantik :p), Margo menemuinya dengan cara mengendap-ngendap ke kamarnya. Margo memaksanya untuk ikut dalam melancarkan misi sebelas babak. Apa sajakah babak-babak tersebut? Apakah menegangkan? Baca aja sendiri😀 #DikeprukYangPenasaran

“Margo menyukai misteri sejak dulu. Dan dalam semua hal yang terjadi setelahnya, aku tidak pernah bisa berhenti berpikir bahwa jangan-jangan lantaran terlampau menyukai misteri, dia pun menjadi misteri.” (hlm. 15)

Dibandingkan buku-buku sebelumnya yang John Green tulis, buku yang saya baca kali ini ada aura-auar detektifnya dan pastinya bikin penasaran. Jadi setiap membalik satu halaman, rasanya nggak sabar buat baca halaman selanjutnya. Hanya saja, jenis fontnya kecil-kecil dan halamannya lumayan tebal, jadi berasa capek juga bacanya.

Kita tidak hanya menelusuri kehidupan Quentin si tokoh utama, tapi juga kehidupan Margo. Oya, Margo ini sifatnya mirip Alaska di bukunya John Green yang sebelumnya saya baca; Looking for Alaska. Margo dan Alaska sama-sama suka menimbun buku di kamar. Cek aja di halaman 195-201. Duhhh…rasanya pengen toss ama Margo ama Alaska juga, sebelas dua belas gitu deh kita bertiga sesama penimbun…😀 #dikepruk

Hanya menemukan beberapa kalimat favorit:

  1. Kita mengatakan apa yang dirasakan seseorang agar mereka merasa dipahami. (hlm. 117)
  2. Tidak ada yang pernah terjadi sesuai dengan yang kita bayangkan. (hlm. 344)

Banyak sindiran halus dalam buku ini:

  1. Tidak ada ruginya pergi bersama seorang teman. (hlm. 20)
  2. Tidak ada satu pun tentang prom yang menarik. (hlm. 24)
  3. Kuliah: diterima atau tidak. Masalah: terlibat atau tidak. Sekolah dapat A atau dapat D. Karier: punya atau tidak. Semua itu membosankan. (hlm. 43)
  4. Menurutku konyol orang hanya mau berada di dekat seseorang karena mereka cantik. (hlm. 48)
  5. Semua orang menjadi sinting oleh kegilaan memiliki sesuatu. (hlm. 69)
  6. Seseorang pasti penting jika mempunyai musuh. (hlm. 71)
  7. SMA bukanlah sebuah demokrasi atau kediktatoran. SMA adalah monarki berdasarkan kehendak Tuhan. (hlm. 109)
  8. Jangan pernah bekerja untuk pemerintah. Sebab ketika bekerja untuk pemerintah, kau bekerja untuk masyarakat. (hlm. 119)

Ada beberapa hal yang unik dalam buku ini. Ketika menghilang, Margo meninggalkan jejak lewat potongan-potongan puisi seperti ini:

Oya, jika dalam buku An Abudance of Katherine kita akan menemukan keunikan analogi cinta lewat diagram Matematika. Di buku ini lain lagi John Green memesona kita lewat metafora:

“Kalau kau memilih senar, artinya kau membayangkan dunia di mana kau bisa pecah tanpa dapat diperbaiki lagi. Kalau kau memilih rerumputan, kau mengatakan kita semua terhubung, bahwa kita bisa memanfaatkan sistem akar itu bukan hanya untuk memahami satu sama lain tapi juga menjadi satu sama lain. Metafora itu memiliki implikasi.” (hlm. 346-347)

Keterangan Buku:

Judul                                     : Paper Towns

Penulis                                 : John Green

Alih bahasa                         : Angelic Zaizai

Desain sampul                   : Martin Dima

Penerbit                              : Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : 2014

Tebal                                     : 355 hlm.

ISBN                                      : 978-602-03-0858-6

71 thoughts on “REVIEW Paper Towns

  1. Pingback: GIVEAWAY The Fault in Our Stars | Luckty Si Pustakawin

  2. Kedua orangtua Quentin adalah ahliterapi, mereka memahami bagaimana membesarkan anak hingga Quentin tumbuh nyaris tanpa cela.~ tapi Quentine kesylitan dalam pergaulan, lihat betapa dia minder dengan Margo yang tampan. Sepertinya paragraf itu kurang pas deh Luckty.🙂
    Dan poin lebih buku ini, mengungkap misteri, berbau detektif. Aku suka, kapan ini dijadikan Giveaway? #kode

  3. ini wajib di baca… smua judul udah di catet tinggal beli wkkkk

    kuliah, masalah, sekolah atau karier. smua membosankan haha

  4. favorite quotenya yang “Kuliah: diterima atau tidak. Masalah: terlibat atau tidak. Sekolah dapat A atau dapat D. Karier: punya atau tidak. Semua itu membosankan. (hlm. 43)”
    hahaha, bener juga tuh, kita melakukan hal-hal normal dalam hidup hanya untuk menghadapi 2 pilihan😀
    tema buku ini lebih ke slice of life ya ?

  5. Mungkin karena aku terlalu ngebet sama Paper Towns ini kali ya jadi ku penasaran pake banget :”3 Penasaran sama film dan novelnya. Dan, keduanya belum kesampaian sama sekali😦 Dan, review ini bikin tambah mupeng😦

    Aku selalu mengagumi sosok-sosok mengagumkan di dalam novel. Oh, Margo :”) Pasti seneng yah jadi Quentin bisa kenal Margo sejak kecil. Pasti ada rasa bangga tersendiri. Kek aku yang punya sepupu ganteng yang punya fans dimana-mana. Ada rasa bangga tiap bikin status tentang, “Lagi sama (sebuat namanya Marwan XD) di (sebut di bawah menara Eiffel–apa dah XD).” Terus, temen-temenku yang ngefans sama dia menuhin komentar dengan nada keirian yang jelas😄 *berasa geek banget deh aku*😄

    “…jangan-jangan lantaran terlampau menyukai misteri, dia pun menjadi misteri.” (hlm. 15)” Kyaaaaa~ ini kok ngena banget. Bikin nyesek😦 Margo si Misterius yang sulit di gapai😄

    Mungkin Paper Towns quote-nya dikit, tapi dua quote favorite Mbak Luckty, aku suka semua :3
    1. Kita mengatakan apa yang dirasakan seseorang agar mereka merasa dipahami. (hlm. 117) >> Akuuuuu seriiinggggg bangeeetttt berbuaaattt giniiiii. Terutama pas temen curhat😄 *lalu reputasi Nisa sebagai tempat curhat bisa remuk redam pas pencurhat baca ini*:3
    2. Tidak ada yang pernah terjadi sesuai dengan yang kita bayangkan. (hlm. 344) >> Yep! It’s like, “God doesnt give what you want but what you need.”

    “Kuliah: diterima atau tidak. Masalah: terlibat atau tidak. Sekolah dapat A atau dapat D. Karier: punya atau tidak. Semua itu membosankan. (hlm. 43)” Setujuuuuuuuu~!!!!!! Setuju banget!!! Hahahaha.

    “Seseorang pasti penting jika mempunyai musuh. (hlm. 71)” Tapi, sebel jugalah kalo musuhnya kebanyakan😄

    “Jangan pernah bekerja untuk pemerintah. Sebab ketika bekerja untuk pemerintah, kau bekerja untuk masyarakat. (hlm. 119)” >> That is why aku gak minat sama STAN, STIS, dan sekolah kedinasan lainnya😄 Bukan tipe pengabdi yang baik :3

    NB : “Duhhh…rasanya pengen toss ama Margo ama Alaska juga, sebelas dua belas gitu deh kita bertiga sesama penimbun…😀 #dikepruk” Mbak Luckty, aku nggak akan ngepruk, kok. Karena aku pingin gabung sama kalian. Aku juga gitu. Penimbun Buku yang Meskipun Timbunannya Sangat Tinggi Tetap Aja Beli Buku Baru😄

  6. Buku pertama dari John Green yang kubaca. Karena penasaran dengan filmnya yang sebentar lagi tayang, aku beli dan baca. Bukunya bagus dan mungkin aku adalah salah satu orang yang tidak menyukai endingnya. Entah kenapa. Semoga buku-buku lain dari John Green bisa kubaca. *kode* ^^

  7. Nah, kalau yang ini favorit saya bangeeettt. Saya sukaa pakek banget sama novel-novel yang berbau detektif. Kayak novelnya Om Dan Brown, walaupun tebelnya bisa dibuat bantal, tapi nggak pernah capek bacanya, kalah sama penasaranya😀
    Termasuk sama buku ini, apa sebenernya sebelas babak yang direncanakan si Margo ya ? Terlebih lagi metafora-nya yang bikin melting, kereeeen gaaeess🙂 semacam ini yang bikin pembaca nggak sabar untuk beralih ke lembar selanjutnya ^^

    Thanks kak review-nya. Masuk deh ke wishlist bulan ini. Bismillah, nabung doeloe😀

  8. “Menurutku konyol orang hanya mau berada di dekat
    seseorang karena
    mereka cantik. (hlm. 48)” menurutku KONYOL pake Be.Ge.Te.

    “Seseorang pasti
    penting jika
    mempunyai
    musuh. (hlm. 71)” Jelas dong, haters kan fans yang tertunda😄

    wah! Dibuku ini bisa ngelatih pengetahuan tentang sastra juga dong. Kalau bisa dapet, lumayan nih… bukuku kebanyakan teenlit soalnya, bisa nambah ilmu juga. ^_^

  9. Dibuat penasaran lagi dan lagi
    “Misi Sebelas babak” jadi kepo banget apa aja yang dilakukan Margo dan Quentin. Semacam detektif? Yeah😀 aku suka sekali. Apalagi dengan tebak-tebakkan🙂

  10. Masih belum ngeh sama yang “setelan jas kelabu”, dan misi-misinya, baunya detektif jadi reviewnya juga ala detektif ya kak Luckty, lebih ke buat baca sendiri banget biar paham.😀

  11. Seperti biasa, reviewnya mbak luckty selalu bikin penasaran dan jadi pingin punya bukunya :’). Sama pingin ikut-ikutan kayak Margo, nimbun banyak buku hehe😀

  12. iini cerita detektif ya mbak, logika yg dipakai juga harus detektif, dan lagi-lagi gaya unik sang penulis John ini semakin unik dengan penuturan yang semakin mantap..

  13. Sudah liat bukunya di toko buku cuma ragu2 beli apa enggak. Thanks ya reviewnya lumayan mencerahkan. Boleh deh dibeli, tapi kalo dikasih gratis juga gak nolak sih. Hehehehe

  14. aqu cedih nech qaq lucktyyy… Filmnya udah tayang, tapi aku belum baca novelnya yang ini. Tertarik sama PT ini karena pas baca review-review-nya, aku terkesan banget dengan filosofi Kota Kertas yang diutarakan Margo. Emang ya Pak Green. Novel boleh buat segmen remaja, tapi tetep unsur filosofinya ada dan bagus.

  15. Diantara novel-novel John Green yang sudah aku baca (well, belum banyak sih sebenarnya.;p), setelah The Fault in Our Stars, Paper Townslah yang menjadi favoritku. Aku senang dengan novel ini karena menurutku John Green berani keluar dari zona nyamannya dan mencoba sesuatu hal yang baru untuk dimasukkan dalam novelnya, yaitu unsur detektif. Mungkin tidak terlalu tinggi kadarnya, jika dibandingkan dengan novel-novel detektif lainnya, tapi setidaknya ini merupakan suatu refreshing dan aku menyukainya.
    Semoga bisa terus ada kejutan di novel-novelnya yang lain.

  16. Pertama kali mengenal karya John Green ya lewat film The Fault in Our Stars. Dan menurutku filmnya asyik untuk diikuti. Dari situlah tertarik untuk mengenal karya-karya John Green yg lain. Aku pikir John Green hanya spesialis tentang cerita cinta, namun membaca resensi novel Paper Towns ini, sepertinya pendapatku salah nih. Novel ini tampaknya cocok sebagai pembuka perkenalanku dalam membaca karya John Green. Apalagi diiming-imingi dengan kata misi sebelas babak dan detektif.
    Tampaknya benar-benar menjanjikan, nanti cari ah di toko buku terdekat, semoga masih bisa menemukan buku ini.XDDD

  17. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  18. sekarang baru tahu kalau novel karya John Green itu semua tentang nerd. makin ngefans lah sama pak John Green yang selalu menciptakan novel kehidupan remaja yang bernilai filosofi. makin jatuh cinta lah sama paper towns soalnya quotesnya terlebih quotes pembuka reviewnyaa. dan makin suka ada unsur detektifnyaa. btw, paper town masih ada dipasaran nggak yaa kak?

  19. Reviewmu membantu sekali mba, buat riset pas mau masukin buku dalam keranjang. hehe kadang aku dilema,galau,pusing, juga mau beli yg mana, tapi sekarang dilema mah lewat kalo ada yg namanya “Review”.

  20. Paper Town ini terkenal sampe2 dibikin filmnya. Cuma sama halnya kayak Looking For Alaska, aku udh tertarik baca bukunya cuma karna review di goodreads itu aku jadi mikir2 lagi. Apalagi banyak yg blg buku ini mirip sama Looking For Alaska, tentang mencari seseorang yg hilang. Menurut kakak gimana? Apa aku harus baca? Terus kakak ngasih berapa bintang buat buku ini?

  21. Tbh, aku baru pertama kali tau judul buku John Green yang ini omg but karakter Margo nya sepertinya seru. Harus baca nih kayanya, xoxo.

  22. Paper Towns juga masuk ke-list buku John Green favoritku. Aku sampai langsung nyari Agleo, si Kota Kertas yang ada di buku ini di Google. Waktu baca novel ini emosi rada-rada naik turun dan gemas sendiri sama tingkah Margo yang macam-macam. Tapi, aku benar-benar menikmati perjalanan Margo dan juga Quentin yang terbilang tidak biasa. Aku sebagai pembaca juga merasa ditarik Quentin untuk ikut bersamanya memecahkan misteri-misteri yang ditinggalkan oleh Margo. Nice review, kak Luckty!🙂

  23. Aku tuh kadang kurang menikmati buku terjemahan. Hmm, pengen baca Yang genre romantis aja deh. Yang Fault in Our Star. *masih belum bisa move on dari genre romantis.

  24. Nah! Satu lagi nih karya John Green yang bikin aku penasaran selain Looking For Alaska. Kebetulan aku sudah punya filmnya, tapi memang belum sempat nonton. Sebaiknya baca bukunya dulu atau nonton filmnya duluan ya? Soalnya pas The Fault in Our Stars itu aku nonton filmnya dulu, baru baca bukunya kemudian.

    Any suggestion?

  25. Review ka luckty bikin jadi pengen baca ><
    Karya dia yg pernah aku cicipi itu the faulth in our stars
    Itu pun cuma filmnya
    Tapi ada yg aku bingungin dari reviewnya
    Ada kata-kata nerd
    Nerd itu apa?
    Oiya satu lagi, kok aku ga bisa ngebanyangin lelaki yg berdiri di pohon ek ya? Penjelasan tentang dia rasanya agak aneh
    Atau hanya aku yg ternyata aneh
    Hehehe
    Yasudahlahh lupakan

  26. Radar aku langsung berdiri tegak saat tau kalo novel John Green yang ini bertema detektif. Oh iya, agak familiar sama judul novel ini, ini diangkat ke dalam sebuah film kan? Beberapa minggu yang lalu aku liat iklan di siaran tv kabel, dan ada film berjudul paper towns, tapi ga nonton, hehehe😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s