REVIEW The Blood of Olympus

 the blood of olympus

Kemenangan harus sungguh-sungguh. Kemenangan harus diraih dengan perjuangan, darah, dan air mata. Kemenangan harus diraih dengan susah payah, setelah melewati jalan penuh onak dan duri, juga tidak boleh direbut oleh sembarang orang. (hlm. 114)

Para raksasa bangkit, menyebar di sepenjuru dunia. Mereka mengumpulkan bala tentara dan para monster –yang rela menghancurkan demigod. Mereka memburu darah dua demigod, demi menghancurkan Gaea, sang Ibu Bumi.

Ketujuh demigod pemegang ramalan berusaha bertahan hidup dari serangan serta menyatukan Perkemahan Jupiter dan Perkemahan Blasteran. Mereka bahkan tak bisa mengharapkan bantuan para dewa.

Waktu yang dimiliki Percy dan kru Argo II tidak banyak. Pembagian tugas dilakukan, peran masing-masing ditentukan. Mereka harus bergegas mencegah kebangkitan Gaea, dalam sebuah pertarungan hidup dan mati.

“Mereka semua meminang restu Gaea. Semua memiliki keluhan dan dendam terhadap dewa-dewi atau pahlawan kesayangan mereka.” (hlm. 17)

“Kami semua tertarik ke sini, bukan hanya ditopang oleh kekuatan Gaea tapi juga oleh hasrat kami yang terkuat. (hlm. 25)

JASON. Tidak mudah menjadi putra Zeus. Banyak tekanan. Sekeras apa pun berusaha, selalu saja kurang. Lama-lama bisa gila karenanya. Hidup Jason dibangun di atas janji yang ibunya ingkari. Luka hati yang digoreskan kata-kata sang ibu menjadi intisari diri Jason seperti sebutir pasir di inti mutiara.

REYNA. Dia lebih memilih untuk tidak membicarakan kesaktiannya. Reyna tidak ingin para demigod di bawah komadonya mengira dia mengontrol mereka, atau bahwa dia menjadi pemimpin karena memiliki kemampuan lahir istimewa. Dia hanya ingin bisa membagi sifat-sifat yang memang sudah dia punyai. Selain itu, Reyna tidak dapat membantu siapa pun yang tak pantas menjadi pahlawan.

NICO. Dia memang bukan orang Romawi. Dia tidak pernah berburu dengan Lupa atau mencicipi latihan legiun yang berat. Tapi, Nico telah membuktikan nilai dirinya dengan cara-cara lain. Dia menyimpan rahasia kedua kubu karena alasan bagus, yaitu takut kalau-kalau pecah perang. Dia pernah menjerumuskan diri ke Tartarus seorang diri, secara sukarela, untuk mencari Pintu Ajal. Dia sempat ditangkap dan ditawan oleh raksasa. Dia telah membimbing awak Argo II ke Graha Hades dan sekarang dia kembali menerima misi mencekam; mempertaruhkan nyawa untuk membawa pulang Athena Parthenos ke Perkemahan Blasteran.

LEO. Dia yakin seratus persen. Dia semata-mata tidak mengerti, kenapa rasanya sakit sekali. Dia merasa seolah-olah tiap sel di tubuhnya telah meledak. Kini kesadarannya terperangkap dalam cangkang demigod gepeng yang renyah dan gosong. Sensasi mual lebih parah daripada mabuk perjalanan mana pun yang pernah dia rasakan. Dia tidak bisa bergerak. Dia tidak bisa melihat atau mendengar. Dia hanya bisa merasakan sakit.

PIPER. Gelombang kengerian menjalarinya. Sendi-sendinya serasa berubah menjadi agar-agar. Jantungnya menolak berdenyut. Berbagai kenangan buruk berjejalan dalam benaknya –kejadian ketika ayahnya diikat dalam keadaan babak belur di Gunung Diablo; pertarungan habis-habisan antara Percy dan Jason di Kansas, tenggelamnya mereka bertiga dalam nymphaeum di Roma, seorang diri menghadapi Khione dan kaum Boread. Yang terburuk, Piper mengingat kembali perbincangan dengan ibunya tentang apa yang terjadi.

Ada sebagian hal yang habkan tidak dapat disembuhkan oleh dewi-dewi. Luka ini menyentuh jiwamu sekaligus ragamu. Kau harus melawan luka itu. Kau harus bertahan hidup. (hlm. 45)

Uwoww…ini buku bantal pertama yang saya baca di tahun 2015; 528 halaman nih! Meski memiliki ketebalan yang lumayan, buku ini terdiri dari font dan juga jarak antar spasi yang nyaman dalam membaca. Ditambah lagi adanya glosarium di belakangnya. Yup, novel-novel fantasi memang sudah seharusnya ada glosarium karena dalam cerita fantasi selalu akan ada banyak istilah yang asing di telinga pembaca. Buku yang saya baca ini meski baru, sudah memasuki cetakan kedua, kurang kece apalagi coba?!?😀

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Kau tidak bisa memilih orangtua, tapi kau bisa memilih warisan apa yang hendak kau tinggalkan. (hlm. 33)
  2. Pikirkan yang bagus-bagus. (hlm. 42)
  3. Kita tidak boleh mengeluh. (hlm. 76)
  4. Tak ada yang bertahan selamanya. Mesin yang terbaik sekalipun. (hlm. 88)
  5. Kita harus meraih kemenangan. (hlm. 112)
  6. Satu pemenang. Sisanya pecundang. Jika tidak, kemenangan tiada berarti. (hlm. 113)
  7. Kau tidak bisa mencurangi takdir. (hlm. 133)
  8. Jika kau membiarkan amarah menguasai dirimu, maka nasibmu akan lebih menyedihkan. (hlm. 162)
  9. Pada akhirnya, kau hanya akan memiliki kekuatan untuk satu kata. Kata tersebut mesti tepat karena jika tidak, kau akan kehilangan segalanya. (hlm. 199)
  10. Perasaan tidak bisa direncanakan. Juga masa depanmu, kau tidak bisa mengontrol semuanya. (hlm. 211)
  11. Kau takkan menemukan cinta di tempat yang kau harapkan atau kau inginkan. (hlm. 246)
  12. Ada kabar baik dan kabar buruk. (hlm. 308)
  13. Jangan pernah lari dari kewajiban. (hlm. 374)
  14. Rasa sakit terkadang tidak boleh serta-merta dienyahkan. Rasa sakit mesti dihadapi, bahkan diterima. (hlm. 403)
  15. Ketika kau harus memilih antara badai dan api, janganlah berputus asa. (hlm. 461)
  16. Kita bisa saja memilih kebencian dan peperangan. Akan tetapi, kita justru menemukan penerimaan dan persahabatan. (hlm. 487)

Banyak juga selipan sindiran halusnya:

  1. Wajar bahwa situasi ternyata lebih parah daripada yang diperkirakan. (hlm. 8)
  2. Manusia memang pembohong. Orang niscaya ingkar janji. (hlm. 30)
  3. Waspadalah. Tiap orang akan menikam kalian dari belakang jika ada kesempatan. (hlm. 31)
  4. Jangan pura-pura tidak tahu. (hlm. 32)
  5. Bertahanlah. Kau tidak akan mati cuma gara-gara tindakan bodoh di badanmu. (hlm. 40)
  6. Ini rasanya salah. Momen ketika orang-orang menjemput ajal tidak semestinya dipamerkan seperti pakaian di etalase toko. (hlm. 75)
  7. Bumi akan menelan kalian. (hlm. 80)
  8. Jumlah yang mati selalui melampaui yang hidup. (hlm. 81)
  9. Manusia terlalu mudah rusak. (hlm. 93)
  10.  Tidak ada yang menang. Kalau terjadi perang, semua kalah. (hlm. 113)
  11. Hanya ada satu alternatif di luar kemenangan, yaitu kekalahan. (hlm. 114)
  12. Kalian takkan bisa mencapai kesuksesan tanpa kematian. (hlm. 133)
  13. Jika roh-roh alam menjadi jahat…akibatnya tidak bagus. (hlm. 159)
  14. Peraturan ya peraturan. (hlm. 232)
  15. Kau takkan pernah bisa lari dari kejahatanmu. (hlm. 254)
  16. Menghormati kekuatan perang barangkali wajar, tapi jatuh cinta padanya, itu lain perkara. (hlm. 294)
  17. Membunuh orangtua adalah kejahatan paling berat. (hlm. 297)

Keterangan Buku:

Judul                                     : The Blood of Olympus

Penulis                                 : Rick Riordion

Penerjemah                       : Reni Indardini

Penyunting                         : Rina Wulandari

Penata aksara                    : Abd Wahab

Penerbit                              : Mizan Fantasi

Terbit                                    : Desember 2014 (Cetakan Kedua)

Tebal                                     : 528 hlm.

ISBN                                      :  978-602-1306-71-0

12 thoughts on “REVIEW The Blood of Olympus

  1. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  2. Ahhh aku tuh paling suka sama yg namanya cerita fantasi. Bener2 suka banget. Dan buku ini, siapa sih yg nggak tau Percy Jackson? Sering ngeliat bukunya di deretan rak toko buku. Cuma karena buku ini berseri, trs juga harganya yg agak mahal, sampe skrg aku belum punya bukunya dan pastinya juga belum baca *derita anak sekolah
    Terus juga pernah baca dari salah satu org yg udah baca buku ini, katanya dari buku ini dia belajar banyak yg tentang mitologi yunani.. atau romawi ya? Lupa :v penget banget punya bukunya

  3. Waw cerita mitologi ya nih kak? Keren kayanya deh. Aku pernah liat nih kayanya tapi ga tertarik waktu itu.u

  4. Penasaran dg series terakhir ini.. Sekarang masih baca yang The House of Hades.. Aku tau banyak hal ttg mitologi Yunani ya dari novel ini😀

  5. Nah ini dia! Salah satu wishlistku adalah buku2 fantasi karya Rick Riordan, terutama seri Heroes of Olympus dan Percy Jackson. Cuma ada satu masalah yaitu: jumlah halamannya yang tebal & harganya yang sudah pasti gak ringan di kantong! ^^”

    Eh tapi beneran deh! Mungkin kalau kelak ada bazaar buku atau diskon buku2nya Rick ini aku bakalan mulai memberanikan diri mengumpulkan bukunya satu per satu hingga akhirnya lengkap! ^^ (Amin!)

    Btw, untuk buku setebal lebih dari 500 halaman, kok reviewnya kak Luckty terhitung singkat ya? Hehehe. Tapi aku suka karena kak Luckty mereview tokoh-tokohnya secara terpisah.

  6. Sebenarnya saya lebih suka novel-novel yang nyastra, tapi melihat review dari Mbak Luckty sepertinya novel fantasi ini memiliki banyak kata-kata bijak yang menarik. Terlebih buku tebel ini udak cetakan kedua tentu ini bukan buku sembarangan.

  7. Aduh, ketemu bukunya Om Rick lagi. Aku baru baca seri ini sampai buku ketiga, The Mark of Athena. Jadi rasa penasaranku masih menggantung dengan petualangan Percy dan Annabeth di Tartarus. Kalau untuk tebalnya, buku ini tergolong tipis ya Mbak, jika dibandingkan dengan buku yang lainnya. Rata-rata hampir tembus 600 halaman.

    By the way, tokoh yang di atas itu yang jadi PoV di buku ini? Kalau iya, sayang banget karena di buku pamungkasnya gak ada PoV Percy atau Annabeth😦 Sejauh ini aku masih mengidolakan Percy dan Annabeth nih, hehe. Patung Athena Parthenos juga baru dapat dikembalikan di buku ini?

    Gak sabar untuk baca 2 buku sisanya, tapi masih ada buku-buku yang harus didahulukan😦 baca bukunya Om Rick itu berbahaya, sekalinya mulai gak bisa berhenti karena penasaran. Ya, semoga dapat cepat dibaca deh, hehe ^^

  8. Buku bantal? Mungkin masih pikir-pikir ulang buat baca. Fantasi? Kayaknya aku mau kabur aja. Masalahnya buku fantasi itu harus dibaca lebih teliti dan spesifik, biar bisa bener-bener digambarin di kepala, biar ga bolong kedepannya. Dan rasanya buku fantasi itu harus bisa dibaca dalam waktu sehari, atau seenggaknya ga diseling sama buku lain, nanti ilang kemana-mana. Karena kelamaan duduk dan kelamaan baca buku bantal, sepertinya duduknya harus pake bantal juga, biar ga pegel😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s