REVIEW Spora

 spora

Ada permainan catur yang jauh lebih besar sedang dimainkan. Permainan yang menjadikan kita semua tanpa terkecuali, sebagai bidak. (hlm. 221)

Selalu ada kekuatan-kekuatan yang jauh lebih besar, yang sangat luar biasa, yang sedang bertarung, berusaha menghancurkan satu sama lain, dengan jutaan jiwa manusia sebagai pertaruhan. (hlm. 222)

Alif berhenti melangkah begitu menyadari keberadaan mayat. Rasa kosong yang ganjil menguasainya, membuat otaknya berhenti bekerja. Berhenti. Diam. Macet. Dia mengamati mayat itu; tanpa kepala, yang terbaring dengan kedua tangan terbentang di kedua sisinya dan dengan genangan darah yang jelas berasal darinya. Dia mengamati penampilannya, tubuhnya, dan akhirnya, dia menyadari beberapa hal lagi.

Alif mundur beberapa langkah, menatap benda yang baru saja membuatnya tersandung. Setelah beberapa saat, dia bisa melihat mereka; ada lebih dari satu. Dua, lebih tepatnya, dua tubuh yang terbaring di lapangan yang kosong tersebut. Genangan darah memenuhi permukaan lapangan, mengalir dari kedua mayat tersebut ke berbagai penjuru, dibawa oleh air hujan yang menuju ke tepian dan gorong-gorong.

Alih-alih wajah, kepala pria tersebut diselimuti sesuatu berwarna putih-kemerahan. Sesuatu tersebut tampak berdenyut, memiliki tangkai-tangkai dan benang-benang yang menjulur. Bagai rambut, uban, benang-benang tersebut tampak melambai-lambai ke atas, samping, bawah, padahal angin hanya bertiup ke satu arah.

Tiga kejadian tadi selalu meninggalkan korban yang sama; tanpa kepala. Sialnya, Alif selalu menjadi orang pertama yang mengetahui kejadian tersebut. Alhasil, Alif dicurigai akan kasus ini. Apa yang harus Alif lakukan? Dan kenapa selalu dia yang melihat semua ini? Temukan jawabannya dalam buku ini😉

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Hidup memang nggak adil. (hlm. 6)
  2. Bukankah Bogor juga sama ramainya dengan sang metropolitan di setiap akhir pekan? (hlm. 63)
  3. Orang-orang dewasa yang fokusnya sudah beralih dari sekedar hidup menjadi pencarian. Apa yang orang dewasa biasa kejar? (hlm. 73)
  4. Jadilah orang yang sensitif. (hlm. 145)

Ada beberapa tokoh ‘numpang lewat’ justru menarik untuk dikupas:

  1. Roy di halaman 66. Sebenarnya adalah orang yang baik. Dia memiliki sifat tegas, disiplin, dan penuh semangat dalam upayanya mengabdi sebagai Ketua OSIS sekolah mereka. Namun dia memiliki satu kekurangan besar; ia sangat keras kepala. Jika dia sudah ingin A, maka harus A. Dia takkan peduli plihan B, C, atau D, meski teman-temannya menunjukkan bahwa, misal B secara jelas lebih baik daripada A. Pendiriannya yang kuat dan teguh, membuatnya disegani oleh beberapa orang, namun juga sangat tidak disukai beberapa orang. Ada, ada banget orang yang tipikal keras kepala kayak gini, merasa dirinya paling benar. Kebetulan beberapa hari yang lalu ada acara pensi di sekolah, hampir tiap hari murid-murid unyu yang jadi panitia rapat di perpus. Nah, jadi bisa ngeliat mana murid yang tipikal kayak gini, pendapatnya nggak ada yang setuju sama sekali, dia malah ngambek karena merasa sebagai kakak kelas nggak dihargai. Lha, masak iya cuma gegara satu orang musti ngerombak dan mengorbankan acara, padahal menyangkut juri, bintang tamu dan sebagainya demi keinginan sesuai yang dia mau? Ada, tiap tahun juga nemu murid tipikal kayak gini. Pintar saja memang tidak cukup, tapi bisa bekerja dalam tim itu penting. Nah, itulah gunanya belajar berorganisasi, belajar bekerjasama dan mau mendengarkan pendapat orang lain. Orang-orang yang individualis dan keras kepala biasanya susah loh jika masuk ke dunia kerja, karena bekerja itu butuh kerjasama dan juga toleransi😉
  2. Ada juga tokoh Sinta di halaman 13-14. Dideskripsikan bahwa Sinta adalah salah satu anak KIR yang paling pintar, mampu berbahasa Inggris dengan sangat lancar, dan memiliki penampilan menarik. Di atas semua itu, ia juga menjadi presenter dalam persentasi hasil kelompoknya di konferensi sebuah lomba KIR yang diikuti. Tapi dibalik itu, Sinta adalah salah satu tipikal murid yang paling jutek ke teman-temannya. Percayalah, sifat jutek nggak pernah bakal bikin orang segan, atau simpati. Yang ada, bakal banyak dijauhi teman, karena malas berurusan dengan orang yang memiliki sifat jutek. Toh, apa susahnya senyum? J

Beberapa komentar tentang seputaran sekolah:

  1. Di halaman 209 dijelaskan jika Rina dan Alif mengikuti OSPEK. Kalau di sekolah sih tepatnya MOS, bukan OSPEK yang biasanya untuk anak kuliahan.
  2. Di halaman 65 tentang pembagian kantin. Ada yang untuk khusus murid kelas dua belas, trus anak murid kelas sepuluh biasanya cari aman makan di kelas. Dari jaman saya sekolah sampe kerja di sekolah, masih ada banget soal kasta kayak gini di kantin.
  3. Itu kotak-kotak sumbangan kenapa rempong banget dicariin? Masak iya, satu tahun kotak sumbangan nggak dipake? Padahal minimal seminggu sekali bakal dipake loh yang namanya kotak sumbangan; buat yang orangtuanya meninggal, buat yang lagi sakit, dan lain-lain. Jadi nggak mungkin kan kotak sumbangannya nganggur satu tahun nggak dipake?
  4. Penyebutan kelas. Untuk level SMA, bukan lagi kelas satu, dua dan tiga. Tapi kelas sepuluh, sebelas, dan dua belas loh.
  5. Diceritakan bahwa di halaman 105 jika Alif tidak terlalu kenal akan adik kelas yang ditemuinya. Masak iya sih, satu sekolah nggak kenal? Ya minimal apal muka lah…
  6. Di halaman 141, dideskripsikan bahwa biasanya selalu ada anak-anak yang tetap tinggal di kelas, mengobrol, nongkrong, bergosip, ribut, atau hanya sekedar main gitar maupun mengerjakan tugas setelah bel pulang berbunyi. Iya banget, murid-murid, kalo pas jam pelajaran pengen cepet-cepet udahan alias nunggu banget bel pulang. Giliran udah waktunya pulang malah nggak pada pulang, bertebaran di sekolah; yang ikutan macam-macam eskul, yang numpang wifi-an gratis atau banyak juga yang ngadem di perpus. Kalo udah gini, sementara guru-guru udah pada pulang, saya jarang banget pulang tepat bel, kadang bisa ampe sore itupun musti ngusirin satu-satu biar pada mau pulang saking kebetahan di perpus😀
  7. Di halaman 84 disebutkan jika Fiona dan Alif bertukar nomor ponsel, alamat surel, dan username facebook & twitter. Kalo tuker nomer hape sih wajar, tapi masak sih satu sekolahan belum saling add di facebook dan follow di twitter? Berdasarkan pengamatan, biasanya sesama murid bakal saling add facebook atau follow di twitter, apalagi satu sekolah, satu angkatan, trus kecengan udah lama banget pula. Pasti bakal sering nge-stalk dong seharusnya… x)

Beberapa hal yang agak mengganjal:

  1. Pemanggilan Alif untuk ibunya; kadang mama, kadang ibu.
  2. Pemanggilan Ibu kepada Alif; kadang ‘dek’, kadang juga pakai nama langsung.
  3. Masih ada beberapa typo.
  4. Percakapannya kaku untuk ukuran anak SMA.

Selebihnya, suka ama tema yang diangkat. SPORA. Nggak kebayang kan ada virus yang bakal mengganggu stabilitas kehidupan. Keren juga ya, ada selipan eskul KIR. Wah, anak MIPA khususnya yang demen BIOLOGI kudu baca ini nih!😉 #jangansampaispoiler

Suka ama cover ama ilustrasi di dalamnya, merepresentasikan tema novel ini. Waktu awal baca, masih terasa datar, tapi pas udah di seperempat akhir cerita baru terasa geregetnya dan bikin merinding pula. Coba endingnya bisa dikembangin lagi, masih ngegantung dan bikin bertanya-tanya…😉

Keterangan Buku:

Judul                                     : Spora

Penulis                                 : Alkadri

Penyunting                         : Dyah Utami

Penyelaras akhir               : J. Fisca

Perancang sampul           : Fahmi Fauzi

Ilustrasi sampul                 : Fahmi Fauzi

Ilustrasi naskah                 : Diani Apsari

Penata letak                       : Tri Indah Marty

Penerbit                              : Moka Media

Penerbit                              : Moka Media

Tebal                                     : 238 hlm.

ISBN                                      : 979-795-910-4

15 thoughts on “REVIEW Spora

  1. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  2. “Diceritakan bahwa di halaman 105 jika Alif tidak terlalu kenal akan adik kelas yang ditemuinya. Masak iya sih, satu sekolah nggak kenal? Ya minimal apal muka lah…”

    Diriku pun begitu kok, mbak… Mungkin karna jarang keluar(?)
    Tapi hampir semua adik kelas tau aku, aku yang nggak tau mereka hehehehe.. Jadi suka nggak enak…

  3. Bukankah Bogor juga sama ramainya dengan sang metropolitan di setiap akhir pekan? (hlm. 63)

    jawabannya: iya. ya tau sendirilah kota- kota besar mah udah di kodar penuh sesak dari kapan kapan. bogor salah satunya. yang paling parah adalah Jakarta. ramai. macet. sibuk. penuh. sesak. butuh banyak oksigen

  4. Itu covernya kereennn. Jujur aku bukan pecinta thriller sih, tapi kalo dikasih buku ini buat dibaca ya mau2 aja :v tapi pernah baca buku yg genrenya sama kayak buku ini, ngebuat otak kerja buat mikir

    Dan untuk kejanggalan yg kak Luckty buat mengenai buku ini, aku rasa wajar jika seorang ibu kadang manggil anaknya dgn sebutan ‘dek’, dan kadang pake nama aslinya. Menurutku itu sama aja sama ibu yg manggil anaknya ‘nak’, trs nanti manggil pake nama aslinya

  5. Ini mirip sama cerita yang pernaha aku baca loh kak. Tapi karakter utama bisa tau semua kejadian itu karena temennya lah pelakunya. Apa Alif juga begitu?

  6. Dari awal aku liat covernya SPORA ini aku udah penasaran banget dengan kisahnya! Tapi entah kenapa belum kesampean memilikinya. Makin tambah penasaran nih setelah baca reviewnya Kak Luckty ini.

  7. Novel uji nyali, cerita horor mah aku angkat tangan, nyerah. Udah sering ngalamin sendiri dan aku takut parah, jadi ga mau nonton atau baca yang nyerempet kehororan. Udah bisa bayangin juga klo baca buku ini tuh di kasur, nyerempet di pojokan, kaki ditekuk karena takut ada yang nyolek tiba-tiba, jalan pasti nengok lagi nengok lagi ke belakang, berasa ada yang ngikutin dan sesudah bacanya selesai, aku pasti minta dianterin kemana pun aku pergi di dalem rumah X_X

  8. Ah, akhirnya ada satu buku yang pernah kubaca! *nangis* Setidaknya aku ngerti mau komentar apa… Semoga nggak terdengar canggung aja.

    Ceritanya menurutku masih berkutat pada imajinasi. Mengingat ini bergenre seputar sci-fi, akan baik kalau ditambahkan sedikit ‘teori’ yang memperkuat dasar cerita itu sendiri. Aku paling tertarik sama pembatasnya :3 Suka sama kutipannyaaa…. Dan covernya juga!

    Masalah bahasa yang terlalu kaku… Hee, aku malah suka kalau seperti itu *di sekolah biasanya ngomongnya campur bahasa daerah, sih* Di sekolahku juga ada! Cuma pembagiannya antar gender. Kantin luar buat cowok, yang dalam buat cewek. Dan poin dimana Alif nggak kenal adik kelasnya itu… memang nggak biasa, ya? Aku kadang malah nama teman sendiri (sekelas) lupa😦 Ouh.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s