REVIEW Dandelion

 

Cinta itu bagaikan sekuntum dandelion. Saat bunganya luruh satu demi satu terempas angin. Saat itu pula kamu tidak bisa berharap dia akan kembali. (hlm. 47)

YARA

Semua jelas sekarang, untuk apa Papa ngotot memintanya ikut kursus Bahasa Inggris sejak kelas X. Bukan agar nilai pelajaran Bahasa Inggris-nya sempurna, atau dia tidak kesulitan kalau jalan-jalan ke luar negeri seperti alasannya tapi karena Papa merencanakan ini dari awal. Jelas pula mengapa Papa memintanya menguji kemampuan bahasa Inggris lewat ujian TOEFL, bukan semata-mata agar kelihatan sejauh mana kemampuannya, tapi karena Papa butuh sertifikat TOEFL sebagai syarat mendaftarkannya ke universitas di Singapura.

Mama dan Papa bersekongkol dari awal. Mereka sudah lama berkonsultasi dengan education agency untuk mempersiapkan keperluannya masuk ke perguruan tinggi di Singapura. Semuanya diatur rapi sehingga tinggal menjebloskan Yara pada saatnya tiba. Bahkan Yara baru tahu belakangan sudah diterima di jurusan hospitality and tourism industry. Papa sepertinya menyiapkan hotel yang dikelolanya sebagai warisan untuknya sehingga memasukkannya ke jurusan itu.

GANESH

Yara menembaknya karena yakin Ganesh tak akan berani memulai. Yara benar, Ganesh tak peduli. Siapa yang memulai hanyalah proses suatu hubungan. Yang penting kemudian mereka jalan bersama, bersisian, dan saling menjajaki.

Yang membuat Ganesh merasa istimewa, Yara membuatnya merasa ada dan tidak berbeda. Yara seolah buta dengan status sosial Ganesh, dengan segala kesulitan yang selalu mengikuti Ganesh. Yara tak peduli.

“Kita masih muda. Banyak yang harus kamu kejar, banyak yang harus kamu lihat, harus kamu cari di luar sana. Kisah kita hanya secuil di antara kisah yang akan kamu alami nanti. Pernahkah kamu berpikir bahwa seharusnya kita tidak perlu menyesali perpisahan ini? Apa yang sudah kita alami begitu indah, untuk apa ditangisi?” (hlm. 19)

Sebenarnya tak ada yang dengan apa yang terjadi. Mereka sama-sama remaja yang sudah tiba waktunya untuk membagi rasa. Kesalahan terletak pada siapa rasa itu harus dibagi.

Jurang diantara mereka terentang terlalu dalam. Seiring berjalannya kebersamaan yang mereka lalui, Ganesh hanya mencari waktu dan celah kapan hubungan mereka harus diakhiri.

Banyak bertebaran kalimat favorit:

  1. Jangan sia-siakan kesempatan yang kamu peroleh dengan mudah. (hlm. 15)
  2. Cinta bukan sekedar rasa sayang. Cinta ternyata butuh pengorbanan. (hlm. 25)
  3. Menikmati waktu senggang mungkin bisa menghilangkan rasa suntuk dan sedih untuk sementara. (hlm. 35)
  4. Terkadang senja mengingatkan pada rumah, pada orang-orang yang membuat hati kita rindu untuk pulang. (hlm. 38)
  5. Harta bisa dibeli dan dicari, tapi hati dan perasaan tidak. (hlm. 61)
  6. Memahami masalah hati tidak semudah menutup dan membuka pintu. (hlm. 63)
  7. Hidup lo akan jauh lebih berharga ketimbang berkubang terus pada masalah yang itu-itu saja. Move on! (hlm. 81)
  8. Perpisahan sepasang kekasih memang tak pernah menyenangkan, selalu perih dan menyakitkan. (hlm. 99)

Banyak juga selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Memangnya tidak ada universitas bagus di Indonesia? (hlm. 12)
  2. Jangan pernah sok tahu tentang hati. (hlm. 19)
  3. Jangan pernah mengukur perasaan dari usia belaka. (hlm. 19)
  4. Kasta, harta, martabat, hanyalah batasan-batasan yang dibuat manusia untuk mengotak-ngotakkan diri. (hlm. 22)
  5. Hidup memang penuh drama. Tak ada yang bisa menduga. (hlm. 22)
  6. Nggak penting banget ngarepin cowok nggak jelas. (hlm. 29)
  7. Ini Sabtu sore, nggak ada ceritanya perawan meringkol menjelang malam Minggu. (hlm. 34)
  8. Jangan bebani perasaan dengan sesuatu yang tidak pasti. (hlm. 61)
  9. Cowok ganteng nggak boleh dianggurin lama-lama, keburu kabur. (hlm. 62)
  10. Terkadang tak bisa mengukur rasa suka dari sekedar penampilan, tetapi lebih pada bagaimana hati merespon dan menerimanya. (hlm. 63)
  11. Menunggu memang pekerjaan paling membosankan. (hlm. 85)
  12. Perempuan mana yang senang dibohongi? (hlm. 150)
  13. Senyum mana yang bisa terlihat tulus kalau hati pemiliknya tersakiti? (hlm. 178)

Poin lebih dari buku ini adalah analogi hidup Ganesh dan Yara seperti alang-alang dandelion. Dua-duanya adalah rumput liar yang hidup berdampingan. Mereka berbeda, tapi tetap bersisian satu sama lain, tanpa saling mengganggu. Mereka tumbuh dengan hidupnya masing-masing.

Uhuk, ada adegan katakan cinta di perpustakaan loh!😀

Keterangan Buku:

Judul                                     : Dandelion

Penulis                                 : Iwok Abqary

Desain sampul                   : Yogei Noojin

Penerbit                              : PT. Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : 2014

Tebal                                     : 200 hlm.

ISBN                                      : 978-602-03-0431-1

11 thoughts on “REVIEW Dandelion

  1. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  2. Aku suka liat dandelion di cerita-cerita romantis.

    Aku agak ngeri kak sama orngtuanya. Planned banget rawr

  3. Kenapa org tuanya dari awal berencana menguliahkan dia di Singapur? Kenapa nggak sesuai sama keinginan sang anak aja?

    Terus baca quotesnya…. behhh :v

  4. Aku suka dandelion
    Bahkan aku pernah buat cerpen tentang filosofi dandelion
    Mau baca ga ka
    Hehehe
    Aku suka quote ke 2
    Cinta bukan sekedar rasa sayang

    Bahkan aku pernah nemu quote
    Rasa cinta itu datang dari hati tapi dari suatu lokus di otak

    Oiyaa itu Ganeshnya pengen mutusin hubungan?
    Kok aku nankepnya gitu yaa ‘-‘

  5. Apa Yara akhirnya kuliah di Singapura? Kenapa Ganesh ingin putus dengan Yara, apa karena kesenjangan sosial?

    Sebenernya cinta tak memandang itu semua, tapi hal itu selalu jadi masalah yang dibesar-besarkan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s