REVIEW Senyum Dahlan

Perjalanan, kadang harus dimulai dengan keterpaksaan. Meninggalkan satu takdir menuju takdir lainnya. Meninggalkan banyak nama dan berharap akan bertemu dengan nama-nama yang baru. (hlm. 263)

Meski ini bagian trilogi dari novel inspirasi Dahlan Iskan, kita akan menemukan perbedaan dari segi gayah bahasa dan penulisan karena memang buku yang ketiga ini ditulis oleh penulis yang berbeda dari dua buku sebelumnya. Kebetulan dua-duanya adalah penulis cowok idola saya. Masing-masing punya ciri khas tersendiri. Meski begitu, kita tidak kehilangan benang merah dari rangkaian ketiga buku tersebut.

Di novel ini, kita tidak hanya diajak melihat potret kehidupan Dahlan Iskan semata, tapi juga menelusuri dua kehidupan pemuda yang mengidolakan sosok Dahlan Iskan. Dua pemuda ini awalnya tidak saling mengenal, namun takdirlah yang mempertemukan mereka.

Di suatu hari apel umum sebelum OSPEK Jurusan Komunikasi: PPKP Universitas Negeri Yogyakarta. Kanday dan Saptoti sama-sama gagal masuk lewat seleksi UMPTN. Ternyata kegagalan bukanlah akhir segalanya. Justru di sinilah cerita dimulai.

Tahun kedua kuliah mereka, Kanday bersemangat dengan ide menerbitkan tabloid kampus karena yakin di situlah masa depannya bermula. Sedangkan Saptoto mengekor di belakangnya, lebih karena dia merasa kementerengan seorang mahasiswa Jurnalistik adalah sibuk di redaksi media kampus. Sudah begitu seharusnya.

“Nggak cuma soal iklan. Banyak. Kepemimpinan lu. Acara-acara aneh itu. Cara lu membuat keputusan. Kacamata gue idealis. Kacamata lu pragmatis. Dan, koran ini, gue kira lebih butuh lu daripada gue.” (hlm. 352)

Membaca kisah Kanday dan Saptoto ini mengingatkan jaman-jaman masa kuliah. Kebetulan jurusan yang saya ambil satu payung dengan jurusan Jurnalistik di mana cowok-cowoknya meski biasanya terkadang agak berantakan tapi justru kelihatan cowok banget😀

Enaknya kuliah jurusan yang saya ambil ini, kita bisa mengambil mata kuliah di jurusan lain, kalo nggak salah lima SKS. Jadi biasanya yang diambil adalah dua mata kuliah; satu mata kuliah 2 SKS dan satu lagi mata kuliah yang 3 SKS. Saya mengambil mata kuliah yang ada di jurusan Jurnalistik, meski biasanya lebih berat dibandingkan dengan jurusan lain yang sepayung, tapi justru mata kuliahnya lebih menarik dan menantang. Seru!😀

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Kamu cari pekerjaan kecil dulu. Kerja keras, jangan malas. (hlm. 2)
  2. Ketika kalian menciptakan sebuah kreasi. Kemudian, kreasi kalian sudah berhasil di hadapan publik. Apa pun reaksi publik, itu harta buat kalian. Apakah pujian, cacian atau bahkan ketidakpedulian. (hlm. 50)
  3. Menjadi pionir atau pendahulu, itu kadang bermakna kita dicibir oleh orang lain. (hlm. 51)
  4. Kita berbeda pendapat karena sudut pandang yang berbeda. (hlm. 351)

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1.  Masa kalau mau kerja, bisa nyogok orang. Sebaliknya, napi yang seharusnya kerja boleh tidak kerja asal nyogok juga. (hlm. 31)
  2. Ya, masa mentang-mentang belajar, terus yang gampang-gampang. (hlm. 136)
  3. Dari dulu isu suap dalam sepakbola itu sudah terkenal di mana-mana. (hlm. 243)
  4. Ngapain baca koran yang nggak bisa dipercaya. (hlm. 318)

Banyak juga selipan pengetahuan tentang jurnalistik:

  1. Wartawan yang mengandalkan tape recorder itu akan rusak daya ingatnya. Kalau tape itu diputar, kemudian macet atau dimatikan, pasti otaknya juga akan berhenti sampai di situ. (hlm. 219)
  2. Gaya penulisan cuma kemasan. Yang lebih penting itu isinya. Apa yang mau disampaikan. Rukun iman beritanya. (hlm. 221)
  3. Kloning tidak hanya terkenal karena domba Dolly, tapi juga karena kebiasaan sebagian wartawan yang bertukar-tukar berita di lapangan. Barter berita yang tak sempat mereka liput sendirian. Kalau wartawannya tidak kreatif, besok paginya, redaksi berita di beberapa media akan persis sama. (hlm. 312)
  4. Jangan sampai koran telat. Siang sedikit ditinggal sudah. (hlm. 354)

Kisah Saptoto dan kliping dari ibunya ini cukup menarik. Saya juga demen banget mengkliping. Jaman kuliah, dulu ada teman kosan yang langganan koran, dia kliping materi politik-politik karena kuliah Ilmu Pemerintahan. Sedangkan saya –atas izinya- mencomot artikel—artikel pengetahuan bahkan potongan karikatur juga, seperti Benny & Mice yang hanya nongol di setiap hari Minggu di Kompas. Pas awal-awal lulus kuliah, saya juga niat banget mengkliping resep-resep masakan dari tabloid-tabloid langganan dari jaman sekolah, daripada di loak-in semua, ya yang penting-penting  diambil untuk di kliping. Waktu itu saya buat jadi empat jilid resep masakan; makanan ringan, makanan berat, kue-kue, dan minuman. Saya juga sempat membuat kliping tutorial aneka berhijab, ah sayangnya sekarang entah kemana. Anggap saja tidak hilang, tapi dibaca yang membutuhkan. Ternyata pas kerja, kaget juga ya, di juknis disebutkan juga jika mengumpulkan kliping adalah satu tugas  pustakawan sama halnya seperti tugas meresensi buku juga dapet poin. Pekerjaan yang menyenangkan bukan…😀

Diantara Kanday dan Saptoto, saya justru cenderung menyukai pribadi Saptoto. Memang sih kalo soal semangat dan kepribadian, Kanday lebih mendominasi dalam meraih cita-citanya dari awal. Tapi saya lebih menyukai Saptoto yang idealis dan mengikuti kata hatinya kemana passion yang ingin ia capai.

Keterangan Buku:

Judul                                     : Senyum Dahlan

Penulis                                 : Tasaro GK

Penyunting                         : Tim Noura Books

Penyelaras aksara            : Nunung Wiyati

Penata aksara                    : Abdul Wahab

Ilustrasi isi                           : Sweta Kartika

Desain sampul                   : Windu Tampan

Penerbit                              : Noura Books

Terbit                                    : November 2014

Tebal                                     : 380 hlm.

ISBN                                      : 978-602-1606-90-2

11 thoughts on “REVIEW Senyum Dahlan

  1. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  2. Tasaro adalah salah satu penulis favorit saya. begitu pun Pak Dahlan Iskan menjadi tokoh inspirasi saya. keduanya membuat saya ingin membaca buku ini. dulu saya membaca buku pertama dari trilogi ini yang berjudul “Sepatu Dahlan” bukunya masih ditulis oleh Prabu Prabichara-kalau tidak salah- bukan karya Tasaro. bukunya sangat menarik dan sangat menginspirasi. begitu menariknya buku itu sampai saya berniat ingin membaca buku-buku selanjutnya. namun hingga sampai saat ini belum tercapai huhu. termasuk buku ketiga ini saya masih sangat ingin membacanya

  3. Dunia jurnalistik. Dunia yang bikin aku iri sama mahasiswanya deh hehe.
    Saptoto dan Kanday karakternya juga keliatan menggemaskan gimana gitu. Jadi pengen baca >·<

  4. Ini buku yg stand alone nggak kak? Apa harus baca seri yg lainnga agar bisa mengerti dan masuk ke dalam cerita ini?

  5. Senyum dahlan
    Seri yg lainnya sepatu dahlan ya?
    saya kurang suka novel genre begini
    Hehehe
    Pas baca sepatu dahlan aja, karena terpaksa gara-gara ada pekan membaca di sekolah dan bukunya ditentukan
    Tapi cukup salut dgn org yg bisa baca buku-buku seperti ini sampai habis
    Plok plok plok
    ^^

  6. Kok kayanya seru ya U.U aku punya trilogynya, tapi belum tertarik untuk baca. Karena… kurang tertarik sih sama genre begini. Mungkin karena belum kenal ya. Nanti aku coba kenalan deh ^^

  7. Oh jadi buku ini terinspirasi dari tokoh dahlan iskan. Terus kenapa judulnya senyum dahlan, tapi di dalam ga ada turut sertanya dahlan iskan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s