REVIEW The Lunch Reunion

 

Ujian itu nggak mungkin hanya satu kali. Lulus satu ujian pasti akan diberi ujian lain yang lebih berat. Itu sudah hukum alam. Semua akan mengalaminya. (hlm. 108)

XIXI. Dia sudah menikah dengan mantan rekan kerjanya, Arveen. Kini Xixi bekerja di kantor lain. Punya satu anak bernama Chacha dan sedang mengandung anak kedua. Xixi yang perfeksionis dengan segala pekerjaannya dan sifat itu juga merambah ke urusan rumah tangga. Belum lagi dibuat pusing setiap hari jika Chacha merajuk nggak mau ditinggal kalo dia mau berangkat kerja. DILEMA.

KEISHA. Siapa sangka Keisha yang dulunya gonta-ganti pacar, kini menambatkan hati pada mantan bosnya saat bekerja di luar negeri. Yup, kini Keisha bersuami bule dengan jabatan tinggi. Bertambah sempurna ketika dia dinyatakan hamil. Ternyata bagi Keisha yang sangat mementingkan penampilan itu adalah sebuah musibah. Dia tidak mau terlihat gendut saat hamil.

ARIMBI. Berkebalikan dari Keisha. Arimbi yang kini sudah bekerja sesuai passion-nya, hidup belum terasa lengkap karena belum dianugerahi momongan setelah beberapa tahun menikah. Hatinya teriris jika mendengar Keisha yang selalu berkeluh kesah akan kehamilannya, sementara dia amat sangat merindukan seorang anak dalam rumah tangganya.

TIA. Seperti Keisha dan Xixi, dia juga hamil. Bedanya, semenjak hamil, Tia makin malas merawat diri. Makan pun tak terkontrol. Sahabat-sahabatnya, terutama Keisha gemes banget liat perubahan Tia yang selalu berdalih bahwa ini semua bukan masalah yang perlu dipikirkan. Dia justru menikmatinya, apalagi suaminya juga nggak pernah bawel ketika dia hamil.

Yup, ini kisah kedua dari buku sebelumnya; The Lunch Gossip. Persahabatan mereka sebenarnya dimulai dari saat bekerja di BeIT, sebuah perusahaan yang bergerak di bidang IT. Tapi sekarang tak satu pun dari mereka yang bekerja di sana. Keisha di Courage, Tia di Fedco, Xixi menjadi seorang manajer senior di sebuah perusahaan konsultan lokal dan Arimbi menjadi desainer busana. Hanya Keisha dan Xixi yang masih setia menjadi konsultan. Sebenarnya, masih ada satu lagi; Vinka yang menghilang dari mereka. Tapi nanti di seperempat akhir cerita muncul kembali di buku kedua ini.

Suka, suka banget ama deskripsi perempuan-perempuan dalam buku ini. Setiap individu punya karakter dan permasalahan yang berbeda. Sama seperti buku yang pertama, karakter yang paling mendekati sifat saya adalah tokoh Xixi yang perfeksionis jika melakukan sesuatu. Kebayang donk, dia mengatur pola makan suami dan anaknya. Yang paling mirip adalah sangat berdedikasi mengerjakan pekerjaan rumah mulai dari masak sampe nyikat kamar mandi, padahal Xixi masih hamil anak kedua loh. Dia gemes banget ama hal-hal yang kotor. Toss dulu ama Xixi, saya juga gitu. Jangankan urusan rumah, urusan perpus tempat kerja aja gemes banget kalo kotor, jadi udah biasa banget tiap hari bolak-balik nyapu, ampe ada murid yang mengira jika salah satu pekerjaan pustakawan adalah menyapu x)

Di serial bagian kedua ini, kita akan melihat perbedaan mereka saat masih gadis dengan saat kini mereka sudah menikah. Banyak pesan moral yang kita dapatkan:

  1. Lewat tokoh Xixi; bahwa hidup yang sempurna tidak harus segalanya sempurna seperti yang kita inginkan. Kita harus memilih antara urusan pekerjaan dan urusan rumah tangga. Tokoh Xixi representasi perempuan yang menikah dan juga bekerja. Manakah yang akan dia pilih?
  2. Lewat tokoh Keisha. Ternyata masa lalu bisa memicu rasa traumatis pada diri seseorang. Dibalik sifatnya yang ceplas-ceplos, ada masa lalu kelam yang selalu menyelimuti kehidupannya. Terkadang, masa lalu bisa dijadikan pelajaran untuk masa yang akan datang.
  3. Lewat tokoh Tia. Problema hidupnya tak seberat tema-temannya. Dulu dia memang kerap diselingkuhi beberapa kali oleh pacar-pacarnya, tapi kini dia memiliki suami yang super pengertian. Justru itulah masalah timbul, Tia tak peduli akan penampilannya dan tak bisa mengontrol pola makannya. Padahal ibu hamil harus menjaga kesehatannya loh. Makan boleh, tapi harus ada porsinya. Etapi bukan berarti membatasi pola makan, tapi harus ada takaran normalnya. Pengetahuan penting buat ibu-ibu hamil nih.
  4. Lewat tokoh Arimbi. Belajar ikhlas menerima kehidupan yang dijalani. Belum punya momongan bukan berarti tidak bisa bahagia. Arimbi akan membaginya di akhir cerita.

Banyak bertebaran kalimat favorit:

  1. Memang selalu ada titik dalam kehidupan seseorang ketika hidup bisa berubah 180 derajat. (hlm. 12)
  2. Waktu adalah hidup itu sendiri. Ketika kamu tidak menghargai waktumu berarti kamu tidak menghargai hidupmu. (hlm. 17)
  3. Setiap ibu pasti menyayangi anaknya. (hlm. 72)
  4. Jangan berhenti berharap. Buat apa hidup kalau nggak punya harapan? (hlm. 86)
  5. Cuma orang yang nggak bahagia yang senang membuat orang lain nggak bahagia. (hlm. 101)
  6. Setiap orang punya sisi baik. (hlm. 107)
  7. Ujian itu nggak mungkin hanya satu kali. Lulus satu ujian pasti akan diberi ujian lain yang lebih berat. Itu sudah hukum alam. Semua akan mengalaminya. (hlm. 108)
  8. Hilangkan semua prasangka buruk itu dari benak kamu. Itu kan sakit yang kamu ciptakan sendiri. (hlm. 125)
  9. Sekecil apa pun kita rasakan sebuah nikmat, memang layak banget kita bersyukur. (hlm. 153)
  10. Segala sesuatu kan ada hikmahnya. (hlm. 180)
  11. Nggak gampang menghapus luka. Seperti memaku dinding, walau pakunya dicabut tapi bekasnya tetap ada. (hlm. 180)
  12. Kalau belum pernah mencoba sih penasaran. (hlm. 198)
  13. Manusia memang tidak pernah merasa puas. Kalau bisa pasti setiap manusia ingin mencoba merasakan menjalani hidup orang lain. (hlm. 198)
  14. Berapa banyak orang di dunia ini yang tidak punya anak sendiri tapi bisa melakukan hal luar biasa yang membawa kebaikan untuk umat manusia? (hlm. 218)

Banyak juga selipan sindiran halusnya:

  1. Seenaknya saja memerintahkan orang yang sedang kesakitan untuk sabar. (hlm. 7)
  2. Bagian mana sih dari Jakarta yang nggak macet pagi-pagi? (hlm. 10)
  3. Maju hamil anak cowok, anak cewek, setiap cewek mesti tampil cantik. (hlm. 20)
  4. Makanan sehat itu seringnya berbading terbalik dengan harga. (hlm. 43)
  5. Memangnya nikah cuma buat berkembang biak? (hlm. 45)
  6. Wanita karier bukan berarti nggak mengurus anak lho. (hlm. 72)
  7. Kenapa begitu gampang orang merasa lebih baik daripada orang lain? (hlm. 73)
  8. Perempuan itu sensitif tau. (hlm. 74)
  9. Yang pamer sama yang nggak tuh kelihatan jelas kok. (hlm. 113)
  10. Hidup memang tidak terasa nyaman kalau tidak akur dengan tetangga. (hlm. 115)
  11. Cari pembantu zaman sekarang susah sekali. (hlm. 164)
  12. Tapi kan bisa juga hanya demi anak terus kita membiarkan diri kita menderita. (hlm. 181)

Keterangan Buku:

Judul                                     : The Lunch Reunion

Penulis                                 : Tria Barmawi

Editor                                    : Donna Widjayanto

Penerbit                              : PT. Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : 2013

Tebal                                     : 272 hlm.

ISBN                                      : 978-979-22-9980-9

9 thoughts on “REVIEW The Lunch Reunion

  1. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  2. Dalam buku ini ada konflik yg bikin mereka berantem nggak kak? Atau cuma nyeritain prrmasalahan kehidupan mereka masing2?

  3. Wo ya pengen punya anak ya hamil dulu, ini hamil ga mau gendut. Aduh Keisha ada-ada aja.

    Pas baca penokohan terbaru aku sampe scrol lagi ke atas, apa ada yang kelewat sama nama tokohnya. Aku itung cuma ada 4 sedangkain sebelumnya berlima, ternyata dia Kebagian di ending😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s