REVIEW Beautiful Liar

beautiful liarBerapa banyak waktu yang dibutuhkan untuk memperbaiki hati yang luka? (hlm. 263)

Ada dua cara jalan untuk menjalani hidup. Yang satu adalah menempuh jalan serbainstan, serbacepat, tetapi juga berakhir dengan cepat. Sementara yang satunya lagi lebih lambat, terjal, dan berliku-liku. Namun, pada akhirnya di ujung jalan, kita akan melihat pemandangan yang bagus dan abadi.

Adalah LUNETTA EVA BIANCA ALWIN. Sudah lebih dari tiga tahun ia tidak bertemu dengan mamanya. Sejak mama dan papanya resmi bercerai, Lunetta tinggal bersama papa. Lunetta selalu menipu dirinya bahwa mamanya tidak mungkin mengkhianati papanya. Mungkin mama sedang khilaf. Mungkin kelak mama akan menyesal telah menceraikan papa. Mungkin suatu saat mereka akan bahagia lagi.

Namun, dua tahun yang lalu, Lunetta harus menyadari bahwa impiannya tidak mungkin terwujud. Mamanya menikah lagi dengan seorang dosen universitas swasta yang kabarnya sudah menjabat sebagai dekan fakultasnya. Seandainya saja papa tidak memaksanya, Lunetta tidaka akan sudi berada di Jakarta. Ia seribu kali akan memilih bersama papanya.

“Aku nggak ngerti kenapa Mama meninggalkan Papa. Papa itu baik banget. Apa yang aku inginkan selalu dipenuhi Papa. Papa juga nggak pernah marah-marah atau memaksakan kehendak kepadaku. Nggak seperti Papa.” (hlm. 15)

Bukan Lunetta namanya jika dia meninggalkan kebiasaan ajaran papanya; menipu. Lunetta ibarat kancil yang selalu cerdik dalam mencuri mentimun. Tapi sayangnya kali ini mentimun, si Arvad si cowok tampan plus kaya di sekolah barunya yang kini menjadi incarannya tidak mudah ia dapatkan. Ada anjing penjaga yang selalu mengawasi gerak-geriknya; Badai yang bakal menjadi musuh utamanya semenjak awal masuk pertama sekolah.

Banyak kalimat favorit bertebaran dalam buku ini:

  1. Kita semua membutuhkan waktu untuk beradaptasi. (hlm. 19)
  2. Doa guru itu sama kuatnya dengan orangtua. (hlm. 54)
  3. Mungkin segala sesuatu memang ada hikmahnya. (hlm. 131)
  4. Pasti nyesek banget kalau di depan mata kita ada yang kita inginkan, tetapi nggak bisa kita dapatkan. (hlm. 155-156)
  5. Setiap orang punya alasan masing-masing. (hlm. 176)
  6. Kalau kita tidak kuat menanggung beban, kita boleh membaginya dengan orang lain. Tidak perlu sok kuat menanggungnya sendiri. (hlm. 179)
  7. Nyalahin diri sendiri nggak akan menyelesaikan masalah. (hlm. 186)
  8. Kita semua punya jalan hidup masing-masing. (hlm. 257)
  9. Semua yang terliihat tidak seperti yang terlihat. Selalu ada yang tersembunyi dari apa yang terlihat. (hlm. 259)
  10. Berapa banyak waktu yang dibutuhkan untuk memperbaiki hati yang luka? (hlm. 263)
  11. Alam ini memiliki sistemnya sendiri dan jika kita melawannya, cepat atau lambat kita akan menerima akibatnya. (hlm. 268)
  12. Dunia ini lebih banyak pengajar idealis. (hlm. 276)

Banyak juga selipan sindiran halus dalam novel ini:

  1. Baru bisa mainin cowok aja udah bangga. (hlm. 6)
  2. Selalu ada lelaki bodoh yang mau dikerjai perempuan. (hlm. 6)
  3. Aku kan bukan anak TK yang harus diantar mamanya di hari pertama sekolah. (hlm. 28)
  4. Mengapa anak-anak ini menggunakan kretivitas mereka hanya untuk memikirkan segudang alasan, bukan dalam mengerjakan tugas sekolah? (hlm. 29)
  5. Semua murid yang terlambat selalu membuka kalimat ‘bukan salah saya’. (hlm. 31)
  6. Tidak ada yang lebih buruk daripada memberikan kenangan jelek berupa hukuman pada hari pertama seorang murid. (hlm. 34)
  7. Coba kamu jadi anak manis yang menuruti semua perintah guru. Pasti nggak akan dihukum. (hlm. 49)
  8. Apa cewek-cewek tidak melihat bahwa cowok mereka sengaja bahwa mereka mereka ke film horor agar mendapat pelukan gratis? (hlm. 82)
  9. Kancil itu kan salah satu binatang paling terkenal dalam dongeng rakyat Indonesia tetapi kenapa nggak ada yang menjual kancil? Gimana orang mau kenal kancil coba? (hlm. 85)
  10. Kalau elo lagi jalan sama cowok, elo nggak boleh nyebut nama cowok lain. Nyebelin tau! (hlm. 86)
  11. Di dunia ini nggak ada cowok normal yang bersedia ngebantuin cewek untuk ngedapetin cowok lain. (hlm. 88)
  12. Manusia tetaplah manusia, entah kaya atau miskin. Selama ada peluang untuk berbuat curang dan tidak tertangkap, untuk apa berbuat jujur? (hlm. 94)
  13. Mana yang lebih baik antara mengurung seorang anak di rumah atau memberikan alternatif hukuman yang bisa membuatnya lebih baik? (hlm. 110)
  14. Di dunia ini ternyata ada orang yang nggak tahu diri. Setengah mati berusaha nempel kayak selotip murahan. (hlm. 148)

Wuidih..banyak juga selipan tips ‘menipu’ ala Papanya Lunetta:

  1. Kalau kita mau berbohong, maka yakini kebohongan itu sebagai kebenaran. Dengan demikian, orang lain akan memercayai kebohongan kita. (hlm. 47)
  2. Sesuatu itu bisa dicuri kalau ada pemiliknya. (hlm. 72)
  3. Tipuan yang paling cerdas adalah tipuan yang terlihat jelas di depan mata, tetapi kita tidak melihatnya. (hlm. 92)
  4. Apa pun yang terjadi, kita harus menunjukkan bahwa kita tidak bersalah, bahkan setelah kita ditangkap sekalipun. (hlm. 112)
  5. Teruslah tersenyum seakan-akan dunia memihak kepada kita. Jika kitapercaya kita tidak bersalah, setidaknya kita sudah satu langkah menang. (hlm. 112)
  6. Kita boleh menipu seisi dunia, tapi kita nggak boleh menipu orang yang kita sayangi karena merekalah satu-satunya pegangan kita saat dunia kita penuh dengan ilusi. (hlm. 178)
  7. Sebagian besar manusia mengambil keputusan berdasarkan emosi, bukan logika. Karena itu, orang gampang ditipu. Karena itu yang dimainkan oleh semua penipu, emosi. (hlm. 219)
  8. Di dunia ini hanya dua jenis orang yang tidak dapat kamu tipu. Yang pertama adalah orang yang hatinya lurus. Mereka nggak bisa kamu tipu karena mereka tidak menginginkan apa pun dari dunia ini, tapi orang yang seperti itu sangatlah langka. Dan yang kedua, sama seperti kita. Seorang penipu. (hlm. 225)

Banyak sekali kehidupan di sekolah yang dijabarkan dalam buku ini mengingatkan murid-murid unyu di sekolah. Misalnya tentang masalah terlambat di halaman 29-32. Yeah..terlambat adalah masalah sehari-hari di sekolah. Daripada menghukum murid yang terlambat dengan kekerasan, memang lebih baik jika yang terlambat disuruh membersihkan sekolah seperti Badai di buku ini yang harus membersihkan toilet. Sama kayak murid-murid unyu di sekolah, mereka yang terlambat pasti disuruh nyapu halaman sekolah, masjid dan juga ruang BK. Makin banyak yang telat, makin bersih donk sekolahnya😀

Suka ama tokoh Nadine, guru BK. Meski galak dan sangat disiplin tapi tidak dibenci murid-muridnya. Ditambah lagi dia tidak menjaga jarak dengan muridnya, bukan seperti layaknya guru yang melulu harus dihormati, tapi justru sebagai teman. Bisa di cek di halaman 49-55 bagaimana dia menemani Badai saat menjalankan hukuman membersihkan toilet.

Perkara nyontek menyontek juga menjadi penyakit yang susah diberantas. Apalagi jaman sekarang, handphone adalah andalan mereka jika ujian. Bahkan sampai ‘pintarnya’ mereka, beberapa punya dua handphone. Jadi jika dirazia, masih ada satu handphone lagi, byuh… Tapi selama saya mengawas saat ujian, belum pernah menemukan tukang contek ‘seniat’ Lunetta di halaman 92-93. Saya aja malah ampe nggak kepikiran x)

Oya, dendamnya Lunetta pada Nadine jadi seperti diingatkan jika kita menegur seseorang jangan sampai membuatnya sakit hati, bisa jadi orang tersebut akan melemparkan bom dan memporak-porandakan kita dengan masa lalu yang sebenarnya kita simpan rapat-rapat.

Kasus Bella – Dylan merupakan representasi remaja jaman sekarang. Udah GR tingkat dewa kalo ada yang ngajak kenalan, apalagi kalo cakep. Etapi padahal kenalnya cuma via facebook doank. Padahal belum tentu kelakuan aslinya.

Suka ama deskripsi sekolah Lunetta; South Jakarta High School yang bangunannya mirip kuil Yunani daripada sekolah. Setiap sarana di sekolah tersebut punya nama-nama dewa tersendiri. Tapi sayangnya dari sekian banyak tempat yang dijabarkan di novel, nggak ada satupun yang bersetting di perpus sekolah :p

Ada beberapa hal yang agak mengganjal, lumayan banyak typo. Trus, pas di ending kemana atuh si Bella, dia kan teman baik Lunetta…. >.<

Suka…sukaaaa banget ama buku pertama dari Project Seven Deadly Sins dari GagasMedia yang saya baca ini. Sebenarnya banyak banget yang pengen ditulis, cuma khawatir kalo nanti ujung-ujungnya  malah spoiler. Sama halnya dengan Unfriend You, buku pertama Mbak Dee yang saya baca, buku ini juga keren menampilkan sisi kelam remaja. Keren!😉

Keterangan Buku:

Judul                     : Beautiful Liar

Penulis                 : Dyah Rinni

Editor                    : Jia Effendie

Proofreader       : Mita M. Supardi

Penata letak       : Gita Ramayudha

Desain cover      : Levina Lesman

Penerbit              : GagasMedia

Terbit                    : 2014

Tebal                     : 294 hlm.

ISBN                      : 978-780-739-8

Dapatkan buku ini di toko buku online Bukupedia

http://www.bukupedia.com/id/book/id-32-87111/novel-fiksi-cerpen/beautiful-liar.html

13 thoughts on “REVIEW Beautiful Liar

  1. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  2. Pas baca bukunya aku jadi keinget lagunya Shakira :v
    Kayaknya seru deh ceritanya, aku penasaran sama kisahnya Lunatta dan Arvad, penasaran akhirnya mereka bersama atau enggak. Terus ada tokoh namany Badai, lucu

  3. Aku kira buku terjemahan😀 tapi keren bisa punya ide cerita kayak gini. Masih SMA udah jadi penipu, semalem baru nonton “catch me if you can” jadi keinget sama akting Leonardo Di Caprio yang sama-sama udah jadi penipu semenjak orangtua mereka cerai, padahal usia “frank” baru mau menginjak 17 dan si ibu yang nikah lagi dengan seorang pengacara. Apa mungkin terinspirasi dari cerita itu juga ya???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s