REVIEW Best Rival

 Best Rival

Tidak perlu kamu menjadi sama dengan orang lain. Cukup jadi dirimu sendiri. (hlm. 154)

Hidup itu perjuangan. Pepatah itulah yang setidaknya mendasari Kuncoro untuk terus berjuang memperbaiki hidupnya. Menjadikan dirinya lebih baik lagi, dan lagi. Tujuan hidupnya jelas, dia ingin mengubah nasibnya dan nasib keluarganya karena dia tidak ingin orang menganggap rendah keluarganya.

Terlahir di keluarga abdi dalem keraton bukanlah sebuah pilihan, tapi itu adalah keharusan yang diberikan Tuhan kepadanya. Namun, tidak seharusnya  ayahnya memaksa dirinya untuk menjadi abdi dalem juga. Kalau semua menjadi abdi dalem, lantas siapa yang akan mengubah hidup keluarganya.

Inilah alasan kenapa Kuncoro berusaha keras menjadi chef terkenal dan memiliki restoran yang sukses. Dia ingin keluarganya memiliki hidup yang lebih baik, tidak serbakekurangan seperti saat dia kecil dulu. Dan setidaknya saat ini dia bisa membuktikan pada kedua orangtuanya. Kuncoro tidak pernah setengah-setengah dalam bekerja, menjadi chef di restoran Omah Jawa mengajarinya menjadi orang yang sukses. Dulu saat kali pertama restoran ini dibuka, dia ikut turun tangan, memasak sendiri untuk tamu-tamunya.

Sayangnya kesuksesan yang baru sebentar ini tiba-tiba terhalang oleh datangnya pesaing usaha restoran yang tidak lain adalah restoran Estu, sahabatnya sejak kecil. Persaingan akan dimulai, Kuncoro tidak lagi dapat duduk diam menyaksikan satu demi satu pelanggannya pergi.

Segala cara akan dia lakukan untuk memperbaiki pemasuka restoran, seperti itu janjinya pada Gendis dan meminta kekasihnya itu untuk mendekati Estu. Walaupun baru pertama kali, Kuncoro yakin, Gendis akan membawa rahasia masakan Estu kepadanya secepatnya.

“Aku tidak pernah kalah. Jangan pikir karena aku hanya seorang anak dari abdi dalem, lantas aku tidak bisa membuat tengkleng dengan rasa yang sama!” (hlm. 66)

Semenjak keputusan besarnya untuk mengundurkan diri dari Hotel Griyadi Laksana di Jakarta, Estu disibukkan dengan persiapan launching buku barunya. Menjadi penulis bukanlah cita-citanya, tapi beberapa alumni LCB yang telah sukses dan menciptakan sebuah buku pengalaman memasakanya, membuatnya menginspirasi.

Keputusan Estu untuk kembali ke Solo didukung oleh keluarganya. Sang ayah memang lebih senang anaknya tinggal di rumah dan mengurus bisnis hotelnya. Kalau Estu bisa membesarkan nama restoran di hotel lain, kenapa dia tidak mau membesarkan nama hotel yang dimiliki ayahnya sendiri. Karena alasan itulah Estu diberi kebebasan untuk merombak restoran hotel milik ayahnya sesuai dengan keinginannya.

Estu menyetujui keinginan ayahnya. Setelah berpikir cukup keras, dia memutuskan merombak restoran hotel itu menjadi lebih istimewa. Hotel yang terletak di pusat Kota Solo itu cukup terkenal, sehingga dia hanya ingin me-rebrand restorannya saja.

Tidak memerlukan waktu yang lama untuk membuat menu masakan di restorannya. Dia hanya mengambil beberapa menu masakan yang ditulis dibukunya, dan menambahkan beberapa variasi untuk snack dan minumannya. Selanjutnya tinggal mengenalkan kepada masyarakat tentang konsep baru di restorannya.

Beberapa kalimat favorit:

  1. Memasaklah dari hati, itu kunci utama masakan yang enak. (hlm. 8)
  2. Membagakan orang tua itu mudah. (hlm. 154)
  3. Tidak perlu sama untuk menjadi hebat, tidak perlu mengikuti orang untuk jadi pemenang. (hlm. 227)

Beberapa selipan kalimat sindiran halus dalam novel ini:

  1. Tambah tua ya harus makin lebih baik tho? (hlm. 7)
  2. Begitukah rasanya menjadi penggemar, selalu ingin dekat dengan idolanya? (hlm. 75)
  3. Tidak mungkin sahabat sejati menusuk dari belakang dan tertawa di atas penderitaan orang lain. (hlm. 95)
  4. Jangan terlalu membanggakan diri sendiri. (hlm. 124)

Seringkali kita sibuk mengurusi hidup orang lain dan cenderung mengeluarkan sifat iri dengki atas pencapaian yang dilakukan orang lain. Dan kita selalu mencari celah apa saja kelemahan orang tersebut. Mungkin itu deskripsi Kuncoro terhadap Estu. Memang serba salah jika kita berhadapan dengan manusia macam tipikal Kuncoro. Bawaannya selalu nyinyir melulu. Kalo orang lain salah, langsung deh digembor-gemborin.

Di dunia nyata pun kita akan menemukan orang-orang seperti Kuncoro yang tidak pernah mengakui keberhasilan orang lain dan tidak pernah mau kalah dengan orang lain serta melakukan berbagai cara untuk menghalangi kesuksesan orang lain.

Nilai lebih dari buku kedua dari project Seven Deadly Sins ini adalah selain sifat-sifat jelak manusia keluar semua lewat tokoh Kuncoro, kental sekali nuansa lokal terutama tentang abdi dalem, keraton dan segala tetek bengek yang beraroma budaya Jawa yang tidak semua orang bisa mengetahui pengetahuan ini, pasti penulisnya butuh riset yang lumayan panjang untuk hal ini.

Oya, penggambaran kulinernya juga dapet banget. Apalagi pas deskripsi tengkleng di halaman 26 ini; “kuah kuning pekat bercampur minyak begitu menggoda, rempah-rempahnya terlihat mengapung di atasnya. Seikat batang serailah yang membuat aroma kuah tengkleng itu lebih nikmat. Saat Bu Edi mulai mengaduk, terlihat beberapa iga dan tulang kambing dengan sedikit daging yang menempel berwarna kuning, menggoda selera.”

Seperti buku pertama di serial ini, masih menemukan banyak typo. Dari semua tokoh yang ada justru lebih suka tokoh Bapaknya Kuncoro. Tipikal abdi dalem banget; sederhana dan menerima hidup apa adanya.

Uwowww…endingnnya bener-bener nggak ketebak dan langsung bikin napas berhenti sesaat!! :3

Keterangan Buku:

Judul                     : Best Rival

Penulis                  : Naima Knisa

Editor                    : Mita M. Supardi

Penata letak       : Gita Ramayudha

Desain cover      : Jeffri Fernando

Penerbit               : GagasMedia

Terbit                    : 2014

Tebal                     : 244 hlm.

ISBN                      : 978-979-780-744-4

Dapatkan buku ini di toko buku online Bukupedia

http://www.bukupedia.com/id/book/id-32-87112/novel-fiksi-cerpen/best-rival.html

10 thoughts on “REVIEW Best Rival

  1. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  2. Aku baca review kakak di awal kyanya ini cerita kuno bgt deh.. tapi ternyata di akhir gregetan juga.
    Apalagi bahasan kulinernya :3

  3. Aku suka buku yg bercerita tentang kehidupan kita sehari2, contohnya sifat si Kuncoro ini, banyak emang kita temui di kehidupab nyata. Mungkin kalau aku baca bukunya, bakalan benci banget sama si Kuncoro ini.

  4. Wajar sih kalo seseorang ingin merubah nasibnya, tapi caranya itu loh yang sering salah. Ga usah jauh-jauh sama orang lain ka, sama orang deket aja sering kejadian. Karena iri, orang tersebut sering melebih-lebihkan keadaan dari kenyataan yang sebenernya, ingin dipandang berbeda dan lebih unggul dari yang lainnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s