REVIEW Sparkle

 sparkle

Tak perlu sedih. Selalu ada orang yang benci kita, untuk hal yang ada maupun tak ada pada diri kita. (hlm. 114)

Sudah hampir tiga bulan sejak Rosalie dan Divya resmi jadi personel Sparkle, idol group yang hingga kini kerap dituduh menjiplak kelompok penampil lain yang sudah medunia. Selama itu pula Divya sering senewen dan kadang melampiaskannya pada Rosalie.

Rosalie maklum. Hampir tiap hari mereka berlatih, lalu mengepas baju pentas, lalu berlatih lebih keras lagi. Belum lagi pontang-panting menyesuaikan jadwal sekolah. Pulang malam, bangun pagi, bersekolah, latihan, lalu pulang malam lagi. Begitu terus berulang-ulang, seperti hamster yang berlari tanpa henti di dalam roda. Jadi, senewen juga menjadi sahabatnya juga.

Segala kerepotan inilah yang meyakinkan Rosalie kalau dia bukan sedang bermimpi. Cita-citanya sejak kecil, menghibur orang lewat nyanyian, telah terwujud. Yang juga menakjubkan, Divya, temannya sejak SMP, sama-sama terpilih dari ratusan gadis yang mengikuti audisi Sparkle.

“Yang Papa dan Mama tanyakan, kamu serius jadi penampil? Waktu belajarmu bakal tersita. Kamu juga bakal sangat capek, kecuali grup ini gagal dan susah dapat job.” (hlm. 12)

Tidak hanya Rosalie yang resah, Divya lebih resah. Tiga bulan pertama mereka bergabung di Sparkle, Divya berupaya mati-matian mengumpulkan fans sebanyak mungkin. Fans suka personil berciri khas. Tarian Divya penuh tenaga, tetapi masih kurang istimewa dibanding, misalnya, Niken atau bahkan Kristal.

Dia dan Rosalie bahkan belum punya fanbase, seperti fans Chanti yang menjuluki diri Chantastic, atau Fiolovers untuk Fiona. Seribet itukah membentuk wadah fans, sampai tak ada yang sudi menyisihkan waktu untuk Divya dan Rosalie? Atau fans malah lupa-lupa ingat nama mereka?

“Kamu juga harus sukses. Kamu dan teman-temanmu. Ayah dan Bunda enggak mau punya anak yang cuma numpang lewat di bidang yang disukainya. Enggak meninggalkan jejak, apalagi mengukir nama.” (hlm. 252)

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Meraih mimpi berarti bekerja keras, hari demi hari, terutama bila jalan terbuka. (hlm. 5)
  2. Punya teman tempat berbagi sangatlah meringankan beban. (hlm. 10)
  3. Kita berdoa yang baik-baik saja. (hlm. 67)
  4. Orang yang mencela fisik orang lain itu pikirannya dangkal, tak pantas digubris. (hlm. 85)
  5. Semuanya bergantung nasib. (hlm. 105)
  6. Pupuk terus energi positif yang diterima, pakai itu buat membuang energi negatif. (hlm. 115)
  7. Akui kesalahan kamu. Kabur itu tindakan pengecut dan hanya menambah masalah. (hlm. 126)
  8. Buat apa naksir cewek yang jelas-jelas dilarang punya pacar? (hlm. 210)
  9. Belajar bersyukur dari hal-hal yang kecil. Perkara nanti bakal dikasih hal besar buat disyukuri atau enggak, gimana nanti. (hlm. 249)
  10. Tiap orang punya peran masing-masing. (hlm. 252)

Banyak juga selipan sindiran halus dalam novel ini:

  1. Asal kamu patuh, pasti baik-baik saja. (hlm. 29)
  2. Ngomongin orang ternyata orangnya ada di depan kita pasti malu banget. (hlm. 44)
  3. Karier kita bisa terjun bebas kalo emosi diumbar tiap kali kena sentil. (hlm. 44)
  4. Apakah sehat memendam gelisah tanpa diungkapkan sama sekali? (hlm. 49)
  5. Yang menentukan kepopuleran artis kan masyarakat. Kalau mereka enggak suka, kalian mau apa? (hlm. 58)
  6. Kalau enggak suka enggak perlu mention. (hlm. 84)
  7. Ada kok orang ajaib gitu. Kalau suka sama orang lain, sikapnya bukan ramah, malah jutek. (hlm. 113)
  8. Ngomong ke cewek mestinya muji dia, bukan cewek lain. (hlm. 157)
  9. Enggak semua orang mau punya pacar ngetop. (hlm. 169)
  10. Orang baik lebih susah dicari daripada orang ganteng. (hlm. 171)
  11. Apa kalau orang pacaran harus sebut aku-kamu, enggak boleh lo-gue? (hlm. 263)

Kehidupan seleb nggak seindah yang kita kira:

  1. Repotnya jadi figur publik. Tindak-tanduk orang lain pun jadi tanggung jawab bersama. (hlm. 17)
  2. Mengecek social media seperlunya saja. Satu saja komentar negatif, apalagi banyak, bisa bikin semangat jatuh. Waktu dan energi jangan dihamburkan untuk yang kurang penting. (hlm. 21)
  3. Wajib mengikuti diet ketat demi menjaga penampilan. Gelambir lemak, taburan jerawat, rambut kusam, semuanya momok bagi mereka. (hlm. 24)
  4. Jangankan pihak yang membenci, penggemar pun ada yang suka berbuat ekstrem. (hlm. 62)
  5. Sudah risiko figur publik untuk selalu menjaga perasaan semua pihak, setidaknya di depan umum. (hlm. 73)
  6. Personel dilarang keras men-tweet hal negatif. Tugas mereka adalah menceriakan penggemar. (hlm. 83)

Uhuk, penulisnya selalu menyelipkan adegan perpustakaan di setiap novel yang ditulisnya. Begitu juga dengan novel ini. Salah satunya ada di halaman 87.

Sesiap apa pun lo sama komentar negatif, pasti ada yang jauh melampaui sangkaan terburuk lo. Baca yang positif aja, terus pacu diri kita supaya lebih baik. (hlm. 27)

Tidak mudah memang menjadi publik figur. Di luar sana, bakal ada yang membenci kita. Tapi tak sedikit juga yang menjadi stalker kita. Bahkan tahu apa pun yang kita lakukan. Sesungguhnya stalker terkadang lebih menyeramkan ketimbang stalker :3

Ngomong-ngomong jadi inget stalker. Beberapa bulan lalu saya punya stalker yang nekad juga. Jadi awalnya salah juga sih, ada orang terdekat yang memberikan nomer telepon saya kepada orang tersebut tanpa pemberitahuan saya terlebih dahulu. Dan mulailah si stalker ini membajiri sms dan juga telepon. Sms pernah saya balas beberapa kali dalam rangka etika kesopanan dalam berkomunikasi, tapi kalau nelpon nggak pernah sekalipun saya angkat. Dan ternyata dia pernah beberapa kali ke sekolah saat jam lewat jam pulang sekolah. Untunglah selalu saat saya sudah pulang, dan yang kerap bertemu dia justru murid-murid yang lagi pada eskul. Gegara itulah saya jadi sempat khawatir jika pulang sore. Pokoknya selagi masih banyak bapak-bapak guru di ruang kantor sebelah perpustakaan, saya merasa aman. Mereka biasanya sampai sore, tapi jika mereka sudah pulang, saya pun bakal ikutan pulang juga meski masih banyak murid di sekolah dalam rangka kegiatan macam-macam eskul. Saya kira setelah sebulan saya nggak pernah lagi membalas sms dan telpon darinya, dia bakal mundur. OMG, ternyata suatu malam dia ke rumah! Maaaaakkk…. >.< #MendadakCurcol

Begitu pula dengan Rosalie, meski dia bukan anggota Sparkle yang paling populer, ada yang selalu membuatnya resah. Di twitter, ada satu akun yang sangat antusias terhadap apa pun yang dilakukannya. Bukannya bahagia, Rosalie malah jadi gerah dengan segala perhatian yang diberikan si stalker ini. Tak hanya itu, suatu hari dia mendapatkan surat tanpa nama yang berisi tampak depan rumahnya. Siapa yang nggak khawatir?!? X)

Siapa pun kamu, diluaran sana pasti punya stalker yang bakal ingin tahu segala tingkahmu. Jadi, berhati-hatilah dalam mempublikasikan sesuatu, apalagi yang menyangkut hal-hal yang pribadi. Daripada diumbar, mending juga disimpan dalam hati atau curhatlah dengan orang tedekat bukan dengan social media, karena social media bukan Tuhan yang menjawan keresahanmu.

Keterangan Buku:

Judul                                     : Sparkle

Penulis                                 : Eve Shi

Penyunting                         : Jason Abdul

Penyelaras aksara            : Lia Kagura, Novia Fajriana

Penata aksara                    : Nurul MJ

Perancang sampul           : Fahmi Ilmansyah

Penerbit                              : Noura Books

Terbit                                    : November 2014

Tebal                                     : 276 hlm.

ISBN                                      : 978-602-1306-53-6

9 thoughts on “REVIEW Sparkle

  1. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  2. Aku setuju sama pesan yg disampaikan penulis melalui buku ini. Kita hidup emang pasti ada yg benci kita. Berbuat baik dibilang sok baik, sok suci, berbuat jahat malah dikata2in. Jadi ngelakuin aja apa yg hati mau, nggak usah mikirin pendapat org. Karena mau berbuat apapun kita, akan selalu ada org yg ngejudge kita akan setiap hal yg kita lakukan.

  3. Tak perlu sedih. Selalu ada orang yang benci kita, untuk hal yang ada maupun tak ada pada diri kita. (hlm. 114)

    Bener banget, salah atau pun bener kita selalu jelek dimata orang-orang yang ga suka sama kita.

    Artis cuma keliatan bahagia di depan kamera, dibelakangnya sih sama kayak yang lain, punya seribu masalah yang minta diselesaikan. Belum lagi ditambah haters yang bertebaran dimana-mana.

    #eh ka Luckty, itu stalker datang ke rumah mau ngelamar kali🙂

  4. “Tak perlu sedih. Selalu ada orang yang benci kita, untuk hal yang ada maupun tak ada pada diri kita.” Setuju!

    Baidewey itu stalkernya Mbak Luckty serem juga yahh…

  5. Pingback: [BLOGTOUR] REVIEW The Bond | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s