REVIEW Fangirl

 fangirl

Ketika kau menyadari ada seorang cowok yang menatapmu dengan pandangan berbeda –bahwa kau memenuhi lebih banyak tempat di bidang pandangnya. Saat itulah kau tahu dia tidak bisa melihat hal lain selain dirimu lagi. (hlm. 41)

Apa rasanya memiliki saudara kembar? Apakah setiap orang yang memandang sepasang kembar selalu saja dibandingkan satu sama lain? Itulah yang dialami baik Cath maupun Wren. Cath yang cenderung serius, hati-hati, curiga, khawatir, kaku dan penyendiri. Sedangkan Wren cenderung lebih terbuka, berani mencoba sesuatu yang baru dan cenderung frontal dalam melakukan apa pun. Cath minder memiliki saudara kembara seperti Wren yang lebih cantik dan seksi serta bergonta-ganti pacar. Sedangkan Wren terkadang sebal jika ayahnya selalu membadingkannya dengan Cath yang hidupnya lurus dan memiliki IPK 4, sempurna bukan?

Karena itulah Wren memutuskan agar mereka berdua memulai hidup masing-masing saat menginjak bangku kuliah. Selain hobi, minat dan jurusan yang mereka pilih berbeda, Wren ini memastikan bahwa mereka bisa hidup masing-masing tanpa saling ketergantungan dan tanpa selalu dibandingkan. Bagi Cath, ini sangat berat. Terlebih lagi di lingkungan baru, kelas baru, teman kuliah baru bahkan teman sekamar baru. Cath yang kaku, semakin menutup diri. Bahkan di minggu pertamanya di asrama dia lebih rela memakan batangan protein dan selai kacang yang dia simpan daripada mencoba mencari di mana letak ruang makan. Yup, ia punya empat kotak batangan protein dan tiga stoples besar selai kacang. #PukPukCath

“Kumohon jangan membuatku melakukan ini sendirian.”

“Kau tidak pernah sendirian. Itulah tujuan memiliki saudari kembar.” (hlm. 11)

Cath yang penyendiri meski memiliki teman sekamar, selalu asyik dengan dunianya sendiri. Dia merupakan penggemar berat Simon Snow. Bahkan dia sampai membuat fanfiksi di laman website. Bisa dikatakan bahwa Cath ini semacam fangirl. Jaman sekarang, banyak sekali kita lihat seorang fans yang terobsesi dengan artis idolanya; semua merchandise yang berhubungan dengan si artis pasti bakal dikoleksi, mengikuti semua sosmednya bahkan mengikuti semua aktivitasnya. Tak jarang juga fangirl memiliki sikap yang berlebih dan cenderung posesif, seperti cemburu dan marah jika artis idolanya memiliki kekasih. Dulu jaman-jaman ababil, saya juga pernah mengalaminya, tapi ya nggak ampe parah gitu ya? Toh, lima tahun kemudian rasa nge-fans itu bakal memudar. Yang selalu saya terapkan ke murid-murid unyu cewek di sekolah; ngefans boleh tapi jangan ngoyo😀

“Siapa cowok pirang imut yang bersamamu Jumat malam? Apa itu pustakawan seksimu?” (hlm. 135)

Ehemmm…ada beberapa adegan di perpustakaan. Meski alasannya untuk tugas selama belajar, bisa dikatakan Cath dan Nick teman kuliahnya sekaligus pustakawan di perpustakaan itu kencan di perpustakaan. Uwuww…gegara baca buku ini jadi baru tahu kalo ada Love Library (Info lengkap: DISINI)

“Saya peduli terhadap Simon Snow. Dan saya tahu dia bukan milik saya, tapi itu tidak jadi soal bagi saya. Saya lebih suka menuangkan diri saya ke dunia yang saya sukai dan saya pahami daripada membuat sesuatu dari nol.” (hlm. 274)

Cath menyalurkan jiwa fangirl-nya lewat membuat fanfiksi tentang idolanya. Siapa sangka, hal itu akan berimbas pada kuliahnya. Salah satu dosennya, Profesor Piper mengatakan jika fanfiksi merupakan bagian dari palgiarisme karena mengandung cerita yang tidak original. Dulu, pas kuliah di saat booming facebook, saya kerap memposting cerpen yang merupakan side-story dari cerpen orang lain. Idenya memang keluar jika sudah membaca karya orang tersebut. Tidak cuma saya, bahkan ada belasan orang yang juga jadi rajin menulis karena membuat side-story karya orang tersebut. Kami jadi akrab sampai sekarang, bahkan kini beberapa diantaranya sudah ada yang menelurkan buku. Nah, suatu hari ada seorang penulis yang berkomentar di notes facebook yang saya posting; jika saya selalu menulis side-story semacam itu, saya tidak akan berkembang. PLAAKK!! Iya juga ya. Nah, baru beberapa tahun kemudian di saat booming K-POP, pun booming fanfiksi. Side-story ini ama fanfiksi nggak jauh beda ya. Sekarang saya hampir tidak pernah menulis cerpen lagi. Begitupula dengan Cath ini, dia sangat terpukul ketika Profesor Piper tidak menyukainya fanfiksi. Oya, omong-omong soal fanfiksi yang terkenal adalah 50 Fifty Shades of Grey yang ditulis oleh E. L. James. Buku ini ternyata mulanya merupakan fanfiksi dari serial Twilight. Tak disangka, penjualan novelnya melebihi penjualan serial Harry Potter. Dahsyat bukan?!?😀

“Apa menurutmu aku menyerap semua dampaknya? Bahwa ketika Mom pergi, hanya aku yang merasakannya? Dia meninggalkanmu juga.” (hlm. 249)

Selain itu, Cath juga memiliki masalah keluarga. Semenjak ayah dan ibunya berpisah, dia mejadi lebih tertutup. Sikapnya ini seperti yang dilakukan ayahnya, stress menghadapi masa-masa ini. Ibu meninggalkan mereka, saat Cath dan Wren masih kecil. Karena itu, Wren sangat membencinya ibunya. Ada adegan sedih di halaman 153 dan 249.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Ini perguruan tinggi. Tujuan utama masuk perguruan tinggi adalah bertemu orang-orang baru. (hlm. 10)
  2. Semua akan baik-baik saja. (hlm. 11)
  3. Kau harus mencoba sesuatu sebelum bisa bilang kalau kau tidak menyukainya. (hlm. 37)
  4. Tapi tidak ada sesuatu yang lebih hebat daripada menciptakan sesuatu dari nol. (hlm. 274)
  5. Ada jenis-jenis bakat yang berbeda. (hlm. 330)
  6. Terkadang menulis itu seperti berlari menuruni bukit, jari-jarimu tersentak di belakangmu di atas keyboard sperti yang kakimu lakukan ketika kaki-kai itu tidak bisa mengimbangi gravitasi. (hlm. 445)

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Kalau kau menulis SMS dalam keadaan murung dan sedih, SMS itu akan tetap ada di ponselmu, mengingatkanmu akan betapa membosankannya dirimu. (hlm. 15)
  2. Repot-repot bersikap baik pada orang-orang? (hlm. 75)
  3. Hanya karena orang-orang bakal minum bukan berarti mereka bakal mabuk. (hlm. 154)
  4. Bagaimana kau bisa tidak menyukai internet? (hlm. 155)
  5. Hanya saja, bukankah menyerah terkadang diperbolehkan? Bukankah tidak apa-apa untuk bilang; ini sangat menyakitkan? (hlm. 260)
  6. Aku tidak rugi apa-apa. Tersenyum pada orang asing tidak menghabiskan seluruh persediaanku. (hlm. 312)
  7. Kau tidak bisa begitu saja meninggalkan seseorang sendirian di rumah sakit. (hlm. 356)
  8. Buku tidak punya iklan. Buku juga tidak punya jeda untuk istirahat. (hlm. 433)

Keterangan Buku

Judul                                     : Fangirl

Penulis                                 : Rainbow Rowell

Penerjemah                       : Wisnu Wardhana

Penyunting                         : NyiBlo

Proofreader                       : Dini Novita Sari

Design cover                      : Bambang ‘Bambi’ Gunawan

Ilustrasi isi                           : @teguhra

Penerbit                              : Spring

Terbit                                    : November 2014

Tebal                                     : 456 hlm.

ISBN                                      : 978-602-71505-0-8

16 thoughts on “REVIEW Fangirl

  1. Terpanggil membaca review ini karena judul-nya ‘Fangirl’, aku banget😀 Dan seketika pengen nyium mbak luckty setelah baca, ‘ngefans boleh tapi jangan ngoyo’ :* :* :* Saya fangirl, saya suka beli merchandise dan sebagai macamnya, tapi Alhamdulillah saya nggak posesif sama idolanya, malah berharap dia jangan jomblo kelamaan hihihi ^_^ Semoga ini bukang ngoyo-ngoyo ya mbak?? *ehh

  2. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  3. Lalu ending Cath sama Wrennya akan seperti apa yaa.. apa Wren juga punya masalah susah gaul juga atau dia malah seneng tanpa Cath? Haa T.T

    Soal fanfict wah kenapa ditolak ya padahal aku rasa fanfict tuh bagus banyak curahan hati terselubung penuh makna sesungguhnya tentang cinta searah *jiahh

  4. Aku bener mau baca iniiiii, ngeliat review org2 tentang buku ini ngebuat aku penasaran, pengen punya bukunya. Apalagi Rainbow Rowell lagi naik daun. Cuma terakhirbliat di gramed, nggak nemu bukunya.

  5. Baru baca buku ini sekitar 2 bulan yang lalu. Sebelumnya penasaran banget >.< Gak kerasa juga sih baca buku yang halamannya lumayan ini. Walaupun hanya menceritakan kehidupan seorang anak kuliahan, seperti in real life biasa, tapi menurutku konflik dan alurnya kreatif, unik. Penggambaran tokohnya juga bagus. By the way, itu kayanya yang membenci ibunya Cath Mbak, bukan Wren. Hehehe.

  6. Sebenernya bukan hanya saudara kembar saja yang selalu dibanding-bandingkan atau merasa seperti itu, tapi kakak-beradik saja sering seperti itu.

    Fangirl, kadang yang keinget itu adik dan temen-temen yang bisa dibilang gila banget nge fans-nya. Kalo aku sih biasa aja, ga sampe koleksi-koleksian atau menjerit histeris kalo ada sesuatu yang berhubungan si artis. Suka ya suka, suka suara atau aktingnya hanya sekedar itu, lebih sedikit aku anggap itu hanya kekaguman semata🙂🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s