REVIEW The Robe of Skulls

 the robe of skulls

Orang bijak menyeimbangkan ember hanya ketika orang yang haus berjalan. (hlm. 28)

GRACIE dikurung oleh ayah tirinya di ruang bawah tanah yang dingin, gelap dan penuh laba-laba hanya karena dia terlalu ceria. Ruang bawah tanah itu memiliki dinding yang sangat tebal. Namun, saking kerasnya jeritan itu, bahkan di dalam ruangan bawah tanah itu pun Gracie masih dapat mendengar teriakan samar, dan bertanya-tanya suara apakah itu –tetapi dia tidak bisa mendengar suara apa-apa kecuali gelenyar. Saudara tirinya, Foyce, mendengar jeritan itu dan ketika Gracie akhirnya diizinkan ke luar dari ruang bawah tanah, Foyce menamparnya berkali-kali karena kepalanya terasa pengang seperti penuh dengan tawon penyengat, dan dia tidak menyukainya.

Mange Undershaff selalu mengurungnya di ruang bawah setiap melihat anak tirinya tersenyum, dan dia mengancam jika mendengar Gracie tertawa, dia akan mengurungnya di bawah sana selama seminggu. Gracie tidak terlalu keberatan jika dikurung pada siang hari; begitu matanya terbiasa dengan sinar temaram dari kisi-kisi, dia bisa melihat sekelilingnya. Keadaannya sangat berbeda dengan malam hari. Ruangan itu gelap gulita dan menakutkan. Satu-satunya hal yang tak bisa dilakukannya adalah menangis kencang dan meratap sengsara. Dia tidak mau Mange senang karena menganggapnya telah berhasil membuatnya menangis. Namun, semakin lama semakin sulit untuk tetap berani. Dia harus menyembunyikan wajahnya di balik sapu tangan untuk menutupi sedu sedan. Hingga datanglah seekor kelelawar yang menghampirinya dan kelak akan mengubah jalan hidupnya.

Bukan, kelelawar tersebut bukanlah pangeran yang dikutuk dan akan menciumnya. Namun, kelak kelelawar ini akan memberikan sumbangsih dalam kehidupan Gracie selanjutnya.

Kisah Gracie ini sekilas mirip kisah Cinderella, hidup sengsara. Bedanya, jika Cinderella disiksa ibu tiri dan kedua anaknya, Gracie ini disiksa ayah tiri dan anaknya; Foyce. Saudara tirinya itu seperti dua saudara tiri Cinderella dalam satu tubuh. Hanya saja, dia tidak buruk rupa. Dia luar biasa jelita, tetapi hatinya sekeras penggorengan. Nasibnya pun tak jauh beda. Banyakhal-hal keji yang dilakukan ayah tiri dan anaknya itu terhadap Gracie. Misalnya di halaman 15 ketika Gracie yang amat sangat lapar menemukan semangkuk semur ajaib, justru direbut oleh mereka dan Gracie tidak disisakan sedikit pun. Tapi, selalu ada imbasnya bagi yang jahat.

Paling suka ama tokoh Pangeran Marcus. Oya, dia punya saudara kembar, namanya Pangeran Arioso. Paling sebel ya pasti ama tokoh Foyce. Cantik sih parasnya, tapi hatinya sangat berkebalikan. Dia sering memanfaatkan kecantikannya itu untukmemperdaya orang lain. Misalnya di halaman 54 ketika sepasang suami istri pemilik penginapan yang mempersilahkan dirinya menginap di kamar paling baik dan mendapatkan malam makan gratis karena terpesona oleh kecantikannya bak seorang putri yang menyamar. Kemudian juga di halaman 69 ketika memperdaya pemilik penginapan dengan mengatakan bahwa dia tidak memiliki uang untuk membayar sewa kamarnya dan mereka pun (lagi-lagi) percaya karena melihat kecantikannya yang selalu ditebar. Arggghh…gemes..pengen kepruk Foyce ini!! x) #PLAKK

Udah lama nggak baca buku-buku unyu terjemahan dari Penerbit Atria. Siapa sangka, di awal Maret mendapatkan dua buku unyu sekaligus. Buku ini ditulis oleh Vivian French yang merupakan writer-in-residence di perpustakaan, sekolah-sekolah, dan berbagai festival termasuk Festival Buku Internasional Edinburgh. Tentang buku ini, penulisnya berharap pembaca, terutama anak-anak menyukai cerita dalam buku ini sebesar penulisnya menikmati saat proses menulisnya.

Keterangan Buku:

Judul                                     : The Robe of Skulls

Penulis                                 : Vivian French

Ilustrasi                                                : Ross Collins

Penerjemah                       : Jia Effendie

Penyunting                         : Nadia Luwis

Penyelaras aksara            : M. Sidik Nugraha

Pewajah isi                         : Aniza Pujiati

Penerbit                              : Atria

Terbit                                    : Maret 2014

Tebal                                     : 203 hlm.

ISBN                                      : 978-602-14402-2-3

9 thoughts on “REVIEW The Robe of Skulls

  1. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  2. Awalnya kufikir ini cerita psikopat tapi katanya mirip Cinderella berarti manis manis juga dong alurnya :3

  3. Yaampun kasian si Gracie. Aku kira cerita2 horror gitu. Aku sih lebih suka kalau ini dijadiin cerita horror aja, pasti bikin tegang.

  4. Aku merasa tertarik sama cerita ini, gimana ya kira-kira endingnya? Apa bakal ada rebutan pangeran juga?

    Covernya itu ka, aku kira karena ada gambar kepala tengkorak 1, ini merupakan cerita horor. Dan wanita bergaun disampingnya itu, aku merasa gaunnya unik, terus sesudah aku teliti baik-baik ternyata itu gambar kepala tengkorak kecil-kecil. Apa maksudnya ya???

  5. Kukira semacam horror-thriller… Tapi kok ada disebut seperti Cinderella… Ku penasaran.. Btw blm pernah liat terbitannya Atria…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s