REVIEW Marginalia

marginalia

 

Hidup adalah sebuah keajaiban. Setiap momen dalam hidup adalah keajaiban itu sendiri. (hlm. 299)

Ketika kekasihnya meninggal dunia, ARUNA, vokalis utama band rock Lescar, hanya ingin berkonsentrasi pada kariernya. Ia percaya cintanya berakhir dengan mengembalikan buku puisi Rumi berisi catatan pinggir kekasihnya ke kafe Marginalia, tempat buku itu berasal.

DRUPADI, pemilik wedding organizer Luna Nueva tengah sibuk mengurusi pernikahan sepupunya yang penuh dengan tuntutan, INEZ. Tanpa sengaja, ia menemukan sebuah kafe tersembunyi di dalam taman, kafe Marginalia.

“Banyak orang sayang mencorat-coret buku mereka, tetapi menurut saya kebanggan terbesar sebuah buku adalah saat seseorang mengambilnya dari sekian banyak buku yang ada, membacanya dengan sepenuh hati, menekuk ujung halamannya, meningalkan marginalia di samping tulisan yang sudah ada, kemudian mereka akan menciptakan keajaiban.” (hlm. 22)

Apa itu marginalia? Marginalia adalah penghargaan tertinggi yang bisa diberikan seorang pembaca kepada sang penulis. Begitu juga dengan konsep kafe Marginalia yang dimiliki Gandi dan Sonya. Di kafe ini terdapat rak buku yang penuh dengan marginalia dari banyak orang. Dari sinilah kisah akan dimulai.

“Akan ada yang terjadi, mungkin akan membuatmu sedih. Tetapi, bertahanlah. Percayalah padaku. Kita bisa melaluinya.” (hlm. 249)

Banyak kalimat favorit:

  1. Takdir sudah lama memutar rodanya, jauh sebelum kita menyadarinya. (hlm. 13)
  2. Alam ini hidup dalam aturannya sendiri, terkadang acak dan jalang. Tidak ada yang romantis ataupun ajaib tentang kehidupan. (hlm. 23)
  3. Saat kita mencintai seseorang, kita tidak perlu mencintai 100%. Cintailah dia 70% dan bangun sisanya setelah menikah. (hlm. 50)
  4. Menemukan orang yang tepat itu lebih penting daripada umur. (hlm. 51)
  5. Benci dan cinta itu beda tipis. Kamu bisa begitu membenci sesuatu dan kemungkinan berbalik mencintainya. (hlm. 127)
  6. Kalau kamu menghabiskan dua tahunmu bersama seseorang, artinya itu kamu sayang pada orang itu. (hlm. 162)
  7. Perempuan adalah belahan jiwa laki-laki, bukan taman bermain. (hlm. 184)
  8. Ada saatnya kita harus bertindak, ada saatnya di mana kita harus menunggu. (hlm. 218)
  9. Mengapa ketiadaan seseorang justru meningkatkan kerinduan? (hlm. 221)
  10. Cinta pertama nggak pernah mati. Tetapi hidup terus berjalan. (hlm. 226)
  11. Apa hal yang paling penting dalam hidupmu? Pekerjaan? Uang? Kekuasaan? Cinta? (hlm. 247)
  12. Cinta baru terasa agung, setelah cinta keluar dari badai. (hlm. 293)

Beberapa selipan kalimat sindiran:

  1. Memangnya kalian semua nggak pernah istirahat? (hlm. 11)
  2. Mengapa hal-hal buruk selalu datang bergandengan? (hlm. 16)
  3. Teori lebih mudah daripada praktek. (hlm. 59)
  4. Gimana kamu bisa dapet jodoh kalau kamu sibuk melulu? (hlm. 106)
  5. Nggak usah mikirin omongan orang. Hidup ini bukan balap lari. (hlm. 164)
  6. Kehidupan artis nggak semewah yang dibayangkan orang. (hlm. 166)
  7. Nggak mudah pacaran sama artis. (hlm. 184)

Wow, suka banget konsep kafe Marginalia ini. Dari banyak buku bersetting kafe, Marginalia ini punya sisi unik. Saya aja ampe nggak kepikiran gimana cerita ada sepasang manusia pemilik kafe yang merelakan semua koleksi buku mereka dicorat-coret oleh pengunjung kafe yang ingin mencurahkan perasaannya. Mau donk kalo ada kafe kayak gin beneran…😀

Romantisnya nggak pake menye-menye. Suka ama adegan di mana Aruna yang penasaran banget ama Drupadi sampai rela jadi singer wedding, trus gemes liat adegan mereka berbalas corat-coret di buku yang pernah dipinjam Padma, pacar Aruna. Suka juga ama adegan pertama kali Aruna ketemu Drupadi dengan nekat mendatangi kantornya, yang ada malah matanya kena bogem Drupadi yang salah sangka x) #JanganSampaiSpoiler

Ngakak tiap Aruna memanggil Drupadi dengan sebutan ‘hati belatung’, pokoknya Aruna bakal jadi kandidat Top Five Book Boy Friend untuk daftar list bacaan 2015. Aruna, padamu banget pokoknya!😀

Keterangan Buku:

Judul                                     : Marginalia

Penulis                                 : Dyah Rinni

Penyunting                         : Triani Retno Adiastuti

Proofreader                       : Dina Savitri Nurhidayah

Penerbit                              : Qanita

Terbit                                    : 2013

Tebal                                     : 304 hlm.

ISBN                                      : 978-602-9225-82-2

10 thoughts on “REVIEW Marginalia

  1. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  2. Suka banget kutipan ini:
    “Banyak orang sayang mencorat-coret buku mereka, tetapi menurut saya kebanggan terbesar sebuah buku adalah saat seseorang mengambilnya dari sekian banyak buku yang ada, membacanya dengan sepenuh hati, menekuk ujung halamannya, meningalkan marginalia di samping tulisan yang sudah ada, kemudian mereka akan menciptakan keajaiban.” (hlm. 22)

    Jadi mau ke Marginalia deh :3

  3. Aku jadi berharap kafe Marginalia bener2 ada, keren banget pasti. Aku bakalan kesana trs kalau emang bener2 ada. Ide penulis untuk menciptakan buku ini menurut aku hebat, bisa sampe terpikirkan membuat kisah yg unik ini.

  4. wuihhh… cafenya keren, naksir kalau ada cafe kayak gitu beneran,,,,, jadi pengen baca bukunya dan jadi ngebayangin kalau di filmkan pasti bagus…. setting cafenya pasti asyik..

  5. Ka Luckty ternyata kita sehati. Bacanya ngakak dan gemes, waktu ribut-ribut masalah marginalia juga si “Hati Belatung” dapet dari mana tuh ka Dyah inspirasinya.

    Setuju banget, enaknya kalo ada kafe seperti ini, pasti isinya semua satu tipe “kutu buku”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s