REVIEW Telaga Rindu

telaga rindu

Cinta kadang memang susah dimengerti. Membingungkan. Lebih mudah menyelesaikan soal-soal Matematika, biarpun sulit tapi jelas ada rumusnya. (hlm. 88)

Kadang-kadang aneh juga. Orangtua seringkali merasa berat melepaskan anak yang sudah beranjak dewasa hanya untuk menginap satu malam saja di luar rumah. Mereka sepertinya belum rela anaknya tumbuh dewasa tanpa terasa. Apalagi untuk anak perempuan, sejuta alasan bakal diungkapkan untuk mendukung rasa keberatan mereka. Mungkin penginnya anak perempuan tetap jadi gadis kecil manis dengan rambut kuncir dua dan pita yang senada dengan warna bajunya, yang bisa disayang-sayang, digendong, dan selalu dijaga.

Tidak terkecuali Nala yang akan ke Telaga Sarangan bersama teman-teman sekolahnya. Meski ada panitia dan guru-guru, tetap saja ibunyaa khawatir dan berpesan macam-macam termasuk tidak boleh memakai baju berwarna hijau yang konon tidak boleh dipakai ketika mengunjungi suatu tempat seperti pantai, laut ataupun telaga.

Maklum saja, Nala adalah anak tunggal. Meski dengan terpaksa, ibu mengijinkannya ikut meski dengan berat hati ditambah rayuan ayah yang mendukung Nala untu berangkat. Dan disinilah petualangan Nala menuju ke Telaga Sarangan dimulai…

Beberapa kalimat favorit:

  1. Lebih jangan melangar pesan orangtua. (hlm. 32)
  2. Setiap orangtua punya cara mendidik dan aturan masing-masing dalam keluarga, tidak bisa diperbandingkan satu dan lainnya. (hlm. 36)
  3. Seru dan lucunya dunia remaja yang membuat mereka selalu terbawa aura ceria setiap kali berkumpul bersama teman-temannya. (hlm. 63)
  4. Cara pendekatan yang cukup jitu juga. Mau sama masnya, baik-baikin dulu adiknya. (hlm. 79)
  5. Tapi yang namanya perasaan nggak bisa dibohongi. (hlm. 88)
  6. Cemburu itu wajar. Itu bumbunya orang pacaran. Tapi jangan asal marah tanpa minta penjelasan. (hlm. 93)

Banyak selipan kalimat sindiran halus:

  1. Anak zaman sekarang memang susah dibilangin orangtua. (hlm. 3)
  2. Orang sehat walafiat malah mau dicarikan surat dokter? Nanti malah kualat, bisa sakin beneran kan malah parah. (hlm. 5)
  3. Khayalan memang sering kali tak sejalan dengan kenyataan. (hlm. 13)
  4. Kan cerita legenda, benar enggaknya mana kita tahu. (hlm. 32)
  5. Lebih baik berteman sebanyak-banyaknya tanpa perlu punya hubungan khusus dengan seseorang di usia yang masih muda. (hlm. 35)
  6. Pendiam sih pendiam. Tapi, kalau ada masalah ya tetap harus ada omongannya.(hlm. 40)
  7. Jangan mau digantung nggak jelas juntrungannya. (hlm. 41)
  8. Mau tapi malu. Malu tapi mau. Jadinya malu-malu mau. (hlm. 46)
  9. Biar kata HP diembat copet dan semua nomor ikutan raib, setidaknya nomor pacar kan harus sudah hafal di luar kepala. Tertulis dengan indah di lubuk hati. (hlm. 67)
  10. Kok ada ya orang bisa lupa sama nomor ponselnya sendiri? (hlm. 69)
  11. Kalau ada cowok yang kita sukai berada di dekat kita dan mengajak bicara, pasti grogilah. (hlm. 76)
  12. Mungkin itu namanya cinta buta. Sebuah perasaan yang kadang-kadang tak peduli apa pun selain ingin memiliki seseorang yang mengetarkan hatinya. Tak peduli untuk itu ia harus melewati tebing curam penuh onak dan duri yang membahayakan jiwanya. (hlm. 80)
  13. Apa pun yang sudah diucapkan nggak boleh ditarik kembali. Itu namanya menjilat ludah sendiri. (hlm. 86)
  14. Daripada mengharapkan sesuatu yang tidak pasti, mending nyari gebetan yang lain aja. (hlm. 88)
  15. Lain kali lihat-lihat dulu kalo ngisengin orang biar nggak malu. (hlm. 98)
  16. Justru yang unik dan antik itu susah dicari, nggak pasaran. (hlm. 106)

Ada juga selipan pengetahuan tentang Telaga Sarangan:

  1. Legenda Kyai Pasir dan Nyai Pasir. Keduanya berwujud ular naga dengan kepala manusia. Konon masih bersemayam di sekitaran Telaga Sarangan.
  2. Kalau lagi pacaran tidak boleh melewati Telaga Wurug nanti bakalan putus hubungan. Dalam bahasa Jawa, ‘wurug’ itu berarti gagal.
  3. Nggak lengkap rasanya kalau ke Telaga Sarangan jika belum mencoba sate kelinci

Telaga Sarangan yang juga dikenal sebagai telaga pasir ini adalah sebuah telaga alami yang terletak di kaki Gunung Lawu, di Kecamatan Plaosan, Kabupaten Magetan, Jawa Timur. Berjarak sekitar 16 kilometer arah barat kota Magetan. Telaga ini luasnya sekitar 30 hektare dan berkedalaman 28 meter. Dengan suhu udara antara 18 hingga 25 derajat Celsius, Telaga Sarangan mampu menarik ratusan ribu pengunjung setiap tahunnya.

Telaga Sarangan merupakan obyek wisata andalan Magetan. Di sekeliling telaga terdapat dua hotel berbintang, 43 hotel kelas melati, dan 18 pondok wisata. Di samping puluhan kios cendera mata, pengunjung dapat pula menikmati indahnya Sarangan dengan berkuda mengitari telaga, atau mengendarai kapal cepat. Fasilitas obyek wisata lainnya pun tersedia, misalnya rumah makan, tempat bermain, pasar wisata, tempat parkir, sarana telepon umum, tempat ibadah, dan taman.

Keberadaan 19 rumah makan di sekitar telaga menjadikan para pengunjung memiliki banyak alternatif pilihan menu. Demikian pula keberadaan pedagang kaki lima yang menawarkan berbagai suvenir telah memberikan kemudahan kepada pengunjung untuk membeli oleh-oleh. Hidangan khas yang dijajakan di sekitar telaga adalah sate kelinci.

Magetan juga tertolong dengan adanya potensi industri kecil setempat yang mampu memproduksi kerajinan untuk suvenir, misalnya anyaman bambu, kerajinan kulit, kerajinan sepatu, dan produk makanan khas seperti emping melinjo dan lempeng (kerupuk puli, yaitu kerupuk dari nasi).

Telaga Sarangan juga memiliki layanan jasa sewa perahu dan becak air. Ada 51 perahu motor dan 13 becak air yang dapat digunakan untuk menjelajahi telaga.

Telaga Sarangan memiliki beberapa kalender event penting tahunan, yaitu labuh sesaji pada Jumat Pon bulan Ruwah, liburan sekolah di pertengahan tahun, Ledug Sura 1 Muharram, dan pesta kembang api di malam pergantian tahun. Seandainya di novel ini ditampilkan salah satu event penting tahunan di Telaga Sarangan, bakal lebih keren lagi.

Telaga Sarangan hasil goggling:

 

Suka ama kisah petualangan Nala dan kawan-kawannya yang mendapatkan porsi nggak sekedar tokoh numpang lewat. Setiap teman-teman Nala ini punya karakteristik tersendiri; ada Bestari si anak mama, Upik yang tengil, Kinanti yang baik hati, Imron yang dewasa, atau ada juga Charles yang konyol. Justru porsi Dipa, pacar Nala malah ditampilkan kurang detail.

Uwowww…endingnya bikin merinding disko!! :3

Keterangan Buku:

Judul                     : Telaga Rindu

Penulis                 :Netty Virgiantini

Desainer              : Sapta P. Soemowidjoko & Lisa Fajar Riana

Penata isi             : Yusuf Pramono

Penerbit              : Grasindo

Terbit                    : 2014

Tebal                     : 162 hlm.

ISBN                      : 978-602-251-488-6

9 thoughts on “REVIEW Telaga Rindu

  1. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  2. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  3. “Cinta kadang memang susah dimengerti. Membingungkan. Lebih mudah menyelesaikan soal-soal Matematika, biarpun sulit tapi jelas ada rumusnya.” JOSSS!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s