REVIEW Petitah

 petitah

Waktu yang tak pernah siuman, kecuali disadarkan, adalah kenisbian yang mengada. Sehingga hidup menjadi berada di ruang yang membentang seujung horizon berketerbatasan. Batas-batas kebebasan, yang membebaskan dalam batas yang tegas. Maka konsep lahir dengan tangis yang jelas, untuk membuat kehidupan mengembang dalam senyum hingga tertawa selebar bumi dan sejangkau kau mampu ke semesta. Adakah yang penting dalam hidup selain kesadaran waktu? Kemesraan ini mari kita nikmati dalam waktu dan ruang, sampai di mana? Tiga puluh hari saja. Ya, satu bulan. Satu matahari. Satu bumi. Satu hidup. Menghitung maju atau mundur? (hlm. 11)

Buku ini merupakan buah pemikiran selama bulan Ramadhan yang terdiri dari tiga puluh pemikiran. Di tiap pemikiran ada makna dan pesan yang bisa kita resapi dan kita renungkan. Ada beberapa pemikiran yang menarik untuk dibahas.

Pertama ada PUASA. Puasa adalah kegiatan personal, namun berbuka puasa telah menjadi kegiatan sosial. Bahkan menjadi upacara yang lebih sakral dari puasanya itu sendiri, sehingga ibadahnya dikerdilkan. Perlukah dipertanyakan, kenapa berpuasa bisa menyingkirkan begitu saja shalat dan ibadah lainnya? Bahasan di halaman 13-14 ini meski singkat tapi terasa #PLAAKKK banget. Ketika Ramadhan datang, bukannya kita menyambutnya dengan ibadah yang lebih dari hari biasanya; misalnya sholat tahajud, tadarus diperbanyak, shodaqoh juga diperbanyak, dan lain-lain. Ini biasanya kita malah sibuk dengan jadwal buka puasa ama grup ini, ama gitu, ama teman yang ini, ama saudara yang itu. Bisa dipastikan separuh puasa kita malah dihabiskan dengan acara jadwal berbuka puasa kesana-kemari. Yang ujung-ujungnya jadi melupakan shalat tarawih. Sudah beberapa tahun ini membatasi berbuka puasa di luar rumah, saya memilih beberapa undangan berbuka puasa yang kiranya memang sudah lama tidak bertemu dengan para undangan tersebut. Misalnya berbuka puasa angkatan SMA, yang dari tahun ke tahun saya selalu menjadi panitia inti. Ini bukan buka puasa satu kelas SMA loh, tapi satu angkatan. Bisa dibayangkan akan betapa banyak bertemu teman SMA yang biasanya cuma ketemu setahun sekali ini. Sudah beberapa tahun ini meminimalisir berbuka puasa yang sebetulnya tidak perlu. Bukannya apa-apa, tapi ya itu tadi kalo kebanyakan acara berbuka puasa ujung-ujungnya menghadapi Ramadhan kurang optimal. Yang kayak gini biasanya yang masih ababil kayak adik. Bisa dipastikan tiap minggu dan seminggu terakhir bakal minta uang dengan dalih buka puasa bersama. Boros, Kakak…😀

CINTA = ILMU. Pilihan bahasan favorit kedua. Di halaman 16 disebutkan jika ilmu dan cinta tidaklah perlu diduakan, tapi sangat perlu berduaan. Kehidupan menjadi ruang keduanya. Awali dengan ilmu, tuntaskan dengan cinta, kira-kira demikian, tidak demi apa pun. Untuk mendatangkan ilmu, hanya ada satu alas asal, belajar, dalam segala bentuk dan implementasinya. Dalam belajar, tak ada tersirat waktu atau pun tempat. Belajar adalah perlintasan keberanian dan kerja keras yang sangat terasa menerabas dimensi ukuran. Maka jangan pernah mencoba mengukurnya, sebelum hasilnya itu menjadi ilmu.

JAMAAH SUBUH vs JAMAAH TARAWIH. Di bulan Ramadhan kita dapat menyaksikan jika umat Muslim berbondong-bondong ke masjid/ mushola terdekat. Minggu pertama; penuh, shaffnya ampe dempet-dempetan bahkan ada yang kebagian sajadah. Saya sering ngalamin ini, biasanya kebagian paling belakang. Minggu kedua agak longgaran bisa napas. Minggu ketiga makin longgar. Minggu keempat bagian belakang bisa buat koprol anak-anak kecil, ibu-ibu biasanya udah pada kelelahan buat kue passiang hari, terus yang muda-muda sibuk acara buka puasa di sana, buka puasa di sini, yang padahal juga belum tentu puasa juga sih, cuma senang ikutan buka puasanya aja. Kok gitu? Iya, siang hari sering liat anak sekolah makan di warung-warung pas Ramadhan tanpa malu. Aku mah apa atuh, pas zaman kuliah aja kalo pas lagi nggak puasa karena ‘jatah libur’ aja malu kalo mau beli makan di luar, itupun kalo makan di kosan juga enggak enak ama anak kosan x)

Itu tadi tiga bahasan favorit dalam buku ini. bukunya mungil, bisa dimasukin saku. Ukurannya unyu, bisa menjadi pilihan bacaan di waktu senggang😉

Keterangan Buku:

Judul                                     : Petitah

Penulis                                 : Agus Faizal

Penerbit                              : Hafsa Publishing

Terbit                                    : 2012

Tebal                                     : 60 hlm.

ISBN                                      : 978-602-7693-05-0

12 thoughts on “REVIEW Petitah

  1. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  2. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  3. 60 halaman doang tapi kayanya ngena nih kak pesannya. Jadi kebayang banyaknya ajakan buka puasa yg silih berganti. Ternyata aku rugi:’)

  4. Menarik bukunya, harusnya aku punya buat dibaca, berhubung skrg ramadhan
    Jadi ini bukunya pengertian2 gitu ya kak mengenai hal2 di bulan ramadhan?

  5. Waktu yang tak pernah siuman, kecuali disadarkan, adalah kenisbian yang mengada. Sehingga hidup menjadi berada di ruang yang membentang seujung horizon berketerbatasan. Batas-batas kebebasan, yang membebaskan dalam batas yang tegas. Maka konsep lahir dengan tangis yang jelas, untuk membuat kehidupan mengembang dalam senyum hingga tertawa selebar bumi dan sejangkau kau mampu ke semesta. Adakah yang penting dalam hidup selain kesadaran waktu? Kemesraan ini mari kita nikmati dalam waktu dan ruang, sampai di mana? Tiga puluh hari saja. Ya, satu bulan. Satu matahari. Satu bumi. Satu hidup. Menghitung maju atau mundur? (hlm. 11)

    kata2nya bikin deg2an

  6. Jumlah halaman sedikit, tapi isinya bener-bener ngena dan banyak pesannya. Bener-bener tertampar meski aku hampir ga pernah buka bersama di luar, tapi waktu masih 1-5 tahun setelah lulus SMA pernah cuma sekali selama sebulan, itu pun ga setiap tahun ikutan😀. Buku yang berdasarkan realita kehidupan selama Ramadhan

  7. “CINTA = ILMU. Pilihan bahasan favorit kedua. Di halaman 16 disebutkan jika ilmu dan cinta tidaklah perlu diduakan, tapi sangat perlu berduaan. Kehidupan menjadi ruang keduanya. Awali dengan ilmu, tuntaskan dengan cinta, kira-kira demikian, tidak demi apa pun. Untuk mendatangkan ilmu, hanya ada satu alas asal, belajar, dalam segala bentuk dan implementasinya. Dalam belajar, tak ada tersirat waktu atau pun tempat. Belajar adalah perlintasan keberanian dan kerja keras yang sangat terasa menerabas dimensi ukuran. Maka jangan pernah mencoba mengukurnya, sebelum hasilnya itu menjadi ilmu.” Nice!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s