REVIEW Will Grayson, will grayson

WP_20150329_005

Buat apa kita suka pada orang yang tak bisa balas menyukai kita? (hlm. 52)

Pernahkah kamu berpikiran jika di dunia ini ada seseorang yang memiliki nama yang sama dengan namamu? Apa rasanya ya jika bertemu dengan seseorang dengan nama yang sama? Sebal karena namanya sama? Atau justru senang karena ada seseorang yang namanya sama dengan kita? Itulah yang dialami oleh Will Grayson. Kita sebut saja yang satu Will Grayson, dan satunya lagi will grayson tanpa huruf kapital untuk membedakan. Penulisnya terdiri dari orang; jadi Will Grayson yang satu ciptaan John Green, satunya lagi ciptaan David Levithan.

Rasanya saat ini hidupku kacau sekali. Bagaikan serpihan kertas lalu ada yang menyalakan kipas angin. Tapi mengobrol denganmu membuatku merasa seolah kipas angin itu dimatikan sejenak. Seolah berbagai hal sebenarnya bisa masuk akal. Kau menyatukan serpihanku sepenuhnya, dan aku sangat menghargai itu. (hlm. 46)

Will Grayson dan will grayson awalnya tidak saling mengenal satu sama lain. Namun pada suatu hari mereka bertemu tidak sengaja, dan nantinya akan membawa ke perubahan besar dalam kehidupan masing-masing.

Buku ini mengangkat tema LGBT. Will Grayson memiliki sahabat gay bernama Tiny Cooper dan will grayson adalah seorang gay yang sangat terobsesi dengan teman laki-lakinya yang dia kenal di dunia maya bernama Isaac. Meski buku ini bertema LGBT, isi ceritanya tidak menjijikkan, karena lebih cenderung fokus ke hubungan pertemanan maupun persahabatan antar tokoh-tokohnya. Kita bisa melihat sisi kehidupan remaja dari sisi menarik dari dua penulis kece ini.

Kita bisa melihat sisi kehidupan remaja salah satunya adalah budaya online dan memiliki akun sosmed. Misalnya. di halaman 37 di saat will grayson menghapus semua request permintaan pertemanan di facebook tanpa melihat profil mereka masing-masing. Beberapa orang menganggap seseorang yang memiliki hobi yang sama, menyukai band yang sama atau buku yang sama bisa menjadi pasangan jiwa, tapi tidak bagi will grayson. Di halaman 47 kita bisa melihat rutinitas remaja masa kini pada umumnya. Sama halnya dengan Will Grayson begitu bangun tidur, mandi dan sekolah. Di sela-sela itu sesekali akan mengecek facebook, meski tidak menulis status tapi hanya membaca status pembaharuan orang lain. Begitu juga di halaman 49, kita bisa melihat bagaimana Will Grayson yang iseng mengecek profil sahabatnya, Tiny Cooper dengan melihat list teman-temannya di facebook. Nah, dari tiga kejadian tadi pas pernah ada satu yang kita alami juga kan?!? X)

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Beberapa orang punya kehidupan; yang lain punya musik. (hlm. 50)
  2. Apa kau percaya kelakuan seseorang bisa berubah? Suatu hari kau terbangun dan menyadari sesuatu, kau melihat sesuatu dalam cara yang belum pernah kaulihat, lalu duar, terjadi pencerahan. Sesuatu tampak berbeda sebelumnya. (hlm. 147)
  3. Cinta dan kebenaran berkaitan erat, keduanya saling memungkinkan. (hlm. 159)

Beberapa selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Kita suka pada orang yang tidak bisa balas menyukai kita karena cinta tak berbalas itu bisa bertahan dalam satu cara yang tidak bisa dilakukan oleh cinta yang dulu pernah-berbalas. (hlm. 52)
  2. Kenapa cewek tidak pernah disebut bajingan? (hlm. 137)
  3. Cewek-cewek suka laki sensitif. (hlm. 177)
  4. Sebesar apa ketergantungan seseorang pada seorang sahabat. (hlm. 215)

Covernya kuning menyala. Dan sekilas ada sketsa dua remaja yang tampak berbeda. Ya, Will Grayson dan will grayson meski memiliki nama yang sama, tapi memiliki banyak perbedaan. Membaca buku ini semakin menambah daftar buku karangan John Green yang sudah dibaca, dan penulisnya ini selalu memberi warna baru dalam setiap bukunya. Lewat buku ini pula, penasaran dengan tulisan David Levithan yang lain!😉

Keterangan Buku:

Judul                     : Will Grayson, will grayson

Penulis                 : John Green, David Levithan

Ali bahasa            : Angelic Zaizai

Desain sampul   : Martin Dima

Penerbit              : PT. Gramedia Pustaka Utama

Terbit                    : 2015

Tebal                     : 352 hlm.

ISBN                      : 978-602-03-1245-3

Cover versi lain:

will 1 will 2 will 3 will 4

33 thoughts on “REVIEW Will Grayson, will grayson

  1. Pingback: GIVEAWAY The Fault in Our Stars | Luckty Si Pustakawin

  2. Makkk, aku bingung gitu. Walaupun dibedakan dengan huruf kapital, tapi pas baca review ini tetep aja ngira kalau Will Grayson adalah satu orang.

    Syukurlah walau pun bercerita tentang gay tapi nggak ada adegan menjijkkan. Jujur aja, aku paling jijik dan paling nggak habis pikir sama mereka. Kok bisa gitu jatuh cinta, suka-sukaan, mesra-mesraan sama sesama jenis. Ngeri nggak, sih. Oh, tapi itu kan hak setiap orang. Sudahlah! Kok aku jadi heboh sendiri begini…😀

  3. Kolaborasi, seru banget bukunya. Susah gak pas bacanya? Mana yang Will dan will. Untung pas review dibedain dengan huruf kapital. Terus, temanya unik mengangkat sisi kehidupan gay dan persahabatan. Bisakah dia bersahabat biasa dengan seorang pria? Covernya menarik perhatian. Dan ternyata novel ini tentang remaja, awalnya ku kira lelaki dewasa. Mau baca….

  4. Apa kau percaya kelakuan seseorang bisa berubah? Suatu hari kau terbangun dan menyadari sesuatu, kau melihat sesuatu dalam cara yang belum pernah kaulihat, lalu duar, terjadi pencerahan. Sesuatu tampak berbeda sebelumnya.

    Quotenyaaaa.. Aaaaaaaaaa!

  5. tsahh. walaupun namanya sudah dibedakan huruf kapital diawal, Will Grayson dan will grayson, aku kira ini satu orang. x_x duhh tema nya LGBT yaaa.😦

  6. Wiihhh, tema LGBT ya, belum pernah baca tema LGBT dari penulis luar selain itu format 2 penulis dalam 1 kisah juga lumayan menarik, mudahan bisa koleksi buku ini😀

  7. Nama Nisa sih pasaran, tapi Nisa Maulan Shofa enggak. Dan, kalau nemu orang (?) yang nama lengkapnya sama, pasti kesel. Apalagi kalau dalam satu komunitas. Soalnya, kalau manggil pasti bikin bingung. Kalau nemu orang yang namanya sama-sama Nisa dalam satu komunitas aja kesel banget. Pas ada yang manggil Nisa yang lain, aku nengok dan cengok. Haiiihhhh. Tapi, wow banget di novel ini Will Grayson dan will grayson bisa berteman baik :”3

    Wah, temanya LGBT. Nggak terlalu suka sih sama tema kek gini. Karena suka ngerasa jijik sama tema percintaan sejenis. Tapi, karena di review ini disebutin kalau inti cerita bukan tentang LGBT-nya melainkan tentang persahabatan, jadi pingin baca :3 Apalagi ini ditulis sama 2 penulis. Lagi berburu novel duet soalnya :3

    Heuh, setelah baca review An Abudance of Katherines, Paper Towns, Looking for Alaska, Let It Snow, dan yang terakhir Will Grayson Will Grayson ini, jadi mupeng sama novel-novelnya John Green :”””””)
    Semoga The Fault in Our Star (hasil menang GA dari Mbak Luckty ini *aamiin* *ngode banget deh* XD) bisa jadi novel John Green pertama yang kubaca ntar😀 #AAMIIN ^_^

  8. Waaahh, seperti nama saya nih. Saya punya teman dengan nama yang sama pelafalan, hanya saja saya dengan awalan V dan dia F.
    Seneng sih, karena ternyata nama Vinda nggak jelek-jelek amat untuk dijadikan sebuah nama *yaiyalah, nama adalah doa bukan ?
    Dan sedikit sebel, soalnya namaku pasaraaaan. wkwkwk😀

    Mengenai LGBT, saya juga pernah baca novel yang bercerita tentang kehidupan lelaki yang sangat mencintainya sahabatnya sesama gay. Hanya saja, dia terbebani dengan statusnya sebagai seorang suami. Ah~ selalu bikin miris tiap kali baca hal beginian. Na’udzubillah. Memang benar, setiap manusia selalu memiliki kelemahan dan kekurangan, namun akan lebih sempurnanya jika kekurangan itu kita perbaiki seiring jalannya waktu,

    Btw, mengenai Will Grayson dan will grayson, lucu yah bisa sesamaan gitu, nama lengkap lagi😀 pada akhirnya, selemah apapun kita ( baca : gay ) tetap memiliki sisi terbaik dalam diri yang kadang orang lain tak ( mau ) menyadarinya.

    Sukses untuk GA-nya ya mbak🙂
    Bismillah, merapal dzikir dan doa tiada henti. Semoga kali ini dapet rezeki ^^

  9. Duet maut dua penulis dalam satu buku nih. Tentang LGBT yah? Dulu aku juga oernah baca buku yg menceritakan tentang TG. dan semenjak itu aku jd punya empati ke mereka. rasanya itu kita jd bisa mengerti apa yg mereka rasakan, yah walaupun nggak semua hal bisa kita mengerti. apakah buku ini seperti itu? Dan kayaknya John Green selalu membuat cerita unik atau tokoh yg unik disetiap bukunya. Awesome.

  10. Engga bisa berkata apa-apa lagi😀
    Bikin mupeng semua karya John Green ini.
    Quotes” nya itu loh. Aisss engga tahan *lambaikantangan baper sebaper bapernya orang baper :))

    Semua review yang mbak luckty buat dan saya baca tentang karya John Green ini sangat mudah dipahami, kata-katanya ringan juga tidak berbelit-belit🙂
    Ah sukses selalu buat mbak luckty :))

  11. Baca ini jadi inget aku sendiri, dulu pengen banget punya temen yang hampir kaya kembaran, sama-sama suka sesuatu yang sama, band, film, klub sepakbola, musik dll tapi setelah nemu nggak enak juga, karena entah kenapa lama kelamaan aku jadi benci sama sesuatu yang dulu aku suka, ngeseliin😀

  12. Jadi inget ada adik kelas yang namanya sama cm beda satu huruf aja. Kalau aku pki i, dia pki y. tp manggilnya sama. Jadi bingung deh kalau ada yang manggil tp bukan aku yang dimaksud.
    Buat apa kita suka pada orang yang tak bisa balas menyukai kita? (hlm. 52)
    aduh, mak jleb banget mbak…😥

  13. wah temanya LGBT! aku suka banget novel yang mengangkat tema ini. berhubung aku normal, jadi bisa tahu apa sih yg dipikirkan orang2 LGBT itu. jadi makin tertarik pengin baca novel ini hehe. btw quote di awal resensi juga menohok jantung banget: “buat apa kita suka pada orang yang tak bisa balas menyukai kita?” (hlm. 52). huhuhu itu juga yang aku pikirkan dari dulu😦

  14. nah, novel ini pernah direkomendasiin sama temenku. pas tau buku ini tentang LGBT jadi bingung sendiri kenapa direkomendasiin. ternyata buat pelajaran aja, kalau bukan cewek doang yg lesbong (dalam novel), kasus cowok juga diangkat oleh salah satu penulis.. ckck

  15. Walaupun tentang LGBT, syukurlah fokusnya gak kesana. Pas baca sinopsisnya, aku mikir ternyata sama aja ya remaja dimana-mana, suka stalking facebook orang, ngeliat-liat facebook, pokoknya sosmed-oriented banget. Kayanya seru sih bukunya, apalagi karena ada quote ini “Buat apa kita suka pada orang yang tak bisa balas menyukai kita?”. jadi penasaran…

  16. “Kita suka pada orang yang tidak bisa balas menyukai kita karena cinta tak berbalas itu bisa bertahan dalam satu cara yang tidak bisa dilakukan oleh cinta yang dulu pernah-berbalas. ”
    Paling seneng sama kkata-kata yang ini…
    Pikirku dia tentang jatuh cinta diam-diam, atau cinta bertepuk sebelah tangan..
    Tapi,…. “isi ceritanya tidak menjijikkan,” Ini yang buat kepala penuh tanda tanya…
    Terus… “karena lebih cenderung fokus ke hubungan pertemanan maupun persahabatan antar tokoh-tokohnya. Kita bisa melihat sisi kehidupan remaja dari sisi menarik dari dua penulis kece ini.” Ini buat penasaran.
    Kayaknya harus baca bukunya sampai habis tamat nggak bersisa, baru bisa menyimpulkan. Hehehehe..

    Oh iya kak,.. LGBT itu apaan yaa???

  17. Naaah… yang ini aku penasaran karena… LGBT. Penasaran nih gimana Pak Green dan Mas Levithan mengangkat tema yang masih kontroversial ini dalam cerita remaja. LGBT itu artinya LaGi BT, kan? Hehehe.

  18. Hmm, penasaran dgn singkatan dari LGBT. Itu apaan ya kak?>__<)
    Mungkin nunggu ada yg merekomendasikan dulu deh (selain kak Luckty.:) )

  19. Tapi membaca sinopsisnya, tau kl LGBT itu menjurus ke percintaan sesama jenis.
    Di Indonesia jelas ini dilarang, namun di luar negeri yg lebih bisa menerima, ini termasuk hal wajar, meskipun tetap ada yg menentang jg.
    Meskipun kata kak Luckty dalam sinopsisnya mengatakan bahwa buku ini tidak terlalu membahas ttg LGBT2an, tapi tetap merasa ragu untuk membeli buku ini (meskipun ini buku terbaru dari John Green, tapi tetep aja…>_<)
    Mungkin nunggu ada yg merekomendasikan dulu deh (selain kak Luckty.:) )

  20. Ya, John Green emang selalu bisa memberikan warna baru dalam setiap bukunya, jika sudah baca satu bukunya pasti penasaran dengan buku yang lainnya… Tulisannya memikat, selalu ada yg tidak terduga, kaya kata… Dan tentunya metafora🙂

  21. Pingback: Giveaway Pustakawin | Luckty Si Pustakawin

  22. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  23. Ini salah satu buku John Green yg menghibur, dan unik juga ceritanya. Di awal baca sih bingung apa ini buku cuma buat menghibur apa ada pesan moral yg bisa diambil. Sampe pas bagian endingnya… keren menurut aku. Walaupun ada cerita gay nya sih.

  24. Nama sama, aku pasti merasa aneh dan ga suka. Lambat laun saat aku dan dia “yang namanya sama” berteman dan banyak kemiripan, aku malah merasa seperti anak kembar. Meski anak kembar sekalipun tentu saja namanya berbeda.

    Novel duet

  25. Aku juga pasti ngerasa aneh dan agak gimana gitu ketemu orang yang namanya persis kayak aku. Awalnya aja, setelah aku kenal baik dan ternyata ada beberapa kepribadian dia yang sama kayak aku, aku pasti ngerasa kembaran sama dia.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s