REVIEW Lho, Kembar Kok Beda?

 lho kembar kok beda

“Nggak ada orang yang berhasil seumur hidupnya. Begitu juga sebaliknya, nggak ada orang yang ditakdirkan gagal.” (hlm. 181)

NADHIRA RAMADHANI dan BASHIRA RAMADHANI adalah saudara kembar. Dhira dan Shira biasa merekadipanggil. Usianya hampir menuju tujuh belas dan duduk di bangku kelas sebelas. Meski mereka kembar, satu sekolah bahkan satu kelas, mereka tidak sebangku. Kenapa? Karena mereka berbeda. Berbeda segalanya.

Jangan pernah membayangkan mereka berdua seperti anak kembar lainnya. Tidak ada kemiripan sedikitpun di antara mereka. Bashira berwajah bulat, kulit langsat yang diwarisi dari ibunya, rambut bergelombang hitam sebahu, tubuhnnya tinggi berisi. Sedangkan Nadhira wajahnya berbentuk oval, kulit kecoklatan yang diwarisi dari ayahnya, rambut lurus yang selalu dipotong pendek karena malas kalau harus sering keramas, dan tubuhnya mungil, kurus.

Perbedaan lain yang cukup merepotkan orangtuanya adalah kemampuan otak mereka yang berbeda. Bashira selalu beredar di sekitar peringkat tiga teratas di kelas. Sementara Nadhira, pasti beredar si sekitar peringkat tiga terbawah. Selain itu Bashira juga aktif di OSIS sebagai sekretaris dan termasuk salah satu cewek yang terkenal di sekolah karena kecantikan dan prestasinya. Sedangkan Nadhira aktif di kelompok anak-anak yang harus mendapat pelajaran tambahan sepulang sekolah untuk mengejar ketinggalan pelajaran. Nadhira pun paling sering berurusan dengan guru BP karena kebiasaannya menggambar saat jam pelajaran.

Seiring pertumbuhan mereka menjadi dua gadis remaja yang tampak sangat berbeda, sebagian besar orang mengira mereka ini hanya saudara jauh –kalau dianggap kakak beradik pun tidak ada mirip-miripnya- yang kebetulan bersekolah di tempat yang sama. Semakin banyak pula orang yang bertanya-tanya dan cukup merepotkan orangtuanya juga. Hampir semua orang mulai dari saudara, tetangga sampai kenalan-kenalan selalu menanyakan perbedaan mereka.

Akhirnya, semua orang mulai terbiasa dengan perbedaan mereka berdua, kecuali teman-teman baru dan guru-guru yang mengajar mereka. Bagi orang yang baru mengenal mereka, pasti komentarnya sama; “Lho, kembar kok beda…?!?”

“Kapan kamu bisa seperti Bashira? Belajarlah. Jangan bikin malu Ayah. Bashira saja selalu bikin Ayah bangga dengan prestasinya, sedangkan kamu malah bikin Ayah harus bolak-balik berurusan dengan guru BP karena kebiasaanmu menggambar waktu pelajaran. Kalian kan kembar, biarpun secara fisik berbeda setidaknya kepandaiannya kan bisa sama. Lagian dalam perut berbagi tempat dan dapat makanan dan gizi yang sama. Ini hanya karena kamu malas dan tidak mau belajar saja!” (hlm. 53)

Tidak ada satu pun di dunia ini yang mau dibanding-bandingkan. Meski kembar sekalipun. Di sekolah, misalnya ada kakak adik yang sifatnya beda banget, kita nggak boleh secara langsung membandingkan mereka dengan bilang; “Kamu kok beda banget ama Kakakmu. Kakakmu rajin, nurut, pinter pula. Lha kamu kok bandel, susah diatur pula!”

Di sekolah, ada beberapa anak yang kembar. Dan saya selalu excited dengan mereka. Ada empat pasang; tiga kembar cewek dan sepasang kembar cewek-cowok. Nah, kalo tiga kembar cewek nggak bisa bedain ampe sekarang.

“Siapa pun yang tidak bisa mendapatkan hati Tama harus bisa menerima dengan lapang dada!”

“Tidak boleh sakit hati!”

“Tidak boleh iri!”

“Juga tidak boleh patah hati!” (hlm. 67)

Argghhh…repot juga ya kalo naksir ama orang yang sama. Begitulah yang dialami Nadhira dan Bashira, mereka menyukai orang yang sama. Jangankan sama saudara sendiri, saudara kembar pula, sama teman sendiri kalo menyukai orang yang sama aja pasti rasanya nggak enak banget. Kayak makan buah simalakama. Serba salah. Begitu pula dengan kisah kembar dalam buku ini :3

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Profesi apa pun kalau dijalani dengan sungguh-sungguh pasti hasilnya kan baik. (hlm. 20)
  2. Kamu harus membuktikan ucapanmu. (hlm. 21)
  3. Pikirkan orangtua kita yang sudah susah-susah membayar mahal kita supaya kita bisa masuk sekolah. Kalau sampai dikeluarkan, sia-sialah pengorbanan mereka. (hlm. 40)
  4. Hati dan perasaan terkadang tidak bisa diprediksi dengan sesuatu yang hanya kasatmata. Dalam urusan cinta, hal yang paling tidak masuk akal atau mustahil sekalipun bisa saja terjadi. (hlm. 64)
  5. Orang yang jatuh cinta memang kadang lupa segalanya. (hlm. 67)
  6. Jangan suka berprasangka buruk. (hlm. 101)
  7. Nggak baik nolak rezeki. (hlm. 152)
  8. Masalah hati memang tidak bisa diprediksi. (hlm. 173)

Banyak selipan kalimat sindiran halusnya:

  1. Kalau tidak bisa, mengapa tidak memperhatikan saat dijelaskan. (hlm. 10)
  2. Ada gengsi tersendiri kalau orangtua bercerita bahwa anaknya belajar di sekolah favorit. (hlm. 23)
  3. Jangan seenaknya memberikan julukan pada orang lain. (hlm. 37)
  4. Jangan mati konyol karena mengikuti emosi. (hlm. 40)
  5. Jangan mencari kesempatan dalam kelonggaran. (hlm. 47)
  6. Buktikan kamu memang laki-laki sejati. (hlm. 49)
  7. Dasar cewek aneh! Sudah dibantuin bukannya terima kasih malah melotot. (hlm. 77)
  8. Kenapa harus bingung dengan pendapat orang? (hlm. 85)
  9. Dipuji bukannya berterima kasih malah ngatain orang. Dasar cewek aneh! (hlm. 97)
  10. Enggak boleh buka kado di depan orang yang ngasih. Enggak sopan. (hlm. 106)
  11. Dipanggil ke BP kan enggak selalu punya kesalahan atau melakukan pelanggaran. (hlm. 125)
  12. Berani mencintai dan berani ditolak dalam waktu bersamaan, itu butuh keberanian yang besar. Dan tidak semua laki-laki berani mengambil risiko itu. (hlm. 167)

Suka ama buku unyu ini, mendeskripsikan cerita remaja putih abu-abu dan permasalahannya. Pas baca ini, langsung ngebayangin murid-murid unyu di sekolah. Ada yang kayak Tama yang cool, Revan si anak mami bahkan Kemal bandel bin bengal. Oya, tiga cowok tadi justru saya malah paling suka tipikal Kemal x)

Buku ini nggak sekedar unyu. Banyak pesan moral yang disampaikan penulisnya. Lewat tokoh Bu Sharmila, sosok guru BP yang tidak pernah memarahi muridnya meski bermasalah. Sikap teduhnya justru membuat murid-murid tunduk padanya. Oya, sebutan BP harusnya udah nggak berlaku, karena pada kenyataannya di sekolah adanya BK bukan BP lagi😀

Nadhira, sosok yang tampak berbeda jauh dari Bashira, kembarannya justru memilik banyak potensi dan cenderung kreatif. Betapa banyak orangtua seperti ayahnya Nadhira yang selalu ingin semua anaknya sama, padahal Nadhira lebih menyukai bersekolah di SMK ketimbang di SMK. Suka sedih kalo nemui murid-murid yang dipaksa gini ama orangtuanya, jadi nggak berkembang, padahal pintar itu kan nggak melulu mahir matematika dan fisika L

Ehem…kayaknya novel ini udah ada lanjutannya. Jadi nggak sabar baca sekuelnya nih!😉

Keterangan Buku:

Judul                     : Lho, Kembar Kok Beda?

Penulis                 : Netty Virgiantini

Editor                    : Wienny Siska

Desain sampul   : Chyntia Yanetha

Penerbit              : Gramedia Pustaka Utama

Terbit                    : 2014

Tebal                     : 216 hlm.

ISBN                      : 978-602-03-0696-4

9 thoughts on “REVIEW Lho, Kembar Kok Beda?

  1. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  2. pas baca dari judulnya udah senyum sendiri, soalnya kakak aku kembar. mungkin udah banyak cerita tentang anak kembar yang udah aku baca. tapi pas aku basa sinopsis ini aku ngerasa cerita ini beda dari yang lain. apalagi ceritanya masih dalam konteks remaja di sma. ditambah lagi konflik semacam cinta segitiga. pokoknya keren d, jad pengen baca hahaha

  3. Tertekan banget jadi Nadhira pasti.
    Wah rebutan cowok yang sama nih? Emang bener deh kalo kata orang anak kembar itu seleranya sama hihi.

    Btw aku suka banget covernya luvchu :3

  4. Ah kasihan Nadhira nya, dibanding2in. Perasaan yg paling nggak enak tuh perasaan pas dibanding2in.
    Unik juga nih ceritanya, tentang sepasang kembat yg tidak memiliki kesamaan satu sama lain. Tapi kak Nadhira sama Bashira hubungannya baik nggak? Apa sering berantem?

  5. Kasian banget jadi Nadhira, semua anak ga ada yang pengen dan enak dibanding-bandingin, sama orang lain apalagi ini sama saudara sendiri. Harusnya yang jadi ayah si kembar bisa lebih berpikiran luas, mungkin Nadhira ga unggul dibidang eksak, dia lebih unggul dibidang seni (menggambar). Jadi Bashira pasti seperti Nadhira yang kurang unggul dibidang eksak jika ia disuruh mengerjakan pelajaran seni, menurutku ia pasti ada di bawah Nadhira. Harusnya si ayah menerima dan bantu mengembangkan bakat anak-anaknya, jangan dipaksakan, yang ada malah semakin terekan. Seharusnya berprinsip “Beda Itu Berwarna”

    Kalo aku semasa sekolah dari TK sampe SMA bareng temen perempuan, kami ga ada hubungan darah, murni teman, tapi jika kami bersama kami selalu disangka anak kembar, sampai-sampai saat pulang bareng saat SMA ada seorang anak SD yang sengaja berhenti dan bertanya “kakak kembarnya” dan kami hanya menjawab bersama dengan gelengan🙂

  6. Kasian banget jadi Nadhira, semua anak ga ada yang pengen dan enak dibanding-bandingin, sama orang lain apalagi ini sama saudara sendiri. Harusnya yang jadi ayah si kembar bisa lebih berpikiran luas, mungkin Nadhira ga unggul dibidang eksak, dia lebih unggul dibidang seni (menggambar). Jadi Bashira pasti seperti Nadhira yang kurang unggul dibidang eksak jika ia disuruh mengerjakan pelajaran seni, menurutku ia pasti ada di bawah Nadhira. Harusnya si ayah menerima dan bantu mengembangkan bakat anak-anaknya, jangan dipaksakan, yang ada malah semakin terekan. Seharusnya berprinsip “Beda Itu Berwarna”

    Kalo aku semasa sekolah dari TK sampe SMA bareng temen perempuan, kami ga ada hubungan darah, murni teman, tapi jika kami bersama kami selalu disangka anak kembar, sampai-sampai saat pulang bareng saat SMA ada seorang anak SD yang sengaja berhenti dan bertanya “kakak kembarnya” dan kami hanya menjawab bersama dengan gelengan🙂🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s