REVIEW Coupl(ov)e

CoupL(ov)e

Mungkin cinta masih bisa dibeli, tapi tidak dengan patah hati. (hlm. 110)

“Mana yang kau sebut cinta sejati? Dia yang selalu terbiasa menemani mengisi hari-hari atau sosok lain yang sudah dipilih hati? (hlm. 48)

Persahabatan Raka dan Halya ibarat simbiosis mutualisme. Raka jarang mempunyai teman dekat di sekolah akibat efek sifat pendiam dan seriusnya. Karena itu, dia selalu memilih Halya setiap kali ada tugas kelompok. Gadis itu tidak pernah merasa risi dengan predikat ‘genius’ yang diberikan teman-teman lain kepada sahabatnya. Di sisi lain, Halya merasa diuntungkan karena Raka pintar dan banyak membantunya di tugas sekolah. Maklum, kecerdasan Halya hanya rata-rata.

Banyak orang yang berkata, menikah dengan sahabat sendiri itu menyenangkan. (hlm. 314)

Menyesalkah? Raka bertanya kepada hatinya sendiri. Tidak, dia tidak pernah menyesal menikah dengan Halya. Gadis itu menjadi sosok menyenangkan, pendengar yang baik, dan Raka nyaman bersamanya. Meski kadang dia terganggu dengan sikap unpredictable Halya yang sangat moody atau ketika gadis itu terlalu asyik dengan dunia khayalnya, secara umum dia menikmati keberadaan sosok Halya di sampingnya. Itulah yang membuat persahabatan mereka awet selama belasan tahun.

Sahabat. Status mereka tidak pernah naik kelas dan lebih daripada itu. Raka tulus menyanyangi Halya seperti saudara sendiri, begitupula sebaliknya. Hingga akhirnya mereka memutuskan untuk menikah, Raka tidak pernah merasa ada yang salah dengan ‘naik tingkat’-nya hubungan mereka. Bukankah cinta bisa diusahakan?

Ternyata benar, ya, nggak ada yang murni di antara persahabatan pria dan wanita. (hlm. 63)

Cerita persahabatan antara Raka dan Halya yang berlanjut ke pelaminan ini bukanlah spoiler, karena baru disinilah cerita dimulai. Menikah dengan sahabat sendiri ternyata tak segampang yang dibayangkan. Yang paling utama adalah rasa canggung x)

Banyak bertebaran kalimat favorit:

  1. Nasib lebih rumit dibanding rumus fisika saat SMA, tidak sesuai kehendak dan rencana manusia, tidak terprediksi. (hlm. 11)
  2. Namanya juga jodoh nggak akan kemana. (hlm. 17)
  3. Butuh waktu untuk belajar saling mencintai. (hlm. 19)
  4. Kamu nggak akan pernah hidup berdampingan dengan masa lalu. (hlm. 25)
  5. Seringkali feeling seorang ibu memang membawa kegelisahan tersendiri. (hlm. 28)
  6. Tiap orang punya kelebihan dan kekurangan masing-masing. (hlm. 78)
  7. Nggak semua pertanyaan bisa dijawab sesuai nalar logika. Termasuk cinta. (hlm. 85)
  8. Jatuh cinta ternyata selayaknya candu. Memabukkan dan bikin nagih. (hlm. 117)
  9. Bagi cewek, dilamar sama cowok itu romantis. Lebih daripada ditembak untuk jadi pacar. (hlm. 118)
  10. Semua orang pernah merasa takut dan kamu nggak bisa lari darinya. (hlm. 130)
  11. Nggak pernah ada yang salah dalam mengungkap perasaan sendiri. (hlm. 182)
  12. Cinta itu seperti secangkir kopi. Banyak jenis dan ragamnya. (hlm. 191)
  13. Tidak ada rasa yang lebih istimewa, dibanding bahagia karena melihat orang yang dikasihi bahagia. (hlm. 219)

Banyak juga selipan sindiran halusnya:

  1. Sepertinya jadi presiden lebih menyenangkan karena bisa mengendalikan banyak orang. (hlm. 2)
  2. Pria sejati itu nggak melihat dari fisik saja. Tapi, dari inner beauty dan kepribadian. (hlm. 3)
  3. Tiap pagi sarapan mie instan, bisa melilit beneran nati ususnya. Nggak sehat. (hlm. 9)
  4. Makanya, cari pacar itu yang serius. (hlm. 50)
  5. Jangan pernah berburuk sangka kepada orang lain. (hlm. 70)
  6. Namanya juga pasangan pasti ada berantemnya. (hlm. 81)
  7. Makanya, belajar tentang cewek. Jangan asal main tebak aja. (hlm. 97)
  8. Konon, cemburu itu tanda cinta. (hlm. 100)
  9. Jangan lihat wanita dari tampilan fisik aja, dong. (hlm. 111)
  10. Patah hati? Biarkan saja berlalu seperti tertiup angin. (hlm. 113)
  11. Bagi mahasiswa tingkat akhir, sidang skripsi ibarat hari yang diramalkan paling buruk setelah kiamat. (hlm. 126)
  12. Jangan terlalu cuek dan antipati sama cowok. Lihat, dengar, rasakan. (hlm. 142)
  13. Cari kerja zaman sekarang memang susah. (hlm. 143)
  14. Kejutan-kejutan yang sering kamu berikan kepadaku mengidentifikasi telah banyak korban wanita bergelimpangan. (hlm. 160)
  15. Tak peduli sehebat apa perang dan permasalahan yang dihadapi, kita tidak boleh bergantung dan disetir orang lain. (hlm. 161)
  16. Jangan sampai keterlambatan membuatmu menyesal. (hlm. 173)
  17. Pacaran dengan sesama kuli Jakarta itu hampir sama dengan menjalani long distance relationship. Jarang ketemu. (hlm. 175)
  18. Kalau cewek nggak mau dianggap jadi pembantu saat udah nikah nanti, jangan menganggap pacar-pacar mereka sekarang jadi sopir atau tukang ojek. (hlm. 175)
  19. Nggak baik menyembunyikan perasaan sendiri. (hlm. 181)
  20. Lelaki mana yang rela kekasihnya pergi dengan lelaki lain? (hlm. 203)
  21. Ketidakjujuran itu satu pangkal masalah dalam hubungan. (hlm. 271)
  22. Masalah pernikahan nggak hanya ada di sinetron. (hlm. 299)
  23. Dalam pernikahan, dibutuhkan cinta dan iman. Dua hal itu yang akan menjadi stimulus agar rumah tangga tidak retak. (hlm. 304)
  24. Antara mencintai dan ego kenginan untuk memiliki itu berbeda. (hlm. 342

Ini bukanlah jenis cerita friendzone, di mana persahabatan antara cewek dan cowok yang salah satunya memendan rasa bertahun-tahun. Bukan. Bukan cerita seperti itu.

Ini kisah di mana sepasang sahabat yang masing-masing punya tambatan hati kemudian malah justru menikah dan harus melewati kerikil-kerikil kehidupan.

“Kalau sampai umur kita tiga puluh tahun dan masih sama-sama single, aku ngelamar kamu aja.” (hlm. 3)

Perjanjian seperti ini antara sepasang sahabat bukan pertama kali yang saya baca. Dulu pernah baca Camar Biru tentang sepasang sahabat yang menikah, yang satunya memang memendam rasa bertahun-tahun. Novel ini beda.

Ada aura-aura kuliah sampai masa-masa kritis ketika skripsi, ada juga penggambaran kerasnya kerja di Jakarta yang setiap hari bergumul dengan macet. Meski gajinya gede, saya mah ogah jadi kuli Jakarta, tua di jalan x)

Pas abis baca ini jadi mikir, jadi nanti kalo udah mentok umur kayak Halya, boleh juga ya nyari jodoh sahabat sendiri x) #eaaa #ngarep

Keterangan Buku:

Judul                                     : Coupl(ov)e

Penulis                                 : Rhein Fathia

Penyunting                         : Noni Rosliyani

Perancang sampul           : Joko Supomo

Pemeriksa aksara             : Kamus Tamar & Pritameani

Penata aksara                    : BASBAK_Binangkit

Ilustrasi sampul                 : Shutterstock

Penerbit                              : Bentang

Terbit                                    : Februari 2013

Tebal                                     : 388 hlm.

ISBN                                      : 978-602-7888-12-8

14 thoughts on “REVIEW Coupl(ov)e

  1. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  2. Mungkin cinta masih bisa dibeli, tapi tidak dengan patah hati. (hlm. 110)

    belajar lebih menghargai cinta

  3. Nggak kebayang nikah sama sahabat sendiri tuh gimana ya..

    Dan jadi deg baca kalimat ini:
    Ternyata benar, ya, nggak ada yang murni di antara persahabatan pria dan wanita. (hlm. 63)

  4. Salah satu cerita cinta favoritku itu disaat sahabat jadi cinta. Aku jadi pgn tau gimana Raka dan Hilya setelah menikah, trs gimana menghadapi kecanggungan mereka.
    Dan ngomong2 si Hilya sama kayak aku yg moody dan kadang hanyut sama dunia khayalan yg diciptain sendiri :v dan cover dari buku ini bagus, lucu, aku suka

  5. emang katanya laki-laki sama perempuan itu ga bisa bener-bener jadi sahabat. pasti ada perasaan lebih entah dari salah satu atau keduanya. tapi itu Raka dan Halya memutuskan menikah saat mereka ga ada perasaan apa-apa kan ya? kok bisa? ih penasaraannn pengen tahu mereka waktu menikah dan setelahnyaa

  6. Buku ini merupakan buku karya Rhein Fathia paling tebal yang aku baca. Perjalanan setelah menikah bener-bener panjang, banyak flashback dan sedikit demi sedikit tumbuhnya cinta di antara mereka dijelaskan, jadi lebih jelas.

    Tapi aku sedih pas menjelang ending, ga mau ngasih tau takut spoiler😀. Baca aja, aku jamin, walau diliat dari luar buku ini terlihat tebal, tapi ga kerasa bacanya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s