REVIEW Remedy

WP_20150510_002

Menyelesaikan urusan masa lalu itu modal yang baik untuk maju ke depan. (hlm. 85)

Adalah TANIA yang ditinggal mamanya selama-lamanya. Semenjak itu, kehidupan Tania suram. Dia hanya tinggal sendiri. Papanya bekerja di tempat yang jauh. Karena kesendiriannya ini, Tania mengalami depresi yang lumayan berat bagi remaja seumurannya.

Ditinggal orangtua, terutama orang yang melahirkan kita memang berat. Apalagi di masa tumbuh meremaja yang seharusnya kaya akan siraman kasih sayang dari orangtua. tapi itu tidak berlaku bagi Tania. Belum lagi di sekolah, beberapa teman kerap memanfaatkannya. Seringkali urusan piket kelas dilimpahkan kepadanya, padahal teman-temannya itu hanya hang out ke mall. Tania tidak bisa menolak. Tania selalu diam dalam kesendiriannya. Dia memendam semuanya sendiri. Di kesendiriannya itu, jika masalah menimpa, yang dilakukannya adalah menyakiti diri sendiri dengan cara menyayat lengannya. Hal yang terlihat ngilu itu justru membuat Tania merasa lebih baik. Tidak ada yang tahu dengan kebiasaannya itu. Dengan menyakiti diri sendiri, Tania justru merasa lega dengan segala permasalahan yang dihadapinya. Saya jadi teringat ketika SMA memiliki teman yang setipe dengan Tania ini, tapi nggak separah yang Tania lakukan. Tiap dia berantem dengan pacarnya, selalu menyilet dirinya sendiri. Kalo dipikir sekarang, duh ababil banget ya, apalagi sekarang mereka memang tidak ditakdirkan berjodoh, sudah menikah dengan pasangan masing-masing x)

Tapi masalahnya tetap ada. masalahnya tidak pergi. (hlm. 40)

Sedangkan NAVIN juga memiliki masalah yang dia simpan rapat dalam kehidupannya. Bedanya, Navin memiliki anggota keluarga yang mendukungnya. Meski begitu, masalah yang dihadapi Navin juga pelik. Gawatnya, Tania mengetahui rahasia Navin sejak laki-laki itu menginjakkan kaki pertama kali di sekolah, bahkan sebelum memperkenalkan diri sebagai anak baru di sekolah Tania.

Tidak. Aku tidak cinta padanya. Aku hanya senang karena ada seseorang yang menemani. Itu saja. (hlm. 107)

NAVIN dan TANIA adalah representasi remaja dengan segala permasalahannya. Betapa peran keluarga sangat berpengaruh membentuk kepribadian seseorang. Kisah Navin dan Tania sama-sama pilu. Dua orang yang awalnya tidak kenal sama sekali ini tak disangka kejadian demi kejadian akan menautkan mereka. Pesan moral dari buku ini adalah betapa beratnya beban hiduplah, jangan pernah putus asa karena sesungguhnya di luaran sana masih banyak orang yang jauh lebih butuh ditolong dari kita.

“Mungkin memang begitu. Suatu hari nanti, gue harap gue siap untuk berbagi rahasia dengan lo.”

“Mungkin suatu hari nanti, aku juga akan memberitahumu rahasiaku.” (hlm. 140)

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Semua orang punya hal-hal yang tidak ingin mereka buka bagi orang lain. (hlm. 55)
  2. Terkadang tidak melakukan apa-apa justru membantu. (hlm. 137)
  3. Kasih kesempatan buat diri lo sendiri. (hlm. 190)

Ada juga selipan kalimat sindiran halus dalam buku ini:

  1. Bagaimana mungkin menolak permintaan seorang guru? (hlm. 15)
  2. Jangan melamun kalau lagi jalan. (hlm. 33)
  3. Biasanya cewek nggak suka panas-panasan kan. (hlm. 52)
  4. Kalau dekat ngapai pakai mobil? (hlm. 52)
  5. Menikah sewaktu masih kuliah bukan hal yang aneh, kan? (hlm. 76)
  6. Ada orangtua yang masih berpikir kalau jurusan IPA itu lebih bergengsi dari jurusan lainnya. (hlm. 159)

Ini adalah buku dari seri #YARN terbitan Ice Cube yang saya baca dan menyukainya. Teenlit nggak melulu soal cinta menye-menye, tapi ada sisi lain yang bisa dikupas, contohnya tema yang diangkat buku ini. Untuk cover, sebenarnya suka, apalagi biru adalah warna favorit saya. Sketsanya juga bagus, hanya saja arsiran sketsanya kurang tajam jadi kalah dengan warna backgroundnya. Coba sketsa Tania dan Navin dibuat warna hitam, akan kontras dengan warna backgroundnya jadi lebih terlihat.

Keterangan Buku:

Judul                                     : Remedy

Penulis                                 : Biondy Alfian

Penyunting                         : Katrine Gabby Kusuma

Perancang sampul           : Deborah Amadis Mawa

Penata letak                       : Teguh Tri Erdyan

Penerbit                              : Ice Cube

Terbit                                    : 2015

Tebal                                     : 209 hlm.

ISBN                                      : 978-979-91-0188-0

10 thoughts on “REVIEW Remedy

  1. Uda baca juga buku ini. Awalnya sih agak boring ya, terus kerasa teenlit banget. Tapi pas udah sampe ke kilmaks konflik (bagian ceweknya), aku ngerasa konfliknya terlalu sensitif ya untuk novel yang acuannya pada remaja.. jadi lebih cocok ke YA (atau memang bergenre YA? Eh tapi menurutku teenlit sih, secara awan sekolahnya terasa banget, lokasinya pun kebanyakan di sekolah.)

  2. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  3. Sebenrnya banyak tau kak yg ngalamin kayak si Tania ini. Mungkin di Indonesia jarang banget, tapi kalau di luar negeri tuh banyak banget. Yg nyiletin tangannya sendiri karena dibully, sakit hati, dll. Sbnrnya nggak ada gunanya sih nyakitin diri sendiri.

  4. Menurutku seri YARN itu teenlit yang beda banget biasanya, emang bener kata ka Luckty, YARN itu mengupas sisi lain seorang remaja.

    Apalagi kalo remaja jatuh cinta labil banget, kalo dapet masalah banyaknya mendem sendiri.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s