REVIEW Days of Terror

DOT 1

“Kita harus tetap melanjutkan hidup. Biarlah yang mati tetaplah mati.” (hlm. 130)

ORIANA namanya. Dia selalu terlihat berantakan. Rambut ijuk membuatnya terlihat bad day setiap hari. Rambut singa, tubuh kerempeng, mata belo dan hidung yang melesak karena gravitasi bumi.

Hidupnya selalu mengalami kesialan beruntun, hampir setiap hari. Yup, hampir setiap hari. Di halaman 7, roknya tersiram air cucian dari tukang mie ayam yang sering mangkal di depan sekolah. Di rumah pun, mau cuci tangan saja keran airnya bocor dan muncrat membasahinya di halaman 20, kemudian di halaman 44 lagi-lagi dia bermasalah dengan air yaitu ketika hendak berangkat sekolah, air menyemprot persis di depannya, tepat di tempat dia berhenti. Dan ternyata dia juga sering bangun kesiangan saat harus berangkat sekolah, cek aja di halaman 29. Hidupnya dikelilingi serba kesialan.

Jadi anak kurus kering saja sudah menyulitkannya, apalagi bisa melihat hantu. Bagaimana bisa? Padahal kan dia bukan anak indigo. Ini semua gara-gara almanak yang dibeli ibunya. Semenjak itu hidupnya tak pernah lagi sama. Kesialan-kesialan perlahan memudar darinya. Ketika sudah tidak sial? Apakah dia merasa bahagia?

“Kau sang penjelajah waktu. Hanya kau sang empunya masa. Bukalah lembaran kayu. Pada suatu ketika waktu beku. Semua bisa terjadi saat kau… TERKUTUK.” (hlm. 26)

Apa itu almanak? Menurut WIKIPEDIA, almanak adalah sebuah terbitan tahunan berbentuk informasi mengenai bidang tertentu. Nah, apa bedanya almanak dan kalender? Kalender bisa dikatakan bentuk sederhana dari almanak, sedangkan almanak itu lebih rumit dari kalender. Di dalam almanak tidak hanya terdapat penanggalan, namun ada keterangan mengenai prakiraan cuaca, musim, letak bulan dan bintang. Bahkan, ada almanak khusus untuk petani yang memberikan keterangan pada bulan apa petani harus menanam. Di situ juga dicantumkan jenis tanaman apa yang sebaiknya ditanam.

“Almanak itu seharusnya tidak boleh keluar dari dalam kamar. Sekali keluar, maka dia tidak bisa dihentikan. Pada mulanya almanak itu akan memberimu keuntungan, sampai akhirnya kamu terus ketagihan untuk terus melakukan perjalanan waktu. Padahal ada harga yang harus dibayar dalam tiap perjalanan itu.” (hlm. 117)

Ini adalah yang ketiga buku lokal yang saya baca tentang melintasi waktu. Pertama, Incognito yang ditulis Windhy Puspitadewi dengan pilihan jam sebagai media untuk melintasi waktu. Kedua, Time After Time yang ditulis Aditia Yudis dengan pilihan kompas sebagai media untuk melintasi waktu. Nah, yang ketiga buku inilah yang ditulis oleh Mbak Ruwi Meita. Di sini, media yang digunakan adalah almanak.

DOT 2

Dari covernya, kita melihat bahwa buku ini bertema horor. Ada sepasang mata yang mengintai tokoh utama dari balik rak buku perpustakaan, hiiiyyy…sereeemmm… Jadi keinget, di sekolah demen banget murid-murid unyu pada nyempil di sela-sela rak buku perpustakaan. Katanya enak buat ngadem. Begitu juga dengan Oriana dan Kalea, sahabatnya di buku ini yang juga menjadikan perpustakaan sebagai ruang berbagi rahasia mereka, terutama di rak belakang perpustakaan. Siapa sangka, kini lokasi rahasia mereka itu sudah tidak aman, ada sepasang mata yang menggelisahkan bagi Oriana. Hiyyyyy…. >.< #KemudianKhawatirPasNyapuRuangRakBukuKaloKaloAdaSepangMataMengintai

Bukunya memang tipis, namun mampu membuat hati kebat-kebit saat membacanya. Makanya saya nggak berani baca malem-malem. Bacanya pas di tempat rame. Ada beberapa adegan di buku ini yang bikin bulu kuduk berdiri karena merinding;

  1. Kutengok kepalaku ke kiri dan aku menyesalinya. Aku berusaha berpaling, tapi sudah tidak bisa. Separuh wajah nenek-nenek tampak sedang mengintaiku dari ujung lorong. Matanya menatapku tajam. Rambut putihnya menjuntai sampai lantai. Teksturnya aneh. Setelah kuperhatikan rambut nenek itu memang dari pasir, yang mengucur dari atas kepala sampai ke lantai tanpa pernah habis. (hlm. 49)
  2. Dari arah jendela, terdengar suara kaca digores. Aku menoleh dan menemukan wajah sangar dengan kuku tajam. (hlm. 58)
  3. Tangan Pak Sidi sangat aneh. Pucat dan retak. Kuku-kukunya kotor dan berwarna biru gelap. Seperti racun. Aku menelan ludah, tanganku bergetar. Suara kertas yang bergesek semakin membuatku gelisah. (hlm. 64)

Itu si kenek angkot suka banget mengintimidasi Oriana plus kepo banget pula, kasihan anak seumuran Oriana biasanya kalo diintimidasi kayak gitu pasti jadi kecil hati. Begitu juga dengan Fla, ada, ada banget tipikal remaja kayak gini; sok kuasa, sok punya segalanya dan kerap membully yang bisa diintimidasi. #PukPukOriana

Lewat tokoh Kalea, kita bisa merasakan perihnya kehilangan terutama saat kehilangan orangtua. kehilangan papa saat berat baginya. Bagi Kalea, papa adalah segalanya.

Pesan moral dari buku ini adalah jangan pernah menggunakan barang yang tidak kita tahu asal usulnya. Bisa jadi akan menjerumuskanmu pada hal-hal yang tak terduga. Oya, manusia selalu memiliki sifat tamak alias tidak pernah puas. Begitu satu hal telah terpenuhi, akan menginginkan yang lain. Begitu terus, tidak akan pernah puas. Jangan sampai sifat tamak mendominasi dari diri kita.

Meski bukunya tipis, selalu saja Mbak Ruwi Meita dengan cerdas menutup cerita dengan ending yang tak terduga!😉

Keterangan Buku:

Judul                                                     : Days of Terror

Penulis                                                 : Ruwi Meita

Editor                                                    : Ry Azzura & Ario Sasongko

Penyelaras aksara                            : Funy DRW

Penata letak                                       : Irene Yunita & Erina Puspitasari

Desain & ilsutrasi sampul              : Dedy Koerniawan & Ayu Widjaja

Penerbit                                              : Bukune

Terbit                                                    : April 2015

Tebal                                                     : 134 hlm.

ISBN                                                      : 602-220-155-1

Mau buku ini? Tunggu postingan selanjutnya!😉

days of terror blogtour

37 thoughts on “REVIEW Days of Terror

  1. Pingback: #DaysOfTerror Blogtour + GIVEAWAY | Luckty Si Pustakawin

  2. Wahh, review nya keren mbk. Saya suka,saya suka. Bikin penasaran banget. Pengen cepet-cepet baca supaya tahu hantu nenek2 itu siapa trus endingnya gimana

  3. riveawnya bagus, penasaran sama buku-buku Mbak Ruwi Meita ceritanya horor dan penuh misteri. Kalau boleh tau terinspirasi dari mana mbak?

  4. ah benar, jangan pernah menggunakan barang yangtidak diketahui asal-usulnya. Tapi yah begitulah kita yang penuh dengan rasa ingin tahu. hehehe. Nice review kak, jadi pengen baca bukunya, baru kali ini suka cover cerita horor, karena ada rak bukunya. hehehe

  5. bikin penasaran nih kak Ruwi, apalagi dengan endingnya yg katanya ngejutin
    tapi sepertinya bakal ngeri deh, horornya udah berasa di mata-mata yang menggelisahkan Oriana itu (dan langsung nular ke aku)
    good Job kak Reviewnya🙂
    *prepare ngeresensi kalo novel aku yang dapet*🙂

  6. Hiiiiyyy paling ngeri kalau nemu benda-benda yang ada penghuninya seperti almanak, hampir mendekati seperti batu akik ya. Bencana kalau kita yang dipilih untuk nemuin, gatau kalau bencana, sial, ataupun bayang-bayangi hal yang jahat membuntuti kita. Mungkin novelnya serem dan kurang cocok dibaca sama anak-anak, kecuali untuk yang nekat >< baca reviewnya serasa ada sesuatu yg memerhatikan saya hiii O.O

  7. Review nya menarik utk dibaca. Mnimbulkan daya tarik yg bgitu kuat utk mmbaca novel ini. Juga membuat penasaran ingin membaca novelnya. Kebetulan sy sedang tertarik dg novel sejenis #DaysOfTerror sprti ini. Semoga lain waktu bs memiliki novel ini.

  8. Saya kira ini murni horor, ternyata ada kisah melintasi waktu juga, toh.
    Ada satu pertanyaan yang mengganjal…
    Almanaknya almanak dinding atau almanak meja?
    *lalu didepak 😀

  9. aku nggak nyadar kalo ada mata mengintai di balik rak buku di kaver itu kalo bukan karena kak luckty yang bilang. Udah baca di tempat rame pun kak luckty masih aja merinding. Cemana aku yang biasa baca sendirian dalam kamar? Waaaah cocok dicoba sebagai sarana uji nyali nih. Hehehe

  10. Waah akhirnya Giveaway Days Of Terror datang😀 sudah kutunggu-tunggu dari kapan hari hehe😀
    Oke, dari reviewnya begitu buat ku tertarik dengan cerita ini, aku liat dari covernya itu keren, kesan horornya dapet banget. Hmm mungkin memang kurang tebel ya, tapiii… Aku begitu tertarik buat bacanya🙂

  11. Pingback: #DaysOfTerror Blogtour + GIVEAWAY | Julie S3pty

  12. 1.Kutengok kepalaku ke kiri dan aku menyesalinya. Aku berusaha berpaling, tapi sudah tidak bisa. Separuh wajah nenek-nenek tampak sedang mengintaiku dari ujung lorong. Matanyamenatapku tajam. Rambut putihnya menjuntai sampai lantai. Teksturnya aneh. Setelah kuperhatikan rambut nenek itu memang dari pasir, yang mengucur dari atas kepala sampai ke lantai tanpa pernah habis. (hlm. 49)

    Semalem sebelum tidur baca review-nya, baru sampe adegan no 1 udah merinding ajah, langsung deh offline, baru pagi ini berani ngelanjutin baca review-nya.

    Serem banget, Kak. Berasa aku sendiri yang ada di adegan no 1 nya. Padahal aku kalo nonton film horor biasanya milih nonton sendiri tengah malam biar kerasa seremnya, tapi cuma baca review ini aku udah merinding duluan.
    Jadi penasaran cerita lengkapnya, kira-kira aku berani nggak ya baca buku ini sampe tamat sebelum tidur :3

    Kak Luckty ajah sampe-sampe baca di tempat rame, berarti nih buku jempol banget horornya… Penasaraaan.

  13. Pengen baca bukunya deh. Penasaran!!!
    Trus kata-kata ” Pada mulanya almanak itu akan memberimu keuntungan, sampai akhirnya kamu terus ketagihan untuk terus melakukan perjalanan waktu. Padahal ada harga yang harus dibayar dalam tiap perjalanan itu.” kira-kira apa ya harga yg harus dibayar?

  14. Melintasi waktu dengan almanak ? Saya sendiri masih belum tau bentuk asli almanak itu seperti apa dan kemudian dimasukkan sebagai media untuk melintas waktu dalam sebuah buku, itu ide baru yang belum pernah saya baca, saya jadi pingin tau cara kerja almanak di novel Days Of Terror, nice review😉

  15. Wah, ada perjalanan waktunya! Demenan aku ini mah. Seru nih kayaknya. Hehehe. Yah, tapi ini masuknya genre horor. Aku tidak menggemari genre ini (baca: takut :’D). Tapi, setting-nya di perpus juga. Demenan aku juga si kutubuku. Tapi, ada hantunya. Oke, karena dari review Kak Luckty ini kayaknya ceritanya bagus, kalau ada kesempatan, aku mau baca buku ini. Doakan aku semoga berani, Kak! Hobah!

  16. Good job for the review! Singkat, padat dan jelas. Sukses banget kak luckty menarik aku untuk membeli buku ini😁 eh mengikuti giveaway ini sih lebih tepatnya😂 mbak Rumei memang selalu punya ide-ide cerita yang bagus dan cara khusus untuk mengejutkan kita di endingnya. Kak luckty ga ngebahas kekurangan buku ini, berarti perfect dong ya menurut kak luckty?😊 oiya aku ga nyadar ada mata yang ngintip di balik rak buku sebelum kak luckty bilang, pas nge-scroll ke atas, baru ngeh deh😁 kayanya buku ini cocok untuk menemaniku saat terbangun di malam hari😋☺

  17. Oh, jadi sebenarnya Oriana ini dulunya selalu sial, tapi setelah ada almanac tadi, kesialannya sedikit demi sedikit menghilang dan digantikan kemampuannya melihat dunia lain. Btw, kita sama nih kak. Beberapa hari yang lalu saya juga baru selesai baca buku bergenre horror, tapi ya gitu. Nggak berani baca malem-malem. Takut kebawa mimpi. Meskipun awalnya saya nggak begitu suka dengan buku bergenre horror yang menampilkan deskripsi dedemit yang amit-amit itu, tapi nggak ada salahnya juga baca buku ini. Ya…itung-itung terapi ngilangin rasa takut baca buku bergenre horror. Siapa tahu nanti malah ketagihan pengen terus baca buku bergenre horror😀

  18. sukaaaa reviewnya Bu Lucty. Singkat, padat jelas, tidak menggurui, tidak spoiler. Membaca review ini saya saya sudah merinding, apalagi membaca novelnya. Saya jarang sekali membaca novel horor karena ya… aku masih takut hantu (?) tapi untuk novel ini aku benar-benar ingin membaca.

    adengan 1. Kutengok kepalaku ke kiri dan aku menyesalinya. Aku berusaha berpaling, tapi sudah tidak bisa. Separuh wajah nenek-nenek tampak sedang mengintaiku dari ujung lorong. Matanyamenatapku tajam. Rambut putihnya menjuntai sampai lantai. Teksturnya aneh. Setelah kuperhatikan rambut nenek itu memang dari pasir, yang mengucur dari atas kepala sampai ke lantai tanpa pernah habis. (hlm. 49). Bu Lucty ini sereeeeeemmm banget aku berasa mengalami sendiri adegan ini,

  19. Kalo udah baca review dan ada beberapa cuplikan dari buku #DaysOfTerror ini bikin penasaran, pengen punya tapi gak punya uang. Semoga ikutan blogtour ini bisa dapet buku ini secara gratis. AMIN…

  20. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  21. Hantu nenek2 tuh selalu bisa ngebuat aku merinding. Jadi disini Oriana diteror sama hantu2 gitu? Berapa banyak hantunya?

  22. Mbak Ruwi Meita itu penulis lokal favoritku! Cerita-ceritanya selalu punya keunikan tersendiri. Tapi Mbak Ruwi juga selalu mempertahankan ciri khas dalam penulisannya. Walaupun buku ini tipis, tapi pembaca dapat mendalami ceritanya. Aku jadi selalu nungguin update-an Mbak Ruwi kalau ada buku yang mau terbit ^^

  23. Aku ga ngeh ada mata yang nyempil di rak buku, jadi scroll lagi ke atas. Aku kira ka Luckty bakalan suka, kan perpustakaan abis, padahal baru covernya aja walaupun serem.

    Ini buku yang diteror bukan cuma tokoh utamanya aja, tapi yang baca juga. Awas ada teror mengintai, tengok kanan-kiri, depan-belakang, atas-bawah😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s