REVIEW Matinya Burung-burung

BURUNG 1

“Pernahkah kau mencintai seseorang?” (hlm. 75)

Ada beberapa keistimewaan dalam buku ini. Pertama, ini merupakan kumpulan cerpen sangat pendek. Ya, sangat pendek. Bukan cerpen pendek, tapi sangat pendek. Cerita sangat pendek biasanya kurang dari 1000 kata. Umumnya cerpen yang dimuat di sini memiliki kurang dari 1000 kata, hanya ‘Hantu-hantu Agustus’ yang ditulis Gabriel Garcia Marquez lah yang ditulis lumayan panjang, kurang lebih 900 kata. Kedua, cerpen-cerpen di sini merupakan kumpulan cerpen dari Amerika Latin yang jarang diterjemahkan ke Bahasa Indonesia. Dibandingkan dengan cerita klasik atau cerita dongeng yang satu judul bisa diterjemahkan oleh beberapa penerbit, kumpulan cerpen Amerika Latin memang jarang terjamah oleh dunia penerbitan kita. Nah, makanya saya antusias sekali sewaktu buku ini terbit.

Berikut daftar isinya:

BURUNG 2BURUNG 4 BURUNG 3

Dari ratusan cerpen yang dimuat di sini, ada beberapa yang menjadi pilihan favoit:

SIMULAKRA – EDMUNDO PAZ SOLDAN (BOLIVIA

Adalah Weiser sebagai tokoh utamanya yang sedari kecil sudah membohongi ibunya. Dia berpura-pura sekolah di waktu kecil hingga dewasa pun berpura-pura menjadi dokter. Hidupnya penuh dengan kepura-puraan. Hingga tibalah suatu hari ibunya jatuh sakit, Weiser yang hanya berprofesi sebagai dokter (gadungan) ini musti memeriksa ibunya sendiri. Pesan moral dari buku ini adalah kita tidak bisa terus hidup penuh dengan kepalsuan dan kita tidak bisa lari dari kenyataan.

INSOMNIA –  VIRGILIO PINERA (KUBA)

Insomnia kerap menghantui seseorang. Perilaku ini biasanya akan mempengaruhi kehidupan seseorang. Yang lain tidur, dia terjaga. Begitu pula sebaliknya. Insomnia di cerpen ini menyiksa tokoh utamanya, bahkan saat kematian sudah menjemputnya pun dia tetap insomnia.

MATINYA BURUNG-BURUNG – VIRGILIO PINERA (KUBA)

Cerpen ini merepresentasikan bahwa takdir tokoh di tiap cerpen ditentukan oleh sang penulis. Ibarat Tuhan, penulis bisa membolak-balik takdir para tokoh yang ditulisnya.

ACARA HIBURAN – ANA MARIA SHUA (ARGENTINA)

Program kuis televisi. Ternyata tidak hanya jaman sekarang, era dulu televisi juga penuh dengan sandiwara atau serba pura-pura yang hanya untuk menaikkan rating. Hal ini yang menjadi faktor saya malas menonton TV. Sejak lulus kuliah, ritual menonton TV sudah jarang sekali dilakukan, sebab isinya hanya para alay yang menjadi tonton bayaran, berita politik yang subjektif dan tergantung pemiliki stasiun televisi, dan berita artis settingan demi naik pamor #PusingPalaBarbie

TELEPON – ANA MARIA SHUA (ARGENTINA)

Ini cerpennya singkat banget tapi deskriptif banget. Tentang penjabaran deskripsi telepon; diperlukan imajinasi dan keyakinan yang berlimpah untuk selalu mengansumsikan bahwa di seberang sambungan memang ada sosok nyata yang mengeluarkan suara itu.

KRONIK KOTA HAVANA – EDUARDO GALEANO (URUGUAY)

Cerpen ini menjadi favorit karena ada hubungannya dengan perpustakaan😀 #JiwaPustakawanLangsungMuncul

HANTU-HANTU AGUSTUS – GABRIEL GARCIA MARQUEZ (KOLOMBIA)

Cerpen paling panjang diantara cerpen lain di buku ini, dan paling bikin merinding isi ceritanya, hiyyy…. >.

BAU MAYAT – SERGIO RAMIREZ (NIKARAGUA)

Isi ceritanya berhasil membuat mual pembacanya. Setipe kayak cerpen HANTU-HANTU AGUSTUS >.

Ada juga tiga cerpen yang paing keren, paling singkat dan paling dapet isi ceritanya meski amat sangat pendek:

BURUNG 5 BURUNG 6

Menilik cerpen sangat pendek, Indonesia sebenarnya punya wadahnya yang beberapa tahun lalu sempat booming; #FiksiMini via twitter, bahkan beberapa di antara penulisnya yang eksis lewat komunitas ini sudah menelurkan buku. Dulu pas baru-barunya komunitas ini, saya juga sempat tertarik untuk ikutan nge-twit dengan tema yang biasanya telah ditentukan. Mengikuti Komunitas FiksiMini ini memiliki tantangan tersendiri, hanya dengan 140 karakter kita harus bisa membentuk rangkaian cerita yang singkat, padat dan jelas.

Ternyata di Jepang juga ada istilah sendiri; keitsai shosetsu (sastra ponsel). Jumlah batasan kata yang ditulis lebih sempit. Karena di handphone hanya bisa memuat 100 kata atau 69 kata. Pada 2007, separuh dari 10 buku fiksi paling laris di Jepang berasal dari sastra ponsel ini. Padahal di Jepang sekitar abad ke 17, sudah ada haibun, yaitu prosa dalam format haiku, ini yang nantinya menjadi cikal bakal dari keitsai shosetsu yang muncul di era modern.

Wah, menarik ya kalo udah ngomongin sastra. Dulu pas jaman SMA, pengen banget masuk jurusan bahasa. Sayangnya, SMA tempat saya sekolah nggak ada jurusan ini, pilihannya cuma IPA dan IPS. Begitupun saat menginjak bangku kuliah, sempat ada niatan pengen masuk jurusan Sastra, dan berakhir di Jurusan Ilmu Perpustakaan yang juga dikelilingin dunia buku😉 #IniKenapaMalahCurcol

Keterangan Buku:

Judul                                                     : Matinya Burung-burung

Penyusun & Penerjema                                : Ronny Agustinus

Penyunting                                        : Dea Anugrah

Desain sampul                                   : Fahmi Fauzi

Penata letak                                       : Indah Tri Marty

Penerbit                                              : Moka Media

Terbit                                                    : April 2015

Tebal                                                     : 168 hlm.

ISBN                                                      : 978-979-795-983-8

Dapatkan buku ini di toko buku online Bukupedia

http://www.bukupedia.com/id/book/id-32-90040/novel-fiksi-cerpen/matinya-burung-burung.html

7 thoughts on “REVIEW Matinya Burung-burung

  1. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  2. Ahh aku tertarik banget kalau udah menyangkut amerika latin, ditambah ini cerita2 yg belum terlalu diketahui banyak org. Tapi mungkin yg kurang ini ceritanya terlalu pendek

  3. Aku kira cerita horor, tapi cuma sedikit ya yang berbau horor-nya.

    Wah jarang banget buku terjemahan dari Amerika Latin, lagi pula yang kebayang bukannya cerpen tapi telenovela.

    Isinya beneran nyentil ya ka, walaupun sedikit isinya, tapi banyak maknanya😀

    Suka ini -> “Kita tidak bisa terus hidup penuh dengan kepalsuan dan kita tidak bisa lari dari kenyataan.”

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s