REVIEW Show Your Work

WP_20150321_003

Gali ruang dirimu di internet. Itu adalah salah satu investasi terbaik, di mana kamu bisa berekspresi dan berbagi karya. (hlm. 65)

Udah nyidam lama buku ini semenjak terbit. Bisa diitung jari dalam setahun buku non fiksi yang saya baca, itu pun yang kira-kira memang menarik dan menggerakkan hati. Salah satunya buku ini. Covernya memang sederhana banget. Tapi jika kita melihat judulnya, kita bisa menerka jika buku adalah sejenis pengembangan diri. Buku ini keren sejak halaman pertama. Suka, bahasanya to the point karena langsung ke sasaran tiap-tiap pokok bahasan ditambah lagi tabel, grafik atau quotes yang menambah poin plus untuk membacanya hingga tuntas.

Ada sepuluh tips cara kerja baru yang diterapkan dalam buku ini. Dan akan saya kupas satu per satu dengan penjabaran dari pengalaman yang saya alami. Maaf ya kalo review kali ini amat sangat sop iler alias spoiler x)

WP_20150321_017

TAK PERLU MENJADI GENIUS

Hal yang menarik dari konsep scenius adalah pemberian ruang dalam kisah kreativitas untuk kita semua –orang-orang yang tidak menganggap dirinya jenius. Menjadi bagian suatu scenius bukan menunjukkan betapa cerdas atau berbakatnya kita, melainkan apa yang kita kontribusikan – gagasan yang kita bagi, kualitas hubungan yang kita jalin, dan percakapan yang kita ciptakan. Jika ingin orang lain tahu apa yang kita lakukan dan kita anggap penting, kita harus berbagi.

Kebanyakan orangtua selalu menuntut anak-anaknya menjadi sejenius Einstein. Padahal setiap anak istimewa. Punya bakat di bidang yang berbeda. Ada anak yang lemah matematik, tapi ahli menggambar. Berarti dia jenius di bidang seni, jika dikembangkan, mungkin suatu saat dia bisa menjadi pelukis terkenal.

Jaman sekolah, meski selalu belajar di sekolah unggulan, saya bukanlah kategori anak dengan nilai akademis separuh ke atas yang pintar. Bisa dipastikan saya tergolong anak dengan nilai akademis ke bawah. Di saat semua berlomba-lomba ingin masuk IPA, saya nggak minat karena bagi saya belajar menghitung itu membosankan. Pengen masuk Bahasa, tapi di kota tinggal tidak ada sekolah yang memiliki jurusan bahasa. Akhirnya memilih IPS tapi nggak suka akuntansi. Barulah saat kuliah, memilih kuliah jurusan Ilmu Perpustakaan yang bisa dikategorikan anti mainstream,  saya justru bisa menikmati yang namanya belajar, karena di saat kuliah inilah baru merasakan yang namanya belajar hal-hal yang disukai. Beda jaman sekolah, suka nggak suka ya musti ikut pelajaran yang sudah ditentukan oleh sekolah x)

PIKIRKAN PROSES, BUKAN HASIL

Sering-seringlah memotret karya kita di berbagai tahap proses. Dokumentasi ini bukan untuk dijadikan karya, melainkan sebagai catatan saja, bagaimana karya kita tercipta. Dipublikasikan atau tidak, mendokumentasikan proses sambil berkarya tetap menguntungkan; karya yang kita garap akan lebih jelas dan kita merasa lebih berkembang. Ketika kita siap berbagi, banyak bahan yang bisa kita pilih.

Dari jaman perpus sekolah masih kayak gudang, sampai kayak sekarang meski belum bisa dikategorikan perpustakaan yang bagus, ya minimal perpusnya sudah bikin nyaman buat murid-murid unyu dateng dan betah ke perpus, semua ada dokumentasinya. Masih dari jaman kamera digital hasil nabung jaman kuliah sampai sekarang pake smartphone hasil menang kuis via blog, mulai dari hal remeh temeh sampai berbagai event nggak cuma di perpus tapi juga kegiatan-kegiatan di sekolah, saya pasti punya dokumentasinya. Website sekolah pun didominasi hasil dokumentasi jepretan saya. Bahkan guru-guru yang melakukan kegiatan di kelas atau di luar kelas juga sering meminta saya untuk mendokumentasikan. Nggak sia-sia dulu ikut matkul Fotografi dapet A, hehehe.. Oya, dokumentasi itu penting loh. Terutama di perpustakaan. Misalnya kayak tahun lalu, ada pengadaan buku dari dinas yang mengalami sedikit problem. Jadi, setiap sekolah mendapat buku tapi tidak ada list yang diberikan. Ternyata setiap sekolah mendapatkan jumlah yang berbeda. Padahal dari pusat jumlahnya sama. Yang bermasalah pihak dinas, semua buku di sekolah di cek satu per satu dan beberapa waktu semua buku ditarik. Bukunya nggak seberapa, tapi ribetnya bikin pusing. Untung kalo di tempat saya kerja meski nggak ada listnya, tapi ada dokumentasi buku-bukunya. Jadi ada buku yang memang tidak ada tapi dibilang sudah dibagi, saya berani ngotot kalau tidak ada karena bisa di cek di dokumentasinya. Menang telak, hehehe…😀

BERBAGILAH HAL KECIL SETIAP HARI

Tak usah berusaha menggugah yang sempurna. Gunakan kreativitasmu. Internet adalah mesin penyalin. Ketika sesuatu yang bisa disalin bersentuhan dengan internet, pasti ada yang menyalin, dan salinannya selalu ada. terbukalah, berbagilah karya tak sempurna dan belum jadi untuk mendapat komentar, masukan, dan kritik, tetapi bukan berarti berbagi segalanya. Ada perbedaan dasar antaraberbagi dan membanjiri. Berbagi adalah tindakan murah hati –kita mempublikasikan sesuatu karena menurut kita bermanfaat atau menghibur seseorang di luar sana.

Jejaring sosial memang hebat, tetapi timbul tenggelam. Jika kita benar-benar tertarik berbagi karya dan brekspresi, ruang maya pribadi sudah jadi kebutuhan. Tempat yang bisa kita kontrol, tempat yang tak bisa diambil orang lain, tempat orang-orang di dunia dapat selalu menemukan kita.

Hampir setiap hari, saya selalu posting foto-foto. Misalnya foto makanan, karena memenag suka makan. Dan lumayan sempat jadi endorse sebuah kafe. Yang paling berpengaruh sih kalo upload foto buku-buku, terutama foto murid-murid unyu bersama buku. Saya jadi kebanjiran buntelan buku tanpe meminta dari penulis atau penerbitnya. Alhamdulillah. Daripada nulis status galau yang nggak penting, mending juga berbagi hal-hal yang menarik. Siapa tahu malah jadi berkah.

BUKA KOLEKSIMU

Kita semua menyukai hal yang dianggap sampah oleh orang lain. Kita harus berani terus mencintai rongsokan kita karena yang membuat kita unik adalah keragaman dan luasnya sumber pengaruh, juga cara unik untuk membaurkan bagian budaya yang dicap orang ‘luhur’ dan ‘rendahan’.

Jaman remaja dulu, saya ini ababil banget. Semua-semua dikoleksi; mulai dari prangko sampai kartu nama para pemain bola. Semua masih tersimpan rapi. Lucunya, kalo pas event kejuaraan sepakbola macam piala dunia, saya punya koleksi yang bisa dijadikan bahan tulisan atau sekedar upload untuk mengenang memori jaman-jaman ababil x)

CERITAKAN YANG BAIK-BAIK SAJA

Kita harus bisa menerangkan pekerjaan kita kepada berbagai kalangan orang. Namun, hanya karena ingin menceritakan kisah bagus tentang pekerjaan diri kita sendiri bukan berarti kita boleh mengarang. Tetaplah pada kenyataan. Sampaikan yang sebenarnya. Berempatilah kepada pendengar kita. Siaplah ditatap bingung. Siaplah ditanya lebih lanjut. Jawablah dengan sopan dan sabar.

Kuliah apa? / Jurusan perpustakaan. / Hah? Emang ada?!? atau Kerjanya apa? / Pustakawan/ Ngapain itu? / Kerja di perpustakaan / Yaelah…bilang aja penjaga buku, sudah biasa banget jika berhadapan dengan pertanyaan-pertanyaan itu. Dan saya nggak pernah bosan menerangkan tiap ada yang nanya. Oiya, jadi lupa mulu mau buat postingan tentang jurusan ama pekerjaan yang anti mainstream ini x)

AJARKAN YANG KAMU TAHU

Mengajari orang lain tidak mengurangi keahlian kita. Justru menambahnya, sewaktu mengajarkan  cara kerja kita, otomatis kita menarik perhatian lebih atas karya itu. Orang merasa dekat dengan karya itu. Orang merasa lebih dekat dengan karya kita karena diizinkan memasuki apa yang kita tahu. Hal yang terbaik ketika berbagi pengetahuan dan karya dengan orang lain adalah kita juga belajar.

Jangan jadi manusia yang pelit berbagi. Saya sering share pengalaman kerja di perpus yang bagi anggapan orang adalah salah satu pekerjaan. Saya ingin menunjukkan bahwa pekerjaan apa pun akan terasa menyenangkan jika sesuai bidang yang kita inginkan. Jangan lupa berbagi akan ilmu yang kita kuasai, dengan berbagi justru menambah ilmu kita.

JANGAN JADI MANUSIA PENYAMPAH

Berhentilah memikirkan berapa banyak yang menjadi follower kita secara online dan mulai pikirkan kualitasnya. Jangan buang waktu membaca artikel tentang cara menambah follower. Jangan bercakap-cakap dengan orang yang tak kita inginkan sebagai lawan bicara, dan jangan bahas hal-hal yang kita tak mau ketahui. Kalau ingin follower, jadilah orang yang pantas di follow.

Buat sesuatu yang kita sukai, lalu kita akan menarik orang-orang yang menyukai hal semacam itu. Sederhana saja. Jangan jadi orang menyebalkan. Jangan buang waktu orang lain. Jangan banyak meminta. Apalagi, jangan pernah meminta orang lain mem-follow-mu. “Follback, ya,” adalah kalimat paling menyedikan di internet.

Saya tidak pernah meminta idola atau penulis/penerbit yang saya follow untuk folbek. Tapi alhamdulillah ada beberapa penulis/penerbit (bahkan penulis luar negeri) yang folbek. Gampang saja. Review atau share bukunya. Otomatis sang penulis pengen tahu lebih lanjut tentang kita. Seseorang akan follow kita karena ada yang menarik dari diri kita. Jadi, tanpa minta difolbek pun akan follow dengan sendirinya kok.

BELAJARLAH MENERIMA PUKULAN

Diganggu provokator di pikiran adalah satu hal, lain lagi ketika orang asing mengatakannya langsung. Punya masalah provokator? Gunakan tombol BLOCK di situs-situs media sosial. Hapus komentar-komentar jahat.

Setiap orang pernah mengalaminya. Terutama di akun instagram. Untung saya belum punya akun ini, soalnya repot sih. Kebanyakan kalo liat orang-orang posting sesuatu meski itu keren tapi memiliki kecenderungan dikomentari nyinyir oleh orang lain. Repot kan? Kalo di twitter, saya nggak pernah menanggapi mention spam iklan/kuis. Anggap aja kita dikenal, makanya dia mention. Nggak perlu marah, apalagi nyinyir. Siapa tahu kita kecipratan hoki. Pernah ada kuis yang mengharuskan peserta untuk mention orang lain yang nantinya sama-sama dapet hadiah. Nah, orang ini nggak saya kenal, dan ternyata dia kepilih pas mention saya, alhamdulillah jadi kecipratan dapet hadiahnya juga. Jadi nggak perlu ngomel plus nyinyir untuk hal yang beginian. Siapa tahu rejeki😀

JUALLAH

Masalah terbesar kesuksesan adalah dunia berkonspirasi menghentikan kita melakukan yang kita kerjakan, karena kita telah berhasil. Kita memang harus bersikap dermawan, tetapi kadang perlu juga egois agar pekerjaan kita selesai.

Menjual diri disini maksudnya menjual kemampuan kita. Orang lain yang menilainya. Dua tahun belakangan, saya dibanjiri permintaan penulis untuk mengadakan kerjasama membuat giveaway/blogtour/kuis dan sejenisnya dalam rangka promosi buku. Hasil dari ‘jual diri’ ini nggak melulu berimbas dengan imbalan uang. Dari penulis, saya pernah mendapatkan kain, mukena, baju, jibab, dan ada juga dalam bentuk uang. Padahal saya melakukan ini dengan senang hati, dikasih satu buku saja udah bahagia banget, jika mendapat imbalan lain, anggap saja bonus😉

BERTAHANLAH

Tancap gas adalah cara keren untuk maju terus, tetapi di satu titik, kita bisa saja jenuh dan perlu menyeimbangkan hidup. Saat terbaik untuk menemukannya adalah sewaktu cuti. Menurut Stefan Sagmeister, kita mengabdikan 25 tahun pertama untuk hidup belajar, 40 berikutnya untuk berkerja, dan 15 terakhir untuk pensiun.

Penulis buku ini mengatakan, setelah lulus kuliah, dua tahun pertamanya digunakan untuk bekerja paruh waktu yang relatif santai di perpustakaan. Hanya menulis, membaca, menggambar. Dia mewujudkan ide yang di dapat periode itu.

Ya ampuunnn. Pengen toss ama penulisnya deh. Kisahnya mirip saya. Pas abis lulus kuliah, sementara yang lain langsung pontang-panting cari kerja, saya malah pengen menikmati hidup yang sesungguhnya; membaca semua buku yang selama ini ditimbun, menonton lebih dari seratus film, pergi ke berbagai tempat yang sudah diidamkan. Saya mikirnya gini, tujuh belas tahun belajar, belajar dan belajar melulu. Bosan. Jenuh. Habis kuliah pengen penyegaran otak dulu. Setahun kemudian setelah puas melakukan hal yang disukai, barulah saya melamar kerja. Peduli amat kata orang-orang, katanya saya menyia-nyiakan hidup selama setahun. Padahal itu adalah tahun ternikmat menikmati hidup yang sesungguhnya. Oya, di tahun itu juga banyak waktu untuk online. Dan saya menemukan banyak sekali teman-teman dunia maya yang menyenangkan sampai sekarang ini😉

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Berikan yang kamu punya. Bagi seseorang, bisa jadi itu berguna baginya melebihi dugaanmu. (hlm. 8)
  2. Begitulah kita semua; amatir. Umur kita terlalu pendek untuk menjadi yang lain. (hlm. 14)
  3. Kebanyakan orang cuma melihat pencapaiannya saja. Mereka tidak pernah peduli pada tahap yang kita lalui untuk mencapai hasil itu. (hlm. 32)
  4. Untuk terhubung dengan banyak orang, kita harus terlihat –benar-benar terlihat. (hlm. 38)
  5. Publikasikan diri dan karyamu setiap hari, kamu akan bertemu orang-orang hebat. (hlm. 46)
  6. Kadang kamu tidak tahu potensi sendiri. Sekali-kali kamu perlu tahu pandangan orang tentang karyamu agar potensi itu muncul. (hlm. 54)
  7. Satu hal saja setiap hari. Kedengarannya sederhana. Memang sederhana, tapi tidak mudah; butuh dukungan luar biasa dan rencana yang cermat. (hlm. 55)
  8. Jangan keliru; ini bukan diary-mu. Tak usah ungkapkan semua. Pilih dan tentukan setiap kata. (hlm. 56)
  9. Bila mengerjakan sesuatu sedikit demi sedikit tiap hari, akhirnya hasilmu banyak. (hlm. 61)
  10. Gali ruang dirimu di internet. Itu adalah salah satu investasi terbaik, di mana kamu bisa berekspresi dan berbagi karya. (hlm. 65)
  11. Bangun nama baik. Usahakan tetap bersih. Jangan berkompromi. Jangan pikirkan uang banyak atau kesuksesan. Utamakan berkarya bagus. Dan jika bisa membangun nama baik, uang akan menyusul. (hlm. 69)
  12. Apa pun yang menyemangatimu, lakukan. Apa pun yang menguras energimu, hentikan. (hlm. 133)
  13. Bagian dari proses kreatifadalah menemukan bidangmu. Itu ada di mana-mana. Tapi, jangan cari di tempat yang salah. (hlm. 137)
  14. Triknya adalah abaikan anggapan semua orang tentangmu dan hanya pedulikan pendapat orang yang tepat. (hlm. 153)
  15. Tak ada kesengsaraan dalam seni. Semua seni berarti mengiyakan, dan semua seni menyangkut pembuatannya sendiri. (hlm. 175)
  16. Yang terpenting, sadarilah bila kesuksesanmu menghasilkan keberuntungan dan seiring itu timbul kewajiban. Kamu berutang, dan bukan hanya kepada Tuhan. Kamu berutang kepada yang kurang beruntung. (hlm. 179)
  17. Kerja tak pernah selesai, hanya ditelantarkan. (hlm. 183)
  18. Kita ini bekerja karena ini saling berkaitan, setiap titik menuju yang selanjutnya. (hlm. 189)
  19. Saat berhenti menginginkan sesuatu, kamu mendapatkannya. (hlm. 190)

Huaaaa…panjang banget review plus curocolan tiap BAB. Amat sangat spoiler ya, gyahahahaha… Pokoknya buku ini menjadi salah satu buku terbaik yang saya baca tahun ini. Rekomendas banget deh. Jadi pengen baca buku sebelumnya; Steal Like an Artist😉

Keterangan Buku:

Judul                                     : Show Your Work

Penulis                                 : Austin Kleon

Penerjemah                       : Rini Nurul Badariah

Penyunting                         : HP Melati

Penyelaras aksara            : Putri Rosdiana

Penata aksara                    : Isti

Desain sampul                   : Hedotz Kliwon

Penerbit                              : Noura Books

Terbit                                    : Januari 2015 (Cetakan Kedua)

Tebal                                     : 215 hlm.

ISBN                                      : 978-602-1306-67-3

Quotes paling #JLEBB di buku ini:

WP_20150321_018

14 thoughts on “REVIEW Show Your Work

  1. Kak, makasih ya sudah berbagi review dan inspirasinya. Aku baru lulus akhir tahun kemarin dan belum dapat kerjaan tetap, aku khawatir dikira menyia-nyiakan waktu sementara teman-temanku rata-rata sudah bekerja. Tapi kalau dipikir-pikir banyak hikmahnya juga, salah satunya bisa mengenal banyak narablog yang keren dan terinspirasi dari mereka.

    Semangat terus, Kak Luckty🙂

  2. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  3. Pingback: REVIEW Steal Like an Artist | Luckty Si Pustakawin

  4. Aku sudah lama pengin beli buku ini dan setelah baca review dari kak Luckty tambah pengin beliiiii. Aku suka dengan kutipan yang kakak tulis, “Bila mengerjakan sesuatu sedikit demi sedikit tiap hari, akhirnya hasilmu banyak.” Seperti pukulan kecil untuk anak yang masih sering malas-malasan dan menunda sesuatu sepertiku.

  5. Review dari kakak yang ini paling aku hayatin bacanya. Sekaligus terinspirasi dari kakak juga sih yeay! ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s