[BLOGTOUR] REVIEW Jodoh Untuk Naina + GIVEAWAY

jodoh untuk naina

“Tak ada waktu yang terlalu cepat atau terlalu lambat untuk masalah jodoh. Dia akan datang kapan pun dia mau. Karena Allah telah menuliskannya dalam garis takdirmu.” (hlm. 2)

Naina mencintai Abah dengan sangat. Setelah Umi meninggal sepuluh tahun yang lalu, praktis Naina tinggal bersama Abah dan dua kakaknya yang sudah menikah semua dan hidup terpisah dari mereka. Tinggallah Naina yang menemani Abah seorang diri. Berdua saja. Mungkin inilah yang membuat Naina masih merasa berat untuk menikah karena memang belum terbiasa jauh dari Abah.

“Kamu punya banyak pilihan. Aku tak akan memaksa. Dan kalau kamu memutuskan untuk tak meneruskan rencana pernikahan ini, aku sendiri yang akan menjelaskan pada keluarga kita. Kamu selalu punya pilihan.” (hlm. 22)

Naina tak ingin mengecewakan Abah. Naina ingin membuat Abah bangga. Naina ingin bisa membahagiakan Abah, bagaimanapun caranya. Walau mungkin itu artinya Naina harus menerima perjodohan yang Abah tentukan, yaitu menikah dengan Rizal. Bakti pada orangtua. itulah yang menjadi dasar keputusan Naina saat itu. Soal hati, soal perasaan akan dipikirkan nanti. Yang terpenting, Naina bisa membuat Abah bahagia sekarang.

“Jadilah istri yang baik, Naina. Tanggung jawab Abah sudah selesai. Abah hanya bisa mendoakan yang terbaik untukmu dan keluarga barumu. Semoga keberkahan menyertai pernikahan kalian dan selalu dilimpahkan kebaikan untuk kalian berdua. Buat Abah bangga, hormati suamimu seperti kamu menghormati orangtuamu. Hormati juga orangtua suamimu karena mereka orangtuamu juga.kami akan selalu menyayangimu.” (hlm. 38)

Semenjak Naina dan Rizal menikah, banyak pelajaran yang bisa diambil Naina dari sikap Rizal yang baru dikenalnya sejak menjadi suaminya ini. Pertama, di halaman 56 ketika pertama kalinya Rizal menyerahkan segala keuangan kepada Naina yang diberinya dua ATM. Tidak ada harta bersama dalam pernikahan. Yang ada hanya harta suami dan harta istri. Suami punya kewajiban memenuhi smeua kebutuhan rumah tangga juga kebutuhan istrinya, sedang harta istri bebas dibelanjakan semau istri. Itulah kenapa Rizal memberikan semuanya ke Naina. Karena Rizal mau Naina tahu berapa penghasilannya dan berapa besar pengeluaran mereka.

Kedua, di halaman 55 tentang tanggungan memberi untuk orangtua. Mulanya Naina tersinggung ketika Rizal juga memberikan jatah untuk Abah Naina, ternyata selama ini sebelum menikah, Rizal juga memberi perhatian yang sama untuk Ibu dan Bapak. Saya jadi teringat seorang teman yang uring-uringan karena suaminya memberi perhatian lebih kepada orangtua dan juga adik-adiknya, katanya ngurang-ngurangin jatah kebutuhan rumah tangga mereka apalagi dia sudah memiliki bayi. Saya yang juga sebagai tumpuan adik-adik, jadi mikir, lha mending kali suaminya perhatian ama orangtua plus adik-adiknya, ketimbang suaminya ngasih jatah buat perempuan lain, gyahahaha… x) #PLAKK

Ketiga, di halaman 64, minimal seminggu sekali, Rizal selalu menelepon bapak dan ibunya. Meski via telepon, cara Rizal berbicara dengan ibu seperti benar-benar berhadapan langsung. Rizal adalah tipe anak laki-laki yang tak segan mendemonstrasikan rasa sayang pada ibunya meski hanya lewat kata-kata.

Keempat, Rizal tak segan mengerjakan pekerjaan rumah tangga. Pagi-pagi Naina mendapati dia memegang lap, membersihkan sudut rumah dari debu, menyapu, kemudian mengepel lantai. Tak berhenti sampai di situ, dia bahkan terlihat luwes memegang sapu lidi saat menyapu halaman depan, dan tak risi saat beberapa kali ibu-ibu tetangga lewat di depan rumah sambil menyapa. Kadang dia juga membantu Naina mencuci piring dan menyiapkan meja makan. Cek saja di halaman 57.

Kelima, di halaman 64 kita bisa melihat tentang pentingnya silaturahmi atau minimal beramah tamah dengan tetangga dan saudara. Rizal yang mengajari Naina bahwa keseimbangan antara hubungan mahluk dengan Tuhannya sama pentingnya dengan hubungan kepada sesama manusia. Rizal membuat Naina paham dengan konsep manusia adalah mahluk sosial. Bukan hanya secara teori tapi lebih kepada praktiknya. Naina jadi memahami kenapa hampir semua tetangga di mana mereka tinggal mengenal Rizal dan menyapanya dengan penghormatan. Itu karena Rizal juga sangat menghargai dan menghormati semua orang, tanpa kecuali. Rizal selalu bilang kalaumenghormati dan mencintai orangtua tak ada batas waktu expire-nya, pun pada tetangga dan saudara, karena sejatinya kaum muslimin saling bersaudara di mana pun mereka berada.

Itulah beberapa poin lebih dari Rizal yang bisa dikatakan suamiable banget. Huaaa…mau dong stok Rizal yang lain!!😀 #ngarep

Kelihatannya kehidupan Naina yang awalnya menikah dengan Rizal lewat jalan perjodohan tampak adem ayem aja ya?!? Lurus kayak jalan tol? Namanya pernikahan, tentu saja ada kerikil-kerikil tajam yang harus dilewati. Begitu pula dengan pernikahan antara Naina dan Rizal. Hal yang ditakutkan Naina di awal pernikahan akan terjadi juga. Kuatkah Naina untuk menghadapi semuanya?!? #PukPukNaina

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Kematian itu pasti hukumnya. Tidak ada seorang pun yang bisa menunda atau mempercepatnya. (hlm. 3)
  2. Yang namanya istikharah itu nggak selalu datang lewat mimpi. Dia bisa datang lewat petunjuk yang lain, misalnya kemantapan hati, proses yang nggak berbelit, kelancaran segala sesuatunya, banyak deh. (hlm. 16)
  3. Kamu nggak bisa mengandalkan jawaban lewat mimpi atau media yang lebih jelas lain kalau hatimu sudah condong. (hlm. 16)
  4. Pernikahan itu penyatuan dua hal yang berbeda. Bukan hanya sifat, tapi juga kebiasaan dan banyak hal lainnya. (hlm. 33)
  5. Apa pun yang kita berikan kepada orangtua tidaklah cukup untuk menggantian apa yang orangtua berikan pada kita. (hlm. 55)
  6. Tobat itu adalah urusa antara manusia dengan Tuhan. Allah akan menerima tobat setiap manusia, siapa pun dia, asalkan itu dilakukan dengan ikhlas dan bersungguh-sungguh. (hlm. 79)
  7. Namanya jodoh itu kan rahasia Allah, mau bagaimanapun cara datangnya. Kalau sudah waktunya, Insya Allah itu sudah yang terbaik. (hlm. 175)
  8. Intinya komunikasi. Keluarkan semua yang ada di kepala dan hatimu. (hlm. 192)

Ada juga beberapa selipan kalimat sindiran halus dalam buku ini:

  1. Kalau pacaran halal lebih berasa nikmatnya daripada sebelum nikah udah pacaran. (hlm. 76)
  2. Alangkah sombongnya kita sebagai manusia jika tidak mau menerima manusia lain yang ingin berubah. Sedangkan, Allah saja menerima setiap pertobatan. Tuhan tidak pernah membeda-bedakan siapa pun yang ingin kembali pada-Nya. Masa kita sebagai manusia malah menyalahi kehendak-Nya? Tidak ada yang terlalu kotor ataupun terlihat bersih di mata-Nya. Apalagi belum tentu kita lebih baik daripada orang tersebut. Itu namanya takabur. (hlm. 80)
  3. Memangnya orang-orang mikirnya hamil gampang, ya? Proses bikin hamil itu kan serem. (hlm. 84)
  4. Perempuan mana yang mau membagi suaminya dengan orang lain? Perempuan mana yang ikhlas berbagi kasih sayang dengan perempuan lain? Perempuan mana yang merelakan malam-malam panjang dalam kesendirian karena suaminya sedang menemani perempuan lain? (hlm. 183)
  5. Jangan suka melamun. Nggak baik. (hlm. 187)

Ada beberapa seputaran pengetahuan tentang pernikahan, diantaranya adalah pada halaman 28 di India, pengantin perempuan yang pasang inai itu akan menyembunyikan nama suaminya di antara lukisan inai. Padahala kalo pengantin India, gambar inainya rata dan rapet banget loh. Nah, pas malam pertama, si suami harus bisa nemuin nama ini. Kalau enggak, mereka enggak boleh bercampur dulu. Kedua, di halaman 30 tentang menjaga diri kewajiba bagi perempuan yang sudah menikah. Ketiga, di halaman 159 tentang dosa hukumnya ngobrolin apa yang terjadi diantara suami istri kepada orang lain. Keempat, di halaman 175 yang masih ada hubungannya dengan poin ketiga tadi adalah tentang bahaya ghibah. Di mana-mana, emak-emak ngumpul kalau beli sayur di warung atau ngegerombol di tukang sayur keliling lewat pasti ngerumpiin orang lain. Si ini gitu. Si itu begono. Emberan banget. Makanya saya jarang ke warung. Males ngeladenin rumpian ibu-ibu… x)

Dari semua tokoh yang ada, saya menyukai Kak Muthi, yang merupakan kakak dari Naina. Kak Muthi tidak hanya berperan sebagai kakak perempuan Naina, tapi juga mengambil peran sebagai pengganti ibu mereka yang sudah lama meninggal. Bagaiamana dia meyakinkan Naina ketika merasa ragu untuk menikah atas pilihan Abah dengan membimbingnya untuk istikharah menjelang pernikahan. Menyiapkan segala sesuatu pernikahan Naina yang bisa dikategorikan cukup kilat, Kak Muthi cepat tanggap dalam mengurus semuanya, mulai dari sebagai tuan rumah mendampingi Abah sebagai pengganti ibu sampai mengurusi tetek benget rangkaian perawatan untuk Naina yang justru ogah-ogahan menjelang pernikahan. Bahkan dia juga menyuapi Naina sebelum menjalani proses akad nikah yang pastinya bikin grogi dan jantung berdebar nggak karuan. Kemudian peran Kak Muthi yang memberikan nasihat untuk Naina yang intinya jangan sampai karena masalah kecil dalam pernikahan, nantinya jadi besar hanya gara-gara enggak diobrolin. #PelukKakMuthi

Ini adalah buku ketiga dari Mbak Nima yang saya baca. Sebelumnya ada Akulah Arjuna dan Cinta Masa Lalu. Ada perbedaan mendasar dari buku ketiga ini dengan dua buku sebelumnya yang ditulis Mbak Nima. Jika di dua buku tersebut jalan ceritanya ala-ala seri harlequin yang ada banyak kandungan gingko bilobanya (gyahahaha… :D), buku ini cenderung lebih religius karena lumayan banyak selipan nilai agamanya terutama pengetahuan seputar pernikahan. Di selipkan di sela-sela cerita tanpa terkesan menggurui. Cocok nih untuk bacaan menjelang Ramadhan. Meski begitu, cocok juga dibaca untuk semua kalangan karena ini sebenarnya novel bergenre romance kok, bukan genre agama.

Pesan moral dari buku ini adalah bahwa Tuhan tidak memberikan apa yang kita inginkan. Tuhan memberikan apa yang kita butuhkan. Ketika masalah menerjang, bukan untuk dihindari, tapi harus dilalui. Meski pahit dan berat, percaya saja jika Tuhan memberi ujian sesuai dengan kadar kemampuan kita yang nantinya akan menaikkan kita ke kelas dan level berikutnya😉

Keterangan Buku:

Judul                                     : Jodoh Untuk Naina

Penulis                                 : Nima Mumtaz

Penerbit                              : PT. Elex Media Komputindo

Terbit                                    : 2015

Tebal                                     : 252 hlm.

ISBN                                      : 978-602-02-6348-9

blogtour jodoh untuk naina

Ini ada sedikit wawancara ama penulisnya, Mbak Nima😉

1. Ini adalah buku ketiga yang aku baca dari tulisannya Mbak Nima. Dibandingkan dua buku sebelumnya bernuansa ala-ala serial harlequin yang banyak kandungan gingko biloba (gyahahaha..) , buku ini beda banget. Bahkan bisa dikatakan novel yang condong religius karena menyelipkan unsur agama terutama tentang pernikahan. Apa tantangan terberat dari Mbak Nima saat menulis buku ini?

Tantangan terbesar mungkin karena ini banyak menyentuh sisi religi, jadi aku harus banyak baca buku fiqih pernikahan dan nanya ke orang yang lebih paham. Walaupun muatan religinya nggak terlalu besar, tapi tetap saja banyak yang nggak aku tau dan harus banyak baca daripada nanti ada kesalahan.

2. Dari judulnya saja, kita bisa menduga bahwa buku ini bertema PERJODOHAN. Apa alasan Mbak Nima memilih alasan untuk menulis tema ini? Karena sedang tren (2015 memang booming buku bertema pernikahan) atau memang idenya sudah mengendap dan baru terbit sekarang? Dan pesan apa yang ingin disampaikan Mbak Nima lewat tema ini?

Nggak ada alasan khusus memilih tema. Dan malah nggak tau kalau 2015 itu tema pernikahan sedang booming dan di Elexmedia malah bikin lini baru tentang pernikahan. Draft novelnya sendiri sudah kubuat sejak Juni 2013 tapi baru mulai ditulis februari 2014 dan kebetulan banget terbitnya pas dengan tema pernikahan yang sedang diusung Elex di 2015.

MAU BUKU INI?!?

Simak syaratnya:

1. Peserta tinggal di Indonesia

2. Follow akun twitter @lucktygs, @nima_saleem

dan @elexmedia. Jangan lupa share dengan hestek #JodohUntukNaina dan mention via twitter.

4. Jawab pertanyaan di kolom komentar di bawah, plus nama, akun twitter, kota tinggal dan jawaban. Pertanyaannya adalah apakah kamu mau jika dijodohkan? Atau pernah dijodohkan? Berikan alasannya atau ceritakan pengalamanmu😀

5. Giveaway ini juga boleh di share via blog, facebook, dan sosmed lainnya. Jangan lupa sertakan hestek #JodohUntukNaina yaaa… 😉

Event ini gak pake helikopter, eh Rafflecofter yang ribet itu. Jadi pemenang ditentukan dari segi jawabannya yaaa… ( ‘⌣’)人(‘⌣’ )

#JodohUntukNaina ini berlangsung seminggu saja: 3-10 Juni 2015. Pemenang akan diumumkan tanggal 11 Juni 2015.

Akan ada SATU PEMENANG yang akan mendapatkan buku ini. Hadiah akan langsung dikirimkan oleh penulisnya! ;)

Silahkan tebar garam keberuntungan dan merapal jampi-jampi buntelan yaaa… ‎(ʃƪ´▽`) (´▽`ʃƪ)!

-@lucktygs-

WP_20150602_036[1] WP_20150602_040[1] WP_20150602_009[1]

 

59 thoughts on “[BLOGTOUR] REVIEW Jodoh Untuk Naina + GIVEAWAY

  1. Nama : Nurina Widiani
    Twitter : @KendengPanali
    Kota : Yogyakarta

    Orangtua sampai memikirkan perjodohan pasti karena ingin yang terbaik untuk anaknya. Saya sih nggak mau menerimanya mentah-mentah. Kenal dulu, kepoin dulu, selidiki dulu lah.
    Pernikahan nggak seperti pacaran yang modalnya hanya cinta. Pasangan harus kompak, bisa saling melengkapi. Suami yang baik untuk A belum tentu baik untuk B. Begitu juga dgn istri.
    Intinya dijodohkan atau nggak, saya sendiri yang akan menilai, tepat nggak dia buat saya. Karena hanya saya yang tahu pasangan yang saya butuhkan seperti apa.
    Saya berulang kali dijodohkan, berulang kali menelaah dan berulang kali menolak. Akhirnya pilih kawin lari😄

  2. Jiah @jiahjava Jepara

    saya blm pernah dijodohkan, tp bolehlah. Pilihan orgtua itu terbaik diantara yg baik. Tapi saya tdk langsung iyain. Saya butuh istikhoroh, cek visi misi dia untuk menikah, agamanya dll.

    Kita memang bisanya dipilih, tp kita berhak menolak jk memang calon tdk sesuai dg kita.

  3. nama : arfina
    Twitter ; @ipinkramel
    kota : Serang
    Pertanyaannya adalah apakah kamu mau jika dijodohkan? Atau pernah dijodohkan? Berikan alasannya atau ceritakan pengalamanmu

    Hm, tergantung kondisinya, kalau memang terdesak untuk dijodohkan ya mau gimana? apa lagi kalau pilihan orang tua, biasanya pilihan orang tua itu yg terbaik, kalau mau nolak juga ngga enak sama orang tua. Terus takut kena tulah kalau ngga nurut sama orang tua. Aku sih mau aja kalau calonnya suamiable 😂 , aku juga mau kalau itu amanat orang tua #ea ya aku juga harus menilai si cowoknya, takutnya ngga napak atau gimana gitu. dan kalau aku bener-bener ngga mau, mungkin harus bicara baik-baik😁

  4. nama : zulaikhah
    asal : tuban jawa timur
    akun twitter : @kimzujonghee

    Apakah kamu mau jika di jodohkan?
    jwb : saya akan mencobanya terlebih dahulu. Jika kami cocok, maka saya akan mau menikah dengan orang yang di jodohkan dengan saya.

    pernah di jodohkan?
    haha… bukan satu atau dua kali kalau masalah di jodohkan, sudah berkali-kali terlampau sering, bahkan sampai bosan mendengarnya.
    Yang bikin anehnya itu, yang menjodohkan adalah keluarga besar, dari nenek, tante, om, budhe. kalau ibu bapak saya selalu bilang “Terserah dianya, karena dia yang akan menjalani hidup, bukan kita.” saat itu saya akan memeluk ibu haha

  5. nama : Widya Fitha Saputri
    akun twitter : @WidyaFitha
    kota tinggal : Malang

    Menurutku, dijodohkan atau tidak itu sama saja yang membedakan adalah bagaimana jalan kita mendapatkan jodoh tsb.
    Saya sendiri tidak masalah apabila harus dijodohkan,
    saya sendiri mempuyai pengalaman dulu waktu kecil temennya ibu sering banget manggil aku calon mantu dan itu berlanjut sampai sekarang karena baru baru ini aku berkomunikasi dengan beliau bahkan aku sekarang manggil bunda ke beliau, hehe
    sebenarnya aku tau ini hanya gurauan antara kedua orang tua kita, tapi entah mengapa aku memikirkannya dan berharap perjodohan ini nyata.

  6. Jawab pertanyaan di kolom komentar di bawah, plus nama, akun twitter, kota tinggal dan jawaban. Pertanyaannya adalah apakah kamu mau jika dijodohkan? Atau pernah dijodohkan? Berikan alasannya atau ceritakan pengalamanmu😀

    Nama : Fidia
    Akun twitter : @fidiaap
    Kota tinggal : Bandung

    Jawaban :

    Saya setuju dengan perjodohan. Alasannya, terkadang memilih “seseorang” untuk memasuki jenjang pernikahan itu tidak hanya melibatkan pihak 1 dan pihak 2 atau si perempuan dan si laki-laki. Menurut saya, ini penjelasan alasannya:
    1. Pihak keluarga kedua pihak. Keluarga tdk hanya sebagai pemberi restu. Tapi kelak, merekalah pihak penengah dan penjalin hubungan yg lbh erat. Kalau si “seseorang” itu sanggup tapi keluarganya tidak, kan sama saja bohong. Tapi, dengan perjodohan itu sudah pasti keluarga saling menerima dan ikatannya sudah kuat.
    2. Kadang kita melihat seseorang dr sisi yg ingin kita lihat saja. Pihak yg jodohin atau bisa jadi orang tua mampu melihat dari sisi lain. Pertimbangan mereka berdasarkan pengalaman.
    3. Lagipula, perjodohan itu bukan pemaksaan. Ini sebagai ajang saran. Kita masih bebas pny hak menolak dan menerima. Jadi, bukan berarti perjodohan itu pengekangan atau dibilang ga bisa milih. Ini semacam penyaringan dua kali, pertama dari sisi orang tua / yg menjodohkan, kedua dari sisi diri sendiri.

  7. Nama : Fidia
    Akun twitter : @fidiaap
    Kota tinggal : Bandung

    Jawaban :

    Saya setuju dengan perjodohan. Alasannya, terkadang memilih “seseorang” untuk memasuki jenjang pernikahan itu tidak hanya melibatkan pihak 1 dan pihak 2 atau si perempuan dan si laki-laki. Menurut saya, ini penjelasan alasannya:
    1. Pihak keluarga kedua pihak. Keluarga tdk hanya sebagai pemberi restu. Tapi kelak, merekalah pihak penengah dan penjalin hubungan yg lbh erat. Kalau si “seseorang” itu sanggup tapi keluarganya tidak, kan sama saja bohong. Tapi, dengan perjodohan itu sudah pasti keluarga saling menerima dan ikatannya sudah kuat.
    2. Kadang kita melihat seseorang dr sisi yg ingin kita lihat saja. Pihak yg jodohin atau bisa jadi orang tua mampu melihat dari sisi lain. Pertimbangan mereka berdasarkan pengalaman.
    3. Lagipula, perjodohan itu bukan pemaksaan. Ini sebagai ajang saran. Kita masih bebas pny hak menolak dan menerima. Jadi, bukan berarti perjodohan itu pengekangan atau dibilang ga bisa milih. Ini semacam penyaringan dua kali, pertama dari sisi orang tua / yg menjodohkan, kedua dari sisi diri sendiri.

  8. nama: khusnul
    twitter: @imahreana
    kota: Lumajang,Jatim

    Jodoh itu bisa dari mana aja datangnya, tidak menuntut kemungkinan juga dari perjodohan. dan menurutku klw dari kedua belah pihak saling setuju knp engga? karna konon menikah itu adalah ibadah. jika ditanya mau atau engga jawabannya mau. soalnya aku percaya, tidak ada orang tua yg mau menjerumuskan anaknya, dan setiap orang tua pasti ingin anaknya bahagia. toh pada akhirnya orangtua menyerahkan krputusannya pada kita, dan pada akhirnya pun kita juga yg nentuin, klw kita setuju kenapa engga? kalaupun tidak sesuai dengan yg kita harapan mngkin bkn jodoh kita. dan jujur saya pernah berada di posisi itu hehe

  9. Nama : Ana Nurul M
    Akun twitter : @anaanum19
    Kota tinggal : Jember, Jawa Timur

    Mau atau gak dijodohkan???

    Mau, asal sebelumnya dikomunikasikan dengan baik, dan sebagai yang terkait tetap dimintai pendapat, hingga keputusannya tetap pada yang menjalani ^^.

    Dan saya sendiri pernah dijodohkan, hanya saja saat sangat kurang komunikasinya, jadilah perjodohannya tidak terlaksana.

  10. Nama : Wulan Qurniastutiningsih
    Tweeter : @wulan_qurnias
    Asal : depok

    Saya mau jika dijodohkan… karna orang tua pasti ingin yg terbaik untuk anak2nya.. begitu pula dgn pendamping hidup anak2nya… orang tua lbh tau mana yg jodoh yg baik atau tidak untuk anaknya..

  11. Nama : Tasya Permata Sanjaya
    Twitter : @tasyatasa_
    Kota : Klaten

    Kalo aku nggak mau dijodohkan ya ,karena belum tentu jodoh yg ditentukan ortu baik untuk kita . Tapi seenggaknya kita lihat dulu seluk beluknya apa dia itu masuk kriteria kita. Kalo cuman ganteng tapi gak baik hati kan ya sama aja . yang penring itu Sholeh ,cerdas,baik,mapan . Idaman banget itu. Daripada dijodohkan lebih baik kita ikuti hidup ini,ikuti waktu ini . nanti juga ketwmu jodoh nya sendiri kok .wkwkwkw😀

    Wish me luck

  12. Nama: Bintang Permata Alam
    Twitter: @bintang_ach
    Kota: Ngawi, Jatim

    apakah kamu mau jika
    dijodohkan? Atau pernah
    dijodohkan? Berikan alasannya
    atau ceritakan pengalamanmu.

    Bismillah, pada dasarnya perjodohan itu terjadi atas rasa saling cinta dr kedua pasangan tsb. Bukan dr salah satunya. Bukan jodoh itu namanya. Dan, perjodohan adalah suatu cara seorang pasangan utk mmbuktikan bahwa mereka benar2 saling mencintai dan mereka memang berhak atas pilihan mereka masing masing. Saya rasa, tentang seorang anak yg dipaksa org tua utk menikah dg seseorang yg sdh dipilihnya adalah suatu paksaan yang berujung penyiksaan, penyiksaan batin. Rasa cinta tdk akan tumbuh atas dsr paksaan, dan menentukan jodoh adalah suatu pilihan sekaligus kebebasan. Cinta yg membuahkan kebahagiaan adalah cinta yg mmg brsal atas pilihan sndri, dr dlm hati. Bkn dr paksaan org tua. Alhamdulillah, smpai skrg ini tdk ada paksaan dr kedua org tua sy dlm hal jodoh. Karena mmg sy tdk mengharapkan hal seperti itu, org tua yg memaksakan jodoh utk anaknya. Mrka mmbri sy kbebasan utk mnentukan pilihan. Yg pasti sesuai kriteria dan mmg yg skiranya pantas utk saya. Dan, bgmn kalau sy dijodohkan? Saya rasa tdk mungkin. Belajar dr pnglaman saat sy msh pacaran, tdk ada sdkitpun paksaan dr org tua saya. Mrka mndukung, asal semua msh dlm lingkup wajar & tdk berlebihan.
    Thanks🙂

  13. Nama : Deby Nur S
    @NS_debby
    Purwokerto

    dulu, jaman masih pake seragam putih abu-abu ngga pernah kebayang sii bakalan di jodohin. aneh juga rasanya, ini bukan jamannya Siti Nurbaya lagi kaan? kita bebas milih jodoh yg sesuai dengan hati kita, kilahku masa itu.

    Tapi makin kesini, diumurku yg udah masuk kepala 2, rasanya aku mungkin akan mempertimbangkannya.
    tahun lalu malah sempet berkhayal gimana kalo ternyata aku dijodohin dari kecil, dan 2/3 tahun lagi “dia” akan muncul dihadapanku, wkwk. sinetron banget yaah😀
    eh tapi beneran deh. perjodohan yg dari dulu aku anti banget, perlahan-lahan bisa aku terima. malah kepengen banget sekarang :3

    pas banget kemarin abis baca buku religi gitu temanya. ingat banget ada satu kutipan, “Apabila datang kepada kalian lelaki yg kalian ridhai agama dan akhlaknya maka nikahkanlan ia (dgn putri kalian). sebab jika tidak, maka akan terjadi kerusakan yg besar.” (HR. Tirmidzi)

    pastinya orang tua ingin anaknya mendapat kebahagiaan, dunia akhirat. selalu ingin yg terbaik untuk kita.
    mana ada sih orang tua yg ingin menjerumuskan anaknya?
    tapi tentu ngga asal terima aja kalo dijodohin yaa. intip visi misi hidupnya, kebiasaannya, sifatnya, dll.
    *eh, kok jadi OOT gini,, maaf yaak😀

  14. Nama : Mardiah Eka Putri
    Twitter : @diah_ekaputri
    kota : Ketapang, kalimantan barat

    Apakah saya ingin di jodohkan ?
    Ya saya ingin, malahan di umur seperti ini saya ingin menikah muda seperti cerita ke banyak kan yang berawal karena d ijodohin. Selama calon yang akan di jodohin sama kita masih masuk akal bagi kita, yang umurnya gak jauh amat dari kita, seperti umur kita 23 dijodohin sama yang 50 tahun, kan konyol. oke im sorry back to topic.
    Saya mau dijodohin karena pilihan orang tua itu sudah pasti yang terbaik, orang tua kita pasti sudah mengetahui latar belakang keluarga dan bahkan pendidikan calon kita yang akan membuat kita insya Allah makmur di masa depan. Meskipun calon kita memiliki sisi buruk yang tidak di ketahui oleh orang tua kita tapi saya percaya, seburuk apapun dia pasti memiliki sisi baik untuk kita. Gada orang tua yang mau anaknya tidak bahagia. Jika kita memang belum bisa untuk menerima perjodohan dengan alibi belum mengenal kenapa kita tidak berusaha mencari info tentang dia dan mulai pendekatan agar kita mengenal siapa dia, cinta datang karena terbiasa. Selama kita memulai dengan niat yang baik maka akhirnya baik pula. Meskipun awalnya kita ogah-ogahan atau terpaksa, tapi ketika kita menjalani dan mulai merasa nyaman pasti akan tumbuh rasa cinta dengan sendirinya. Mungkin bagi orang tua kita belum bisa menemukan jodoh kita sebaik jodoh yang di carikan oleh orang tua kita.

    Bahkan pernah terlintas di benak saya, kenapa saya gak di jodohin aja setelah lulus SMA ini, daripada saya kuliah jauh dari orang tua gada yang jaga mendingan saya menikah dan pasti akan dijaga selama saya kuliah. hehe di masa muda ini banyak yang ingin di coba dan godaan setan itu besar. Akan lebih baik jika kita memiliki imam saat kita jauh dari imam dirumah (ayah). Lagi pula hal itu bisa mencegah dosa, kan kalau sama suami sendiri udah halal.

    Jadi intinya saya mau dijodohin selama bagi orang tua dia adalah yang terbaik dan jika itu bisa membuat orang tua saya bahagia saya akan menerima hal itu

  15. Nama: Aprilia Adha Wicaksanti
    Kota: Jakarta
    Twitter: @apriliaadha

    Jawaban:
    Saya tidak mau jika dijodohkan, apalagi jika orang yang dijodohkan itu belum saya kenal dengan baik. Karena menurut saya dijodohkan sama saja dipaksakan dan segala sesuatu yang dipaksakan biasanya hasilnya kurang baik dan membuat orang yang menjalnkannya tidak nyaman.

    Dan orang tua saya juga sampai saat ini tidak pernah menjodohkan dan memaksakan kehendaknya pada saya.

  16. Yanti Boniyanti
    @QueenPinkii
    Bandung

    Duluuu bgt kurang Lebih saat usia Ku 18thn org tua Ku sempat menjodohkan aku dgn Anak teman nya Ayah,
    Memang dari materi keluarga mereka itu sangat cukup , Maybe kalo aku nikah aku akan Senang .. Itu pendapat dan pemikiran org Tua ku dan sebagian org 😡

    Pemikiran org tua gak selamanya benar , apalagi Jika hanya melihat segi materi nya aja ,
    Itu sangat menyiksa Buat aku , sampai aku pun pernah di Kurung di kamar oleh org tua Ku agaf aku tdk bisa pergi kemana2 selain dgn org pilihan org tua Ku ,
    Sempat merasa depresi Bgt 😡
    Alhamdulillah akhirnya org Tua ku sadar akan kesalahan nya , dan tidak mengikuti ego nya mereka ..
    Harta tdk akan selalu jd jaminan kebahagiaan 😊

  17. Nama : Ratnani Latifah
    Twitter : @ratnaShinju2chi
    Alamat : Jepara

    Jawab :
    Bagiku perjodohan bukanlah masalah, asal calon yang dikenalkan itu seseorang yang baik dari segi agama, tingkah laku, segala aspek deh, walau tak mungkin sempurna tapi tetep dalam koridor baik gitu. Lagi pula orangtua tidak mungkin menjerumuskan anaknya. so, why not?

    Namun dalam perjodohan tidak sepenuhnya asal iya tanpa tahu seluk beluk siapa yang dijodohkan, paling enggak kita tahu berkomunikasi mencoba mencari cemistry dulu. Sreg di hati aku pikir perlu dipertimbangkan.

    Aku setuju saja dengan perjodohan asal calonnya itu bisa mendatangkan kenyaman ketika kami bertemu. tapi kalau seseorang yan dijodohkan tak membuatku merasakan itu, aku pikir berhak bagiku untuk menolaknya. wanita berhak kok mengeluarkan pendapat. Karena Perjodohan hanyalah salah satu jalan dan jalan itu bisa kita lalui beberapa kali tentu dengan cara-cara yang baik hingga menemukan yang cocok. Bukankah ketika didatangkan pilihan kita diperbolehkan istkharah untuk menetukan jadi itu menunjukkan kita bisa memilih mana yang terbaik bukan dipaksa untuk menerima. kalau pun menerima berarti Allah telah menetapkannya, pun sebaliknya.

  18. Nama: Aya Murning
    Twitter: @murniaya
    Kota: Palembang

    Tidak ada alasan yang mendasar bagiku untuk menentang atau menilah sebuah perjodohan. Tidak pula ada yang salah atau bernilai melanggar etika pada suatu perjodohan. Jodoh memang sudah ditakdirkan pada tiap manusia, entah siapa orangnya. Tapi tiap orang tidaklah punya cara yang sama ketika bertemu jodohnya. Perjodohan adalah salah satu di antara bermacam skenario Tuhan dalam mempertemukan jodoh para hamba-Nya, di mana kali ini harus dibantu oleh pihak ketiga, baik itu seorang perantara atau dari keluarga. Saya justru lebih menilai positif tentang perjodohan itu sendiri. Toh, perjodohan nggak jauh beda dengan ta’aruf yang jelas-jelas dianjurkan agama. Benefit yang bisa didapat adalah:
    – Kedua keluarga saling tahu dan restu. Apalagi jika si kedua calon memang sudah setuju dari awal ingin dijodohkan. At least nggak akan ada drama dari si perempuan yang berontak atau kabur karena merasa ini keputusan sepihak dari orangtua.
    – Pihak atau perantara yang menjodohkan sudah tahu bibit-bebet-bobot si calon, tentunya ingin yang terbaik dan kualitasnya setara.
    – Membantu kita lebih mudah menemukan orang yang sudah siap berkomitmen. Apabila si dia menerima perjodohan itu, artinya dia memang siap dan serius ingin menikah.
    – Nggak perlu masa penjajakan slash pacaran dulu sebelum setuju menikah, biar nggak nimbun dosa. Cukuplah mengenal satu sama lain dalam satu visi dan misi tanpa harus ada embel-embel ini itu. Kalo sehati, hayok. Kalo ga, ya udah, bubar. Jadi, nggak buang-buang waktu.
    – Karena tidak ada masa penjajakan, maka untuk saling mengenal lebih jauh adalah ketika mengarungi biduk rumah tangga itu sendiri yang tentunya lebih asyik, serba halal, dan nggak dipenuhi drama sana sini demi menarik perhatian semu. Seperti yang disebutkan di atas, “Kalau pacaran yang halal lebih berasa nikmatnya…”

    By the way, soal cinta itu bisa belakangan lah. Apalabila cinta belum tumbuh sebelum pernikahan berlangsung, it’s okay. Setelah menikah nanti bisa sama-sama belajar dan berusaha untuk mengerti dan menerima satu sama lain hingga cinta itu tumbuh sendiri seiring waktu.

    Nah, kalau ditanya mau atau nggak jika dijodohkan, aku sih mau aja. Tapi, harus kenali dulu baik-baik bagaimana si calonnya. Yang utama pasti akhlaq dan agamanya. Soalnya dari pihak perempuan jaman sekarang tuh kebanyakan lebih mentingin materi yang dipunya oleh si calon suami demi kemakmuran anak gadisnya kelak. Nggak munafik, tapi itu memang jadi salah satu aspek yang selalu dipertimbangkan oleh para orangtua si perempuan, bukan? Bahkan terkadang si orangtua nggak mengenali sisi lain dari si calon cuma karena dia udah duluan kemakan omongan pihak lain–berisi hal baik yang begitu ‘menjual’ si calon–yang ingin menjodohkan dua sejoli ini. Well, itulah yang pernah terjadi pada saya.😄

    Yeah, berawal di bulan Februari lalu, mama dan tante ingin menjodohkan saya kepada teman anaknya si tante alias temennya kakak sepupu saya. Mereka mengumbar segala kelebihan dan kebaikan yang dipunya oleh lelaki ini. Tapi, sejak awal saya tidak memiliki ketertarikan apapun padanya. Bukan tanpa alasan. Ada hal-hal yang di mata saya jadi nilai minus untuk dia. Mama saya keukeuh menilai dia baik padahal mereka cuma pernah ketemu 1x bahkan nggak pernah ngobrol pula, dan mama nggak lihat atau tahu apa kekurangannya yang jadi nilai minus itu.

    Jadi, meski saya mau dijodohkan, nggak lantas saya nerima gitu aja siapa calonnya meski ia sudah mapan. Intinya sih harus kenali dulu bagaimana si calon ini, seperti apa tingkah laku serta kebiasaannya. Karena sayalah yang akan menjalaninya dan saya nggak mau menyesal di kemudian hari.🙂

  19. Nama : Nurul Khafidah
    Asal : Solo – Jawa Tengah
    Akun twitter : @iluks2308

    Jawaban >> apakah pernah dijodohkan?? kl ttg perjodohan dlm artian ikatan pernikahan belum pernah,,tp jika dikenalkan oleh teman untuk jdi pasangan sering tp akan berakhir hanya dengan jalinan pertemanan saja tdk lebih :3 :3 ,,krn saya pribadi tidak terlalu suka menjalin suatu hbungan secara instan,,dlm artian saya lebih suka semua melalui proses secara natural tanpa ada unsur kesengajaan, proses penyatuan yang datang sendiri dari jalan Tuhan, krn jika itu Jodoh yang memang ditakdirkan untuk kita saya percaya pasti slalu ada suatu perasaan (kemantaban) yg berbeda yg hanya dpat dirasakan oleh orang itu sendiri🙂 kalau kata alm.ayah saya “jika itu memang Jodohmu, kau pun akan bisa menerima kekurangan orang tersebut meskipun orang lain melihatnya tak sempurna, dan kamu bisa melihat kesungguhan orang tersebut akan dirimu” kata2 itulah yg saya pegang smpai saat ini😀 #malahcurcol

    Apakah mau jika dijodohkan?? >> dijodohkan dalam artian sebuah ikatan pernikahan?? (ta’aruf) ?? tidak ada salahnya dicoba :)) namun sebelum itu, tentu ada yg namanya sebuah proses perkenalan/pendekatan (bukan berarti harus melalui proses pacaran) kita bisa cari tau terlebih dahulu seperti apa orang yang akan djodohkan dgn kita melalui orang2 terdekatnya🙂 , utk sy pribadi yang paling penting agamanya, ada yg bilang jika agamanya baik Insya Allah smua nya akan mengikuti baiknya juga. dan saya percaya jika itu memang sudah ditakdirkan dan sudah waktunya untuk kita, semua proses akan berjalan mengalir secara alami dengan sendirinya..

    so, bagi yg blm ditemukan dengan jodohnya,,mari kita perbanyak perbaikan diri,,smg Allah kasih jodoh yg terbaik utk kita semua^^

  20. Nama: Maya Mai
    Twitter: @MayaMai_29
    Kota tinggal: Bogor
    Jawaban: aku sih ga menentang sebuah perjodohan, tapi aku ga langsung menerima begitu aja. Aku akan cari tahu dulu tentang bibit, bebet, bobot orang yg akan dijodohkan denganku. mungkin bisa tanya kepada keluarga atau sahabat2nya. Pasti setiap wanita ingin mempunyai imam yg bisa membimbingnya untuk menjalani kehidupan berumah tangga. Yg paling utama adalah agama! Jika agamanya bagus, insyaAllah pasti mengerti bagaimana menjadi imam yg baik untuk keluarganya:D

  21. Nama : Pretty Wuisan
    Twitter : @love19010806
    Kota : Bogor

    Saya mau saja dijodohkan, asalkan saya diberi waktu tahu tentang calon suami saya dengan cara ta’aruf. Ya, meski tidak akan mengenal terlalu dalam, tapi setidaknya saya mendapatkan bayangan sosok seperti apa calon suami saya itu. Kalau saya tidak suka pun bisa dibatalkan perjodohannya. Hal itu akan saya bicarakan diawal dengan calon suami saya itu biar tidak ada dendam di antara kita ^^

  22. Nama:Lois Ninawati
    Twitter:_loisninawati
    Kota: Situbondo, JaTim

    Nggak pernah dijodoh’in sih, dan gak akan mau juga. Kan, kalo dijodoh’in kyk bukan pilihan sendiri gitu. Apalagi kalo jodohnya nggak bener, kan, kitanya juga yg tersiksa.

  23. nama : Anggyta Astryati Suwarno
    twitter: @gytasuwarno
    alamat : Cimanggis,Depok

    mau atau tidak di jodohin?
    aku sih mau aja asal di berikan waktu untuk saling mengenal dan semua keputusan lanjut atau tidaknya aku yang menentukan.

    aku belom pernah di jodohin,tapi kalau pun orang tua menjodohkan aku rasa itu sudah di petimbangkan baik buruknya dan nggak ada orang tua yg mau menjerumuskan anaknya. orangtua terkadang lebih mengenal kita dari diri kita sendiri jadi saran orangtua patut di pertimbangkan.

  24. Nama: Gestha Reffy
    Twitter: @AltGST
    Domisili: Bangka Belitung

    Kalo masalah dijodohkan aku belum pernah, Mbak. Maklum, karena aku masih 17 th :p
    Kalau misalnya nanti dijodohkan, aku sih tentu akan berpikir-pikir dulu. Itu cukup menjadi hal yang perlu ditimbang baik-baik, karena untuk ke jenjang berikutnya (menikah) bukanlah hal yang main-main toh, seandainya saja jika aku sudah punya calon yang pas menurut diriku sendiri, aku akan lebih serius membicarakan masalah ini kepada pihak yang menjodohkanku. Orang yang dijodohkan belum tentu sesuai kriteria kita, apalagi kalau kita nggak mencintainya. Walaupun banyak orang bilang cinta bisa tumbuh setelah menikah, tapi kan nggak semua orang bisa begitu. Apalagi, kalau dia udah menemukan tambatan hati yang dia cintai sebelumnya. Ujung-ujungnya kan bisa brabe:)
    Tapi kalau misalnya diriku masih belum juga dapet pasangan lalu ada inisiatif dari pihak keluarga (misalnya) untuk menjodohkan, aku sih mau-mau aja. Asal orang yang dijodohkan itu seiman, akhlak dan budi pekertinya baik, taat kepada Agama, dan berpendidikan, InsyaAllah aku mau. Mungkin itulah cara Allah mengirimkan jodoh untukku.🙂

  25. Anis Antika
    @AntikaAnis
    Surabaya

    Kalau aku nggak mau dijodohkan. Buatku, dijodohkan itu seperti penghinaan. Seperti menegaskan kalau kita nggak bisa nemuin jodoh kita sendiri. Karena menurutku, pernikahan itu harus didasari cinta, keyakinan, dan keinginan dari kedua belah pihak. Dalam hal ini nggak cuma keluarga. Tapi juga dua orang yang menjadi objek perjodohan. Karena aku nggak mau menjalani pernikahan dengan terpaksa. Karena aku nggak mau berdoaa karena nggak bisa menerima suamiku, atau nggak ikhlas dalam melayani suamiku.

  26. nama : Wulida
    asal : Bojonegoro
    akun twitter : @Jm_nim

    Kalau aku tidak mau dijodohkan dan menentang keras adanya perjodohan. Bagiku dijodohkan itu seperti hinaan yg diberikan kepada orang-orang yang tidak bisa mencari pasangan hidup. Pernikahan itu untuk selamanya, memilih jodoh tidak bisa dipaksakan seperti saat memilih mau makan bakso atau mie ayam.

  27. saya mau saja dijodohkan asalkan saya sudah yakin orang yang akan dijodohkan dengan saya akan mampu membimbing saya menjadi pribadi yang lebih baik lagi.

    saya sering sekali dijodohkan tapi bukan inisiatif orang tua saya tapi anggota keluarga lainnya,kalau saja orang yang mereka jodohkan pada saya sesuai dengan yang saya harapkan tentu saja saya menerima perjodohan tersebut,tapi bila tak sesuai saya tolak eh mereka malah kesal pada saya,saya yang terlalu pemilih,entah apa yang saya cari lah,mungkin mereka perhatian dan kasihan pada saya yang kemana mana slalu sendiri,tapi kalau tiap bertemu membahas”kamu mau nggak dijodohkan”lama-lama bosan juga.

    Nama :Nurlis talao
    Twitter : @talaonurlis1
    kota :Padang

  28. Nama : Veny
    Twitter : @yutakaNoYuki
    Kota : Balikpapan

    Pertanyaannya adalah apakah kamu mau jika dijodohkan? Atau pernah dijodohkan? Berikan alasannya atau ceritakan pengalamanmu😀

    Sebenarnya ada rasa malu kalau dijodohkan sama orang tua, kok rasanya yang kenal calon pasangan saya malah orang tua saya duluan ya, padahal inginnya saya yang cari jodoh saya terus diajukan ke orang tua, hehehehe (kayak skripsi ya ?)
    Tapi kalau memang orang tua mau menjodohkan ya saya akan terima selama saya memang masih belum punya pilihan sendiri, dan maksudnya diterima juga bukan berarti besok diajak nikah langsung iya aja, tapi saya akan menerima untuk perkenalan dulu, untuk melihat plus minusnya, karena yang menurut pertimbangan orang tua cocok kan belum tentu buat saya cocok juga. Toh Jodoh tidak akan lari kemana kan, mau dijodohkan atau cari sendiri kalau memang sudah ditakdirkan berjodoh ya pasti ketemu juga di pelaminan😀

  29. Nama : Maria Azmi Piscessanella
    Domisili : Cinere
    Twitter : @piescessanella_
    Link share : https://twitter.com/piescessanella_/status/606029865335136256

    Saya belum pernah merasakan dijodohkan. Namun jika orangtua saya menjodohkan saya, mungkin saya akan lebih cenderung pasrah dan menuruti perjodohan tersebut, karena saya sangat sayang kepada kedua orangtua saya. Saya tidak ingin membuat keduanya sedih, tak jauh beda dengan Naina yang tak ingin membuat abahnya sedih. Saya yakin setiap orang tua pasti memilihkan yang terbaik bagi anak2nya

  30. Nama : Warastri Rezka Hardini
    Domisili : Kediri
    Twitter : @RezkaHardini

    Dijodohkan? Orangtua saya pernah beberapa kali menanggapi hal tersebut. Ketika ada teman mereka yang ke rumah dan menanyakan saya seperti ini, “Putrimu sudah dewasa, sepertinya cocok saya jadikan menantu” orangtua saya hanya tersenyum dan berkata ya silakan.
    Saya pribadi, setelah mengalami berbagai hal buruk dengan orang pilihan saya yang tidak tepat dan hanya menyakiti saya, saya merasa saya akan menerima jika orangtua saya menjodohkan saya. Orangtua saya pernah berkata, Orangtua adalah wakil Tuhan yang ada di dunia, jika orangtua ridho maka Allah juga akan ridho. Saya yakin pilihan orangtua saya pastilah yang terbaik untuk saya. Yang terpenting bagi saya adalah bakti saya pada orangtua dan ridho mereka. Insa Allah itulah jalan terbaik untuk saya.🙂

  31. Nama: urwatul usko
    Twitter : urwatulusko
    Daerah : sampang
    dijodohkan, asalkan calonnya baik, soalnya biasanya kalau orang tua itu pengen yang terbaik untuk anaknya.. tapi ya kita juga harus mengenal dlu.. kalau misal kita gak cocok jangan dipaksakan bilang baik2..
    Pernah dijodohkan? Pernah sih tahun ini kayaknya.. ceritanya dia bilang ke nenekku tapi sama nenek gak dikasih tau ke orang tuaku eh malah dikasih tau ke aku.. aku deh yang ngasih tau ke mereka..
    tapi ya seperti biasa ditolak karena aku belum lulus kuliahnya.. hahaha
    tapi sebenernya aku juga gak mau sih..
    beruntunglah punya keluarga yang mengerti kita🙂
    Bwr

  32. Nama: Yani
    Twitter: @Yani_nur12
    Alamat: Bintaro

    Dijodohkan sih belum pernah. Tapi kalau misalnya nanti dijodohkan, saya sih setuju-setuju aja, soalnya orang tua kita dulu juga kebanyakan dijodohkan dan alhamdulillah langgeng sampai sekarang. Lagi pula, kalau dijodohkan oleh orang tua, pasti calonnya memang pantas, malah mungkin terbaik bagi mereka. Gak mungkin kan orang tua menjodohkan dengan yang gak pantas. Tapi kalau misalnya dijodohin, istikharah juga perlu, jangan langsung “iya”. Soalnya kan yang nikah kita, jadi kita juga harus ngerasa mantap. *hehe

  33. Nama : Shofiullah
    Twitter: @esfiu
    Domisili : Jakarta

    sy mau dijodohkan (dipilihkan) asal ttp keptusan sepenuhnya pada yang bersangkutan (kedua calon) dan tidak memaksakan jika satu diantara mereka merasa tidak cocok, dengan artian tetap hrus ta’aruf terlebih dahulu untuk saling mngenal, agar tidak salah ambil keputusan, karena pernikahan adalah sesuatu yang sakral yang akan menyatukan dua insan dengan berbeda karekter dan sifat, juga menyatukan dua keluarga yang berbeda.
    saya pribadi pernah dijodohkan, tapi tetap keputusan ada pada anaknya bukan org tua atau walinya, nah waktu itu yang merasa tidak cocok si wanitanya jadi, saya menghargai keputusannya dan orang tua saya pun mengerti.

  34. Nama : Yanti
    Twitter :https://twitter.com/polaris_2008

    Kalau ditanya, apakah saya mau di jodohkan…saya akan jawab mau, asalkan kriterianya tidak bertolakbelakang dari kriteria saya, dan diberikan waktu untuk saling mengenal. Karena ini juga membuat orangtua senang
    Kebetulan saya sekarang sudah menikah dengan pilihan sendiri, tetapi saya pernah di jodohkan oleh orangtua saya dengan anak dari teman ayah saya.
    Saya tidak menolak , tetapi meminta waktu untuk perkenalan…dan seiriing waktu saling mengenal satu sama lain, ternyata pihak laki-laki tidak cocok dengan saya. Dan menolak perjodohan ini…alhasil batal deh perjodohannya…untungnya saya belum terlanjur suka, jadi ya..biasa saja. coba kalau sudah lebih lama lagi mengenal mungkin saya bakal patah hati karena di tolak🙂
    Meskipun orangtua kami agak kecewa, tetapi tidak terlalu memaksakan.

  35. Nama: Thia Amelia
    Twitter: @Thia1498
    Kota: Bogor
    E-mail: thia.amelia18@yahoo.co.id
    Link: https://twitter.com/Thia1498/status/606765579354013696?s=01

    Pertanyaannya adalah apakah kamu mau jika dijodohkan? Atau pernah dijodohkan? Berikan alasannya atau ceritakan pengalamanmu :D 

    Sama kaya Naina, semua yang disuruh sama orang tua, pasti bakal aku lakuin, untuk ngebahagiain mereka. Kalau Naina kehilangan ibunya, aku sebaliknya. Mamah ku yg sekarang berperan sebagai ayah juga disamping kewajibannya sebagai ibu. Karena itu aku ga akan pernah ngecewain dia. Karena, dari semua pengalaman yang aku rasain juga, semua perkataan ibu itu selalu benar, selalu bikin aku senang. Karena itu, meskipun saat itu aku punya orang yang disuka dan aku dijodohkan oleh orang lain, pilihan dari mamah ku tetap yang nomor satu. Yah, meskipun yang dilakuin pertama adalah menyelidiki gimana orang yang akan dijodohin dulu sih hehe, ah selain pilihan orangtua, Allah juga pasti menginginkan yang terbaik buat kita, karena itu Sholat Istikhoroh juga jalan terbaik, karena hanya Allah yang tau jodoh kita. Minta petunjuk-Nya, dan Dia akan memberitahu. Jado jawaban dari pertanyaan nya adalah, Ya, aku mau dijodohin. Kenapa? Pertama karena aku ingin membahagiakan beliau, kedua karena aku merasa bahwa semua yang diucapkan mamah ku selalu benar😀

  36. Nama: Risna Rahmadyah
    Twitter: @heyrisna
    Kota: Malang

    Belum pernah dijodohin dan jangan sampai terjadi padaku wkwk nggak suka kalo dijodoh2in. Ngerasa kayak dipaksa menyukai apa yang nggak kita sukai. Mungkin bagi sebagian (atau banyak) orang, cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu. Tapi bagiku, aku ngga mau dipaksa menyukai seseorang yang nggak aku sukai karena aku mau perasaanku pure dari apa yang aku alami sendiri dan bukan karena ‘eh anak kita cocok ya? Yuk kita jodohin’. Ya walaupun perasaannya mungkin akan datang alami setelah mengalaminya sendiri, tapi dari awal kan sudah dipilihkan. Kita tidak memilih sendiri. Tidak diberi kebebasan🙂

    Well….wish me luck🙂 hehehe

  37. nama : dwi ayu
    twitter: @dwioranye
    alamat : solo

    dijodohin?
    mau mau enggak😄
    tergantung dijodohinnya sama siapa.
    kalo sama Siwon sih mau😄😄

    pengalaman dijodohin?
    ada sih.
    ceritanya ortu kayaknya ngebet banget aku punya pacar. hahaha.
    terus diajakin mulu kalo ada acara sama temen-temennya , tujuannya ngenalin ke anak temennya terus dijodoh-jodohin gitu😐
    ada juga , anak temennya yang awalnya suka sama kakakku ,tapi kakaku malah milih yang lain. tapi si emak suka banget sama anak temenya itu. dan akhirnya malah nanya aku , mau dijodohin sama dia apa engga. duhhh😄

  38. Nama : Tri Indah Permatasari
    Akun Twitter : @sa_il
    Kota Tinggal : Palembang
    Jawaban : Aku tidak mau dijodohkan. Meskipun nyatanya aku pernah dijodohkan, tapi itu tidak berhasil bukan karena aku menolak. Tapi kurasa karena kami tidak cocok. Pria itu menarik, bahkan kami satu pemikiran, dia asik diajak bicara, bahka diacara pernikahan kakak ku, dia ada. tapi hubungan ini tidak jelas, tidak ada diantara kami yang mencoba bertanya apa kelanjutan hubungan ini, yang ada hanyalah pria itu menghilang. Dan terus saja perjodohan lainnya terjadi, mungkin mulutku tidak menolak, tapi hatiku yang menolak. Karena aku menyukai orang yang aku tidak tahu apakah dia juga mencintaiku. Meskipun itu tidak pasti. Aku berharap untuk yang menjadi calon suamiku adalah seorang pria yang muncul dikehidupanku secara perlahan berkenalan, saling mendekati, mencoba memahami, hingga akhirnya ia tahu diriku yang sebenarnya, buruk dan baiknya aku, sampai pada titik terakhir ia menyatakan keseriusannya.
    Tapi itu tidak menutup kemungkinan bahwa aku tidak suka jika dijodohkan, aku setuju saja. siapa yang tahu akan kehidupan? bukankah jodoh iitu hal yang tidak bisa ditebak oleh manusia? dan siapa yang bisa menduga siapa tahu ternyata salah satu diantara pria yang dijodohkan padaku adalah orang yang selama ini kucintai ^^
    so, kita sebagai manusia cuma bisa menjalani kehidupan sebaik mungkin dan jangan lupa untuk berdo’a akan jodohnya. yakinlah, orang yang baik akan mendapatkan jodoh yang terbaik juga untuk dirinya.

  39. Nama: Ani Purditasari
    Twitter: @Anny_Tears
    Domisili: Jambi

    -Apakah kamu mau jika dijodohkan?

    Banyak orang berpendapat sekarang bukan zaman Siti Nurbaya yang nikah harus dijodohkan, tapi bagiku dijodohkan itu tidak buruk selama tidak ada pihak yang merasa dirugikan.

    Toh, banyak yang menikah karena dijodohkan namun tetap langgeng sampai kakek-nenek. Orangtuaku pun menikah karena dijodohkan, dan mereka masih langgeng sampai sekarang.

    Kalau belum menikah aku sih mau dijodohkan, berhubung aku sudah menikah jadi tidak mungkin khan aku dijodohkan? hehehe

    – Pernah dijodohkan?

    Pernah, bahkan berkali-kali.

    -Berikan alasannya atau
    ceritakan pengalamanmu.

    Di daerah tempat tinggalku sudah umum menikah muda, bahkan ada yang menikah ketika mereka baru lulus SD. Miris memang.

    Nah, kebetulan waktu itu aku baru lulus SMA, dan adik sepupuku yang baru kelas dua SMP memutuskan untuk berhenti sekolah kemudian menikah. Di acara resepsi pernikahannya aku jadi salah satu pagar ayu-nya, dan salah satu tamu undangan naksir aku, alhasil selesai acara malah berlanjut dengan acara perjodohan aku.

    Aku cukup terkejut karena ternyata status si laki-laki (A) duda. Tapi karena desakan keluarga aku pun setuju dijodohkan dengan syarat kami ta’arufan dulu selama dua minggu. Tapi baru seminggu kami ta’arufan aku malah dimaki-maki oleh perempuan yang ngaku istrinya si A. Duuh… Rasanya sakit banget. Bukan sakit ajah sih, malu juga. Aku khan taunya dia duda😥

    Tapi bukannya kapok, orangtuaku malah makin gencar jodohin aku…
    Ada yang dokter tapi bujang lapuk #upps , kriteria calon istrinya mirip model, aku ga lolos dah padahal mamanya udah sayang banget sama aku.

    Ada juga polisi, karena belum jodoh dia-nya ninggal duluan.

    Terakhir guru, lagi-lagi gagal karena dia milih nerusin karir gurunya yang waktu itu harus pindah tugas.

    Jodoh memang enggak kemana dah, Juni 2014 mantan pacarku melamarku dan kami menikah akhir Agustus.

    Hidupku drama emang :3 #hiks

  40. Sofhy Haisyah
    @Sofhy_Haisyah
    Makassar

    Apakah kamu mau jika dijodohkan ? Atau pernah dijodohkan ? Berikan alasannya atau ceritakan pengalamanmu ?

    Aku mau jika dijodohkan ^_^

    Yaa, bukannya gak laku sih. Tapi, yakin aja jika semisalkan nanti aku dijodohkan oleh pilihan orangtuaku, yaa pasti itulah pilihan yang terbaik. Toh, setiap Ibu shalat atau cium aku pas tidur, selalu dengar bisikannya meminta agar anak-anaknya mendapatkan jodoh yang baik. Jadi aku yakin, jika dijodohkan tentu orangtuaku bakal ngasih opsi calon yang baik🙂

    Masalah akan merasa cocok atau nggak cocok. Kalo aku pribadi memikirkan untuk pake metode ta’aruf-an dan tukaran list kebiasaan, kesukaan, dan ketidaksukaan. Dengan begini, setidaknya ada sedikit hal yang bisa aku kenal dari sosok yang dicalonkan🙂

    Dan, alasan terakhir milih dijodohkan sih. Karena, susah banget nemuin pacar yang bisa dan mau diajak serius (nikah). Yaa, kalo pun belum siap nikah, setidaknya ada tindakan yang mengarah buat rancangan masa depan bersama, begitu.

  41. Nama: Amelia
    Akun: @thiamelia
    Kota: Bogor
    Link: https://twitter.com/thiamelia/status/607392473871048705

    Semua orang yang jika ditanya apakah kamu mau dijodohkan? Pasti bakalan jawab ya, dengan mudah, karena apa? Karena ingin membahagiakan orang tua, itu pasti jawabannya. Ketika aku lihat pertanyaan nya tadi juga, sebenarnya sih aku mau jawab ya, karena ingin membahagiakan orang tua juga. Tapi setelah dipikir-pikir lagi, dan observasi dengan pemikiran bagaimana aku di masa depan, rasanya pasti jawab ‘Ya’ saja akan susah kalau memang nanti aku bakalan dihadapkan pada pertanyaan itu. belum lagi kalau kita memang punya pacar atau apaun lah yang bakalan lebih sulit lagi untuk menjawabnya. Banyak orang bilang kalau semua perkataan orang tua itu pasti baik untuk kita. Tapi, yang ada dipikiran aku, bukankah lebih baik kita yang seharusnya bisa menentukan bagaimana masa depan kita sendiri? Dan seharusnya orang tua juga bisa mendukung yang terbaik untuk kita kan?

    Oke jadi inti dari jawaban ku adalah…. Tidak selamanya kita harus menajwab ‘Ya’ untuk semua perkataan orang tua tentang masa depan kita. Ini hidup kita, masa depan kita. Walaupun orang tua memang berperan sangat banyak, tapi tetap saja masa depan kita hanya bisa kita yang berusaha dan Allah yang memberikan petunjuk. Kalau aku dihadapkan pada pertanyaan seperti itu. Aku akan bilang pada orangtua ku, bahwa mereka tidak perlu khawatir dengan masa depanku. Sudah sampai sebesar ini, aku bisa mengerti bagaimana kehidupan ini berjalan, aku tau apa yang terbaik untuk aku dan untuk kebahagiana orangtua ku nantinya. Tidak juga harus menolaknya langsung, mohon pada mereka untuk memberikan waktu pada kita kalau misalnya tanpa perjodohan pun semaksimal mungkin aku akan berusaha untuk membahagiakan mereka. Kalau tidak sepenuhnya berhasil, baru aku akan menerima perjodohan itu.

    Dan lagi pula, orangtua jaman sekarang kan sudah gaul. Aku yakin mereka juga akan mengerti apa yang anak nya inginkan, mereka kan selalu ada untuk kita sedari kita datang kedunia ini 

  42. Nama : Debby Zalina
    Akun Twitter : @debby_zalina
    Kota Tinggal : Batam, Kepulauan Riau

    Sejujurnya saya belum pernah mikirin tentang nikah sih, tapi… kalo di jodohin saat ini juga, insyaallah saya akan ngikut dengan pilihan orangtua. kebetulan saya juga udah kapok ‘bandel’ karena nggak ngikutin saran orangtua yg akhirnya malah bikin saya rugi sendiri dan kebetulan juga saya orangnya mudah suka dgn orang lain (mudah bosan juga sih tapi -_-). intinya adalah ridho orangtua ridho Allah juga. asalkan yang dijodohin seiman dengan saya. saya akan nurut. kebetulan pernah baca hadist sih yg kira2 intinya dalam memilih pasangan yg dilihat terlebih dahulu adalah agamanya.

    insyaallah saya bisa menjalaninya

    ehh-_- rasanya kok kayak beneran bakal di jodohin ya hehe

  43. Nama : Mentari Izzati
    Akun Twitter : @mentariizzati_
    Kota Tinggal : Tegal,jawa tengah

    jika saya di jodohkan nanti bisa saja saya menolak karna jika yang di jodohkan itu tidak sesuai dengan kriteria yang saya inginkan, mempunyai sifat buruk yang tidak di ketahui orang tua saya dan bisa saja saya menerima jika orang itu memupunyai akhlak yang baik dan dapat menjadi iman kelak nanti. kenapa tidak? sebelum saya memutuskan untuk menerima atau menolaknya. sebagai umat muslim sebaiknya melakukan sholat sunnah itsighoroh yaitu untuk meminta pentujuk kepada Allah dan meminta yang terbaik untuk kita.

  44. Nama : Siti Hanifa
    Twitter : @ShanifaWatson
    Kota : Sukabumi

    Saya sudah sering kali memikirkan tentang ini, meskipun usia saya masih muda. Bagaimana jika saya dijodohkan? Apakah saya mau? Saya terkejut dengan jawaban yang ada dipikiran saya. Ya, saya mau jika harus dijodohkan. Kenapa? Saya hanya yakin, bahwa orangtua saya akan memilihkan pendamping terbaik untuk puteri yang disayanginya. Tidak mungkin orangtua saya menjerumuskan saya pada hal yang tidak baik. Gimana kalau nggak cocok sama pendamping yang dipilihkan orangtua? Belum punya perasaan dan lain hal sebagainya? Cocok dan perasaan adalah masalah waktu. Saya meyakini hal itu. Pasangan tidak harus memiliki karakter yang sama, tapi ada untuk saling melengkapi. Lalu bagaimana dengan perasaan? Perasaan akan hadir seiring berjalannya waktu kebersamaan yang dijalani. Malah, saya berfikir, jika waktunya tiba nanti, saya sendiri yang akan meminta pada orangtua agar menjodohkan saya.

  45. nama : Eka Fitri
    akun twitter :
    Kota tinggal : Jambi
    Jawaban : Saya sih mau2 aja dijodohin, asalkan itu ga serius (haha, habisnya saya sering digini-in sih). Apalagi sama yg mukanya kayak Vin diesel!
    tapi, kalo buat serius sih. kayak-nya nga deh:/ ini kan tentang bagaimana masa depan seseorang. Namun, aku nga terlalu ambil pusing kalo masalah jodoh. Kalo emg suatu saat nanti aku dijodohin, dan akhirnya benerajn nikah sama yg dijodohin … ya, itu berarti dia jodohku X”D

  46. Rini Cipta Rahayu
    @rinicipta
    Malang, Jawa Timur

    Aku belum pernah dijodohkan, tapi kalau sekedar dikenalkan atau diberitahu tentang seseorang oleh teman pernah. Tapi ya gitu, hanya sekedar obrolan tanpa tindakan apapun.
    Kesannya ya, kalau dijodohkan itu konotasinya negatif. Kita juga buru-buru menolak, merasa gengsi karena dianggap nggak mampu mencari tambatan hati seorang diri *halah*. Padahal, kalau menurutku, kita juga perlu menghargai usaha dan niat baik orang lain terhadap kita. Mungkin aja, Tuhan mengirimkan jodoh melalui seorang mak/pak comblang kan?
    Kembali ke prinsip itu, bahwa kalau aku dikenalkan atau dijodohkan, aku akan tetap menjalaninya tapi tidak buru-buru menerima. Banyak hal yang perlu dipertimbangkan, banyak konsekwensi yang mesti dipikirkan. Apalagi kalau dijodohkannya untuk menikah, notabene memulai kehidupan baru yang akan dijalani seumur hidup setelah lepas dari orang tua. Minimal, harus mengenal orangnya luar dalam. Memiliki visi misi dan tujuan yang sama. Komitmennya juga penting. Alangkah bahagianya jika misalnya orang tua telah menyetujui, dan dia juga pas dihati. Minta ijin dan doa restu gampang🙂

  47. Nama : Shiela Hartiningtyas
    Twitter : @ruth_shiela
    Kota tinggal : Cirebon
    Pertanyaan : apakah kamu mau jika dijodohkan? Atau pernah dijodohkan? Berikan alasannya atau ceritakan pengalamanmu.

    Jawaban : Tentu saja aku mau jika dijodohkan. Why not?
    Tidak ada alasan yang membuatku harus menolak jika dijodohkan dengan seseorang.
    Mungkin alasan yang membuat seseorang menolak jika dijodohkan adalah karena gengsi atau mungkin belum kenal dengan orang yang hendak dijodohkan dengan diri kita.
    Aku coba bahas kedua alasan itu ya.

    Pertama, menolak karena gengsi. Bisa jadi perasaan gengsi ini timbul karena dikira ga laku atau ga bisa cari pasangan sendiri.
    Hei, ga usah mendengarkan pendapat orang lain. Sebenarnya itu kan hanya merupakan kekhawatiran kita sendiri.
    Belum tentu orang-orang memikirkan seperti apa yang kita pikirkan.
    Toh yang menjalankan perjodohan itu juga kita sendiri.
    Siapa tahu orang yang hendak dijodohkan tersebut memiliki banyak kelebihan dibandingkan daripada mencari sendiri mungkin.:)

    Kedua, kekhawatiran karena belum mengenal satu sama lain.
    Nah kalau yang ini juga ga usah takut. Kan yg namanya pacaran itu proses pengenalan secara lebih dalam satu sama lain.
    Pada saat perkenalan awal dengan orang yang hendak dijodohkan dengan kita, bisa berlanjut ke pengenalan secara lebih mendalam lagi.
    Kalau cocok lanjutkan, jika tidak ya tinggal akhiri saja.
    Ini kan sudah jaman modern, bukan lagi jaman kawin paksa seperti Siti Nurbaya dulu.;)

    Kembali ke alasanku yang pro dgn perjodohan.
    Tidak ada yang salah kok dgn hal ini.
    Anggap saja perjodohan merupakan niat baik orang terdekatku untuk mengenalkan/memberi pasangan pada diriku yang masih jomblo.
    Jangan melihat segala sesuatu dari sisi negatifnya, tapi lihatlah dari sisi positifnya.
    Banyak juga kok teman-temanku yang dijodohkan oleh orang tuanya, dan hubungan mereka berlanjut hingga ke pelaminan.
    Dan hingga saat ini, hubungan mereka tetap harmonis dan bahagia.:)

  48. Pingback: REVIEW Love Fate | Luckty Si Pustakawin

  49. nama: Ria
    akun twitter: @goodenoughoks
    kota tinggal: Surabaya

    Pertanyaannya adalah apakah kamu mau jika dijodohkan?
    Atau pernah dijodohkan? Berikan alasannya atau
    ceritakan pengalamanmu😀

    Aku tidak mau dijodohkan, kalo dikenalkan masih mau
    tapi kalo dijodohkan huuffh… enggak deech…
    Masalahnya aku itu orangnya suka ilfil kalo sm cowok
    (kalo mo dijadiin pacar lho ya), gak sreg sedikit
    langsung ilfil trus kepikiran “enak dijadikan teman aja
    dech”😀 Gimana coba kalo dijodohkan? Sehari setelah
    menikah, si suami bikin ilfil wah bener2 gak bisa punya
    pikiran “enaknya dijadiin teman ato jadi kakak angkat”
    hahahahaha…

  50. Nama : Sri Desinta Ginting
    Twitter : @dshinta_gtg
    Kota : Binjai, Sumatera Utara

    Saya mau, tapi ini perjodohan yang gimana. Apa harus langsung menerima begitu saja.Tentu harus ada perkenalan diantara kami. Saya merasa tidak ada salahnya mengenal seseorang yang dipilihkan oleh orang terdekat kita terlebih lagi orang tua. Entah kenapa, saya memiliki perasaan kalau saya bakal dijodohkan. *curcol*
    Hanya suatu perasaan, tidak mudah mengabaikan perasaan.

  51. Nama : Hary Gimulya
    Twitter : @angels_rutherfo
    Kota tinggal : Bandung

    Kalau aku pribadi sih simpel aja jawabannya, aku tidak mau jika dijodohkan, karena aku sudah memiliki seseorang yang sangat aku sayangi, dan aku sudah merasa cocok dengannya.
    Tidak mungkin aku mengorbankan orang yang aku sayangi tersebut hanya demi sebuah perjodohan.
    Namun tentu saja aku tidak mungkin langsung menolak begitu saja niat perjodohan tersebut karena aku tidak ingin menyakiti perasaan orang yang hendak menjodohkanku.
    Aku akan mengatakan terima kasih sudah memperhatikanku, namun aku juga akan menjelaskan bahwa aku sudah memiliki seseorang yang sangat aku cintai dan ingin selalu bersamanya.
    Semoga dengan begitu mereka mengerti dan tidak memaksakan lagi keinginan mereka untuk menjodohkanku.

  52. Nama : Anggi Budiman Ibrahim
    Twitter : @anggimore
    Kota : Kuningan

    saya masih 17 tahun jadi saya belum pernah dijodohkan, tapi itu mungkin saja terjadi dengan alasan : ketika kita sudah lama singel, bekerja namun belum sukses sepenuhnya.. atau ketika kita sukses namun sibuk dan tidak ada yang memperhatikan.. maka orangtua akan “turun tangan”..
    namun disinilah juga banyak anak yang merasa kurang suka dengan hal tersebut, karena orang baik menurut orangtua kita belum tentu baik menurut kita.
    tidak ada yang salah dalam posisi ini, orangtua hanya bertindak sesuai nalurinya..
    selain kita dan orangtua kita jangan lupa ada orang dan orangtuanya dalam posisi yang sama, jadi jangan hanya memikirkan diri sendiri saja..
    beri kesempatan, coba lihat baik-baik dan kenali orang tersebut apakah dia pantas untuk kita? kita pantas untuk dia? apakah jika kita bersama kita akan bahagia? orangtua kita juga bahagia?
    buat keputusan untuk maju atau mundur, dan yakin akan keputusan tersebut..

    jadi kalau saya dijodohkan saya tidak akan menolaknya dengan mentah-mentah, namun tidak wajib juga sebagai anak untuk menerimanya..

  53. Pingback: [Blogtour + Giveaway] Novel Jodoh Untuk Naina | Taman Bermain Drop Dead Fred

  54. Nama: Auliyati
    Twitter: @nunaalia
    Kota: Serang

    Pertanyaannya adalah apakah kamu mau jika dijodohkan? Atau pernah dijodohkan? Berikan alasannya atau ceritakan pengalamanmu
    Jawaban:
    Selama prosesnya sar’i sesuai tuntunan islam, dijodohkan tidak masalah buat saya. Tapi juga bukan berarti harus ada paksaan, karena urusan menikah itu urusan hati tidak bisa dipaksa, harus ada keikhlasan dari kedua belah pihak untuk mau saling menerima dgn segala kekurangan & kelebihan masing-masing.
    Pengalaman saya sering banget, tapi mungkin bukan dijodohkan, tapi hanya dikenalkan, karena saya org yg pendiam bin pemalu jadi soal jodoh hrs minta bantuan saudara atau teman untuk dikenalin hehe…
    Tapi sayangnya sampai saat ini belum bertemu yang sehati! hiks hiks….. Yah mungkin memang belum jodohnya…
    Doakan saja ya supaya bisa cepet ketemu jodoh niy….. atau ada yg mau bantu kenalin?? heheee….

  55. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s