REVIEW Peter Pan

WP_20150524_005

Mengapa harus dewasa, jika bisa muda selamanya?!?

Itu adalah tagline dari buku Peter Pan yang diterbitkan oleh Fantasious. Kisah Peter Pan adalah salah satu kisah yang tak terlupakan sepanjang masa alias tidak tergerus zaman. Ada banyak penerbit yang sudah menerjemahkan versi bukunya. Fantasious menyuguhkan hal berbeda dalam buku ini. Tidak saja tentang kisah Peter Pan dan Wendy, tapi juga hal lain.

“Ketika bayi pertama tertawa untuk pertama kali, tawa itu pecah hingga menjadi ribuan keping, dan kepingan itu berhamburan ke seluruh penjuru tempat, begitulah awal munculnya para peri.” (hlm. 41)

Buku ini terdiri dari tiga bagian. Bagian pertama menceritakan penulisnya. Gaya bahasanya unik. Bukan seperti buku biografi, tapi kita diajak seakan menelusuri kehidupan penulisnya bagai peri yang terbang tapi tak terlihat.

Adalah Margaret Ogily dan David Barrie yang memiliki sepuluh anak. Sang ayah memiliki karier yang cukup bagus di bidang pakaian. Sementara sang ibu mencurahkan waktu dan tenaga untuk mengurus rumah dan anak-anaknya. James, sang penulis buku ini adalah anak kesembilan. Dua diantaranya meninggal sebelum James lahir, salah satunya bernama David. David adalah anak kesayangan keluarga ini, anak kesayangan ibu tepatnya. Ia mulai berpikir, apa yang bisa dilakukannya untuk membuatnya tersenyum lagi. James baru berusia enam tahun saat itu. Tapi, kekhawatiran dalam hatinya sudah sebesar orang dewasa.

Mungkin, berpura-pura menjadi David akan membuat ibunya tak lagi bersedih, pikir James akhirnya. Bahkan, siapa tahu sang ibu akan jadi lebih sayang kepada James. Apa pun dia lakukan demi mendapatkan perhatian sang ibu yang selama ini tercurah kepada kakaknya. Anehnya, lama kelamaan sang ibu menganggap meninggalnya David adalah hal yang patut disyukurinya, karena paling tidak David akan selamanya menjadi bocah, tak akan pernah beranjak dewasa dan meninggalkannya.

Sayangnya, keinginan sederhana James untuk diperhatikan tak pernah kesampaian. Sang ibu tetap tenggelam dalam kenangan tentang David. Tetap David yang dilihat ibunya ketika memandang James.

Rasa kecewa dan keinginan terpendam untuk juga menjadi anak kesayangan sang ibu membekas di hati James kecil. Ia mungkin tak pernah mengira, kesan mendalam itulah yang justru akan menjadi senjatanya menaklukkan dunia. Senjatanya untuk menjadi legenda dari masa ke masa.

Kau butuh serbuk peri agar bisa terbang, jadi tak perlu buru-buru berjinjit dan mengepak-ngepakkan kedua lenganmu di atas tempat tidur agar bisa mengendus jejak Peter di Neverland. Ya, kau tak boleh memikirkan hal-hal indah agar tubuhmu bisa terangkat sedikit lalu melesat membelah awan, tapi sebaiknya kau lakukan itu di Dreamland saja, bagaimana? (hlm. xx)

WP_20150531_002

Bagian kedua baru menceritakan kisah Peter Pan dan Wendy. Saya tidak perlu menceritakan rinci tentang kisah mereka, karena hampir semua orang pasti mengetahui kisahnya. Oya, jadi keinget pas kuliah semester tiga ada tugas membuat project perpustakaan impian. Tugas saya waktu itu berjudul PETERPAN, singkatan dari PERpustakaan TERdePAN😀

Lewat keluarga Darling kita bisa melihat bagaimana khawatirnya mereka ketika punya anak banyak. Ketika baru memiliki satu anak, perhatian mereka tercurahkan sepenuhnya untuk Wendy. Dan di tahun-tahun berikutnya, mereka memiliki dua anak lagi; John dan Michael, kehidupan tak lagi sama. Byuh, zaman dulu aja sudah kerasa susah, apalagi zaman sekarang kalau punya anak banyak yaaa… x)

Wendy adalah representasi kehidupan anak-anak yang penuh fantasi. Berandai-andai ada peri yang akan melindunginya. Dan bisa terbang ke dunia imajinasinya. Dunia impian Wendy adalah Neverland. Hingga suatu hari Peter Pan memasuki kamarnya dan mengajaknya pergi ke Neverland. Tidak hanya seorang diri, Wendy pun mengajak adik-adiknya yang masih unyu dan polos. Disinilah petualangan dimulai.

WP_20150531_003

Sedangkan Peter Pan adalah representasi dari kita yang selalu terjebak dalam zona nyaman. Kenapa? Peter Pan tidak ingin dewasa karena baginya menjadi muda adalah hal yang menyenangkan. Peter Pan yang selalu ingin muda dan tidak menyukai keluarganya adalah cerminan masa kecil penulisnya. Yup, James, penulisnya tidak ingin menjadi tua karena dia ingin selalu menjadi David, kakaknya yang sudah meninggal, tapi masih selalu diingat oleh ibunya.

Peter Pan merupakan sosok kesepian dan takut menua. Di halaman 236 disebutkan jika Peter Pan tidak mau sekolah dan mempelajari hal-hal serius. Rasa kesepian Peter Pan juga terlihat saat Wendy dan adik-adiknya pulang ke rumah dan disambut hangat oleh orangtuanya.

WP_20150531_006

Saya juga jadi teringat Michael Jackson yang juga memiliki Neverland di kehidupan nyata. Michael Jackson sama nasibnya sekilas mirip James. Sama-sama tidak memiliki masa kanak-kanak yang menyenangkan. Dia membangun Neverland untuk melampiaskan masa kanak-kanaknya yang terenggut. Ya, sejak kecil, dia sudah terjun ke dunia hiburan bersama saudara-saudaranya dan waktu kanak-kanaknya habis begitu saja tanpa mengalami masa seperti anak-anak lainnya yang bisa bermain dan berpetualangan sesuka hati. Bahkan di akhir hidupnya, semua juga tahu bahwa Michael Jackson tidak bahagia meski memiliki harta kekayaan berlimpah.

“Bagaimana kita bisa menemukan jalan pulang tanpa dia?”

“Yah, kalau begitu, kita bisa melanjutkan perjalanan.”

“Itulah yang mengerikan. Kita harus melanjutkan perjalanan, karena kita tidak tahu cara berhenti.” (hlm. 58)

Dan di bagian ketiga menceritakan Peter Pan di Kensington Garden. Jika kisah Peter Pan dan Wendy di bagian kedua sudah familiar mendengar ceritanya, di bagian ketiga ini saya baru tahu kisahnya.

Selain penjabaran isi buku yang terdiri dari tiga bagian yang berbeda tapi saling berhubungan, poin lebih lain dari buku ini adalah ilustrasinya yang unyu. Uniknya, buku ini terdiri dari dua penerjemah. Saat membaca buku ini, tidak terasa perbedaan gaya terjemahn dari dua penerjemahnya yang seakan memiliki satu napas.

Ada hal yang mengganjal saat membaca riwayat hidup di halaman iv, disebutkan jika J. M. Barrie lahir pada tanggal 9 Mei 1937. Padahal disebutkan juga di halaman kolasi, jika buku Peter Pan pertama kali diterbitkan tahun 1911. Masak iya bukunya terbit duluan baru penulisnya lahir?!? Saya pun penasaran dan kemudian googling. Di wikipedia dijelaskan jika J. M. Barrie ini lahir pada tanggal 9 Mei 1860 dan meninggal pada tanggal 19 Juni 1937. Mungkin bisa diperbaiki di cetakan selanjutnya yaaa…😉

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Masa depan kadang kala penuh kejutan. (hlm. x)
  2. Semua anak tumbuh dewasa. (hlm. 1)
  3. Dua adalah permulaan dari akhir. (hlm. 1)
  4. Dalam menjalani hidup, hal-hal aneh terjadi pada kita semua tanpa kita sadari sedikit pun. (hlm. 201)
  5. Saat orang dewasa, mereka lupa caranya. (hlm. 243)

Ada juga selipan sindiran halusnya:

  1. Bersikaplah lebih sopan. (hlm. 57)
  2. Berhati-hatilah jika ada yang menawarkanmu petualangan, jika kau menerimanya, kau akan terjerumus ke masalah yang sangat dalam. (hlm. 71)

Keterangan Buku:

Judul                                                                                     : Peter Pan

Penulis                                                                                 : J. M. Barrie

Penerjemah Peter and Wendy                                  : Harisa Permatasari

Penerjemah Peter Pan in Kensington Garden     : Tisa Anggraini Naraputri

Penyunting                                                                         : Mery Riansyah

Proofreader                                                                       : Raz Kaldenis

Ilustrator Peter and Wendy                                         : Azisa Noor

Ilustrator Peter Pan in Kensington Garden           : Arthur Rackhman

Pewajah sampul                                                               : Birgita Tyas dan Deff Lesmawan

Pewajah isi                                                                         : Yhogi Yhordan

Penerbit                                                                              : FANTASIOUS

Terbit                                                                                    : April 2015

Tebal                                                                                     : 360 hlm.

ISBN                                                                                      : 978-602-0900-33-9

Dapatkan buku ini di toko buku online Bukupedia

http://www.bukupedia.com/id/book/id-32-90638/novel-fiksi-cerpen/peter-pan.html

6 thoughts on “REVIEW Peter Pan

  1. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  2. Lucu ilustrasinya, aku sih kepengennya cerita Peter Pan yg asli kak. Aku udah baca ceritanya dalam format pdf dan itu sukses buat aku nangis. Pokoknya ceritanya hebat banget.

  3. Kisah james dan david itu mengingatkan aku dengan novel love puzzle dari ka eva sri rahayu. Sama-sama tersingkirkan karena saudaranya meninggal dan lebih memilih menyamar menjadi saudaranya yang telah meninggal agar dilihat oleh ibunya, kasian.

    Peter pan emang ga pernah abis ceritanya🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s