REVIEW Love Fate

WP_20150605_004

Setiap orang punya masalah sendiri-sendiri. Punya cara masing-masing juga untuk menyelesaikannya. Tak perlu menghakimi karena kita tak tahu mereka seperti apa. (hlm. 107)

Adalah Tessa Febriana Sasmita. Dari namanya bisa terlihat jika lahir di bulan Februari, bulan penuh cinta. Pekerjaan sekarang yang ditekuninya adalah pekerjaan kedua. Sebelumnya bekerja di asuransi tertua Indonesia sebagai staf deaprtemen aktuaria. Tugasnya adalah mendesain produk asuransi untuk didagangkan perusahaan asuransi itu.

Tessa dan Bhas adalah orang yang berkomitmen dengan pekerjaan. Saking berkomitmennya, Bhas seakan-akan mengaminkan keinginan Tessa untuk mandiri secara financial dengan menunda pernikahan. Lebih dari lima tahun sampai akhirnya Bhas melamar Tessa. Dan akhirnya mereka menikah.

Menikah bukan berarti berhenti bekerja. Karier mereka sama-sama menanjak. Sejak dua tahun lalu mereka tinggal di rumah sendiri. Mereka mampu membeli sebuah rumah dua kamar di perumahan berkelas di kota Depok dan membekali diri masing-masing dengan sebuah mobil. Mereka pun cukup punya uang untuk travelling keluar negeri paling tidak sekali dalam setahun dan pergi ke Malang untuk mengunjungi orangtua Bhas setidaknya dua kali setahun. Dan tak terhitung pulang pergi Bandung-Depok untuk menengok Ambu-nya Tessa yang ikut dengan kakaknya yang juga sudah berkeluarga.

Sekilas kehidupan pernikahan Tessa dan Bhas tampak adem ayem. Apalagi urusan ekonomi, mereka bisa dikatakan mapan. Karier aman. Lalu? Perkara anak adalah jawabannya. Mereka sudah menikah selama lima tahun. Bukan waktu yang sebentar dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

Jangankan sudah menikah lima tahun seperti Tessa dan Bhas ini, sepasang suami istri yang baru menikah nikah aja pasti udah dapet pertanyaan; “Udah isi?!?” x)

Pertanyaan “udah isi?” atau “udah hamil?” adalah salah satu pertanyaan paling sensitif yang diajukan bagi orang yang sudah menikah. Sama sensitifnya bagi para single yang dapat pertanyaan “kapan nikah?” atau “kapan nyusul?” x))

Ada bermacam-macam tipe orang yang menghadapi gempuran pertanyaan seperti ini. Pertanyaan klise tapi juga membutuhkan mental yang kuat menghadapinya. Ada yang sabar, ada yang pura-pura sabar, ada yang senyum, ada yang pura-pura senyum padahal dalam hati menangis, ada yang langsung senewen dan menampilkan muka masam atau bebal nggak dimasukin ke hati.

Dan saya adalah tipe orang yang bebal. Bebal memilih jurusan kuliah yang anti mainstream. Bebal ketika semua teman lulus skripsi malah asyik magang. Bebal ketika semua teman sudah punya pekerjaan mapan malah asyik traveling. Bebal ketika semua orang yang seumuran 70% sudah pada nikah malah asyik dengan dunia sendiri. Kalo kata Kunto Aji mah; “sudah terlalu asyik dengan duniaku sendiri…” x)) #plakk #MalahCurcol #abaikan

“Mengapa orang seperti Mbak Kanti dan kebanyakan wanita tadi dengan sangat mudah Kau berikan anak di rahimnya? Sedangkan aku, kurang siap apa? Aku percaya pernikahan kami kokoh, ekonomi cukup, keluarga kami pun dari kalangan yang baik.” (hlm. 106)

Ada banyak faktor mengapa sepasang suami istri belum memiliki momongan. Ada yang memang menundanya. Ada juga yang memang belum dikasih amanah oleh Tuhan, meski sudah melakan berbagai upaya bagi dari segi medis maupun herbal.

Saya punya pengalaman bersentuhan dengan kehidupan sepasang suami istri yang belum memiliki anak. Adalah Om yang merupakan adik kandung ibu saya. Jika memiliki anak, kira-kira umur anaknya sama seperti umur adik saya yang kini kuliah semester enam. Itu tandanya sudah lebih dari dua puluh tahun usia pernikahan mereka. Meski begitu, alhamdulillah sampai sekarang meski belum dikaruniai anak, masih awet dengan tante, malah bisa dikatakan amat sayang dengan istrinya ini.

Setiap sepasang suami istri pasti akan merasakan hal yang sama seperti yang dialami Tessa dan Bhas ini. Akan risau jika belum dikarunai anak. Belum lagi tekanan di sana-sini. Untuk pasangan muda (berdasarkan pengalaman teman-teman yang mengalaminya), ini merupakan fase paling berat. Mungkin om dan tante juga pernah mengalami fase tekanan ini. Berhubung mereka sudah mengarungi pernikahan lebih dari dua puluh tahun, rasanya sudah lewat masa-masa kritis itu. Lebih banyak rasa ikhlas dan sabar yang dihadirkan. Saya bisa merasakan, kini om lebih religius dibandingkan masa mudanya. Hikmahnya, sekarang om aktif dengan kegiatan-kegiatan di masjid.

Nah, yang lebih berat tentunya jika salah satu dari pihak suami atau istri yang tidak sejalan pemikirannya. Seperti Tessa yang ingin berusaha melakukan sesuatu karena merasa sudah lewat lima tahun, ini waktunya mulai periksa kandungan, tes kesehatan dan lain-lain. Sementara Bhas tampak ogah-ogahan mengikuti kemauan Tessa untuk bersama-sama tes kesehatan. Saya jadi teringat pengalaman ketika menemani seorang teman untuk periksa kandungan, dokternya nanya ke mana suaminya. Ini sama persis seperti yang ditanyakan dokter ke Tessa di halaman 66-67. #PukPukTessa

Dan lebih masalah lagi jika ditambah dengan desakan dan omongan dari pihak keluarga yang bukannya mendukung malah bikin ngurut dada. Ada, ada banget tipikal ibu mertua kayak Ibunya Bhas ini. Di matanya, menantu selalu salah. Ibu-ibu seperti ini nggak cuma ada di sinetron, tapi ada juga di kehidupan nyata. Biasanya ibu mertua seperti ini sebenarnya adalah ibu yang terlalu mencintai anaknya, jadi seakan menantu adalah saingannya. Makanya tak urung sang anak lebih patuh dengan perintah ibu ketimbang memahami keadaan hati istri #PukPukTessaLagi

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Kalau jodoh, memang tak ke mana. (hlm. 4)
  2. Harapan doa selalu terlantun bagi mereka yang tertimpa musibah. (hlm. 22)
  3. Sabar. Semua perlu proses. (hlm. 64)
  4. Semua terjadi atas kehendak Allah SWT. (hlm. 89)

Banyak selipan kalimat sindiran halus dalam buku ini:

  1. Kapan lagi kalau bukan weekend bisa tidur sehabis shalat subuh dan bangun siang. (hlm. 1)
  2. Memang jarang orang asli Sunda yang menggunakan bahasa Sunda dalam percakapan harian dibandingkan dengan orang Jawa atau Sumatra. Mereka lebih banyak memakai daerah untuk percakapan sehari-hari dengan teman sesukunya. (hlm. 2)
  3. Apa salahnya profesi guru? (hlm. 6)
  4. Jangan kebanyakan kerja. Ingat umur. Kalau sudah tua, nanti menyesal. (hlm. 31)
  5. Mana mungkin seorang wanita akan menolak hadiah perhiasan? Emas putih atau emas kuning sama saja. (hlm. 38)
  6. Wanita kalau ada maunya lebih buas. (hlm. 46)
  7. Makin banyak saja orang yang bekerja di Jakarta! (hlm. 52)
  8. Namanya juga istri sedang hamil. Boleh dong memperlakukan dengan sedikit istimewa? (hlm. 57)
  9. Lha wong orangnya ndak mau kok dipaksa? Apa-apa kalau dipaksakan ndak akan baik. (hlm. 86)
  10. Mengganti cucu yang hilang bukan semudah mengganti balon yang meletus untuk anak TK. (hlm. 211)

Banyak pengetahuan tentang serba-serbi pernikahan yang bisa kita dapatkan lewat buku ini, diantaranya adalah:

  1. Ada istilah-istilah dalam rangkaian pernikahan adat Jawa; bleketepe; anyaman daun kelapa yang digantungkan di gapura sebagai akan ada hajatan di rumah, paes yang menurut kepercayaan menyimbolkan harapan kedudukan luhur mempelai diapit bapak, ibu, dan keturunannya, acara midodareni dimana kedua calon mempelai tidak boleh bertemu, penyerahan peningsetan yang merupakansebagai tanda pengikat antara kedua belah pihak, serta angsul-angsulan yaitu keluarga pengantin perempuan memberikan beberapa barang balikan kepada pihak laki-laki sebagai tanda balasan. Pernikahan yang masih memegang adat istiadat memang kesannya ribet, apalagi banyak tata aturan yang harus dilewati. Sampai sekarang saya masih menemukan pernikahan yang kental budaya adatnya. Senang sih lihatnya. Apalagi kalau menggunakan adat suatu suku yang jarang kita temui. Jadi ikutan penasaran gimana prosesinya.
  2. Di halaman 41 disebutkan jika melangsungkan pernikahan, apalagi di rumah, ribetnya minta ampun. Bisa dari sebulan sebelumnya. Urus ini urus itu. Saya sudah sering banget bantuin nikahan saudara-saudara yang pada umumnya memang jauh lebih tua dari saya yang menikah duluan. Dari jaman sekolah sampai sekarang. Bantu-bantu beberes bungkus kue sudah biasa. Jadi penerima prasmanan (makan) apalagi, sering kebagian jatah di sini. Bahkan pas SMA, saya pernah diamanahi buat ratusan souvenir nikahan sepupu. Maklum, dulu yang jualan souvenir nikahan nggak sebanyak sekarang. Jadi sering ngerasain ribetnya yang namanya hari-hari sebelum melangsungkan suatu pernikahan. Ikutan rempong. Kalau saya sih maunya nggak yang ribet-ribet. Wisuda jaman kuliah aja saya nggak mau ribet, apalagi urusan nikah x)
  3. Konon dalam pernikahan itu bukan saja hubungan antara laki-laki dan perempuan, tapi juga melibatkan anggota keluarga. Yang paling susah itu adalah bukan mencari pasangan yang pas, tapi paling susah adalah menikahi juga keluarganya. Ini dalam artian ketika kita menikah dengan seseorang, sudah sepatutnya kita juga harus membaur dengan keadaan keluarganya. Ini yang paling susah, apalagi kalo ikut mertua ya. Makanya sebenarnya dianjurkan jika kita sudah menikah, seharusnya harus lepas dari orangtua meski hanya ngontrak rumah, nggak musti langsung punya rumah sendiri loh. Eh, ini berdasarkan teman-teman yang sudah berpengalaman menikah. Katanya jika sudah hidup terpisah, segala sesuatunya tidak riskan adanya campur tangan pihak keluarga.
  4. Nggak kebayang nasibnya kayak Tessa ini. Kayak di halaman 84-86. Kayaknya memang seru juga ya punya grup wa keluarga kayak keluarganya Bhas ini. Jadi apa pun kegiatan dan perkembangan keluarga terpantau. Nggak enaknya ya apa-apa musti laporan. Rapor kenaikan kelas kali kudu ada laporan x)

Ada beberapa yang agak mengganjal. Nama-nama universitas yang ditulis merupakan fiksi, padahal lebih bagus jika disebutkan nama universitas yang nyata biara kerasa jika Tessa dan Bhas ini ada di kehidupan sesungguhnya. Misalnya disebutkan jika Tessa merupakan alumni Universitas Negeri Bandung (UNB), kenapa tidak ditulis saja kuliah di UNPAD, ITB, atau UPI? Kemudian BAB 3 tentang isu lumpur lapindo yang menurut saya tidak perlu. Mungkin bagus jika hanya diselipkan dalam cerita, tidak harus menjadi satu BAB tersendiri.

Tessa ini seperti hidup kesepian. Tidak punya sahabat untuk berbagi suka dan duka. Yah, minimal teman yang mau mendengarkan keluh kesahnya. Memang sih, ada Esme teman masa lalunya yang dia temui tak sengaja saat ke dokter. Atau Kanti si OB di kantor tempat Tessa bekerja yang sesekali diajaknya ngobrol bahkan pernah diajak makan siang ketika jam istirahat. Tapi saya merasa Tessa kesepian, tidak punya teman.

Kehidupan Tessa dan Bhas adalah representasi pernikahan pasangan muda yang belum dikaruniai momongan dengan masalah keluarga yang menjadikan kian kusut benang merahnya.

Menghadirkan kisah Kanti yang amat kontras dengan kehidupan Tessa sebagai selingan kisah pokok antara Tessa dan Bhas. Endingnyaa tak terduga, bikin gemassss… x)

Ini adalah buku kedua dari seri #LaMariage terbitan Elex Media. Jika di buku pertama, Jodoh untuk Naina bercerita tentang perjodohan, di buku ini mengambil tema problem belum memiliki anak. Merekomendasikan bagi yang sudah ataupun belum menikah😉

Keterangan Buku:

Judul                     : Love Fate

Penulis                 : Sari Agustia

Penerbit              : PT. Elex Media Komputindo

Terbit                    : 2015

Tebal                     : 228 hlm.

ISBN                      : 978-602-02-6097-6

PicsArt_06_06_2015_22_32_27[1]

Book Trailer – Love Fate by Sari Agustia

Postingan ini diikutsertakan dalam Ajang Review Novel #LoveFate by Sari Agustia

Embedded image permalink

15 thoughts on “REVIEW Love Fate

  1. Aku suka endingnya🙂
    Bhas dan ibunya itu bikin cenut-cenuttt… huuuh… namanya juga orang tua kolot yaaa…
    Btw ikutan ajang review Love Fate juga kak?🙂

  2. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  3. Setiap orang punya masalah sendiri-sendiri. Punya cara masing-masing juga untuk menyelesaikannya. Tak perlu menghakimi karena kita tak tahu mereka seperti apa. (hlm. 107)
    benerr, jangan judge orang dari luarnya ajaaa

  4. Bahas budaya nikahnya bikin inget waktu zaman kelas 12 SMA bikin pernikahan adat Jawa pake bleketepe dll itu😄

    Soal blm dapat momongan aku juga punya saudara yg udah nikah puluhan tahun blm dikaruniai anak, tapi ttp awet. Karena bahagianya pernikahan ga bergantung sama anak juga sih ya kak bener ^^

  5. Kasian Tessa pasti tertekan banget terus kepikiran terus. Aku penasaran kenapa Bhas nggak mau diajak periksa kandungan, kesehatan, dsb? Emangnya dia nggak mau punya anak?

  6. Orang hidup banyak aja masalah yang jadi omongan. Seperti disalah satu buku yang aku baca, ada kalimat berikut.

    Semua orang begitu, belum nikah ditanyain kapan nikah? Udah nikah, belum punya anak, ditanyain kapan punya anak? Udah punya anak, ditanyain kapan mau nambah? Yang ga ditanyain cuma 1, kapan meninggal.

    Rasa-rasanya emang bener, urusan sendiri ga mau disebut-sebut orang, tapi masalah orang malah diungkit-ungkit. Udah sifatnya manusia. Kalo kata mamah aku sih, pengen cubit orang, tapi ga pengen dicubit😀

    Endingnya?? Apa mereka akhirnya punya anak???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s