REVIEW This Star Won’t Go Out

WP_20150530_003

Jangan lupa menjadi orang yang menakjubkan. (hlm. 117)

Adalah ESTHER GRACE EARL, seorang remaja yang menginspirasi John Green untuk menulis The Faults in Our Stars. Meski demikian, kisahnya sama sekali berbeda dengan nasib Hazel Grace Lancaster di buku tersebut. Esther justru lebih luar biasa dan lebih hidup dalam menghadapi kenyataan hidup. Esther ada di dunia nyata, sedangkan Hazel hanya ada di fiksi.

Ini adalah memoar yang ditulis Esther, berisi kesehariannya yang dia tulis dan ada juga selipan kisah-kisah kehidupan Esther dari orang-orang terdekatnya. Jaman sekarang, sudah jarang kita temukan remaja yang menulis catatan hariannya, terkecuali Esther ini. Dulu saya punya kebiasaan ini, dimulai dari kelas 3 SD, saat pertama kali mendapatkan buku diary kecil hadiah dari mama. Berlanjut sampai SMA, saya memiliki lima buku diary yang masih disimpan sampai sekarang. Ini mungkin kebiasaan yang menurun dari mama, karena selama hidupnya, mama memiliki banyak buku diary yang saya simpan juga sampai sekarang. Sayangnya, kebiasaan menulis catatan harian tidak berlanjut saat kuliah. Saat ngekos, saya menemukan satu teman kosan yang selalu menuliskan kegiatannya di catatan harian. Ritual ini dilakukannya menjelang tidur. Ya, selama satu semester, dia tidak berani tidur di kamarnya sendiri, kamar saya menjadi kamarnya untuk sementara, jadi saya sering lihat dia menulis kegiatannya setelah seharian beraktivitas sebelum tidur. Setiap hari loh, salut!!😉

Ada banyak kemiripan almarhum mama dengan si Esther ini. Selain sama-sama menuangkan kisah hidupnya di buku harian, kesamaan lainnya adalah tetap semangat hidup meski tahu umurnya tidak akan lama karena kanker setiap hari menggerogoti. Satu lagi, menginspirasi meski dalam keadaan sakit. Serta tidak pernah mengeluh meski rasa sakit kerap menjalari tubuh. #PukPukEsther

Tulisan Esther yang pertama saya baca di buku ini adalah saat ulang tahun perkawinan ulang tahun orangtua mereka. Di halaman 28 disebutkan jika Esther menerima fakta dia mengidap kanker tiroid. Dia baik-baik saja dan tidak berpura-pura menyangkalnya. Dia tahu bahwa dengan Tuhan semua pasti baik dan dia memiliki keluarga yang melindungi,menyayangi, dan memperhatikannya selama ini :’)

Di halaman 39 juga dituliskan bahwa Esther pahama dia akan segera pergi. Menakutkan, tapi dia merasa sangat damai. Ya, Esther menderita kanker tiroid normal dan dia masuk kategori 0,4% anak yang sembuh. Dia sebenarnya tidak mengkhawatirkan kanker yang dideritanya, tapi dia akan sedih ketika mendengar cerita si A meninggal karena kanker, si B karena menderita kaker. Satu pembelajaran jika ketika kita sedang bersama seseorang yang menderita suatu penyakit, jangan pernah membahas sakitnya dan membadingkannya dengan orang lain yang memiliki penyakit sama. Jangan dibedakan, anggap saja mereka sama dengan mereka. Mereka yang memiliki sakit akan lebih kuat jika dianggap sama, bukan untuk dikasihani dan diistimewakan yang justru mengingatan mereka akan penyakit yang mereka derita.

Di memoarnya, ada banyak sekali goresan karyanya. Cek saja di halaman 65, dia membuat lebih dari lima puluh emoticon versinya sendiri. Esther juga seperti remaja pada umumnya. Meski selang pernapasan bertengger di wajahnya, dan membawa dua tabung oksigen besar, keluarga Esther mengajaknya makan malan di luar untuk makan lobster yang super besar. Kita juga bisa melihat list keinginan Esther sebelum pergi, sederhana tapi justru menakjubkan. Di halaman 207, dia juga iseng seperti remaja pada umumnya; mencuri rok boneka barbie x))

Apa yang membuat Esther kuat menghadapi hidup? Selain dukungan keluarga dan teman-teman yang selalu ada untuknya, Esther sangat percaya Tuhan. Di halaman 83 disebutkan Tuhan jauh lebih mencintainya. Banyak sekali cinta dari-Nya. Tuhan Maha Menyediakan.

Meski sakit, bukan berarti Esther hanya tidur-tiduran malas di kamarnya. Dia sangat suka menulis. Disebutkan di halaman 89 bahwa Esther memiliki 10-15 blog. Eyaampuuunnn… saya aja punya tiga blog keteteran. Kalah telak dibandingkan ama keaktifan Esther di dunia maya.

Setiap sakit, Esther justru berterima kasih pada Tuhan yang telah membuat rasa sakitnya tidak terlalu lama. Bagi Esther, rasa sakit itu sungguh menyebalkan, tapi selalu lenyap tak lama kemudian.

Ada banyak pelajaran hidup saat membaca memoar Esther ini, bahkan sampai akhir hayatnya masih menginspirasi. Dia mendonasikan organ tubuhnya; kornea. Dia gadis hebat, berani dan mementingkan orang lain. Jika gadis remaja berusia enam belas tahun berpikir ke depan dan yakin tentang hal itu, sebaiknya kita juga demikian. Menginspirasi tidak harus menunggu jadi orang besar, dimulai dari hal-hal yang kecil juga bisa!😉

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Umur pendek bisa berarti kehidupan yang baik dan berwarna, bahwa sangat mungkin untuk hidup dalam depresi tanpa dilesapkan olehnya, dan makna dari kehidupan ditemukan bersama, dalam keluarga dan persahabatan yang melampaui dan bertahan dari berbagai macam penderitaan. (hlm. 9)
  2. Fantasi bukanlah pelarian dari dunia kita, tetapi sebagai ajakan agar kita masuk semakin ke dalam dunia kita. (hlm. 185)
  3. Cinta lebih kuat daripada kematian. (hlm. 221)

Keterangan Buku:

Judul                                     : This Star Won’t Go Out

Penulis                                 : Esther Earl bersama Lori dan Wayne Earl

Penerjemah                       : Nur Cholis

Penyunting                         : Jason Abdul

Penyelaras aksara            : Lian Kagura, Putri Rosdiana

Penata aksara                    : Nurhasanah Ridwan

Perancang sampul           : Fahmi Ilmansyah

Penerbit                              : Noura Books

Terbit                                    : April 2015

Tebal                                     : 334 hlm.

ISBN                                      : 978-602-0989-0

WP_20150602_037 WP_20150602_038

Dapatkan buku ini di toko buku online Bukupedia

http://www.bukupedia.com/id/book/id-32-90388/novel-fiksi-cerpen/this-star-won-t-go-out.html

10 thoughts on “REVIEW This Star Won’t Go Out

  1. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  2. Wah mirip sama TFIOS nih ya. Aku salut deh sama orang-orang yg bertahan dan tetep semangat walau tau hidupnya ngga lama lagi… Esthernya strong banget.
    Ini kisahnya sampai meninggal atau engga ya?

  3. Ini bener2 catatan harian dia atau gimana kak? Pasti diedit, ditambahin, dikurangin ya? Jujur aku kurang suka TFIOS, tapi baca review kak Luckty tentang buku ini ngebuat aku tertarik baca, karena ini kam kisah nyata, jadinya aku yakin bakalan sangat menginspirasi.

  4. Wah ternyata ini versi asli The Fault in Our Star ya.

    Jarang banget ditemuin orang yang sakit bersyukur sama Tuhan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s