REVIEW Bitterballen Love

bitterballen

Yang salah akan tetap salah. Meskipun berat menjalaninya, terkadang ujian itu datang agar membuat kita lebih kuat. (hlm. 162)

Adalah ALIYA, remaja yang baru masuk di bangku SMA kelas X. Harusnya dia menikmati masa remajanya dengan bersenang-senang seperti teman-temannya yang lain. Tapi dia harus menjalani kehidupan pahit bersama mama dan adiknya, Rayya. Setiap pagi, dia harus bangun lebih pagi untuk menyiapkan dagangan yang akan dijualnya di kelas saat istirahat sekolah.

“Biar aku cepet dapat cowok, Al. Siapa tahu kalau sering makan bitterballen love, aku akan terlihat semakin cantik di mata Lian dan bikin dia kelilipan setiap lihat aku.” (hlm. 115)

Dulu, kehidupan Aliya tidaklah seperti ini. Aliya dan keluarganya bisa dikatakan hidup serba berkecukupan. Ditambah lagi posisi jabatan papanya juga lumayan menjanjikan untuk menghidupi keluarga mereka. Tapi justru karena papanya pula kehidupan mereka jadi jungkir balik. Mereka harus hidup mengontrak. Mamanya membuka warung kecil-kecilan di depan rumah mereka demi mencukupi kebutuhan sehari-hari. Untuk itu, Aliya mencoba membantu meringankan beban mamanya dengan cara berjualan olahan makanan yang dikuasainya.

“Mama tidak ingin membuatmu semakin emosi serta menyalahkan mereka terus, Al. Mama lebih suka kamu tidak mengetahuinya sama sekali. Buat apa kalau itu akan semakin menyakiti perasaanmu saja? Mama tidak ingin melihatmu terluka. Mama menunggu sampai kamu bisa menerima semuanya.” (hlm. 161)

Sebenarnya ini sudah seperti keinginannya. Menjadi tukang masak. Baginya dapur tempat yang menyenangkan, tempat dia berkesperimen dengan berbagai macam olahan. Bergumul dengan berbagai macam sayuran, daging, bumbu,lalu mencampuradukkannya dalam harmoni yang nikmat. Itu kesenangan. Aliya menikmatinya. Dia tidak akan pernah menyesali setiap waktunya yang terbuang di ruang pengap dan panas yang dinamakan dapur. Di sanalah hidupnya menjadi lebih berwarna.

Melihat hasil karyanya laris dan banyak dipesan, tentu melambungkan harapan gadis itu. Jalan menuju cita-citanya sudah terbuka. Tetapi kalau semua itu berbenturan dengan kepentingan lain, dia bisa apa? Bagaimanapun sekolah prioritas utama Aliya. Dia juga punya mimpi untuk bersekolah tinggi. Tidak ada larangan tukang masak punya titel sarjana, kan?

Apa lagi yang diinginkan cowok itu? Meminta maaf dan mengulangi penjelasannya lagi dan lagi? percuma, Aliya tidak mau mendengarnya. (hlm. 28)

Saat di bangku SMA, Aliya berusaha melupakan semua kenangan buruk yang dialaminya saat duduk di bangku SMP. Karena itu dia memilih menjauhkan diri dari teman-temannya dan menjalani kehidupan SMA dengan suasana dan lingkungan baru, serta teman-teman yang baru juga. Siapa sangka di sekolah ini dia masih bertemu dengan lingkungan masa lalunya. Danur, nama cowok itu. Semakin Aliya berusaha menjauh, semakin dalam Danur masuk ke lingkaran kehidupannya. Padahal Aliya sangat membencinya. Kenapa?

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Tidak ada manusia yang luput dari kesalahan. (hlm. 162)
  2. Hilangkan kebencian dari hatimu. Biarkan semua bebanmu terlepas. Kita tidak akan bisa melihat ke depan kalau selalu terikat pada masa lalu. (hlm. 163)
  3. Terkadang salah dan benar tipis perbedaannya, apalagi jikadilihat dari sudut pandang berbeda. (hlm. 164)
  4. Wajarlah bila dalam kesulitan ada kesedihan. (hlm. 173)
  5. Menangis dan menyesal juga wajar, asalkan tidak menutup diri. Masa depan terbentang panjang dan banyak jalan untuk mencapainya. Keberanian dan kesediaan melepaskan diri dari ketakutan memungkinkan kita menemukan jalan menuju masa depan yang benderang. (hlm. 173)

Lumayan banyak juga selipan sindiran halusnya dalam buku ini:

  1. Nggak usah sirik gitu deh. Kalau kamu mau jualan juga, tinggal gelar lapak dan nggak perlu ngurusin lapak orang. (hlm. 9)
  2. Simpati dikit kek, sama teman sendiri. (hlm. 35)
  3. Jangan sembarangan ya kalau ngomong. (hlm. 36)
  4. Kalau dia ngaku teman, nggak mungkin mau menjerumuskan temannya sendiri. (hlm. 36)
  5. Makanya kalau jalan lihat-lihat dong, jangan asal nabrak seenaknya. (hlm. 53)
  6. Jangan sok imut gitu deh. (hlm. 81)
  7. Rezeki jangan ditolak. (hlm. 112)
  8. Dasar dodol. Nggak konsisten sama omongan sendiri. (hlm. 135)

Membaca kisah Aliya ini seperti merepresentasikan kehidupan remaja zaman sekarang dengan segala permasalahannya. Kalau zaman saya dulu, tugas siswa hanyalah belajar, belajar dan belajar. Kehidupan remaja zaman sekarang amat kompleks. Rentan konflik. Tidak hanya berasal dari lingkungan pergaulan, tapi juga lingkungan keluarga.

Lingkungan keluarga sangatlah mempengaruhi karakter seseorang, terutama kepribadian remaja yang sedang labil-labilnya. Perilaku orangtua terkadang tanpa disadari mempengaruhi kehidupan anak-anaknya. Contohnya seperti Aliya ini.

Suka ama karakter-karakter di sini. Tidak hanya Aliya saja. Vanya, si tokoh antagonis, karakternya juga kuat. Dari zaman sekolah, sampai bekerja di sekolah, pasti nemu banget tipikal kepribadian macam Vanya ini. Dan biasanya tipikal kayak Vanya ini suatu hari pasti akan kena batunya sendiri kok X))

Oya, suka juga ama sahabat-sahabat Aliya yang selalu ada untuknya di saat suka maupun duka. Zia yang berani menyebut Vanya dengan panggilan Kuntilanak dan Chika yang setiap jajan membeli jualan Aliya selalu memberi uang lebih. Dua sahabat cukup buat Aliya, ketimbang memiliki banyak tapi kemudian meninggalkannya saat dia tertimpa bencana. Aliya masih trauma akan perlakuan teman-temannya saat di SMP yang satu per satu meninggalkannya. #PukPukAliya

Satu lagi poin plus dari buku ini adalah adanya selipan resep-resep yang dipraktekkan oleh Aliya dalam kehidupannya. Nyummm…bisa dicoba!😉

Keterangan Buku:

Judul                                     : Bitterballen Love

Penulis                                 : Alana Izarra

Penerbit                              : PT. Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : 2015

Tebal                                     : 184 hlm.

ISBN                                      : 979-602-03-1578-2

 

9 thoughts on “REVIEW Bitterballen Love

  1. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  2. Sebenernya cerita aliya ini banyak di kehidupan nyata. Dulu aku pun pernah berjualan buku saat smp, dan bantuin mamah dagang kue sebelum sekolah. Aku jadi tau gimana susahnya cari uang, aku jadi makin menghormati kedua orang tuaku.

    Apa papanya aliya menikah lagi ya???

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s