REVIEW Rahasia Lantai Keempat

WP_20150621_002

“Di perpustakaan, di antara rak-rak buku di bagian terdalam, lorong kedua dari ujung. Kalian akan menemukanku. Aku ingin kalian membawa sesuatu milikku pulang. Kuburkan aku di sana.” (hlm. 111)

Setiap sekolah pasti punya cerita-cerita msterinya sendiri. Rumor yang beredar dari generasi ke generasi; disebarkan secara verbal dari senior ke junior. Gosip yang beredar dari hasil dengar-dengar.

Begitu pun sekolah ini. Bangunan SMA yang sudah berusia puluhan tahun dengan arsitektur ala kolonial ini, tidak bisa menyembunyikan kesan tuanya meski sudah beberapa kali direnovasi. Seperti banyak sekolah lain, bangunan berbentuk U ini memiliki tiga lantai.

Bangunan ini terdiri dar gedung utama yang berdiri di tengah, dengan dua bangunan sayap di kiri dan kanannya. Pilar-pilar tinggi bercat abu-abu terdiri dengan kokoh menyangga atap. Deretan jendela kayu berjalusi dengan daun kembar yang tertutup menghiasi lantai dua dan tiga gedung utama.

Ditambah kedua bangunan saya, keseluruhan gedung sekolah ini berbentuk huruf U, mengitari taman dalam dan lapangan olahraga. Gedung utama dan masing-masing bangunan sayapnya memiliki satu tangga utama, yang biasa disebut tangga tengah, tangga timur dan tangga barat.

Dilihat bagaimanapun, sepertinya tidak mungkin bangunan tiga lantai ini menyembunyikan lantai keempat. Jadi, dari mana asal legenda lantai empat itu? Apa lantai empat yang dimaksud ada di ‘dunia lain’? beda dimensi, begitu?

Mulai dari tangga tengah. Naik ke lantai dua, lalu melangkah ke tangga timur dan naik ke lantai tiga. Dari sana, berjalanlah menuju bagian barat gedung dan turun ke lantai dua, susuri lorong hingga kembali ke tangga tengah, kemudian turun ke lantai dasar. Dari situ, berjalanlah ke gedung timur dan naik ke lantai dua. Lalu, lanjutkan hingga ke bagian barat gedung dan turun lagi ke lantai dasar. Kembalilah ke tangga tengah dan naik terus sampai ke atas. Jika berhasil, akan sampai ke lantai empat. (hlm. 20)

Maria itu hantu penunggu sekolah yang paling banyak diceritakan. Katanya, sering kelihatan di perpustakaan. Tapi, pernah juga muncul di tempat-tempat lain. Gosipnya, dulu dia anak rajin belajar yang jadi korban bully, terus bunuh diri. Ada juga yang bilang dia suatu hari bilang begitu saja.

Maria mungkin naik ke lantai keempat karena tertekan. Mungkin karena terus di-bully sehingga sampai pada pikiran bahwa, mitos tentang lantai keempat itu benar. Bahwa ada penunggu tertua yang bisa mengabulkan apa pun keinginannya. Bahwa dia bisa mengakhiri penderitaannya dengan menemui penunggu itu, tanpa tahu apa yang akan dia hadapi.

“Kalian bisa lari, tapi tidak akan bisa sembunyi. Dia akan menemukan kalian. Karena pikiran dan emosi negatif kalian akan selalu menarik dia.” (hlm. 90)

Suatu hari saat istirahat jam pertama, di perpustakaan, Nikki dan Fara tak sengaja menemukan buku tua. Ketika dibuka, di halaman kosong yang ada di bagian belakang buku –satu lembar sebelum halaman terakhir, terdapat tulisan tangan yang terlihat kuno. Ditulis dengan huruf sambung yang rapi dan kecil-kecil, seperti catatan pribadi yang tidak untuk dibaca orang lain. Mereka penasaran, dengan mengajak Randy dan juga Neil, mereka akan mencari di mana itu lantai keempat yang konon ada di sekolah mereka. Ternyata, sekali penasaran akan menimbulkan rasa penasaran berikutnya. Resikonya pun tidak mudah. Berhasilkan mereka melewatinya?

“Lo selalu begitu. Egois. Apa lo nggak mikirin perasaan gue? Gue juga takut, gue bingung, gue pengen pulang, Ki. Gue capek. Tapi lo nggak mikirin itu, kan? Lo cuma mikirin diri lo sendiri. Apanya yang sekarang gimana? Lo mikir nggak, dengan terus-terusan nanya gitu, lo cuma bikin kita semua makin stres?” (hlm. 85)

Satu hal yang menarik dari buku ini adalah mengambil setting sekolah, khususnya perpustakaan. Kyaaa…sinyal langsung kuat donk kalo ada aroma perpustakaan meski ini berkategori buku horor, coba aja cek di halaman 55, 62, 67, 73, 88, 95, 109, dan 131, hiyyyy… >.<

Pesan moral dari buku ini adalah jangan bertindak gegabah dengan hal yang tidak kita kuasai. Dan hendaknya berhati-hati jika menemukan barang yang bukan milik kita, siapa tahu barang tersebut berarti bagi orang lain dan kita yang menemukannya akan celaka.

Pas baca langsung ngebayangin suasana sekolah trus tokoh-tokohnya kayak murid-murid unyu, hehehe… yang disayangkan hanya satu; bukunya tipis banget jadi cepat banget bacanya, tau-tau udah tamat x))

Keterangan Buku:

Judul                                                     : Rahasia Lantai Keempat

Penulis                                                 : Rettania

Editor                                                    : Ry Azzura & Syafial Rustama

Penyelaras aksara                            : Funy DRW

Penata letak                                       : Irene Yunita & Erina Puspitasari

Desain & ilustrasi sampul              : Dedy Koerniawan & Ayu Widjaja

Penerbit                                              : Bukune

Terbit                                                    : April 2015

Tebal                                                     : 154 hlm.

ISBN                                                      : 602-220-153-5

 

Oya, pas baca itu tentang buku di perpustakaan jadi keinget film pendek yang dibuat murid-murid unyu dengan setting perpustakaan tentang ‘Terlempar Ke Masa Lalu’ dengan media buku:

Dapatkan buku ini di toko buku online Bukupedia

http://www.bukupedia.com/id/book/id-32-90435/novel-fiksi-cerpen/rahasia-lantai-keempat.html

7 thoughts on “REVIEW Rahasia Lantai Keempat

  1. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  2. Horor lagi, ka Luckty kuat ih bacanya😀

    Di sekolahku juga ada, aku pernah ketemu, dia menyerupai temenku.

    Ka Luckty kan di perpustakaan, awas lho ada yang ngintip.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s