REVIEW The Boarding

WP_20150802_032

“Kecemburuan kamu pada cowok yang kamu taksir saja bisa membuat kamu marah. Apalagi kalau Allah yang cemburu. Tidak layak kita membuat Alah cemburu. Kita semua ini ciptaan Allah. Kita ini tidak ada apa-apanya. Kita tidak salat pun Allah tidak akan rugi. Yang rugi itu kita sendiri. Rugi karena jauh dari kasih sayang-Nya. Rugi karena jauh dari limpahan rahmat-Nya.” (hlm. 81)

TASYA. Sehari-hari hidupnya hanya dihabiskan untuk bersenang-senang dengan sahabat-sahabatnya. Papa dan mama geram melihatnya. Dengan berat hati mengirimnya ke sekolah asrama di pinggiran Bogor. Bagi Tasya yang hidup serba kecukupan di kota dengan berbagai fasilitas yang ada, hal ini sangatlah beban baginya. Tapi demi kebaikannya, akhirnya terpaksa mengikuti kemauan papa dan mamanya ini.

“Kalau Mama dan Papa menyekolahkan kamu jauh-jauh dari rumah, bukan berarti kami tidak sayang sama kamu..” (hlm. 3)

SMA Nurul Iman Boarding School (NIBS) ternyata tak seperti yang ada dalam benak Tasya. Dalam bayangan Tasya, sekolah itu pastilah sebuah pesantren yang kampungan, kumuh, tidak trendi dan semacamnya. Tapi, bayangan itu rontok ketika Tasya datang ke calon sekolah barunya itu untuk mengikuti tes.

SMA NIBS ternyata bukan pesantren. Ini adalah sebuah sekolah umum yang mengambil konsep pesantren. Pagi hingga siang hari belajar seperti layaknya sekolah biasa. Sore hari digunakan untuk kegiatan eskul. Selepas Magrib barulah digunakan untuk kajian keislaman.

Murid-murid di sekolah ini tidak banyak. Hanya 30 orang per kelas dan hanya ada tiga kelas di setiap angkatan. Jadi, hanya ada 270 murid di sekolah ini.

Kompleks NIBS sangat luas. Menempati lahan sekitar tujuh hektar, SMA NIBS memiliki semua yang diimpikan oleh sebuah sekolah. Bangunan megah dengan laboratorium lengkap. Perpustakaan luas dengan wifi kencang.

Ada juga asrama untuk para siswa. Selain itu, masih ada masjid besar, klinik plus rawat inap, ruang olahraga, ruang musik, aula, dan perumahan guru. Belum lagi fasilitas outdoor-nya. Lapangan-lapangan olahraga, halaman yang luas, hingga taman yang teduh.

Dan ke sekolah itulah Tasya dikirim orangtuanya.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Hadapi saja semuanya dengan gagah berani. (hlm. 162)
  2. Yang terpenting adalah adanya kesempatan dan kepercayaan dari kita semua. (hlm. 165)
  3. Nggak ada sukses tanpa pengorbanan. (hlm. 203)
  4. Bukankah orang yang paling beruntung itu adalah orang yang menjadikan hari sekarangnya lebih baik daripada hari kemarin? (hlm. 220)
  5. Jangan pendam masalah kamu sendiri. (hlm. 220)

Banyak juga selipan sindiran halusnya dalam buku ini:

  1. Mau jadi apa kamu? Clubbing, nongkrong-nongkrong nggak ada juntrungannya, hura-hura, ngejar selebriti.. apa tidak ada hal lain yang lebih berguna? (hlm. 3)
  2. Justru karena kamu sudah besar makanya harus belajar mandiri. (hlm. 5)
  3. Lo sih makan banyak juga nggak gemuk-gemuk. Nah, gue? Bisa melar badan gue. Nggak seksi lagi deh entar. (hlm. 7)
  4. Memangnya di dunia ini udah nggak ada masalah lain apa? Kepala lo tuh isinya otak atau ongol-ongol sih? (hlm. 8)
  5. Kalau mau lucu, panggil aja badut! (hlm. 26)
  6. Kalau bangun pagi jam enam, mau salat subuh jam berapa? (hlm. 26)
  7. Kelakuan lo tuh… nggak bisa ya, lebih manis lagi dikit? (hlm. 28)
  8. Tidak ada gunanya punya pacar. Cuma buang-buang waktu saja. (hlm. 33)
  9. Anak seperti kamu yang dari kecil tinggal di Eropa masa nggak punya pacar sih? (hlm. 33)
  10. Lagi pula pacaran itu, kan, nggak boleh dalam Islam. itu untuk menjaga kita, orang Islam, supaya tidak melakukan perbuatan zina. Apalagi yang perempuan seperti kita. (hlm. 34)
  11. Pohon di Jakarta mah udah jadi pohon beton ya? (hlm. 36)
  12. Mana mungkin sih ada orang yang tiba-tiba jadi bodoh! (hlm. 39)
  13. Gaul itu memang perlu. Siapa sih yang bisa hidup tanpa bergaul? Asal jangan kebablasan jadi pergaulan bebas aja. (hlm. 44)
  14. Gosip atau ghibah itu sama saja nggak baiknya. (hlm. 46)
  15. Makanya kalau mau survive hidup di kota besar, lo jangan terlalu banyak main perasaan, apalagi perasaan yang nggak penting. (hlm. 51)
  16. Ketika salat, seluruh jiwa raga kita seharusnya tercurah pada Allah, bukan lagi pada kesenangan duniawi. (hlm. 80)
  17. Kalau kamunya baik, masak sih anak-anak yang lain nggak suka sama kamu? (hlm. 87)
  18. Orang yang baik nggak akan meninggalkan temannya yang sedang kesusahan. (hlm. 219)

Tokoh yang diciptakan penulisnya kali ini dibuat tidak sempurna; judes, jutek, mau menang sendiri, pemarah dan segala negatif melekat pada diri Tasya. Justru di sinilah letak menariknya. Bagaimana penulis menggiring kita untuk menyukai tokoh utama dengan karakter antagonis. Teman sekamar Tasya; Astri yang selalu heboh, Dini yang lugu dan pendiam, serta Sarah yang berdarah bule merupakan representasi karakter remaja pada umumnya juga melengkapi keseruang kisah di balik sekolah NIBS ini.

Tokoh paling favorit tentunya Bu Nike, si pustakawan. Ada kalimat yang paling disuka, mengutip perkataan Bu Nike di halaman 45; “Pustakawan yang produk baru mah keren-keren. Muda, cantik, genteng, trendi, pinter…” #TossDuluAmaBuNike

Pesan moral dari buku ini adalah setiap orang pasti bisa berubah ke arah yang lebih baik, tentunya tidak instan, tapi perlu proses ^^

Keterangan Buku:

Judul                                     : The Boarding

Penulis                                 : Triani Retno A.

Penerbit                              : PT Elex Media Komputindo

Terbit                                    : 2015

Tebal                                     : 230 hlm.

ISBN                                      : 978-602-02-6890-3

PicsArt_02_08_2015 15_10_56

12 thoughts on “REVIEW The Boarding

  1. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  2. “Kecemburuan kamu pada cowok yang kamu taksir saja bisa membuat kamu marah. Apalagi kalau Allah yang cemburu. Tidak layak kita membuat Alah cemburu. Kita semua ini ciptaan Allah. Kita ini tidak ada apa-apanya. Kita tidak salat pun Allah tidak akan rugi. Yang rugi itu kita sendiri. Rugi karena jauh dari kasih sayang-Nya. Rugi karena jauh dari limpahan rahmat-Nya.” (hlm. 81)

    Subhanallah kutipannya…

    Pasti Tasyanya greget banget nih di awal-awal haha😀

  3. Dari awal liat covernya udah ngira pasti ada islami2nya, dan pas baca kutipan di awal review… kereenn dan pastinya emang bener banget. Jadi pengen bukunya ih

  4. Aku kira ini buku traveller atau berbau perjalanan gitu, ternyata sekolah. Ko jadi inget pesantren dan rock n roll ya, sama-sama dikirim ke sekolah, pisah sama orang tua dan tinggal di asrama.

    Tapi banyak yang bisa dipetik nih ka. Ternyata ka Luckty masuk ke buku ya, dapet peran jadi bu Nike🙂🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s