REVIEW Claudia vs Nadia

WP_20150807_005

MANOHARA CLAUDIA. Merupakan siswi kelas 5 A Golden Girls Elementary School. Dia menjabat sebagai Miss Sastra tahun ajaran sekarang. Claudia menggemari Sastra, tapi membenci Matematika dan Sains. Memiliki wajah oval dengan dagu runcing serta hidung mancung, kulit putih dan berambut cokelat panjang sepunggung dengan ikal-ikal di bagian bawahnya. Menyukai olahraga voli dan membenci olahraga renang.

NADIA CLARABELLA SETIANI. Anak paling sombong di kelas. Ketua geng Perfect Girls. Nadia juga menggemari Sastra dan selalu mencoba merebut gelar Miss Sastra yang Claudia pegang saat ini. Senang jadi pusat perhatian, agak lebay, dan sangat modis. Ibunya seorang model yang mencoba menjadi penulis juga. Ayahnya seorang pegawai bank. Sebenarnya Nadia cantik, tapi karena sering marah-marah, wajah cantiknya jadi tersembunyi.

Claudia dan Nadia tidak pernah akur. Mereka selalu berlomba untuk terlihat menonjol dalam segala hal, terutama dalam bidang Sastra. Claudia dibuat bete seharian hanya gara-gara tugas cerpennya hanya mendapat nilai 8. Nilai segitu sebenarnya sudah bagus, namun dia tidak puas karena Nadia mampu mengalahkannya dengan nilai 9. Untunglah Claudia memiliki sahabat-sahabat yang baik dan pengertian, untuk menghilangkan bad mood Claudia, sepulang sekolah mereka ke kafe milik Omnya Febby, Cooling Fresh Yoghurt atau CFY Cafe yang terletak di Cherry Plaza. Febby ini merupakan sahabat yang paling bisa mengubah suasana. Selain itu, sahabat Claudia lainya adalah Trisha dan Melody.

Selain memiliki sahabat-sahabat yang menyenangkan, Claudia juga punya kakak yang pengertian, Kak Jio namanya. Suka sekali dengan kehangatan dua kakak beradik ini. Saat mereka berdua pesta piza topping jamur di kamar Kak Jio kala mereka lapar dan Bik Dyah sedang pulang kampung. Ada juga adegan dimana Claudia dan Kak Jio menonton DVD seri Scooby Doo berjudul Camp Scare dengan masing-masing menikmati secangkir susu cokelat panas.

“Untuk lomba ini, setiap sekolah di Jakarta mengirimkan dua wakilnya. Tema cerpennya bebas, konfliknya seru, dan kisahnya tidak membosankan para pembaca. Besok hari terakhir pengumpulan. Ibu akan bacakan nama peserta yang telah mengirimkan hasil karyanya.” (hlm. 48)

Persaingan kian meruncing saat adanya pengumuman lomba membuat cerpen se-Jakarta. Pemenang pertama mendapat hadiah total 10 juta plus piala. Sungguh menggiurkan bukan? Claudia tidak mau ketinggalan untuk mengikuti lomba ini, tapi ternyata Nadia telah lebih dahulu mengumpulkan formulir pendaftaran ke Bu Lia, guru mereka. Siapakah yang berhasil lolos dua besar untuk mewakili sekolah dalam lomba ini?!?

Di halaman 51 saat adegan Nadia yang mengomel dan tidak terima jika sepatu dan tasnya sama dengan Claudia, mengingatkan saya zaman SMA pas kelas 1, ada seorang teman yang berantem dengan kakak kelas yang tidak terima jika sepatunya disamakan. Dulu saya mikirnya gini, dih kalo nggak mau barangnya sama, buat aja pabrik sendiri… x))

Persaingan dua insan manusia memang kerap terjadi di dunia nyata. Bahkan urusan nilai pelajaran pun juga bisa membuat seseorang mengambil jalan pintas dan menghalalkan segala cara. Pesan moral dari buku ini adalah melakukan sesuatu yang tidak terpuji pasti akan ada imbasnya.

Ada satu hal yang agak menganjal adalah di halaman 51 disebutkan jika setiap murid diwajibkan memakai sepatu hitam, tapi kaus kakinya harus putih. Sedangkan di ilustrasi halaman 55 dan 79, kaos kaki mereka dideskripsikan hitam. Jadi kurang sinkron antara isi cerita dan ilustrasi, padahal ilustrasinya udah unyu banget loh… :))

PicsArt_07_08_2015 13_20_10

Keterangan Buku:

Judul: Claudia vs Nadia

Penulis: Sarah Ann

Penyunting: Aan Wulandari

Penyelaras aksara: Lani Rachman

Penata aksara: Nurhasanah Ridwan

Perancang sampul: cddc

Ilustrasi dan sampul: Ozora Rahyu

Penerbit: Noura Books

Terbit: Juli 2015

 

7 thoughts on “REVIEW Claudia vs Nadia

  1. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  2. Aku juga sering baca buku yg ilustrasinya ga sinkron. Tapi imajinasi semua di kepalaku yang lebih aku kuatin. Huehe

  3. Ceritanya untuk anak-anak dan ada pesannya. Tapi cerita ini seperti kenyataannya sekarang. Misal, anak SD saja sudah punya geng segala, meski anak yang lebih dewasa juga sama.

    Tapi, semoga buku ini setidaknya bisa membantu menangani hal seperti ini.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s