REVIEW A Week Long Journey

WP_20150514_004

Mimpi itu tentang perjuangan, cerita dan cinta. Manusia memiliki mimpi yang beragam. Hanya orang yang tegar yang akan mendapatkan mimpi, idealisme, dan keteguhannya. Ada yang bilang idealisme sering terbentur dengan realitas. Idealisme tidak mungkin terwujud kalau realitas tidak mendukung. Karena itulah dunia memerlukan orang-orang yang bisa menyatukan idealisme dan realita. Ketika dua hal yang tampaknya berbeda itu menyatu, kita bisa menyebutnya mimpi yang menjadi kenyataan. (hlm.249)

Adalah Lina Budiawan yang baru saja lulus SMA. Sama seperti kebanyakan remaja lainnya yang baru saja melepas masa putih abu-abu, Lina diliputi kegalauan luar biasa dalam menentukan jurusan yang akan dipilihnya kelak. Seharusnya dia tidak perlu cemas karena diterima melalui SNMPTN alias jalur undangan, dengan kata lain gadis itu termasuk murid pintar di sekolahnya, harusnya ia bangga dengan prestasinya.

Lina juga tak perlu capek-capek menyiapkan ujian SBMPTN dan bisa libur lebih awal daripada siswa lainnya yang tidak lolos SNMPTN. Padahal ribuan siswa lainnya setiap hari berdoa supaya lolos SNMPTN seperti dirinya. Tapi kenyatannya hal itu tidak membuatnya gembira.

“Ling-Ling nggak milih jurusan itu, Ma! Itu jurusan Papa dan Mama ambil. Itu mimpi Papa dan Mama! Bukan mimpi Ling-Ling! Ling-Ling nggak mau daftar ulang. Ling-ling mau ikut SBMPTN. Ling-ling mau kuliah yang menjadi pilihan hati Ling-ling!” (hlm. 19)

Ling-Ling yang bercita-cita ingin menjadi penulis, merasa hatinya tidak cocok dengan jurusan Peternakan yang harus diambilnya ini. Terlebih lagi dia sudah diterima di jurusan itu, jurusan yang diharapkan kedua orangtuanya, agar dia kelak bisa meneruskan usaha mereka.

Ketika diliputi rasa galau ini, Lina berkesempatan liburan ke Hongkong selama seminggu. Dia menggantikan jatah papanya liburan, jadi ketika liburan ini, Lina akan banyak bertemu dengan relasi papa dalam hal peternakan. Akankah Lina menikmati liburannya?!?

Banyak kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Inspirasi kan bisa datang dari mana saja. (hlm. 30)
  2. Tuhan memang adil. (hlm. 72)
  3. Dengan melihat sesuatu dari sudut pandang yang lain pun, kamu bisa terlatih untuk peka. Karena banyak yang kita lewatkan kalau kita cuma memandang sesuatu dari sudut saja. (hlm. 93)
  4. Pengalaman memang guru yang berharga. (hlm. 111)
  5. Sejahtera punya definisi yang berbeda untuk setiap orang. (hlm. 130)
  6. Namanya juga usaha. Pasti ada pasang surutnya. (hlm. 147)
  7. Pasang-surut usaha memang udah biasa. Apalagi cobaan, pasti dateng silih berganti. (hlm. 148)
  8. Rejeki nggak akan tertukar. (hlm. 148)
  9. Nggak ada salahnya kamu berbagi sama seseorang, siapa tahu dia bisa bantu kamu membuat khawatir orang-orang terdekatmu. (hlm. 155)
  10. Semua orang pasti nggak selalu bisa mendapatkan apa yang mereka mau. (hlm. 167)
  11. Bercita-citalah setinggi langit, seidealisme mungkin, terus buat jadi realitas.wujudkan mimpimu! Nggak ada orang besar yang mikir realistis, semua berpegah teguh sama idealisme mereka. Pada prosesnya memang nggak gampang, nggak instan, tapi Tuhan nggak mungkin tinggal diam lihat hamba-Nya berusaa. Hasil yang hebat itu memang butuh waktu. (hlm. 167)
  12. Kalau mau jadi orang hebat itu memang susah, nggak semudah membalikkan tangan, tapi ya nggak sesulit memindahkan gunung. (hlm. 169)
  13. Tiap orang memang berhak memilih hidupnya. (hlm. 204)
  14. Di dunia ini nggak ada yang nggak mungkin. (hlm. 205)
  15. Kejar keinginanmu sampai dapat! Bercita-citalah setinggi-tingginya! (hlm. 236)
  16. Follow your dream, they will find their way. (hlm. 255)

Banyak juga selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Buat apa selamanya hidup dalam kebohongan? Menjalani hidup tidak dari hati itu pasti teramat menyiksa. (hlm. 20)
  2. Untuk apa menjadi orang lain? Bagaimana bisa bahagia kalau hidup tidak menjadi diri sendiri? (hlm. 20)
  3. Lupakan pikiran-pikiran yang berat. (hlm. 25)
  4. Sekolah yang tinggi dulu baru kamu mikirin jodoh. (hlm. 28)
  5. Nggak mungkin ada orang yang disenangi semua orang. Pasti ada aja yang nggak suka. Yang penting kita jangan mau dicap jelek kalau memang kita benar. Buktikan sama mereka kalau kita nggak kayak yang mereka pikir. Kalau tetap salah terus, itu artinya mereka yang sirik sama kita. Biarin aja. Yang penting kita selalu ingin menjadi lebih baik. Jangan hiraukan mereka. Mereka belum benar-benar mengenalmu. (hlm. 67)
  6. Bilang-bilang dong kalau mau ambil foto. (hlm. 90)
  7. Nggak ada cewek yang suka dibohongi. (hlm. 122)
  8. Kadang mau jadi idealis tapi kepentok sama realitas, ya. (hlm. 167)
  9. Masak mau gila gara-gara nggak tercapai mimpinya? Masak kamu selemah itu? (hlm. 168)
  10. Demi orang-orang yang sudah berjuang demi kamu, kamu nggak bisa nyera gitu aja. Nggak bisa kamu tiba-tiba berhenti jadi pecundang. (hlm. 168)
  11. Kenapa semua laki-laki di dunia ini nggak ada yang bisa lepas dari kebohongan? (hlm. 230)
  12. Meratapi nasib hanyalah membuang-buang waktu. (hlm. 233)

Membaca kisah Lina dalam buku ini seperti membaca kehidupan sendiri. Dulu jaman sekolah, orangtua punya usaha peternakan, dan pernah berjaya di masanya, bahkan pernah masuk TV lokal loh. Sebelum adanya wabah flu burung, usaha ini perlahan berhenti dan mulai beralih ke usaha perikanan, khususnya gurame dan lele. Bedanya, jika Lina harus kuliah di jurusan yang orangtuanya inginkan untuk meneruskan usaha orangtuanya itu, orangtua saya tidak pernah memaksakan kehendaknya untuk mengikuti atau meneruskan usaha mereka. Bahkan saya dan adik-adik malah kuliah jurusan anti-mainstream kebanyakan orang; saya kuliah jurusan Ilmu Perpustakaan, dan salah satu adik ada yang kuliah di Jurusan Penjasorkes, karena hobinya memang olahraga x))

Saya juga sering banget menemukan siswa yang baru lulus dipaksa kuliah yang bukan minat atau bidang yang diinginkan. Ada yang diterima jurusan Kehutanan karena dia suka banget ama alam, malah disuruh bapaknya kuliah Kesehatan Masyarakat. Ada yang pengen banget masuk Sastra Jepang, nggak boleh ama orangtua karena jurusan sastra dianggap masa depannya suram dan dipaksa masuk jurusan Kedokteran Gigi. Ada yang udah keterima jalur SNMPTN maupun SBMPTN sekaligus, karena jurusannya semua yang dipilih pendidikan, sama orangtuanya nggak boleh diambil, suruh daftar kuliah Keperawatan. Pukpuk… :’)

Orangtua memang kerap menganggap lebih tahu masa depan anaknya tanpa memikirkan minat sang anak. Ada anak yang menerimanya dengan ikhlas karena takut kualat ama orangtua, ada juga yang ujungnya malah malas-malasan menjalani jurusan pilihan orangtuanya. Kalau yang tipikal begini, udah minatnya gak berkembang, nyenengin orangtua pun gagal.

Memang banyak pertimbangan mengapa orangtua terkadang tak sejalan dengan keinginan sang anak. Lewat buku ini kita bisa melihat lewat perjalanan yang akan ditempuh Lina selama di Hong Kong akan menguak kehidupan keluarga Lina.

Selain tentang passion, buku ini juga banyak menyelipkan budaya Tionghoa di Indonesia. Banyak selipan sejarah yang akan memperkaya pengetahuan kita terutama tentang sejarah Indonesia di era orde baru.

Keterangan Buku:

Judul                                     : A Week Long Journey

Penulis                                 : Altami N. D.

Proofreader                       : Lana

Desain sampul                   : Eduard Iwan Mangopang

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : 2015

Tebal                                     : 256 hlm.

ISBN                                      : 978-602-03-1299-6

7 thoughts on “REVIEW A Week Long Journey

  1. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  2. Ini kenapa kaya aku sih udah dapet SNM malah pengen SBM. Untung gajadi sih.

    Kalau menurut aku nanti Lina jadi ikhlas di peternakan ya(?) Karena dapet banyak pelajaran dari liburannya.
    Atau malah makin ngotot jadi penulis?

    Lina kalo kamu udah keterima disitu ya takdir kamu disitu berarti. Bersyukur saja😄

  3. Kisah Lina ini sama dengan aku. Satu tahun kedepan aku akan lulus SMK (amin) dan pengen kuliah, agak bingung juga mau ngambil jurusan apa, sementara orang tua menyuruh untuk ngambil jurusan yg sama sekali nggak buat aku tertarik. Mungkin karena kesamaan ini aku harus baca kisah Lina di buku ini.

  4. Pasti banyak yang bisa diambil selama perjalanan Lina di Hongkong.

    Kalo kebanyakan anak seperti itu, aku alhamdulillah, tidak pernah dipaksa untuk mengambil sebuah jurusan saat tes kuliah.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s