REVIEW Dua Cinta Negeri Sakura

 dua cinta

Membunuh perasaan suka itu teramat sangat pedih. (hlm. 131)

ALIYAH. Banyak perubahan dengan keadaan keluarganya meski nggak sesempurna yang ia inginkan. Setidaknya Takuma, suaminya ini mau meluangkan waktu untuk keluarga ketimbang pekerjaannya. Dia pun memutuskan untuk berhenti kerja dan memutuskan untuk fokus pada rumah dan anaknya. Bagaimanapun, setelah sekian tahun bekerja menghidupi diri sendiri juga keluarganya yang sederhana di kampung, menjadi ibu rumah tangga yang menadahkan tangan kepada suami terdengar mengerikan. Aliyah selalu ingin memiliki kemampuan finansial, sekecil apa pun penghasilannya. Kendati dia juga cukup cerdas menyadari, besar gajinya tak sebanding dengan dengan jatah bulanan yang diterima dari Takuma siapkah dia bergantung kepada sang suami? Tidak memiliki eksistensi lain sebagai istri dan ibu? Siap dipanggil sebagai Mama Chika atau Nyonya Takuma Oaku saja dan meniadakan namanya sendiri; Aliyah Astini?

AJENG. Pria datang dan pergi dengan mudah dalam kehidupan Ajeng. Kapasitas memorinya terlalu berharga untuk menyimpan data mereka. Kalau dapat yang rasanya galau, ya dibuang. Cari baru lagi. Ibunya tahu, dia nyaris tak punya hak mendesak Ajeng. Pendirian anaknya yang begitu kuat tentang anti pernikahan dan anak, bukan tanpa alasan. Dan dia sendiri adalah salah satu penyumbang alasan terbesar. Ajeng yang genit, cuek, judes, jangkung berkaki panjang dengan wajah eksotis memesona. Benar-benar gambaran perempuan lajang yang mapan dan nyaris sempurna.

MIYU. Dibandingkan dengan Aliyah dan Ajeng, yang keduanya merupakan perempuan Indonesia, perempuan Jepang ini hidupnya malah lebih santai dibandingkan dengan yang lain. Bagai air yang mengikuti arus. Tema-teman Jepang-nya barangkali akan mengomentarinya sebagai manusia heiwa-boke, manusia yang menjadi bebal dan malas lantaran terlalu damai dan nyaman. Tapi apa pedulinya? Kehidupan seperti itulah yang tepat bagi kehidupan Miyu. Masalah yang dihadapinya cuma satu, urusan hati; bagaimana jika dia mendadak kehilangan kontrol, memesona pria itu, dan berterus terang betapa dia tertarik kepadanya? Bagaiaman jika dia mendadak lupa jika Scott, nama laki-laki itu sudah beristri, kemudian menyanggupi bermain api? Dan bagaimana jika akhirnya Miyu tidak bisa lepas dari masalah cinta segitiga murahan ini?

Buku ini memang terdiri dari tiga tokoh utama. Meski begitu, porsi Miyu justru lebih banyak. Yup, buku ini fokus pada permasalahan yang dihadapi Miyu sebagai orang ketiga. Lewat tokoh Miyu, kita bisa merasakan bagaimana perasaan menjadi orang ketiga dalam suatu hubungan. Dari ketiganya, pilihan favoritnya adalah tokoh Ajeng. Suka bilang suka, begitu juga sebaliknya. Ceplas-ceplos, kadang menyakitkan sih, tapi justru dia bicara dan berkelakuan apa adanya baik di depan maupun di belakang seseorang.

Beberapa kalimat favorit dalam buku ini:

  1. Tiap keluarga memiliki hak mengatur gaya hidup masing-masing. Parenting itu bukanlah lifestyle? Jadi ya tergantung kita ingin memilih gaya seperti apa. (hlm. 15)
  2. Kalau memang sulit mengubahnya semuanya sekaligus, kita mulai dari yang kecil-kecil dulu. Pelan-pelan. Dan jangan pernah meremehkan hal-hal kecil itu. Karena siapa tahu, justru tindakan-tindakan kecil yang baik itulah yang akan membawa kita ke surga. (hlm. 76)
  3. Maka nikmat Tuhanmu yang manakah yang kamu dustakan? (hlm. 161)
  4. Cinta itu hanya ada dua. Satu: cinta yang harus diperangi karena melahirkan perasaan bersalah. Dua: cinta yang hakiki, yang tulus, yang murni, yang membuat kita nyaman bersamanya. (hlm. 174)

Banyak selipan sindiran halus dalam buku ini:

  1. Pamali menolak rezeki. (hlm. 3)
  2. Sayang kan kalau harus mengorbankan pekerjaan yang disukai hanya demi menghindari seorang pria? (hlm. 17)
  3. Di belakang laki-laki hebat pasti ada perempuan hebat. Tapi di sebelahnya? Ada perempuan lain yang gaya, cantik, seksi. (hlm. 21)
  4. Orang bilang jatuh, cuma ada dua kemungkinan. Menjadi peka, atau menjadi sangat bebal kuadrat. (hlm. 38)
  5. Meski memang hak mereka, melihat sendiri pria yang disukainya tengah mengecup perempuan lain, ternyata lumayan menyakitkan. (hlm. 84)
  6. Kan katanya pernikahan itu workshop; suami work, bini shop. (hlm. 91)
  7. Sebetulnya lo nggak ada alasan dong, nggak punya tangan cantik? Kan jarang dipakai? (hlm. 96)
  8. Biarpun ibu rumah tangga penampilan nggak boleh kalah sama top model! (hlm. 96)
  9. Pelan-pelan menuju kearah lebih baik. Kalau paksa-paksa lagi, takutnya malah mental. (hlm. 98)
  10. Bangkok itu miskin cowok ganteng! Pria Bangkok itu ya, setengahnya pada megal-megol. (hlm. 99)
  11. Cinta kan nggak pernah salah! (hlm. 102)
  12. Bila sepasang perempuan dan laki-laki yang bukan suami istri berdua-duaan saja, mahluk ketiga yang hadir adalah setan. Apabila bila berdua-duanya dalam ruang tertutup, makin banyak setan yang berpesta. Tidak sekedar mahluk ketiga, melainkan juga keempat, kelima dan seterusnya. (hlm. 110)
  13. Hati dan otakmu yang salah. Hati dan otakmu sudah berselingkuh. Itu sudah salah. Salah besar. (hlm. 119)
  14. Jangan kamu melepaskan gunung permata di tanganmu hanya karena ingin memungut satu batu kecil yang tercecer. (hlm. 130)
  15. Cinta mati memang selalu bikin orang jadi bego. (hlm. 135)
  16. Bahkan beberapa orang begitu bebalnya sehingga harus mendapatkan penjelasan yang dibumbui air mata atau kemarahan agar paham. (hlm. 136)
  17. Kalau kamu memang cinta mati pada pria ini, dan dia tidak bisa hidup tanpamu, kenapa kalian tidak memperjuangkannya saja sih? (hlm. 145)
  18. Walaupun atas nama cinta. Aku tidak pernah merasa berhak bahagia di atas kesedihan orang lain. Sekali lagi, itu culas. (hlm. 146)
  19. Kan perempuan itu seperti monyet, tidak akan melepaskan dahan yang dipegangnya sebelum menemukan dahan yang lain. (hlm. 167)

Lewat buku ini kita bisa melihat perasaan dilematis seorang istri yang memilih antara pekerjaannya atau full di rumah lewat tokoh Aliyah. Masalahnya bukan materi. Masalahnya adalah, Aliyah bahagia punya dunia lain, di luar urusan rumah dan anak. Itu selingan yang sangat menyenangkan. Dia rasakan sendiri, justru setelah dia memiliki pekerjaan dengan jadwal tetap di kantor, setibanya di rumah Aliyah bisa telaten dan sabar menghadapi Chika. Berbeda dengan ketika dia berada di rumah 24 jam 7 hari bersama putrinya itu. Walaupun ada helper yang menolongnya, tetap saja rasa jenuh muncul sewaktu-waktu. Buntutnya, Chika yang kena luapan emosi ibunya. Suka ama bahasan tentang menjadi ibu rumah tangga di halaman 20 ketika Aliyah yang memutuskan menjadi full ibu rumah tangga yang beradu pendapat dengan Scott. Dan di halaman 73 dijelaskan bahwa betapa mulianya kedudukan perempuan dalam Islam.

Ada perbedaan budaya Jepang dan Indonesia yang cukup kontras. Di halaman 15 dibandingkan jika di Indonesia banyak tangan yang membantu saat kita kerepotan mengasuh anak yang terkesan memang tidak ada kewajiban anak untuk mandiri sesegera mungkin. Tak jarang kita lihat para orangtua bukannya menikmati usia senja, tapi malah repot mengurus cucu. Ya nggak papa sih selama kakek nenek merasa senang dan nyaman mengurus cucu. Namun di Jepang, hampir tidak ada tenaga asisten rumah tangga. Pun keluarga-keluarga muda biasanya tinggal terpisah dari orangtua. Jadi mau tak mau, anak-anak ini harus dapat segera hidup mandiri agar tidak membani lingkungannya. Nah, sekarang kita bisa paham kan kenapa faktor pertumbuhan pendudukan Jepang main hari makin merosot? Mungkin ini adalah salah satunya. Ditambah lagi dengan biaya hidup yang tinggi. Beda ama prinsip orang Indonesia yang katanya banyak anak, banyak rejeki. Banyak anak ya harus banyak rejeki. Masak anak dua mau disamain nyari rejekinya ama yang punya anak setengah lusin? Berdasarkan pengalaman, memang belum ngerasain punya anak sih, tapi ngurus adik tiga dengan satu gaji saja rasanya kepala udah nyut-nyutan tiap akhir bulan😀 #MalahCurcol

Ada selipan pemahaman tentang hijab di halaman 75. Suka ama karakter Asyila, meski porsinya sedikit tapi bisa menyegarkan cerita. Asyila adalah sosok guru agama yang bakal disenangi Aliyah. Seminggu sekali dia membantu Aliyah untuk mempelajari kembali ilmu agama, membaca Al-quran. Tidak hanya membaca dengan betul secara mahraj dan tajwid, tetapi juga berusaha memahami artinya. Nah, harusnya mentor agama itu seperti Asyila ini. Mengajari ilmu agama tanpa terkesan menggurui atau menghakimi seseorang.

Sedangkan lewat tokoh Miyu, selain masalah percintaan terlarangnya itu, kita bisa melihat bahwa Miyu merupakan representasi sosok orang-orang Jepang yang biasanya kering iman alias batinnya gersang. Hal itu terlihat di halaman 117 dan di halaman 159.

Keterangan Buku:

Judul                                     : Dua Cinta Negeri Sakura

Penulis                                 : Irene Dyah

Editor                                    : Gita Savitri

Desain sampul                   : Mia Sekartaji

Tata letak isi                       : Ayu Lestari

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : 2015

Tebal                                     : 181 hlm.

ISBN                                      : 978-602-03-1269-9

 

6 thoughts on “REVIEW Dua Cinta Negeri Sakura

  1. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  2. Di belakang laki-laki hebat pasti ada perempuan hebat. Tapi di sebelahnya? Ada perempuan lain yang gaya, cantik, seksi. (hlm. 21)

    Parah parah parah
    Mungkin setelah baca ini pemikiran bisa berubah tentang org ke 3

  3. Aku jadi penasaran sama kisahnya si Miyu yg menjadi orang ketiga, penasaran dgn perasaannya karena dilabeli ‘orang ketiga’

  4. Tokoh utamanya si orang ketiga ya jadinya.

    Ajeng emang gampang disukai saat jadi tokoh dalam sebuah novel. Tapi, kalo Ajeng di dunia nyata ini, orang seperti dia itu lebih banyak yang gak suka daripada sukanya. Padahal orang kayak ajeng ini kan bisa membuat introspeksi diri, meski ucapan pasti sering nyelekit.

    Aliyah. Menurutku Aliyah itu seperti wanita masa kini. Aku sih sah-sah aja selama seorang ibu rumah tangga ingin bekerja, dengan syarat semua pekerjaan yang diperlukan sebagai seorang ibu, istri, juga ibu rumah tangga tersanggupi. Ditambah perhatian dan kasih sayang yang biasanya sering kali diabaikan, disogok mainan (sebagai bukti kasih sayang dan perhatian) menurutku bukan seperti itu.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s