REVIEW Chemistry of Love

WP_20150802_011

Sekecil apa pun, yang namanya peluang pantas diperjuangkan. (hlm. 19)

Mister Sa’id dan Kimia adalah dua hal yang membuat tubuh Amma selalu berkeringat dingin dan jantungnya berdegup dengan kecepatan tinggi. Seperti orang yang menderita fobia, di mana dia selalu merasa ketakutan setiap menjelang pelajaran kimia atau hanya dengan membayangkan sosok gurunya saja.

Amma memang nggak begitu pintar dalam pelajaran kimia, tapi juga nggak bego-bego amat. Tapi, karena sejak pertama mengenal pelajaran kimia dia suda harus berhadapan dengan sosok seperti Mister Sa’id, otaknya langsung korslet. Nggak bisa loading sama sekali.

Jangan heran kalo Mister Sa’id seolah menjadi momok bagi anak-anak saat pelajaran kimia. Dengan sosok tinggi besar, muka bulat, kumis melintang di atas bibirnya, ditambah tatapan mata setajam parang, dan suara menggelegar laksana geledek membelah langit, lengkaplah sudah profil guru sangar yang terkenal sangat killer di seantero SMA Bhakti Nusantara Magetan.

Selain terkenal galak, Mister Sa’id juga sangar dan suka menimbulkan fobia buat anak-anak yang agak lambat dalam pelajaran kimia. Setiap beliau masuk kelas, suasana langsung berubah horor. Angin berdesir pelan meremangkan bulu roma, suara anjing melolong di kejauhan, bau menyan menyeruak ke seluruh ruangan, keringat dingin mulai mengalir membasahi badan, jantung berdebar-debar tak keruan, dan konsentrasi langsung buyar. Kira-kira seperti itula penggambaran suasana horor Mister Sa’id versi Amma.

Sudah nggak terhitung berapa kali Amma diusir keluar kelas selama pelajaran kimia karena tidak bisa mengerjakan soal. Bentakannya menggelegar, kekuatan suaranya mungkin bisa disamakan dengan ledakan bom atom di Nagasaki atau Hirosima. Beberapa guru yang mengajar di kelas lain sering harus keluar untuk memastikan yang terdengar itu suara manusia, bukan BOM!

Amma heran, kenapa Mister Sa’id selalu galak kepada anak-anak seperti dirinya. Waktu pertama disuru ke depan untuk mengerjakan soal kimia, Amma nggak bisa mengerjakan. Jadilah dia masuk urutan pertama dari sekian banyak anak yang sama-sama masuk daftar hitam pelajaran kimia. Setelah itu, seperti seseorang yang sudah memegang kartu langganan khusus, bisa dipastikan Amma-lah yang selalu mendapat kehormatan untuk jadi yang pertama ditunjuk mengerjakan soal di papan tulis. Dan, bisa dipastikan Amma juga selalu gagal melakukan tugasnya, dan harus rela berdiri di luar kelas sepanjang jam pelajaran kimia.

Sering kali ada beberapa anak lain yang menyusulnya keluar kelas, tapi bisa dipastikan dialah yang pertama. Ya, selalu Amma. Rasatakut dan gemetar membuat otaknya yang tak begitu pintar kimia semakin tak bisa diajak bekerjasama untuk berpikir lebih keras. Blank. Terus, kenapa rasa takut dan gemetar itu masih harus ditambah bentakan keras dan perintah pengusiran yang membuat nyali Amma semakin ciut?

Banyak selipan kalimat sindiran halus dalam buku ini:

  1. Heran ya, tuh, orang makannya apa, sih? Bisa galaknya minta ampun gitu. Tokoh antagonis di sinetron aja, nggak gitu-gitu amat. (hlm. 7)
  2. Bukankah tugas seorang guru itu mendidik, mengarahkan, juga membimbing para siswa? Bukan malah membentak-bentak di depan kelas dan menghukum kalau mereka tidak bisa menyerap pelajaran dengan baik? (hlm. 14)
  3. Kalau suka bilang suka. Kalau sayang bilang sayang. Kalau cinta bilang cinta. Kalau sudah bosa ya, lebih baik kita putus saja. (hlm. 15)
  4. Mengapa kebanyakan guru hanya menyukai anak-anak yang pandai dan pintar? (hlm. 15)
  5. Namanya jatuh cinta itu udah sepaket ama sakit hati. (hlm. 20)
  6. Orang kalau lagi ketakutan dan tegang, kan, nggak bisa mikir. (hlm. 29)
  7. Nggak ada orangtua yang ingin mencelakakan anaknya. Apapun yang dilakukan orangtua, selalu untuk kebaikan dan kebahagiaan anak-anaknya. (hlm. 32)
  8. Makanya belajar lebih keras. (hlm. 36)
  9. Kita nggak boleh ngomongin orang lain di belakangnya. Selain dosa, kemungkinan besar orang itu justru ada di sekitar kita. Mendengarkannya. Dan, tentu saja hal seperti ini amat sangat merugikan kita. (hlm. 60)
  10. Biar ketawa kayak kuntilanak dan pasang muka setan begitu, kamu nggak ada seram-seramnya. (hlm. 73)
  11. Udah mau maghrib, nggak baik cewek masih di luar rumah. (hlm. 107)
  12. Kamu udah terlalu mendramatisir semuanya. Udahlah, jangan mikir yang aneh-aneh begitu. (hlm. 110)
  13. Senang rasanya punya sahabat yang biasa diajak berbagi. (hlm. 111)
  14. Puas kamu sekarang? Sudah membuat orang lain menderita dan sakit! (hlm. 115)
  15. Mana ada orang yang dilahirkan untuk jadi pemarah. Nggak ada, kan? Semua pasti ada alasannya. (hlm. 121)

Membaca kisah Amma yang phobia kimia ini mengingatkan diri sendiri jaman SMA. Yup, sama halnya seperti Amma, pelajaran yang paling nggak dimengerti adalah kimia. Jangankan nulis jawabannya, soal yang diberikan gurunya aja nggak ngerti sama sekali. Ditambah lagi, ke-killer-an gurunya yang bikin panas dingin tiap belajar. Dua jam aja rasanya lama banget, nggak kebayang anak jaman sekarang tiap satu pelajaran ada yang tiga bahkan empat jam sekaligus. Kalo saya pasti udah gumoh x)) Hal ini menjadi salah satu alasan kenapa dulu saya masuk jurusan IPS saat kelas tiga, ketika teman-teman berbondong-bondong masuk IPA, saya nggak ikut-ikutan. Lebih baik jadi anti-mainstream daripada stress x)) Uniknya, ketika kini bekerja di sekolah, saya malah akrabnya ama ibu guru kimia😀

Keterangan Buku:

Judul                                     : Chemistry of Love

Penulis                                 : Netty Virgiantini

Penyunting                         : Starin Sani

Perancang                           : Gloria Grace Tanama

Ilustrasi isi                           : Belinda C.H.

Pemeriksa aksara             : Neneng & Intari Dyah P.

Penata aksara                    : Gabriel

Penerbit                              : Bentang Belia

Terbit                                    : 2012

Tebal                                     : 144 hlm.

ISBN                                      : 978-602-9397-35-2

PicsArt_02_08_2015 10_33_40

22 thoughts on “REVIEW Chemistry of Love

  1. Pingback: REVIEW Yamaniwa + GIVEAWAY | Luckty Si Pustakawin

  2. Kimia? Ga terlalu bersahabat juga sama pelajaran ini. Dan syukurlah di jurusan yang aku ambil di SMK itu gaada pelajaran Kimia *hembus nafas lega*
    Ngebaca penggambaran Mister Sa’id dari pengamatan Amma udah kaya lagi baca penggambaran seorang dukun jompa-jampe. Suara anjing melolong, desiran angin yang bikin bulu roma berdiri, bau menyan, kumis, dan lain-lain. Ga bisa bayangin gimana bentuk aslinya grrr

  3. Aduhhh.. Karyanya mengingatkan masa-masa sekolah banget deh.. Wuuuuu…. Kalau kangen jaman beginian mending koleksi karyanya kak Netty Virgiantini. Siapa tahu sambil baca sambil nostalgia kenakalan-kenakalan apa yang memalukan di SMP dulu..

  4. wah berarti aku lebih beruntung dong yaa…waktu SMA guru kimia ku cakep, gak kayak mister Sa’id gitu, makanya kimia tuh jadi salah satu pelajaran favorite aku!😀

  5. Naaah aku jadi terjebak nostalgia. Kimia? Wah lama tak mendengar kata Kimia. Aku memang suka sains. Aku memang berada di jurusan IPA saat SMA. Tapi, kuakui Kimia cukup menyeramkan bagiku. Satu-satunya pelajaran yang aku pasrahkan saja, termasuk saat Ujian Nasional. Sangat minim persiapan yang kulakukan untuk menghadapi ujian Kimia. Huh! Kimia udah kayak cinta aja. Satu kata lima huruf sulit dimengerti…

  6. saya suka sekali dengan quote “Sekecil apa pun, yang namanya peluang pantas diperjuangkan. (hlm. 19)”. Bisa dijadikan motivasi🙂. dan saya ngakak waktu baca penggambaran Amma tentang betapa horor nya ‘pelajaran kimia Misten Sa’id’ kayaknya seremnya melebihi nonton film horor yg hantunya keluar dari sumur.
    Sukses trus untuk mbak Netty dan Terima Kasih review nya mbak🙂

  7. Teringat tahun 2009, dmn aku msuk kelas 1 SMA saat itu.
    Dan pada waktu itu entah kenapa pelajaran mate, kimia dan fisika merupakan plajaran plg mbosankn pdahal waktu SMP doyan sama pelajaran itu keculai matek.
    Entah ngapa nih cerita si Amma hampir beti lh sm ceritaku, cuma yg ngebedain itu yg jenis kelamin yg ngajar kimia.

    Kalo Mr. Sa’id ini dipasangkan dgn bu guruku Bu’JM pasti cucok lah, sama” galaknya.
    Bu JM ini tampangnya suram (maap ibuk) dan pokoknya kejadianku dgn si Amma ini mirip.
    Ceritanya begini.
    Kami lg belajar kimia (lupa tentang apa hehe maklum udh 2 tahun gak buka buku kimia dan lebih sering megang farmakope dan iso indonesia)
    jadi bu JM nyuruh kami satu satu buat maju ke depan unt jawab pertanyaan yg ada di papan tulis.
    Teman”ku pun maju dan bs ngejawab.
    Nah giliran aku yg disuruh maju.
    Dapat soal yg susah (kalo gak salah nih ttg yg CxHxOx gitu dan buat penamaannya).
    Sebelum itu aku gk trlalu merhatiin ibu itu ngajar soalnya t4 dudukku plg belakang dan mata udah minus gk bs melihat jelas tulisan dr jarak jauh.
    Dah gitu kan aku coba ngerjain, bolakbalik buku paket, noleh ke kawan yg duduk dibangku cari jawaban tp gak dapat.
    Terpaku cukup lama sambil brkeringat dingin gak bs ngejawab, akhirnya keluarlah suara menggelegar dari ibu thompson.
    “gmn, bsnya kau jawabnya?” tanya bu JM. Aku hanya geleng kepala.
    Nget..
    Kupingku dijewer kuat didepan kawan”.
    Satu kata yaitu MALU.
    Yg bs kukeluarkan hy air mata. Guruku nyuruh aku duduk dan digantikan olh teman yg lain.
    Di tempat duduk aku cuma bs nangis dan geram sm guruku.
    Dan aku berjanji saat itu bhw aku akan belajar kimia dan pandai kimia.
    Dimulai dr kelas 2 aku bimbel dgn sungguh”.
    Dapat koding dr bimbel dan entah ngapa cepet nangkep ketika diajarin tutor apalagi tutor kimia.
    Aku buktiin terlebih dulu lewat tugas sekolah. Yg dulunya modal nyontek doang jd ngerjain sendiri, dan kalo semesteran nilai kimia ku peringkat 3 setelah pelajaran bhs perancis di urutan 1 dan di urutan dua pelajaran PKn.
    Sampai hari ini msh suka kimia dan jd suka serta kangen gurunya yg awalnya kejam dan aku benci setengah mati.
    Kuliah semester awal kemarin sempet blajar kimia dasar dan kimia organik yg main hitungan. I love Chemistry ❤

  8. saya juga gak terlalu bisa kimia. tapi juga gak bego-bego amat. setiap kali pelajaran kiima rasanya pemikiran saya gak beraturan. pokoknya aneh. kadang ngederin penjelasan guru. saat udah selesai di jelasin, eh malah lupa. duh dasar barlen (bubar klalen).😀

  9. Aduuuuh. Kimia nih yang dibahas. Sinih, kenalan dulu ah sama anak kimia.😀 *nyodorin tangan*

    Kimia itu sebenarnya mudah-mudah susah. Kalau ketemu yang susah, terasa susaaaaah bener. Pas ketemu yang gampang, ditinggal bersin aja udah langsung dapet jawabannya hehe.

    Tapi menarik nih sosok guru yang diangkat di sini. Guru killer memang selalu jadi sorotan tapi justru metode kedisiplinannya itu bisa bikin si anak rajin atau malah makin malas.

    By the way, judulnya Chemistry of Love. Berarti di sini diangkat juga kisah cinta si murid dong? Pas baca kutipan-kutipan itu kayaknya ada tokoh yang patah hati. Eh, tapi jangan bilang kalau cintanya sama Miter Sa’id!😄

    Nah, di sini Kak Luckty yang nyinggung sama sekali soal love-love nya itu. Kupikir cuma soal guru killer. Apa memang porsi cintanya nggak banyak atau memang itu bagian yang spoiler ya?:/

  10. Aduuuuh. Kimia nih yang dibahas. Sinih, kenalan dulu ah sama anak kimia.😀 *nyodorin tangan*

    Kimia itu sebenarnya mudah-mudah susah. Kalau ketemu yang susah, terasa susaaaaah bener. Pas ketemu yang gampang, ditinggal bersin aja udah langsung dapet jawabannya hehe.

    Tapi menarik nih sosok guru yang diangkat di sini. Guru killer memang selalu jadi sorotan tapi justru metode kedisiplinannya itu bisa bikin si anak rajin atau malah makin malas.

    By the way, judulnya Chemistry of Love. Berarti di sini diangkat juga kisah cinta si murid dong? Pas baca kutipan-kutipan itu kayaknya ada tokoh yang patah hati. Eh, tapi jangan bilang kalau cintanya sama Mister Sa’id!😄

    Nah, di sini Kak Luckty yang nyinggung sama sekali soal love-love nya itu. Kupikir cuma soal guru killer. Apa memang porsi cintanya nggak banyak atau memang itu bagian yang spoiler ya?:/

  11. Love di sini ditujukan pada seorang cowok apa ke kimianya, nih? Atau ke Mister Sa’id? Soalnya baca reviewnya nggak lihat romace-romance antara cowok sama Amma sih.
    Tapi, bener deh si Amma. Kimia itu pelajaran yang nggak dipunyai basic yang cukup waktu SMP, di SMP cuma ada asam,basa,garam. Aku sih sebelas-duabelas sama Amma, aku suka kimia kalo materinya aku pahamin sih, kalo udah bahas stoikiometri, rasanya pengen garuk tembok.
    Aku pernah lihat novel ini di togamas sih, tapi waktu ke sana lagi udah nggak ada -_-

  12. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  13. Sekecil apa pun, yang namanya peluang pantas diperjuangkan. (hlm. 19)
    selagi kita bisa gak ada salahnya untuk mencoba

  14. Ya ampun aku ngakak deh ini kaya guru Kimia di sekolah akuu dulu. Ditakutin karena suka nyuruh maju dan galak wkwk.

    Ohiya, aku malah suka sama beliau padahal sering bgt dimarahin dan disindir. Tapi aku jadi cinta mati sama Kimia wkwk

    Sepertinya aku harus baca buku ini bhahaha.

    Eh tapi… dari judulnya ada kata Love. Apakah… (?)

  15. novel remaja banget. sepertinya sangat cocok dibaca untuk anak SMA. btw waktu jaman SMA dulu aku lebih ga suka pelajaran fisika dan Kimia. hehe tapi guru fisikaku ga pernah ngusir kaya Mr. Sa’id kok😀

  16. Aku baca ciri2 Mister Sai’d di buku ini malah jadi keinget guru Bahasa Indonesia pas SMP. Suaranya nyaring banget, setiap ngajar pasti ngomong terus, kelasku di lantai 3, dan suaranya kedengeran sampe ke lantai 1, dan sampe ke kantin pula. Gara2 ngejelasin materi mulu, nggak berhenti ngomog selama pelajaran berlangsung, anak2 jadi pada sibuk sendiri nggak merhatiin. Kasian juga sih guruku itu kalau dipikir2. Udah capek2 ngejelasin pake tenaga tapi malah dicuekin.

  17. Kimia, mungkin karena itulah novel ini diberi judul “Chemistry of Love”. Pelajaran yang kata bebeberapa orang mengasyikkan ini kurang saya senangi juga, mungkin karena guru yang mengampu pelajaran ini adalah guru yang haus pujian dan gampang “dijilat” saya jadi anti ama pelajaran ini. Seringkali saya bolos waktu pelajaran ini, dan lebih memilih berdiam diri di perpustakaan bersama buku-buku.

  18. Ini kalo mr said datang sampe segitunya ya, kyk film horor, uji nyali.

    Kalo boleh milih aku jauh lebih suka matematika daripada kimia, berasa kepalanya ngebul kayak di lab kimia, hhehehe😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s