REVIEW Three Women Looking for Love

WP_20150802_012

Bukankah apa pun yang terjadi dan kita alami saat ini, semuanya sudah digariskan Tuhan? Bahkan daun yang jatuh dari pohon pun sudah ada catatannya. Apalagi hal-hal yang menyangkut jodoh kita. Seperti orang bilang, lahir-jodoh-mati itu rahasia Tuhan. Jadi, nikmati saja apa yang ada saat ini. (hlm. 20)

JANITRA KUSUMADEWI. Biasa dipanggil Jani. Anak bungsu dari tujuh bersaudara. Umurnya 37 tahun. Status lajang. Pekerjaan jualan batik. Keenam kakaknya sudah menikah, dan semuanya tinggal di luar kota. Sedangkan dirinya tinggal dengan kedua orangtuanya yang sudah sepuh, sekaligus menemani mereka berdua. Beberapa tahun terakhir ini, Jani akrab dengan dua sahabat karib mantan teman SMA yang sama-sama berstatus lajang.

RENATA NEFITA WIJAYA. Biasa dipanggil Rena. Umurnya 37 tahun. Anak tunggal. Pekerjaannya bisa disebut sebagai makelar. Tapi sebenarnya dia perempuan tangguh dan luar biasa yang punya usaha pengiriman beras ke luar kota. Mungkin karena darah Cina mengalir dalam tubuhnya, dia jadi sosok ulet dan gigih mengembangkan usahanya. Tipikal pekerja keras dan pedagang tulen. Salah satu sifatnya yang menjadi ciri khasnya adalah tempramental.

MONAWATI RAHAYU. Biasa dipanggil Mona. Sarjana Ekonomi. Pekerjaan sebagai Pegawai Negeri Sipi. Usia 37 tahun. Diantara mereka bertiga, hanya dialah yang bergelar sarjana. Karena rasa bangga yang luar biasa sebagai sarjana, biarpun dari universitas yang tak begitu dikenal namanya, Mona tak pernah lupa menulis gelarnya di mana pun nama lengkapnya ditulis.

Jalan hidup memang penuh misteri, apa yang terjadi beberapa detik ke depan tak bakal bisa kita perkirakan dengan pasti. Tak pernah menduga sebelumnya, mereka bertiga bertemu dalam kondisi yang sama, sebagai last lajanger alias lajang urutan terakhir di angkatan SMA.

Membaca ini senyum-senyum sendiri. Mbak Netty selalu sukses menampilkan tokoh utama yang kocak tapi nggak lebay apalagi garing, takarannya selalu pas. Kayak tokoh Jani ini.

Ada beberapa ritual yang kerap dipaksakan untuk para lajang agar dimudahkan jalannya untuk bertemu jodohnya. Hal yang paling umum adalah disuruh nyolong melatinya pengantin. Nah, seperti makan nasi bekas pengantin, cuci muka pake air bekas siraman, trus ada ritual makan nasi rawon ini baru saya ketahui gegara membaca buku ini. Tiap disuruh nyolong melati aja saya ogah, apalagi disuruh yang aneh-aneh seperti yang harus dilakukan baik Jani, Rena maupun Mona ini sungguh bikin geleng-geleng kepala x))

Sehebat apa pun prestasi yang kamu buat dalam hidup, kalau statusmu belum menikah, tetap akan dianggap sebagai orang yang gagal. (hlm. 19)

Di halaman 18 pasti sering kita jumpai dalam kehidupan sehari-hari. Hanya karena seseorang menikah di usia 23, dia merasa jadi orang yang paling beruntung sedunia. Padahal dari kawin sampai punya anak dua, hidupnya nebeng di rumah orangtua. Bukan hanya nebeng tempat tinggal, tapi biaya hidupnya juga masih ditanggung orangtuanya. Ditambah lagi suaminya pengangguran. Nggak kerja. Tapi kalau sudah menceramahi orang yang masih lajang, seolah-olah dianggap mahluk yang paling malang. Ada. Ada banget orang yang kayak gini. Kalo saya sih tiap ada orang yang kayak begini mah cuekin aja, tapi dalam hati sih rasanya pengen ngasih kaca segede gaban x))

Kisah antara Jani – Satria meski sebentar sempat bikin nyesek. Emang nggak rela banget kalo udah nyimpen perasaan dalem-dalem, eh ternyata kecengan kita jaman SMA juga memendam perasaan yang sama, taunya telat pas dia udah nikah baru nyatain cinta diam-diam itu kekita. Pernah ngalamin kayak gini :’) #SakitnyaTuhDisini

Tokoh favorit tentunya Irawan, si tukang foto kondangan. Misterius tapi bikin meleleh. Semoga teman sekolah masih ada stok yang kayak Irawan ini ya, gyahahaha…😀 #ngarep #dikepruk

Banyak kalimat favorit bertebaran dalam buku ini:

  1. Kita kan nggak tahu apa yang bakal terjadi di masa depan nanti. (hlm. 28)
  2. Di mana ada kemauan, di situ pasti ada jalan. (hlm. 85)
  3. Sabar, semua suda ada waktunya sendiri-sendiri. Dibikin santai aja. (hlm. 95)
  4. Setiap orang boleh dan bebas menentukan kriteria calon pasangan hidupnya. (hlm. 100)
  5. Kata orang, cinta hanya ada di novel percintaan dan film-film roman. Di dunia nyata,cinta yang setulus hati dan sepenuh jiwa nggak pernah ada. (hlm. 102)
  6. Bukankah cinta itu harus diperjuangkan? (hlm. 145)
  7. Kalau jodoh pasti ada jalannya. (hlm. 164)
  8. Jatuh cinta memang luar biasa. (hlm. 190)
  9. Ketika Tuhan telah menentukan saat yang tepat bagi seseorang bertemu jodohnya, semua jalan seolah dibukakan dan diiringi segala kemudahan. (hlm. 190)
  10. Orang bilang, ada seribu jalan yang diberikan Tuhan, dan setiap orang akan menempuh jalannya masing-masing. (hlm. 190)
  11. Bukankah cinta memang datang untuk menyatukan perbedaan? Bukan untuk dipertentangkan, tapi untuk menerima apa adanya. Saling melengkapi seperti perbedaan warna yang membuat pelangi menjadi indah. Menakjubkan. (hlm. 192)
  12. Semua butuh proses. Butuh waktu. Apalagi urusan perasaan kan nggak semudah membalikkan telapak tangan. (hlm. 210)
  13. Memang nggak gampang mendekati anak-anak yang kehilangan sosok ibunya. Perlu strategi dan kesabaran yang luas tanpa batas. (hlm. 219)
  14. Mungkin dalam hidup ini kita nggak boleh terlalu bergantung pada siapa pun. Nggak ada yang menjamin hidup kita di kemudian hari. (hlm. 231)

Banyak juga selipan sindiran halusnya dalam buku ini:

  1. Kenapa sih orang-orang kayaknya sibuk bener ngurusin kita? (hlm. 19)
  2. Sesama orang nggak waras dilarang saling menasehati! Makin parah nanti! (hlm. 21)
  3. Sudahlah, jangan terus mengeluh begitu. (hlm. 30)
  4. Jadi perempuan itu harus jual mahal. Jinak-jinak merpati istilahnya. Jangan langsung melotot tiap ada laki-laki. Kayak nggak punya harga diri aja. (hlm. 39)
  5. Orang yang lagi jatuh cinta memang suka berhalusinasi. (hlm. 61)
  6. Jangan suka iri dan dengki, nggak baik akibatnya. (hlm. 89)
  7. Orang justru bisa membaca kejujuran hatinya jika dia berani menyebutkan daftar kekurangannya. Bukankah tidak ada manusia yang nyaris sempurna? (hlm. 99)
  8. Kadang, cinta memang menggoreskan luka. (hlm. 107)
  9. Orang-orang yang punya sifat pelit termasuk golongan yang pantas dikasihani dan disantuni. (hlm. 107)
  10. Alasana khas laki-laki yang pengen selingkuh. Selalu menjelek-jelekkan istri sendiri. Begitu lihai membangkitkan kenangan lama. (hlm. 121)
  11. Doa tanpa usaha juga nggak ada hasilnya. (hlm. 261)
  12. Kata orang, batas antara benci dan cinta itu tipis banget. Jadi, kalau dulu kamu benci setengah mati, sekarang bisa saja sebaliknya. Cinta setengah mati. (hlm. 261)
  13. Berhentilah jadi pengecut! (hlm. 261)

Kisah Jani, Rena dan Mona ini merepresentasikan para lajang di kehidupan sehari-hari. Ada yang nyantai kayak di pantai macam Jani, suka sewot bak kebakaran jenggot dan sensi banget kayak Rena atau hidup serba mengeluh kayak Mona. Manakah kamu?!?😀

Keterangan Buku:

Judul                                     : Three Women Looking for Love

Penulis                                 : Netty Virgiantini

Desain sampul                   : Innerchild Studio

Penerbit                              : PT Gramedia Pustaka Utama

Terbit                                    : Oktober 2012

Tebal                                     : 272 hlm.

ISBN                                      : 978-979-22-8913-8

PicsArt_02_08_2015 10_32_34

21 thoughts on “REVIEW Three Women Looking for Love

  1. Pingback: REVIEW Yamaniwa + GIVEAWAY | Luckty Si Pustakawin

  2. Nah klo novel ini.. aku udah baca, ceritanya ringan.. dan presentasi kebanyakan wanita zaman sekarang yang betah melajang. Banyak hal konyol dilakukan demi menemukan si jodoh, gak masuk akal tapi itulah yang terjadi.. But, yakin aja Jodoh akan bertemu #peace

  3. Kisah orang dewasa, yah bener-bener pelik cobaannya. Melajang sampai umur 37 tahun, belum menikah, maksain segala ritual biar dapet jodoh. Menyedihkan ._. *pukpuk Mba-mba jomblo*

  4. Dari judulnya udah nebak sih ceritanya pasti bertema cewek yang masih single dimana seharusnya dengan umur segitu udah nikah, punya anak, dsb, hehehe. Tapi yang bikin penasaran ritual apa sih yang dikakukan 3 wanita diatas biar cepet nikah ??
    Ini buku mewakili aku banget kayaknya, udah cukup umur buat nikah tapi masih berpetualang mencari pangeran hati (halaah !!) ;D

  5. yg kayak gini nih buku yg aku cari, ttg pencarian jodoh, yah krn nasib ku mirip sama mereka bertiga, sudah dipertengahan 30 msh bingung cari jodoh. Poor me…. ;(

  6. Lucu sih harus melakukan ritual segala demi mendapat jodoh. Yah namanya juga usaha. Etapi, kalimat favorit nomor 9 juga jadi favorit bagiku. Sangat favorit😀

  7. saya senyam senyum sendiri di bagian ritual nyuri melati pengantin karena saya pernah ngalamin… haha… saya disuruh ngambil melati pengantin tanpa sepengetahuannya krn katanya kalo mantennta tau kita ambil ntar melatinya gak manjur… berasa tua banget jadinya… -__- Dari review nya, kayaknya kalo saya baca saya bakal lebih banyak ngangguk2 dari pada geleng2 ya krn mungkin isinya mencerminkan keseharian saya… Thanks mbak luckty untuk reviewnya ^^

  8. Kayaknya dari seluruh novel Kak Netty yang judulnya nggak lumayan mainstream ini deh Kak. Dilihat dari review kakak tentang ketiga tokoh utama Jani, Rena dan Mona kepooo banget ya? Apa mungkin karena udah umur 30an ya? Kakak sepupuku aja baru nikah di usia 30an lebih deh. Hehehehe Kalau aku sih orangnya santai aja dan mungkin sifatku lebih mengarah ke Jani deh. Soalnya, aku nggak terlalu memusingkan hal kayak begituan. Cuek aja sih orang mau ngomong apa aja. Ini hidupku dan aku yang memutuskan mau bagaimana. Biar aja orang bilang apa. Kan mereka punya kehidupan mereka sendiri. Single itu enaknya masih bebas dan tidak terlalu ribet ngurusin masalah rumah tangga. Masih ada impian yang harus dicapai. Menurutku, menikah di usia 30 adalah usia matang untuk menjalin rumah tangga. Hehehe Seperti kata pepatah, jodoh nggak akan ke mana. Terima kasih Kak atas review yang menarik dari Kak Lucky serta sukses terus untuk Kak Netty🙂

  9. yah memang pada kenyataannya memang begitu. kebanyakan perempuan yang pintar itu malah justru suka melajang atau menyendiri. tidak ingin menikah. hmm

  10. Sumpah ngakak baca reviewnya baru review doank padahal. Soal ritual2 itu wkwkwk sering banget klo kondangan denger2 soal itu dan bahkan ada yang nitip. Mana bisa lah!! nitip petilin kembang. Kan harus tangan sendiri.
    Etlis q Jani Lovers tapi ada sisi buruk suka ngeluh juga kaya Mona. Seru2 ni novel, jd list baru klo masih ada di gramed boleh bungkus satu daahhhhhh. Daaeeebaakkkkkk🙂 soal rawon2 juga baru tau karna baca ni review wkwkkw bisa jd pembicaraan baru nihhhh antar para single kampusku.
    Dah lama ga makan rawon kali nemu jodoh di warung rawon. #hahaha q masi muda si tp single wkwkwk pas baca review ini ngakak bukannya terpurukkkk…
    Lanjutkan Mba Netty suka banget sama novel yg ringan tp ngena banget ndalem isinya.
    Mba luckty review nya pas😀

  11. Uhmmm, kalau aku sih lebih condong mirip kayak Jani. Masih santai. Ya iyalah, umurku masih belum sesepuh mereka. Hihihi.

    Ternyata yang ini masih ada lucu-lucuannya juga ya. Duh, makin yakin nih kalau Mbak Netty memang ahli bikin komedi. Tapi dari review(s) yang udah kusimak sebelumnya, aku lebih tertarik yang ini deh. Soalnya porsi dewasanya udah pas. Maksudnya tema yang diangkat itu udah cucok buat orang kayak saya.😀 Dan dari apa yang udah dicantumkan di review ini juga sudah tersampaikan. Aku nggak harus banyak ngeraba lagi gimana isi bukunya.🙂

    Btw, sebelumnya saya cuma taunya buat nulerin jodoh itu mentilin melatinya penganten. Sama sekali nggak tau yang lain-lainnya. Ah, 3 cewek ini pasti desperate banget ye pengin nemu jodoh sampe rela ngelakuin itu semua.😦

  12. Mbak Luckty, dari tadi aku mupeng lihat novel sama tandatangannya mbak Netty. Novel ini nyeritain cewek-cewek yang udah tua garis miring dewasa. Yang nyebelin, kenapa warna kulitnya harus warna hitam, kenapa nggak warna yang lebih masuk akal, kesannya kaya menggambarkan mereka yang udah terlalu ‘gosong’ untuk mencari cinta *peace!* Lalu, kayaknya tiga cewek ini udah putus asa banget sampe makan sisanya pengantin, cuci muka pake air beras, dll. :3

  13. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  14. Pingback: Daftar Bacaan tahun 2015 | Luckty Si Pustakawin

  15. Bukankah apa pun yang terjadi dan kita alami saat ini, semuanya sudah digariskan Tuhan? Bahkan daun yang jatuh dari pohon pun sudah ada catatannya. Apalagi hal-hal yang menyangkut jodoh kita. Seperti orang bilang, lahir-jodoh-mati itu rahasia Tuhan. Jadi, nikmati saja apa yang ada saat ini. (hlm. 20)
    setujuuuuu

  16. Jiahahah umur 37 mama ku udah punya anak 3. Pantes mereka udah ketar ketir haha.

    Tapi tenang lah mb/mz. Jomblo bukan aib. Selaw aja😄

  17. Karya lain dari Mbak Netty yg kakak baca. Aku belum pernah baca salah satu karyanya. Ngebaca review kakak tentang buki2nya, gimana buku2 tersebut ngebuat kakak senyum2 sendiri, ngebuat aku penasaran sama karya2nya, dan pastinya ngebuat aku pengen baca + beli buku2nya.

  18. Perempuan lajang di usia 30 puluhan merupakan beban yang sulit ditanggung oleh kebanyakan orang. Pertanyaan “kapan nikah?” seringkali datang menyiksa saat acara keluarga berlangsung. Saya yakin Jani, Rena, dan Mona adalah gadis-gadis yang tangguh…

  19. Kirain novel terjemahan liat dari judulnya. Covernya lucu, tiga cewek yang lagi ngintip dari ‘jendela’ hati.

    Emang kalo masalah nikah ga pernah ada abisnya. Kapan nikah? Udah hamil belum? Kapan mau nambah? Emangnya lagi di warteg.

    Namanya mona, cantik dan keren. Panjangannya apa? Monawati rahayu, hehehe kirain monaratuliu😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s